
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar ya. Like dan komentar kalian sungguh berarti buat saya. Terima kasih banyak.
Selamat membaca.
***
Aditya dan Dilla berjalan mendekat ke arah Rio dan Lala. Dilla dan Aditya hanya memperhatikan mereka saja. Rio dan Lala sudah mulai memilih pernak-pernik.
"Lala mau pilih yang mana?" tanya Rio sambil melihat benda berkilau itu.
"Bental Mais Liyo. Lala ucing," sahut Lala.
"Ucing tenapa?" tanya Rio lagi.
"Cemua na badus-badus. Lala ndak tahu milih mana," kata Lala memegang beberapa aksesoris.
Rio mengangguk-angguk kepala. Rio yang melihatnya saja juga pusing. Jika Rio pilih sendiri juga pusing. Rio tidak paham dengan aksesoris seperti itu. Banyak sekali barang mulai barang dari kalung, cincin, gelang anting, bros dan segala ***** bengeknya.
"Menurut Mais Liyo mana yang badus?" tanya Lala menyerah kepada Rio.
Rio menatap barang yang ada di sana lagi. Rio bingung mau memilih mana yang bagus buat Lala. Rio yang tidak mau pusing lagi segera mengambil salah satu gelang secara sembarang.
"Ini bagus," sahut Rio.
"Ini jeyek Mais Liyo," tolak Lala.
"Tapi ini badus," bantah Rio.
"Badus dali mana Mais Liyo. Itu ada tengtolak na, celem," kata Lala menunjukkan sebuah hiasan tengkorak.
"Oh," jawab Rio ketika melihat ada gambar tengkorak.
"Bial Lala milih cendili aja," ujar Lala yang tidak mau dipilih sama Rio lagi.
Rio meletakkan kembali gelang itu. Rio tidak tahu jika ada gambar tengkorak. Jika dia tahu maka dia akan ambil lain.
"Jadi bagaimana? Apa kalian ingin beli atau tidak?" tanya sang penjual karena mereka terlalu lama melihat Rio dan Lala yang memilih dagangannya.
"Bental Om. Tami cedang milih," jawab Rio karena Lala terlalu fokus memilih.
"Iya ya. Apa perlu saya sarankan" sahut penjual mulai bosan.
"Ndak pelu Om. Ini hadiyah yang dibelitan cama Mais Liyo. Lala mau milih cendili. Lala mau yang aling bagus," jawab Lala.
Penjaga itu heran menatap anak kecil itu. Bagi penjaga itu, mereka seperti anak remaja yang sedang berkencan. Memilih barang saja sangat teliti. Kemudian dia melihat ke arah Dilla dan Aditya sebentar.
"Maaf ya Pak lama," kata Dilla tidak enak.
"Iya Mbak," sahut penjual tidak enak.
Penjual itu kembali melihat Lala yang sedang memilih.
"Mais Lio, dimana denan ini? Badus ndak?" tanya Lala sambil menunjukkan sebuah cincin yang cantik.
"Badus api ini becal buwat Lala," ujar Rio.
"Iya ya. Api Lala cuta ama cincin ni," ucap Lala dengan melihat cincin itu.
"Pak, apa ini tidak ada ukuran yang kecil?" tanya Dilla kepada penjual.
"Tidak ada Mbak. Ukuran cincin itu memang untuk anak remaja. Tidak ada ukuran anak kecil."
"Yah," kata Lala kecewa.
Lala sudah terlanjur suka. Lala tidak suka sama yang lainnya. Lala mencoba memakai di ibu jarinya. Cincin itu masih saja longgar.
"Kalau Lala suka sama cincin itu, Lala bisa mengalungkan cincin itu. Saat Lala dewasa nanti, Lala sudah bisa memakainya," kata Dilla tak tega melihat Lala sudah suka sama cincin itu.
"Bisa ya Ante?" tanya Lala.
"Bisa dong, sayang," jawab Dilla.
"Bayiklah. Lala mau cali talung lagi," ucap Lala kembali melihat kalung yang cocok sama cincin yang dia pegang.
"Bial Liyo yang milih aja," tawar Rio yang sudah capek menunggu Lala memilih.
"Boyeh Mais Liyo. Api angan yang celem ya. Lala ndak cuka," minta Lala.
"Oteh," sahut Rio.
Kali ini Rio beneran memilih tidak seperti pertama tadi. Sekitar lima menit melihat dengan teliti, Liyo menemukan aksesoris yang bagus. Aksesoris itu tertutup sama aksesoris lain. Rio dengan susah payah mengambilnya.
"Dimana cama yang ni," tunjuk Rio pada kalung yang sederhana dengan hiasan berbentuk bintang.
"Iya Lala cuta," sahut Lala senang dan segera mengambilnya dari tangan Rio.
"Jadi kalian sudah memutuskan barang apa yang dibeli?" tanya Dilla.
"Apa Lala mau pakai sekarang?" tawar Dilla.
"Iya Ante. Lala mau patai cetalang," sahut Lala bersemangat.
"Sini, biar Kakek yang pasangkan," tawar Aditya yang tidak mau Dilla berjongkok.
"Bayik Tek," jawab Lala.
Aditya memasangkan cincin itu ke dalam kalung. Kemudian Aditya memasangkan pada leher Lala. Lala sangat senang ketika kalau itu sudah ada di lehernya.
"Cetalang Lala unya talung yang badus, uga cincin yang badus," ujar Lala lompat-lompat kesenangan.
"Omy," panggil Rio.
"Iya sayang," sahut Dilla.
"Liyo ambil yang ni ya," pinta Rio.
"Itu buat siapa sayang," kata Dilla.
"Ni buwat adik Liyo," kata Rio sambil menunjukkan kalung yang mirip dengan yang dipakai oleh Lala.
Jika kalian yang dipakai Lala ada hiasan bintang, maka yang Rio pegang berbentuk bulan. Rio juga ingin beli buat adiknya.
"Baiklah sayang," jawab Dilla.
"Om ni ya. Liyo mau yang ni," kata Rio menyerahkan kalung itu kepada penjual agar dibungkus.
Setelah membayar, mereka kembali berkumpul. Mereka kembali ingin berjalan-jalan sambil belanja. Tapi Lala tiba-tiba melihat penjual es krim. Lala jadi ingin makan es krim. Lala tidak berani meminta.
"Ada apa Lala?" tanya Jelita yang tadi memegang tangan Lala.
"Ndak apa-apa Ante," jawab Lala lesu.
"Apa Lala mau makan es krim?" tanya Aditya yang melihat Lala beberapa kali menoleh ke arah penjual es krim.
"Boleh Tek?" tanya Lala penuh harap.
"Kalau Lala mau, ayo kita beli," ajak Aditya.
"Tek, Liyo uga mau," minta Liyo.
"Ayo kita beli es krim," ajak Aditya menarik tangan Rio dan Lala.
Mereka memutuskan untuk makan es krim dulu. Mereka mulai memasuki restoran tempat penjualan es krim. Mereka memilih duduk di meja pojokan.
"Kalian mau pesan yang mana?" tanya Aditya.
"Liyo mau yang ni ni Tek," sahut Rio semangat.
"Kalau Lala mau pilih yang mana?" tanya Aditya lagi kepada Lala.
Lala bingung mau pilih yang mana. Terlalu terlalu banyak bentuk dan warna. Lala tidak tahu bedanya. Lala mau yang paling enak.
"Mais Liyo, mana ai telim yang aling wenak?" tanya Lala pada Rio akhirnya.
"Lala milih cendili aja," tolak Rio.
Lala cemberut mendengar jawaban Rio. Padahal Lala ingin tau mana yang enak. Tiba-tiba Lala punya ide.
"Ante, mana yang wenak," tanya Lala menunjukan buku menu.
Rio kembali menarik buku menu. Rio tidak mau Dilla capek.
"Angan anya cama Omy. Anya cama Liyo aja," kata Rio.
Lala senang dengan respon Rio. Lala sengaja bertanya kepada Dilla karena Lala yakin jika Rio akan mencegahnya.
"Kalau kalian sudah memilihnya, mari kita pesan," ujar Aditya mengambil buku menu dari Rio.
Rio kembali mengambil buku menu.
"Omy boyeh ndak…."
"Tidak, tidak boleh," sahut Dilla memotong permintaan Rio.
"Tenapa?" tanya Rio kecewa.
"Rio pasti mau membeli buat adik kan. Tidak boleh Rio, jika Rio membeli sekarang nanti es krimnya sudah mencair," kata Dilla yang sudah bisa menebak pikiran Rio.
"Baiklah," jawab Rio dengan lesu.
Bersambung....