
"Dilla bagaimana dengan keadaan Rio"
Dilla langsung berdiri, tadi dia duduk di tepi kasur Rio.
"Tuan, Rio sudah mulai tenang dan sekarang sudah tidur"
Ryan mendekati Rio dan duduk di tempat yang di duduki Dilla tadi. Ryan mengusap kepala Rio dan mengecup Rio beberapa kali. Untuk beberapa saat suasana nya sunyi.
"Dilla terima kasih ya" ujar Ryan mengusir sunyi.
"Ya" jawab Dilla tidak paham.
Ryan terkekeh melihat raut wajah bingung Dilla.
"Terima kasih kamu telah menjaga anak anak ku dengan baik selama ini"
"Itu memang sudah tugas saya tuan"
"Iya tugas kamu adalah menjaga mereka berdua bahkan Rafa juga, tapi dari sudut pandang saya kamu merawat mereka seperti merawat anak mu sendiri"
"Karena di kampung saya juga punya adik sepupu yang sudah seperti adik kandung saya sendiri, dari kecil saya yang merawat mereka karena paman dan bibi harus bekerja, jadi saya sudah terbiasa dengan anak kecil tuan" jawab Dilla dengan senyum kecil sambil mengenang masa saat bersama adik adiknya.
Ryan berdehem bentar melihat senyuman Dilla.
'Apa yang kamu pikirkan Ryan, dia terlalu muda untuk mu'
Ryan bangun dan menepuk bahu Dilla berapa kali.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, kamu tidak hanya merawat anak anak ku tapi kamu juga telah merawat dan memotivasi saya selama ini, jika nggak ada kamu mungkin saja aku masih berdiam diri di kamar"
"Tuan jangan berkecil hati, Dilla yakin walaupun nggak ada Dilla tuan pasti bisa sembuh, karena ada Rio dan Reza yang menjadi penyokong tuan"
"Kan kamu sendiri juga tau sebelum kamu datang ke rumah ini saya sangat jarang berinteraksi sama anak anak saya, bukan hanya itu saya juga menyendiri di kamar"
Dilla hanya diam mendengar ucapan Ryan dia tidak tau mau jawab gimana.
"Sudah lah, kamu di sini aja jagain Rio, saya mau menemui papa sama mama dulu, ada yang mau saya bahas sama mereka"
"Baik tuan"
Ryan segera meninggalkan kamar itu, setelah tuannya pergi Dilla mendekati tempat tidur, memperbaiki selimut yang di pakai Rio. Dilla menatap Rio dengan prihatin, anak sekecil ini banyak sekali cobaan nya. Lama menunggu akhirnya Dilla juga tertidur di sana.
***
Beberapa hari kemudian sejak Rio di nyatakan trauma dengan kolam renang. Rio sekarang sudah nggak mau lagi bermain di taman belakang yang dekat kolam. Dia akan gemetaran jika mendekati area kolam.
Sehingga seluruh keluarga dan lainnya tidak lagi mengajak Rio bermain di kolam untuk sementara waktu. Ini untuk kebaikan Rio sendiri, karena butuh waktu untuk membuat seseorang melupakan kejadian buruk atau bahkan bisa saja trauma permanen, semuanya berharap agar ini hanya sementara. Dan selama tidak bermain di kolam Rio baik baik saja.
Hari sudah mulai sore di ruang keluarga Dilla sedang mengawasi Rio dan Reza yang sedang menggambar sedangkan Rafa tadi ikut papa nya sebentar.
"Hai jagoan jagoan papa" sapa Ryan sepulang kerja.
"Papa" Rio segera berdiri dan memeluk kaki papanya sedangkan Reza melanjutkan mengambarnya.
"Kalian hari ini ngapain"
"Tami lagi ambal pa, pa lihat deh ambal Liyo Telen tan" Rio memperlihatkan gambar yang dia buat.
"Ini gambar apa, ini gambar rumput ya" tanya Ryan.
"Huwaaa papa jahat, omy papa nakal" adu Rio.
Ryan nggak tau di mana salah nya. Dilla segera memeluk Rio yang merengek padanya.
"Tuan itu bukan gambar rumput" terang Dilla.
"Kalau bukan rumput gambar apa juga ini" Ryan memperhatikan lagi gambar yang di buat sama Rio, gambarnya berupa garis garis gitu ada sebanyak empat garis garis.
"Oh papa tau"
"Papa tau" ujar Rio senang.
"Ini pasti gambar ranting kan" jawab Ryan bangga.
"Uwaaaa papa jahat" Rio segera bangun dari pangkuan Dilla, dengan tangannya yang kecil Rio mencoba memukul papanya, bukannya sakit tapi Ryan marah mereka geli.
"Rio sudah papa geli ni"
"Omy papa natal" adu Rio lagi.
"Tuan" seru Dilla.
"Pa itu bukan gambar ranting, itu gambar orang pa"
"Ia bagus" jawab Ryan lemah.
Ryan tau apa maksud dari gambar yang Reza gambar.
"Yang ini gambar papa, yang ini Reza, yang ini Rio dan yang ini adalah mommy" jelas Reza sambil menunjukkan satu persatu orang yang ada di gambar tersebut, di belakang gambar nampak seperti di sebuah taman bermain.
"Ini Reza gambar nya seolah kita baru pulang dari taman bermain" kali ini Reza yang berujar lemah.
Ryan terasa tertohok, bukan lagi di sindir dari belakang, ini namanya di sindir di depan orang nya.
"Reza mau pergi ke taman bermain?" tanya Ryan.
"Apa boleh pa" jawab Reza.
Reza nggak mau terlalu senang, takutnya papanya hanya bertanya saja tapi tidak mengajaknya pergi. Padahal Reza ingin sekali liburan bersama papa dan mommy nya seperti teman temannya tapi Reza takut untuk mengutarakan nya langsung. Apa lagi Rio juga baru sembuh dari sakitnya.
"Bagaimana kalau minggu depan sekaliĀ lagi kita pergi jalan jalan, soalnya minggu ini papa nggak bisa ada tugas dan Rio juga baru sembuh" tawar Ryan lembut.
"Liyo mau" bukan Reza yang jawab tapi malah Rio yang jawab, Ryan segera menangkap tubuh Rio yang meloncat kegirangan.
"Liyo mau jalan jalan em" Ryan mencium Rio gemas.
"Duh pa teli"
"Tuan jangan buat Rio banyak ketawa nanti malam dia bisa mengompol"
"Pa angan nti Liyo ompol"
"Ngak apa apa, biar Rio malam ini gompol"
"Nanti kalau Rio beneran ngompol, tuan sendiri yang harus menyuci cuciannya dan membereskan kasur nya ya, soalnya Dilla sudah mengingatkan"
Ryan segera berhenti mencium perut Rio, takut jika Rio beneran ngompol, yang ada dia yang susah sendiri.
"Jadi pa, apa kita jadi jalan jalannya" tanya Reza lagi untuk memastikannya.
"Iya minggu depan sekali lagi kita pergi ya"
"Beneran pa"
"Iya sayang"
"Horeee, terima kasih pa"
Reza segera memeluk papa karena sangat senang, Ryan sangat senang melihat anak nya senang.
"Holeeee jalan jalan, omy omy tita jalan jalan"
"Rio sebaik nya pergi sama abang Reza dan papa saja, ini adalah liburan pertama kalian"
"Ndak otot nya omy itut, talau omy ndak itut Liyo ndak mau itut juga" Rio ngambek.
"Tapi Rio...."
"Pa mommy boleh ikut juga kan, Reza mau seperti kawan Reza yang lain pergi dengan papa dan mommy nya" omongan Dilla di potong sama Reza.
Ryan tau anak ya sangat ingin merasakan pergi bersama orang tua lengkap.
"Tentu mommy akan ikut dong"
"Beneran pa"
"Iya"
"Holeee holeee omy ituuut"
"Tapi tuan...."
"Dilla saya mohon agar kamu mau ikut, mereka sangat ini merasakan liburan bersama kedua orang tuanya lengkap, saya ngak tega sama meraka" pinta Ryan.
Dilla juga nggak tega melihat betapa antusias mereka ingin pergi. Dilla kasihan jika membuat mereka sedih.
"Baik tuan, Dilla ikut"
"Horeee mommy ikut juga"
"Holeee jalan jalan"
Bersambung...