Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 49. Ketakutan



Setelah memastikan Rio tertidur baru Dilla meninggalkan kamar itu. Dilla menampaki satu persatu anak tangga. Dilla sudah melihat semua sedang menunggunya.


"Ayo Dilla, segera duduk di sini," suruh Rita.


"Iya Tante," jawab Dilla.


Dilla segera menuruni anak tangga terakhir dan duduk di sofa bersama yang lainnya.


"Jadi Dilla bagaimana ceritanya sampai Rio bisa makan coklat banyak sekali?" tanya Rita tanpa basa basi lagi.


"Maaf, maafkan saya Tante, Om dan Tuan. Ini semua murni kelalaian saya," Dilla meminta maaf dengan tulus.


"Tadi kami pergi ke supermarket buat beli cemilan. Perjanjiannya dapat dua cup es krim dan hanya boleh membawa pulang satu snack saja. Reza dan Rafa lebih memilih satu snack dengan ukuran jumbo. Sedangkan Rio lebih memilih memakan semuanya di supermarket karena Rio ingat janjinya hanya membawa pulang satu, jadi Rio pikir boleh makan sepuasnya di sana. Saat Rio pergi menghabiskan sebagian besar coklat di rak, Dilla tidak melihatnya, karena Rio sendiri yang meminta jalan sendiri di samping Dilla, tau taunya malah Rio lari ke bagian coklat," Dilla menjelaskannya sambil meremas tangan.


Dilla takut jika ia akan di pecat karena keteledorannya. Sedangkan yang mendengar hanya berdecak kagum dengan kepandaian Rio. Walaupun akhirnya Rio terkenal imbas sendiri.


"Maafkan saya Tuan, Tante dan Om, Dilla janji tidak akan teledor lagi, mohon jangan pecat Dilla," ucap Dilla menyesal.


"Tidak apa apa Dilla, itu sepenuhnya bukan salah kamu, itu Rio nya sendiri yang nakal dan kelewatan pintar," sahut Rita dengan senyum geli atas kelakuan cucunya.


"Terima kasih Tante," seru Dilla senang.


"Berati ya wajar kalau rio sakit gigi, apalagi Rio tidak menggosok gigi. Jangan kan Rio, tapi semua orang juga akan begitu jika banyak makan manis tapi malas gosok gigi," bela Sultan.


"Jadi masalahnya sudah jelaskan, kalau begitu Om mau pamit dulu mau ke kamar, Nak Sultan jangan pulang dulu ya, main dulu di sini," ujar Aditya.


"Baik om, Sultan numpang makan sekalian ya Om. Sultan belum makan malam soalnya," ujar Sultan.


"Iya, Dilla nanti kamu temani Sultan makan ya?" tanya Aditya.


"Balik om," jawab Dilla.


Aditya dan Rita segera meninggalkan ruangan itu.


"Masih aja kamu suka numpang makan Sultan, padahal uangnya sudah banyak, cari gratisan mulu," ujar Ryan.


Kini di ruangan itu tinggal Dilla, Ryan, Dafa dan Sultan.


"Kan uangnya mau ditabung buat masa depan, apalagi masa depan sudah ada di mata," rayu Sultan ke Dilla dan menarik turunkan alisnya.


Dilla yang dirayu jadi tersipu malu tersendiri. Baru kali ini ada orang yang menggodanya langsung.


"Kamu Sultan lebih baik ingat umur, itu anak orang masih muda," kata Dafa.


"Lah kenapa memangnya, cinta itu tidak memandang usia, iya tidak Dek Dilla?" tanya Sultan ganjen.


"Sultan, kamu jangan bikin anak orang takut, jika mau makan sana pergi makan, kalau tidak sana pulang," usir Ryan.


"Kenapa kalian jadi yang sewot sih, Dek Dilla aja tidak masalah ya kan?, kalau gitu ayo Dek Dilla kita pergi mak...."


"Eh ada Oppa," tiba tiba Mina datang sambil membawa minuman dan memotong pembicaraan Sultan.


Tadi Mina di suruh Bi Imah buat bawa minuman, karena kata Bi Imah ada tamu. Sebenarnya Mina malas bawanya. Tapi sekarang pas tau tamunya Sultan kenapa tidak dari tadi saja suruhnya.


"Oppa ngapain di sini, mau menemui Mina ya, aduh Mina jadi senang," ujar Mina.


Mina segera meletakkan minumannya. Reza dan Dafa barengan melirik muiona dan Sultan.


"Kamu ada hubungan apa sama Pembantu aku?" tanya Ryan.


"Tidak... tidak ada hubungan apapun," Sultan segera menjelaskan.


Sultan aja yang mendengar suara Mina jadi merinding disko. Apalagi jika punya hubungan lain.


"Aduh Oppa ini pura pura tidak kenal sama Mina, padahal kemarin cepat cepat mau ajak mina ke KUA," bantah Mina.


"Siapa yang mau ngajak kamu ke KUA, ke kuburan ya kali," jawab Sultan tak terima.


"Ihhh... Oppa jahat gitu sih sama Mina, ntar benci jadi cinta lho," sahut Mina.


Dilla, Dafa dan Ryan seakan tiba tiba lagi menonton film drama secara live, apalagi Mina barusan membawa minuman dan cemilan, makin komplit dah.


"Mana mana, coba Mina lihat, siap tau Oppa lagi berbohong?" minta Mina.


"Ni kamu lihat sendiri, berdiri semua kan," jawab Sultan tak terima jika dia di bilang berbohong.


Sekarang kedua tangan sultan di angkat ke arah Mina. Sultan ingin menunjukkan kalau dia tidak berbohong.


Cup....


"Huwaaa...," teriak Sultan histeris dan langsung loncat ke pojok sofa.


Mina tiba tiba mengambil tangan kanan sultan dan mencium punggung tangan tersebut.


"Ngapain kamu cium cium tangan aku," kata Sutan tak terima.


Sultan segera mengelap bekas kecupan Mina.


"Mina lagi mencium tangan imam masa depan Mina," jawab Mina senang.


"Siapa yang mau jadi imam kamu, jangan gila kamu," protes Sultan tak terima.


Sultan meras tangganya sudah tidak suci lagi, perlu dimandikan sama kembang tujuh rupa.


"Oppa tau aja jika Mina tergila gila sama oppa," jawab Mina pura pura tersipu malu.


Dunia hanya milik kita berdua itulah yang dirasakan oleh tiga penonton. Mereka dengan khusyuk menonton drama dadakan dan tak lupa minum teh yang tersedia.


"Sudah sana sana, sana kamu pergi, aku mau makan," usir Sultan yang seperti tikus di kerumuni kucing di pojokan.


"Oh mau makan, ayo Mina temani, kenapa tidak bilang dari awal, tau gitu Mina tidak makan dulu tadi, agar kita bisa makan malam romantis," kata Mina semakin ngawur.


"Jangan geer kamu, aku mau makan di temani sama Dilla bukan sama makhluk tak jelas seperti kamu," bantah Sultan.


Sultan masih saja mengusir Mina dengan bantal yang ia pegang


Mina yang mendengar perkataan sultan segera melirik ke arah Dilla.


"Dilla ini sudah malam, lebih baik kamu tidur aja sana ya, pasti sudah capek menjaga ketiga Tuan muda, biar Mina saja yang menemani Oppa Sultan makan ya. Biar dia makan sambil menatap wajah Mina yang cantik," suruh Mina.


"Ah baik, terima kasih Mbak, Dilla juga sudah capek," jawab Dilla.


"Nah, Dilla sudah capek, ayo makan sama Mina," ujar Mina.


"Tidak mau, sana pergi pergi," Sultan merasa makin terpojok.


"Udah sini jangn malu malu," mina segera meraih tangan sultan dan menggandengnya (baca: menyeret) Sultan ke arah ruang makan.


"Tidaaak.... Lepaskan aku, Ryan, Dafa tolong aku," teriak Sultan histeris yang di tarik sama Mina.


Sultan ketakutan seperti Mina akan memutilasinya.


"Huwaha... ha... ha...," ketawa dafa dan Ryan dengan keras melihat kesengsaraan Sultan.


Kapan lagi melihat Sultan ketakutan seperti begitu.


"Tuan Tuan kenapa tertawa begitu?" tanya Dilla tidak paham.


"Hah... hah... hah... kamu tidak lihat Dilla, sikap Sultan yang takut begitu sungguh lucu," ujar Ryan masih kecapekan ketawa.


"Bener, jarang jarang bisa lihat playboy cap teri takut cewek, padahal sama manyat aja tidak takut," tambah Dafa.


"Lucu apaan ya Tuan, yang Dilla lihat mereka sangat romantis," jawab Dilla polos.


Dafa dan Ryan yang masih ketawa keras langsung terdiam seketika mendengar perkataan Dilla.


'Romantis dari mana, dari hongkong,' batin keduanya.


Bersambung....