
Sultan hari ini kembali mengunjungi kediaman Suherman. Mama Sultan menitipkan hadiah buat Dilla. Sultan tidak bisa menolak keinginan Mamanya, nanti bisa ketahuan hubungan pura pura mereka.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Ryan.
Hari ini adalah hari minggu jadi semua orang ada di rumah.
"Ini Mama aku ada titipan buat Dilla," jawab Sultan.
Sultan menyusul Ryan yang duduk di sofa.
"Apa itu," kepo Ryan.
"Aku juga tidak tau, aku tidak melihat isinya. Ngapain juga aku lihat jika itu bukan barang aku," jawab Sultan.
"Oh," respon Ryan.
Ryan melanjutkan membaca koran.
"Mana Dilla?" tanya Sultan sambil melirik sekeliling, siapa tau ada Dilla yang kebetulan lewat.
Ryan melipat kembali korannya, sekarang mood membacanya sudah hilang.
"Dia lagi main sama anak anak di ruang keluarga," jawab Ryan.
"Kalau gitu aku mau kasih oni dulu ya," Sultan segera pergi menemui Dilla di ruang keluarga.
***
Di ruang keluarga ada trio R, Dilla dan Jelita. Jelita sudah sering ikut nimbrung bersama mereka baik bermain atau belajar. Jelita sekali kali mencoba menyahut perkataan Rafa dan lainnya.
"Dilla," panggil Sultan.
Semua orang yang ada di sana melihat ke arah Sultan. Dilla segera bangun dan menghampiri Sultan.
"Ada apa Dokter," sahut Dilla.
"Saya ingin bicara sama kamu sebentar," kata Sultan.
Dilla berpamitan sama mereka sebentar, baru kemudian mengikuti langkah Sultan.
"Ini Mama saya memberikan ini untuk kamu. Kamu terima ya," ujar Sultan.
Sultan segera memberi hadiah itu
"Tapi apa ini dokter," ujar Dilla.
Dilla membuka tas itu dan melihat isinya. Isinya adalah sebuah dress yang sangat bagus menurut Dilla.
"Tapi Dokter ini terlalu bagus buat Dilla," ujar Dilla kembali setelah melihat isinya.
"Kamu terima aja, itu dari Mama saya. Tidak mungkin saya simpan yang beginian." sahut Sultan.
"Terima Dokter, nanti tolong sampaikan terima kasih Dilla buat Mama Dokter ya."
"Iya."
Ekhemmm….
"Jika mau pacaran jangan di rumah orang, kayak tidak ada tempat lain saja," ujar Ryan yang dari tadi mendengar obrolan mereka.
"Lagian kalian juga aneh, kalian pacaran tapi masih panggil Sultan dengan sebutan Dokter," sambung Ryan.
"Kenapa memangnya, bagi orang lain terdengar sama, tapi bagi aku Dilla memanggilnya dengan spesial," sahut Sultan.
"Spesial dari mananya, panggilan biasa antara pasien sama dokternya," kata Ryan mengejek.
"Ya terserah kami dong mau panggil apa, kami yang pacaran kenapa kamu yang sewot gitu. Kamu kayak lagi cemburu aja."
"Siapa yang cemburu," jawab Ryan tidak terima.
Dilla dari tadi hanya menjadi penyimak antara Sultan vs Ryan.
'Apa bener Tuan cemburu ya.'
Tiba tiba Dilla ada ide untuk mengetesnya.
"Tuan jangan begitu dong, Dokter Sultan tamu di sini," ucap Dilla sambil memegang lengan Sultan.
Sultan melihat Dilla yang menggandeng tangannya, Ryan juga ikut melihatnya.
"Ya tamu tak diundang," setelah berkata begitu Ryan segera pergi.
Hatinya terasa panas melihat Dilla yang menggandeng Sultan.
"Kamu kenapa pegang pegang, sudah mulai suka ya," goda Sultan.
"Siapa yang suka, sudah ya Dilla mau lihat anak an ak lagi," ujar Dilla sambil berlalu.
"Jika suka tidak apa apa ko, masih single ini," tambah Sultan sambil berteriak karena Dilla berjalan semakin jauh.
Dilla kembali baik ke arah Sultan, dia mencubit pinggang Sultan kemudian dia berjalan lagi ke arah anak anak.
Sultan masih mengelus cubitan Dilla, cubitan Dilla lumayan sakit.
"Kok haus ya, ini Ryan jadi Tuan rumah gimana sih, tamu datang malah tidak kasih minum. Tapi kalau ambil sendiri bisa jumpa sama si bawel. Kalau tidak minum bisa serek ini," kata Sultan dilema.
Sultan berjalan mengendap ngendap seperti maling pergi ke dapur. Dia mau menghindari Mina. Melihat kondisi aman Sultan segera mendekati kulkas dan mengambil air dingin.
"Eh ada Oppa Sultan di sini," sapa Mina yang baru datang.
Huk huk huk
Sultan tersedak air minum saat mendengar suara Mina, padahal Sultan sudah waspada tadi.
Mina segera mendekat dan membersihkan air yang tumpah di baju Sultan.
"Oppa sudah besar tapi minumnya masih belepotan begini," kata Mina.
Sultan segera menepis tangan Mina.
"Tidak usah aku bisa sendiri," ujar Sultan.
Sultan mengambil tisu yang lain dan membersihkan sendiri.
"Kenapa malu sih, Mina senang bisa bantu Oppa," kata Mina berbinar.
"Bukanya aku malu tapi kamu tuh yang tidak tau malu," ujar Sultan pedas.
"Ngapain malu sama Oppa, oppa kan calon suami Mina," jawab Mina pede.
"Idiiih amit amit cabang bangkrut," kata Sultan ilfeel.
Mina mengabaikan perkataan Dokter Sultan, Mina dengan pede menggandeng tangan Sultan.
"Apa yang kamu lakukan, lepas tidak."
Sultan berusaha melepaskan tangan Mina dari lengannya. Sultan dengan kencang menghentakkan tangan Mina. Seluruh badan Sultan merinding di gandeng Mina walau hanya sebentar.
"Kenapa sih kasar kasar sama Mina, sakit tau," protes Mina.
"Kenapa kalian berdua bisa ada di sini," tegur Ryan yang kembali muncul.
Ryan seperti melihat sesuatu yang mencurigakan antara Mina dan Sultan.
"Tidak apa apa kok Tuan, tadi Dokter Sultan hanya terbatuk dan menumpahkan air, jadi Mina hanya bantu membersihkan saja," jawab Mina kalem.
Ryan dan Sultan menaikan alisnya. Mereka heran dengan Mina. Ryan kemarin yakin jika melihat Mina yang dengan gencar mengejar Sultan tapi sekarang seperti tidak hal yang terjadi.
Tapi beda halnya dengan Sultan. Sultan seperti melihat Mina yang berkepribadian ganda, tadi suka menggoda, sekarang bersikap kalem.
Ryan tidak mau pusing memikirkan yang bukan menjadi masalahnya. Ryan melanjutkan tujuannya ke sini, yaitu mau ambil air minum juga. Setelah mengambil minum Ryan kembali ke ruang tamu.
Sultan mau menyusul tapi tangannya keburu di tarik Mina. Sultan ingin meminta tolong sama Ryan tapi mengurung niatnya setelah mendengar bisikan Mina.
"Mina tau loh kalau Oppa pura pura pacaran sama Dilla," bisik Mina halus.
Sultan panik, untung saja Ryan sudah pergi. Sultan menarik Mina ke area sepi.
"Kenapa Oppa bawa Mina ke sini, ah Mina tau Oppa mau cium Mina ya, sini Mina cium duluan."
Mina sudah memonyongkan bibirnya, Sultan menggunakan tangan kiri untuk mendorong wajah Mina agar menjauh.
"Ih Oppa kenapa sih," kata Mina tidak terima.
Sultan membersihkan tangan kirinya, dia mengelap dengan sapu tangan yang sering dia bawa.
"Jangan harap aku bakal ciuman sama kamu, tuh tembok ada, sana main cium sama tembok aja."
"Jahatnya." kata Mina lesu.
"Apa maksud kamu bicara seperti tadi,?" tanya Sultan penasaran.
Mina kembali semangat dan tersenyum lebar. Dia memepet diri ke arah Sultan. Sultan semakin mundur.
"Mina tau kalau Oppa minta Dilla jadi pacar Oppa di depan orang tua Oppa. Mina sudah dengar semuanya," ujar Mina.
Mina sengaja berbohong agar Sultan tidak tau jika dia mengetahui hal ini dari Dilla.
'Kapan dia tau, apa dia menguping pembicaraan aku sama Dilla dulu, ini bisa gawat darurat. Kenapa dari sekalian banyak orang malah si bawel yang tau.'
Sultan meringis mengetahui hal ini. Kedepan kehidupannya pasti bakal nambah masalah.
"Jadi apa mau mu," kata Sultan mencoba bersikap santai.
Mina tersenyum semakin lebar yang membuat Sultan merasa ngeri.
"Mina ada penawaran, jika Oppa menolak, Mina akan segera membocorkan hal ini pada Mama Oppa gimana," ancam Mina.
Mina akan memanfaatkan kesempatan emas ini untuk bisa mendapatkan hati Oppa Sultan.
"Ok apa penawaran nya, tapi kamu jangan bocorkan rahasia ini sama Mama aku, aku tidak mau Mamaku menjodohkan aku lagi."
"Tenang saja, jika Oppa setuju semua bisa diatur."
Akhirnya Sultan dan Mina membuat sebuah kesepakatan. Sultan tidak bisa menolak kesepakatan itu. Sebuah kesepakatan yang membuat mereka bisa bersama nantinya.
Bersambung….
Terimakasih bagi yang telah vote, senang lihat ada perubahan peringkat. Vote terus ya biar makin semangat mengetik.