
"Kamu harus tau Dilla, dari yang aku lihat Ryan sepertinya juga suka sama kamu maksud aku suka dalam konteks romantis," ujar Jelita.
"Itu tidak mungkin Mbak, bagaimana bisa Tuan Tuan menyukai saya begitu," bantah Dilla tak percaya.
Karena terlalu terkejut dengan ucapan Jelita, Dilla tanpa sadar berdiri. Dilla tidak percaya Tuannya menyukai dia seperti yang di bilang Jelita. Bahkan Dilla mendengarnya sendiri dari mulut Ryan.
"Kamu duduk dulu, mungkin Ryan saat ini belum sepenuhnya yakin kalau menyukai kamu, aku yakin jika kamu berusaha dia pasti akan sadar jika dia suka sama kamu," bujuk Jelita.
"Mbak jangan bicara yang bukan bukan. Tuan Ryan pernah berkata pada Dilla, dia tidak akan pernah mencintai wanita lain karena dia sangat mencintai almarhum istrinya."
"Dilla, untuk saat ini Ryan memang mengatakan begitu tapi suatu saat dia pasti akan menerima kamu jika kamu bisa menyakinkan dia. Karena dia hanya belum mengetahui perasaannya karena tertutup sama cinta Riana, kamu percaya sama saya, saya akan membantu hubungan kalian."
"Mbak saya ini tidak pantas bagi Tuan Ryan," ujar Dilla lemah.
"Jadi kamu tidak menyangkal jika kamu memang menyukai Ryan," pancing Jelita.
Wajah Dilla kini seperti buah tomat. Dilla memang secara tidak sadar dia mengakui perasaannya.
"Itu Dilla...."
"Kamu hanya perlu percaya sama saya Dilla, sepeti saya percaya sama kamu, bahwa kamu membantu saya agar bisa berbaikan sama Rafa."
"Tapi Mbak, saya ini hanya orang miskin, saya beda derajat sama Tuan Ryan,"
Jelita memutar matanya. Bagi Jelita ini hanya alasan konyol, cinta ya cinta.
"Asal kamu tau ya Dilla, almarhum istri Ryan dulu juga dari kalangan bawah. Dia hanya pelayan kafe kecil. Jadi kamu tidak usah mempermasalahkan status. Bahkan walaupun Riana sudah meninggal keluarga Ryan masih tetap membantu membiayai kuliah Lisa adik Riana di luar negeri. Jadi kamu tidak usah minder."
Dilla merasa bimbang sekarang. Ini mungkin kesempatan dia, tapi dia masih merasa minder.
"Sudah tidak usah banyak berpikir yang aneh aneh, kesepakatannya kamu akan membantu saya agar Rafa mau menerima saya kembali dan aku akan membantu kamu supaya bisa bersama dengan Ryan, gimana deal."
"Tapi Mbak ini...."
"Sudah, tidak ada tapi tapian, atau saya akan segera memberitahukan perasaan kamu sama Ryan sekarang," ancam Jelita.
"Jangan Mbak," seru Dilla.
Kata dilla menggelengkan kepala dan memegang tangan Jelita yang mau bangun.
"Kalau begitu kamu dengerin saya, biarkan hubungan kalian berjalan dengan semestinya. Jangan terlalu lambat atau gegabah. Ryan tidak suka sama tipe cewek yang suka mengejar terlalu aktif," saran Jelita.
Dilla tidak tau apa ini keputusan yang baik atau tidak.
"Baik Mbak, Dilla akan mencoba," jawab Dilla kurang yakin.
Walaupun masih belum yakin sepenuhnya, Dilla mau mencobanya. Setidaknya dia sudah berusaha. Jika tidak berhasil mungkin Dilla bakal mengundurin diri dan cari kerja lain.
"Nah gitu dong, jadi orang harus pede, jangan lembek. Jika begini saja kamu sudah lemah bagaimana kamu akan menghadapi dunia ini. Dunia ini sangat keras maka kamu juga harus lebih keras. Sudah lah ayo kita turun sekarang. Saya tidak mau Rafa dan yang lain terlalu lama menunggu kamu."
***
Di ruang tamu hanya tinggal Soraya saja teman Rita yang datang tadi. Teman teman yang lain sudah pamit pulang. Soraya sengaja tidak pulang dulu karena menunggu Dilla. Sultan juga masih ada di sana, Soraya yang menahan Sultan pulang.
Sedangkan Rio, Rafa dan Reza sedang menikmati kue coklat yang di beli oleh Jelita. Rita dan Ryan juga ada di situ mengawasi trio R.
"Aduh Dilla kamu kemana aja, Mama sudah lama menunggu kamu di sini," ujar Soraya.
Soraya yang melihat Dilla segera menghampiri Dilla. Dilla hanya sendiri datang ke sana, Jelita sudah pergi ke kamarnya
"Mama sama Sultan mau pulang dulu ya sayang, sebentar lagi sudah malam," kasih tau Soraya.
"Ah iya hati hati Mama," ucap Dilla.
"Sultan kamu tidak pamit dulu sama Dilla, kamu ini pacarnya tapi malah cuek begitu," tegur Soraya.
Cring....
Mina tadi mau mengantarkan minuman buat trio R, tapi mendengar Soraya mengatakan bahwa Dilla dan Sultan pacaran dia sangat terkejut. Nampan yang dia bawa terlepas dari tangannya sehingga membuat suara yang gaduh.
Semua otang melihat ke arah Mina. Air sudah tumpah dengan gelas pecah berhamburan.
Mina segera berlari kebelakang sambil mengusap air mata nya yang mengalir. Tapi mina harus bersikap profesional, dia segera mengambil sapu dan pel untuk membersihkan beling dan tumpahan air.
"Dia siapa?" tanya Soraya.
"Dia Mina, pembantu di sini," jawab Rita.
"Sepertinya saya pernah melihatnya, tapi di mana ya, wajahnya tidak asing," ujar Soraya.
"Mama salah orang kali, sudah lah Ma ayo kita pulang, Dilla kami pamit pulang dulu ya," pamit Sultan.
Sultan sengaja mengusap kepala Dilla agar Mamanya tidak curiga.
"Angan egang emang," kata Rio.
Rio tidak suka saat Sultan menyentuh Dilla.
"Huss huss cana cana egi," usir Rio.
"Rio tidak boleh begitu sayang, itu tidak sopan," tegur Rita.
Rita tidak mau cucunya bersikap tidak sopan.
"Liyo ndak cuka Om egang egang Omy, Omy unya Liyo," sahut Rio tidak suka.
"Aduh sudah kecil tapi sudah pinter jaga Mommy," ucap Soraya bangga.
Soraya sudah tau cerita kenapa anak asuh Dilla memanggil Dilla Mommy. Jadi soraya memakluminya, karena mereka sudah dekat sama Dilla. Tapi hati kecil Soraya juga sedikit khawatir akan berpengaruh sama hubungan Dilla dan Sultan.
Sultan dan Soraya sudah pamit. Semuanya juga pergi kini tinggal Dilla yang sedang mengendong Rio dan Ryan yang mendekati Dilla.
"Dilla saya peringatkan kamu agar menjauhi Sultan, dia tidak pantas sama kamu, lebih baik kamu putus saja sama dia," kata Ryan memperingati Dilla dengan serius.
Setelah berkata begitu Ryan segera pergi ke lantai atas. Ryan merasa marah akan hubungan Sultan dan Dilla. Ryan takut Sultan akan membawa Dilla pergi dari rumah ini.
Deg deg deg
Dilla yang di peringati sama Ryan malah jantung nya berdetak keras. Dia jadi teringat akan ucapan Jelita jika Tuannya punya rasa sama dia.
'Apa Tuan Ryan cemburu ya.'
Dilla malu sendiri memikirkannya. Dilla memeluk Rio erat dan membenahkan wajah memerahnya di bahu Rio.
"Omy teli," ucap Rio yang geli akan nafas Dilla.
"Maafkan Mommy sayang, Mommy lagi senang aja," kata Dilla.
"Omy cenang," ujar Rio yang ikut senang.
"Iya sayang, Mommy lagi senang sekarang," jawab Dilla sambil mencium pipi tembem Rio.
"Liyo uga cenang talau omy cenang," sambung Rio.
"Ah Rio gemes banget, anak siapa sih," ucap Dilla.
"Liyo anak Omy," jawab Rio.
Dilla semakin gemes sama jawab Rio. Dilla makin mencium wajah Rio yang membuat Rio tertawa senang.
Bersambung....
Jangan lupa vote ya....
Maaf jika beberapa hari ke depan jika up tidak pasti, tapi akan di usahakan up. Kadang tepat waktu kadang telat. Karena sudah dekat lebaran jadi ada banyak kegiatan, mohon dimaklumi ya...
Jangan lupa follow dan masuk ke grup ya, di sana author akan bilang jadwal up pastinya dan saling bersilaturahmi....
Terima kasih untuk dukungan kalian semua.
Sampai jumpa di bab selanjutnya...