
Ketika tengah malam hari tiba, mereka baru sampai kembali di hotel. Rio sudah tertidur di dalam gendongan Dilla dan Rafa dalam gendongan Ryan. Sedangkan Reza masih sanggup berjalan sendiri. Ketika ingin membuka pintu hotel mereka berpapasan dengan Dafa yang baru keluar dari kamar sendiri.
"Kalian baru sampai?" tanya Dafa basa basi.
Ryan tetap lanjut membukakan pintu tanpa menjawab pertanyaan Dafa.
"Iya Mas, kami baru saja pulang," jawab Dilla karena Ryan tidak mau merespon pertanyaan Dafa.
"Sini, serahkan saja Rafa pada aku," pinta Dafa.
Ryan segera menyerahkan Rafa ke Dafa dalam keadaan diam.
"Ryan, nanti aku mau bicara sama kamu sebentar ya. Kamu antar mereka aja dulu," kata Dafa.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ryan.
Dafa melihat sekilas ke arah Dilla dan Reza.
"Nanti aja kita bicaranya."
Ryan menganggukkan kepalanya.
"Tunggu sebentar ya. Aku mau mengantar mereka masuk dulu," ujar Ryan.
"Iya, aku juga mau menidurkan Rafa di kasur dulu," sahut Dafa.
Mereka berempat masuk ke dalam kamar termasuk Dafa ke kamar sendiri. Dilla segera membaringkan tubuh Rio di atas kasur.
Reza tanpa disuruh segera naik ke atas tempat tidur dan langsung menutup mata karena terlalu lelah.
"Sayang aku pamit sebentar sama Dafa ya," pamit Ryan.
"Iya Mas, Mas hati-hati ya. Jangan pulang terlalu larut," kata Dilla memperingati.
"Iya sayang, Mas usahakan secepatnya kembali," jawab Ryan.
Ryan mengecup sekilas kening Dilla sebelum dia pergi.
"Mas pergi ya."
Setelah kepergian Ryan, Dilla memutuskan menggantikan pakaian Reza dan Rio. Dilla yang juga capek mendudukan tubuhnya di sofa sambil menonton untuk menunggu kepulangan Ryan. Lama kelamaan bukan Dilla yang menonton TV, tapi TV yang menonton Dilla tertidur. Padahal Dilla tidak ada niat tidur dulu. Dia mau menunggu Ryan pulang.
***
Ryan dan Rafa memutuskan untuk bicara di restoran sambil menikmati segelas kopi.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ryan to the point.
Dafa meminum kopinya sedikit sebelum memulai pembicaraan.
"Begini Ryan, rencananya besok aku akan mencoba membujuk Rio dan Reza supaya mau ikut bersama kami. Jadi nanti kamu dan Dilla bisa menikmati waktu kalian bersama seharian," ujar Dafa.
Ryan malah menatap Dafa dengan tatapan mencurigakan.
"Kamu tidak usah mata aku seperti itu."
"Aku tidak percaya sama kamu," jawab Ryan jujur.
"Maaf maaf, aku tau aku salah," kata Dafa sambil tertawa kecil.
"Sudahlah, aku mengerti. Walaupun kalian tidak datang semuanya sudah terlanjur juga. Aku tidak terlalu mempersalahkan lagi. Rio itu bagaikan telur yang baru menetas. Jadi kemana pun Dilla pergi dia pasti akan ikut. Aku juga harus memikirkan mereka, aku tidak mau egois. Aku menikah sama Dilla bukan berati Dilla hanya milik aku saja, tetapi milik anak-anak aku juga," ujar Ryan.
"Ya aku bisa memahami itu. Aku janji, aku benar-benar akan menjaga mereka bertiga dengan besok. Aku akan membujuk agar mereka bertiga mau bersama kami. Dan kalian berdua bisa menikmati waktu bersama," kata Dafa serius.
"Aku tidak yakin kamu bisa membujuk Rio. Kamubkan tau Rio bagaimana? dia hanya mau nurut sama Dilla tapi tidak berpisah sama Dilla."
"Kamu tenang saja. Aku sudah punya ide untuk membujuk mereka terutama Rio. Aku yakin aku bakal berhasil membujuk mereka," kata Dafa dengan sangat yakin.
"Ide bagaimana?" tanya Ryan penasaran.
"Nanti kamu juga tau. Tapi aku hanya bisa membujuk mereka sampai malam saja ya. Aku akan usahakan membawa pulang Rio dan lainnya sampai larut malam agar tidak mengganggu kalian berdua. Besoknya pasti mereka tidak akan tahan jika tidak bertemu sama Dilla. Bagaimana?" tawar Dafa bagaikan ibu-ibu jualan panci.
Ryan terdiam.
"Kenapa kamu diam, aku tidak akan menipu kamu kok. Anggap aja ini balasan karena tadi aku sudah menikmati waktu berdua sama Jelita," sambung Dafa.
"Baiklah, kita coba ide kamu dulu. "jawab Ryan dengan mengangguk kepala.
"Kali ini aku percaya sama kamu. Awas saja jika kamu berani berbohong sama aku," tambah Ryan dengan tatapan tajam.
"Oke oke, aku janji jika aku tidak berbohong."
***
Ryan membuka pintu kamar hotel. Ryan melihat jika Dilla tidur di atas sofa. Ryan segera mendekati Dilla tanpa banyak bicara. Ryan mengambil remot dan mematikan Tv yang masih menyala. Ryan mengangkat Dilla ke atas tempat tidur. Dilla terjaga saat Ryan mengangkatnya.
"Mas." panggil Dilla dengan suara lemah karena masih mengantuk.
Ryan meletakkan Dilla di atas kasur.
"Kamu lanjut saja tidurnya ya," ujar Ryan sambil mengusap kepala Dilla.
Ryan mengecup sekilas kening Dillap serta kening kedua anaknya. Sesudah itu dia memutuskan untuk tidur juga bersama mereka bertiga.
***
"Rio," panggil Dafa pelan.
"Iya Addy," sahut Rio.
Mereka kembali menuju ke restoran buat sarapan pagi. Dafa sengaja memanggil Rio pelan agar tidak di dengar oleh lain. Mereka kebetulan berjalan paling di belakang.
"Rio, Daddy mau bicara sesuatu sama Rio," ujar Dafa memulai percakapan.
Dafa sengaja menekankan langkahnya agar semakin jauh jarak sama yang lain. Dafa sengaja memisahkan Rio dan lain-lainnya supaya lebih mudah membujuk Rio.
"Bicala apa Addy? tan Addy agi bicala cetalang," tanya Rio.
"Ah maksudnya Daddy, Daddy mau bicara hal yang penting sama Rio," kata Dafa ulang.
"Apa itu bicala enting Addy?" tanya Rio lagi.
"Bicara penting itu… intinya Rio mau tidak ikut sama Daddy. Nanti Abang Reza dan Abang Rafa juga akan ikut," ujatr Dafa.
Dafa tidak mau pusing menjelaskan ke Rio. Yabmng ada masalah semakin ribet.
"Apa Omy itu Addy."
"Kenapa tanya Omy saja? Papa mau dikemanakan?"
"Papa ndak te mana-mana Addy. Papa macih di cana," tunjuk Rio ke arah Ryan yang berjalan di depan.
Dafa melihat ke arah yang ditunjuk sama Rio.
"Liyo itut talau Omy itut," sambung Rio.
'Bener-bener ana bebek.'
"Mama sama Papa tidak ikut karena…."
"Kalau Omy ndak itut, Liyo ndak itu t," jawab Rio cepat.
"Rio dengarkan Daddy dulu…."
"Ndak mau denal," bantah Rio.
'Lama-lama bisa darah tinggi ni. Tapi tahan, harus sabar Dafa. Kamu pasti bisa bujuk Rio. Kamu harus menang Dafa, jangan kalah adu mulut sama anak kecil.'
"Bener nih Rio tidak mau ikut sama Daddy?"
"Benel Addy. Talau boong doca loh. Liyo ndak mau boong nanti Omy malah-malah."
"Yah sayang sekali. Padahal Daddy mau mengajak Rio beli oleh-oleh. Nanti Rio bisa membeli oleh-oleh spesial buat Mama. Ya sudah deh, Daddy ajak Abang Rafa dan Reza saja. Sekalian nanti Daddy mau belikan mereka es krim dan coklat yang baaanyak," kata Dafa memancing dan memanasi Rio.
Rio berhenti berjalan mendengar perkataan Dafa.
"Oleh-oleh buat Omy," tanya Rio berbinar.
"Iya."
"Es telim dan clat-clat banaaak," kata Rio merentangkan ke dua tangan.
"Iya, tapi Rio sudah janji mau ikut, nanti kalau Rio ikut jadi bohong dong," sambung Dafa.
'Akhirnya termakan juga sama rayuan aku hahaha.'
Rio dilema, dia sudah janji tidak mau ikut jika Omy nya tidak ikut.
'Api Liyo mau es telim dan clat-clat. Maap Liyo ya Omy, Liyo milih es telim cama clat-clat. Becok Liyo ndak tan boong. Hali ni Liyo boong cetali.'
"Addy Liyo itu dong," pinta Rio.
"Katanya tidak mau ikut. Nanti Rio berbohong lho," kata Dafa sambil tertawa dalam hati.
"Emm… itu… ahhh Addy angan ilang-ilang cama Omy. Tan Omy ndak tau talau Liyo boong ya ya," pinta Rio.
"Bener ni mau ikut?" tanya Dafa pura-pura tidak yakin.
"Iya Addy, Liyo itut Addy. Api angan ilang cama Omy ya. Omy celem talau malah," bujuk Rio balik.
"Baiklah, Daddy tidak akan bilang sama Mama. Tapi Rio janji ya jangan minta pulang nanti."
"Liyo anji Daddy," jawab Rio sambil mengangkat tangan.
"Oke, nanti Daddy akan minta izin sama Papa dan Mama."
"Holeee…."
Mereka kembali berjalan mengikuti yang lainnya yang sudah masuk ke restoran.
Bersambung....