
Sam masih menatap kepergian Jesika sampai mobil itu menghilang. Dilla yang melihatnya jadi kasihan sama Sama. Sam masihlah anak kecil yang butuh perhatian ekstra.
"Sam ikut sama Tante saja ya," ujar Dilla.
Sam menatap Dilla sebentar, kemudian dia membuang muka. Sam berlalu masuk sendiri ke dalam gedung sekolah.
"Anak sama ibu sama aja, sama-sama sombong," ujar Jelita.
"Mbak jangan begitu sama anak kecil. Mungkin itu adalah efek kondisi dari ibunya. Mbak lihat sendiri bagaimana ibunya yang tidak peduli sama Sam," bela Dilla.
"Itu sama saja Dilla. Memang ya, kalau buah itu tidak jauh jatuh dari pohonnya. Bagaimana orang tua begitulah anaknya. Yah kecuali pohonnya tumbuh di puncak gunung dan buahnya menggelinding," sahut Jelita.
"Sudah lah Mbak. Sekarang kita masuk saja, nanti Reza dan Rafa bisa terlambat," ucap Dilla.
"Ayo kita masuk, Reza dan Rafa ayo-ayo," ajak Jelita bersemangat.
Reza dan Rafa tadi sudah berkenalan dengan beberapa murid baru lainnya sambil menunggu Dilla dan Jelita berbicara sama Jesika. Mereka segera meraih tangan Jelita dan Dilla. Mereka berempat memasuki ruang kelas yang akan mereka tempati nanti.
Sudah banyak para siswa lainnya yang datang didampingi oleh orang tuanya. Para ibu-ibu yang sudah duluan datang sudah mulai kebiasaan jika sudah berkumpul, yaitu ngerumpi.
Reza, Rafa dan Sam berada di satu kelas yang sama. Sehingga mereka berkumpul juga di satu ruang yang sama.
"Ibu-ibu dan adik-adik sekalian, perkenalkan Ibu adalah wali kelas kelas 1A. Hari ini adalah hari pertama kita masuk sekolah."
"Sekarang kita akan mengundi tempat duduk. Kita akan mengocok nomornya untuk memilih tempat duduk agar adil," ujar wali kelas.
"Sekarang ayo semuanya mendekat dan mengambil nomornya. Jangan rebutan, semuanya pasti dapat."
Setelah dapat nomor mereka kembali ke orang tuanya masing-masing dan menyerahkan kepada orang tuanya untuk melihat nomor tempat duduk.
"Rafa duduk di barisan paling depan. Kalau Reza bagaimana?" tanya Jelita.
"Reza duduk di bagian pojok belakang," sahut Dilla.
Reza langsung cemberut saat tahu dia duduk di pojokan. Reza lebih suka duduk di barisan depan daripada belakang.
"Reza tidak apa-apa ya jika duduk di belakang. Ini kan adil, semuanya diundi," bujuk Dilla saat melihat raut wajah Reza yang tidak semangat lagi.
"Tapi Reza mau duduk di depan Ma. Duduk di depan lebih enak," sahut Reza.
"Iya Mama tau, tapi ini sudah diatur sama wali kelas. Kita tidak boleh seperti itu. Semuanya pada duduk itu, Ayo sana duduk," suruh Dilla.
"Iya Ma," jawab Reza.
"Ayo semuanya, sekarang duduk di kursi masing-masing sesuai nomornya."
Dengan langkah pelan Reza ke tempat duduknya. Sedangkan Rafa sudah dari tadi duduk di kursi depan.
Ketika Reza ingin duduk di kursinya, tiba-tiba Sam datang dan mendorong Reza dengan keras. Reza yang tidak siap langsung jatuh. Dilla kaget saat Sam mendorong Reza. Dilla segera mendekati Reza dan membangun Reza untuk berdiri kembali.
"Sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dilla khawatir.
Dilla memeriksa seluruh tubuh Reza supaya tidak ada terluka. Sedangkan Sam segera duduk di tempat yang seharusnya diduduki oleh Reza.
"Sam tidak boleh begitu sama teman sendiri," tegur wali kelas.
Sam terdiam, dia malah membuang muka dan melihat ke arah luar. Sam mengabaikan wali kelas.
"Siapa walinya Sam?" tanya wali kelas kepada para wali murid.
Para ibu-ibu mulai berbisik bertanya siapa orang tua dari Sam.
"Maaf Bu, tapi walinya tadi telah pulang," jawab Jelita.
"Kenapa pulang, seharusnya hari pertama harus ada wali yang mendampingi siswa," ucap wali kelas.
"Sudah Bu, tidak apa-apa. Lagian Reza juga tidak apa-apa. Iya kan sayang?" kata Dilla tidak mau memperpanjang masalah.
Reza menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah jika Ibu tidak mau mempermasalahkan ini. Sam lain kali tidak boleh seperti itu ya," ujar wali kelas memperingati.
"Sekarang mana nomor bangku Sam?" tanya wali kelas.
Sam tetap diam, karena Sam diam ibu wali kelas melihat di mana ada yang kosong. Ternyata kursi yang kosong berada di samping Rafa.
Reza mengangguk kepalanya dan segera duduk di tempat duduk jatah Sam.
"Sudah semuanya. Sekarang kita akan masuk pada sesi perkenalan diri masing-masing."
Tahap sesi perkenalan antara siswa baru dimulai. Semua siswa antusias memperkenalkan diri walaupun ada yang malu-malu. Tapi pada giliran Sam, Sam tidak berbicara sepatah kata apapun. Wali kelas hanya bisa menghela nafas melihat sikap Sam yang seperti itu.
Setelah acara perkenalan wali kelas meminta kepada para siswa untuk saling berkenalan satu sama lain agar mereka bisa berteman dengan baik. Reza dan Rafa dengan cepat bisa berbaur dengan yang lainnya bahkan ada anak perempuan yang berebutan untuk berkenalan dengan Reza. Mereka saling menyapa satu sama lain kecuali Sam.
"Lihat anak itu masih kecil sudah sombong."
"Iya, tadi kelakuannya juga tidak bagus. Pasti itu didikan daripada orang tuanya."
Bisik para ibu-ibu.
Jelita dan Dilla hanya mendengar bisikan itu. Mereka tau jika Sam pasti juga mendengarnya. Dilla mencoba mendekati Sam karena dia kasihan dengan Sam yang tidak berbaur sama yang lainnya.
"Sam," panggil Dilla lembut.
Sam melihat kearah Dilla.
"Kenapa Sam tidak mau berkenalan sama kawan yang lain," tanya Dilla sambil mencoba mengelus rambut Sam.
Sam hanya terdiam menatap Dilla yang mengelus rambutnya. Kemudian Sam melihat ke arah teman-teman lainnya. Sam hanya menggeleng kepala dengan pelan.
"Kenapa? padahal kan nanti Sam bisa mendapat teman yang banyak," sambung Dilla.
"...."
"Mama," panggil Reza.
Sam ingin menjawab tapi mendengar suara Reza, Sam jadi diam kembali. Reza sengaja mendekati Dilla yang berbicara sama Sam. Reza tidak suka Dilla mendekati Sam. Reza memeluk kaki Dilla posesif.
Tangan Dilla yang ada di kepala Sam segara disingkirkan oleh Sam. Sam mengambil tas sekolah kemudian dia langsung pergi keluar. Dilla dan lainnya hanya melihat kepergian Sam.
"Ya sudah semuanya. Ayo duduk di tempat duduk masing-masing kembali. Sebentar lagi kita akan mengakhiri perjumpaan hari ini," ujar wali kelas.
Setelah acara selesai para siswa dan wali dipersilahkan untuk kembali. Dilla, Jelita, Reza dan Rafa juga pulang.
"Ma gendong," pinta Reza.
Reza sengaja meminta Dilla menggendong ya karena melihat siswa lain yang ada yang di gendong sama orang tuanya. Dilla tidak keberatan menggendong Reza.
"Mommy Rafa juga mau di gendong seperti Reza," ujar Rafa cemburu.
Jelita melihat ke arah Dilla dan Reza.
"Bukannya Mommy tidak mau menggendong Rafa. Tapi Mommy tidak sekuat Mama Rafa, Mommy gandeng tangan saja ya," sahut Jelita
Rafa cemberut mendengar jawaban Jelita. Padahal dia juga ingin digendong sama Jelita.
"Rafa juga mau digendong," kata Rafa pelan.
"Ya sudah, sini Mommy gendong," ucap Jelita.
Karena tidak tega dengan Rafa, maka Jelita mencoba menggendong Rafa. Baru beberapa langkah mereka jalan, Jelita segera menurunkan Rafa lagi.
"Maafkan Mommy Rafa, Mommy benar-benar tidak sanggup menggendong Rafa. Baru menggendong sebentar saja pinggang Mommy rasanya mau encok," ujar Jelita sambil memegang pinggang yang terasa sakit.
Rafa tidak tega melihat Jelita kesakitan akhirnya dia mengalah. Rafa memilih menggandeng tangan Jelita.
Bersambung….
Note:
Kuat bukan karena bakat atau keturunan, tapi karena kebiasaan dan latihan. Kecuali kondisi fisik yang tidak mendukung.
Seringlah bersabar, niscaya yang terbaik akan datang. Jika tidak datang, berarti silahkan coba lagi (recehan).
Rekomendasi novel yang bagus untuk dibaca sambil nunggu up.