Nanny And Duda

Nanny And Duda
Extra Part 1



Ini kejadian saat Dafa dan Reza kabur membawa uang untuk membawa Rio menyusul Dilla ke kampung halaman. Saya buat ini ekstra bab karena bagian ini lupa saya ceritakan.


***


Ketahuan Bawa Kabur Uang


Rio, Reza dan Rafa sedang bermain bersama Yudi dan Budi di ruang depan. Mereka  membicarakan permainan yang akan mereka lakukan besok lagi. Tadi pagi sampai sore mereka sudah keliling kampung. Mereka belum tenaga sampai sekarang. Jika Dilla tidak menjemput mereka, maka mereka akan lupa waktu sudah mulai gelap. 


Sedangkan Dilla saat ini sedang membersihkan kamar yang ditempati oleh dia, Reza, Rio dan dan Rafa. Mereka tidur satu kamar dengan Dilla. Di dalam kamar Dilla hanya ada satu kasur ukuran single yang bisa hanya ditempati oleh dua orang jika tidur normal. 


Dilla pernah menyarankan agar mereka bertiga tidur di kamar Budi dan Yudi yang memiliki kasur lebih luas. Biar Budi dan Yudi tidur di kasur Dilla yang lebih sempit. Mereka bertiga dengan kompak menolaknya. Mereka ingin satu kamar dengan Dilla. 


Akhir dari kesepakatan Reza dan Rafa tidur di atas kasur. Sedangkan Rio dan Dilla tidur di bawah beralaskan dengan karpet dan juga selimut. Rio tidak masalah tidur di lantai asal dia bisa tidur bersama Dilla. Rio sudah cukup senang tidur dalam pelukan Dilla.


Dilla kembali merapikan kamar akibat ulah trio R yang baru selesai ganti baju. Mereka meletakkan baju di sembarang tempat. Dilla sudah berapa kali mengingatkan mereka untuk meletakkan yang rapi. Trio R hanya membalas akan mengerjakannya nanti. Mereka ingin cepat bermain lagi bersama Yudi dan Budi.


Dilla yang tidak suka kamar berantakan membenahi sendiri. Kali ini Dilla mentolerir sikap mereka. Lain kali Dilla tidak akan memberikan ampun.


Dilla melihat tas punya mereka bertiga di pojokan lemari. Dilla berniat ingin memindahkan tas mereka ke kaki tempat tidur agar lebih rapi. Dilla mengangkat ketiga tas itu. Karena Dilla tidak memegang dengan hati-hati, tas Reza yang ada di tangan Dilla hampir jatuh. Dilla dengan buru-buru menangkap kembali. Dilla bisa menangkap tas Reza kembali. 


Tapi karena tas Reza kebetulan tidak terkancing sepenuhnya, maka uang yang dibawa oleh Reza dan Rafa terjatuh semua. Dilla menatap tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dilla berjongkok mengambil uang itu. Dilla memeriksa apa itu uang asli atau palsu.


"Reza! Rafa!" teriak Dilla dengan keras.


Dilla yakin jika uang itu ide Reza dan Rafa. Dilla tidak percaya jika mereka membawa uang yang sangat banyak. 


Mereka berlima yang sedang bermain terkejut mendengar suara teriakan Dilla. Bibi dan paman Dilla yang berada di dapur juga segera mendekat ke kamar. Mereka ingin tahu apa yang terjadi.


"Ada apa Dilla? Kenapa kamu berteriak malam-malam?" tanya Marni, bibi Dilla.


"Dilla uang apa itu? Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu? Kenapa ada banyak sekali uang berhamburan? Apa kamu habis merampok bank?" tanya Abdul tanpa jeda.


"Dilla juga tidak tahu uang ini Paman, Bibi. Uang ini jatuh dari tas Reza. Ini pasti uang yang mereka bawa kabur," sahut Dilla.


Reza dari Rafa yang mendengar perkataan Dilla mereka saling melirik. Mereka punya firasat buruk. Mereka saling memberikan kode untuk segera kabur. Mereka tidak mau mendengar ceramah Dilla. Mereka sudah bangkit dan meraih pintu dengan berjinjit. 


"Mau ke mana kalian?" tanya Dilla yang sudah keluar dari kamar dan berdiri di belakang Reza dan Rafa.


"Kami tidak ingin kemana-mana," sahut Rafa dengan pelan. 


"Kami hanya ingin buka pintu karena di dalam sangat panas," kata Reza dengan membuka pintu.


"Jangan banyak alasan kalian berdua," ucap Dilla membanting pintu kembali.


Sudah habis harapan Reza dan Rafa untuk kabur. Pintu sudah ditutup dan dikunci sama Dilla. Mereka berdua merapat dan saling memeluk. 


"Kalian berdua duduk di sana," perintah Dilla menatap tajam.


Mereka berdua dengan patuh duduk. Mereka sudah ketangkap basah. 


"Sekarang jelaskan kepada Mommy, dari mana kalian mendapat uang sebanyak ini?" tanya Dilla.


Dilla menunjukkan uang yang sudah Dilla masukkan kembali ke dalam tas. Dilla meletakkan tas itu di depan Reza sama Rafa. Mereka berdua saling dorong mendorong menyuruh menjawab pertanyaan Dilla.


"Kenapa kalian diam saja?" tanya Dilla menatap tajam.


"Omy, Omy angan malah-malah. Pala Liyo adi ucing," ucap Rio.


"Rio tidak apa-apa sayang?" tanya Dilla khawatir.


"Ndak apa Omy. Api Omy angan malah-malah agi ya," pinta Rio.


"Liyo ndak tahu Omy. Bang Eja dan Bang Lapa yang ajak Liyo pelgi dali umah catit," kata Rio menggelengkan kepala.


"Nah, sekarang jelaskan kepada Mommy atau Mommy akan mengantar kalian pulang sekarang," kata Dilla tegas.


"Itu Rafa yang punya ide buat mengambil uang daddy, Mommy," jawab Reza cepat karena tidak mau pulang. 


"Reza…." kata Rafa tidak terima Reza melemparkan kesalahan kepada dia. 


"Rafa, kenapa kamu mencuri uang dari daddy? Mommy tidak suka melihat kalian mengambil punya daddy tanpa izin. Kalian pasti mengambil tanpa izin. Kalian tahu kan, kalau mengambil tanpa izin itu namanya mencuri," kata Dilla menatap Rafa.


"Tapi Mommy, Rafa hanya mengambil sebentar saja. Nanti Rafa akan meminta izin, kok," kata Rafa dengan perasaan takut-takut.


"Itu tetap saja namanya mencuri. Kalian tidak boleh mengambil apapun jika belum mendapatkan izin. Apa kalian mengerti?" 


"Kami mengerti Mommy. Kami janji tidak akan mengulangi lagi," sahut mereka berdua.


"Apa kalian tahu kenapa Mommy sangat marah kepada kalian?" tanya Dilla meletakkan kedua tangan di pinggang.


"Kami salah Mommy, kami mengambil uang tanpa izin," jawab mereka berdua.


"Bukan itu yang Mommy khawatirkan. Kalian ini membawa banyak uang. Bagaimana jika kalian bertemu sama penjahat. Kalian bisa saja diculik," ucap Dilla.


"Tami ndak temu olang ahat Omy. Tami temu cama paman yang bayik. Paman tu uga yang bawa tami temu cama Omy. Talau olang ahat ndak atan antu tami Omy," jawab Rio.


"Tetap saja apa yang kalian lakukan salah. Kalian bisa membuat Mommy dan lainnya jantungan."


"Maaf Mommy, kami janji tidak akan mengulangi lagi." 


"Sudahlah Dilla, mereka sudah mengaku salah. Kamu jangan memarahi mereka lagi. Kasihan mereka," tegur Marni.


"Tapi Bi…." 


"Sudah sudah, kamu sama mereka sama saja saat kecil. Kamu juga sering mengambil mangga punya tetangga tanpa izin," ucap Abdul. 


"Paman, kenapa paman masih mengingat hal itu," kata Dilla malu sendiri.


"Ternyata Mommy juga pernah mengambil tanpa izin ya," kata Reza. 


"Itu dulu saat Mommy masih kecil," sahut Dilla.


"Sekarang apa bedanya dengan kami. Kami juga masih kecil," bela Rafa.


Dilla mati kutu. Dilla tidak bisa lagi memarahi mereka.  


"Kalian jangan berdebat lagi. Kalian semua sama saja. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohon," kata Mirna usil.


"Bibi…." kata Dilla tidak terima.


"Sekarang waktunya makan malam. Ayo kita makan. Jika tidak, akan Paman habiskan semua." 


"Ndak, Liyo mau matan uga," kata Rio tidak terima.


Rio segera mengejar Paman Dilla yang sudah menuju ke dapur.


"Ayo, kalian juga makan. Uangnya biar Mommy kalian yang simpan," kata Mirna. 


"Iya Nek," sahut Reza dan Rafa dengan patuh.


Bersambung….