Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 86. Marah



Dilla dan Ryan tiba di rumah jam 8 pagi. Di teras rumah Rio sudah menunggu mereka. Rio menunggu sambil melibatkan kedua tangan di dada danl menatap fokus pada Dilla dan Ryan yang sedang turun dari mobil. 


"Hai Rio, " Sapa Dilla. 


"Anak Papa kenapa menunggu di sini, masih pakai piyama tidur lagi," ucap Ryan. 


Rio tidak menjawab pertanyaan dan sapa mereka. Rio memalingkan wajahnya. Rio sedang mengambek saat ini. 


"Rio kenapa Ma?" tanya Ryan pada Rita. 


"Rio sepertinya sedang marah sama kalian, karena dari semalam Rio mencari Dilla, bahkan Rio tidak mau mandi dan sarapan pagi," jawab Rita. 


Ryan dan Dilla melihat ke arah Rio lagi, Rio masih tidak mau melihat ke arah mereka. 


"Jadi Rio hanya cari Mommy? sedangkan Papa tidak?" tanya Ryan pada Rio. 


Ryan sudah bisa menerima jika anaknya sudah lebih menyayangi Dilla daripada dia sendiri. Tapi tetap aja Ryan merasa kecewa karena dia adalah ayah kandungnya. 


"Huhhh," Respon Rio membuang muka. 


Ryan menghela nafas, anaknya ini memang luar biasa.  


"Jadi Rio marah sama Mommy?" kini giliran Dilla yang bertanya. 


Rio baru melihat ke arah mereka. Ryan rasanya mau mojok saja, saat Ryan panggil panggil anaknya tidak mau merespon, tapi sekali Dilla panggil langsung melihat.


"Omy ahat, Omy tinggalin Liyo cendili," jawab Rio masih ngambek. 


"Kan ada Abang Reza, Rafa dan lainnya di rumah," ujar Dilla. 


"Tapi meleta butan Omy, liyo mau nya anya Omy, butan yang lain Omy," sahut Rio.


Dilla terasa tersentuh, ternyata segitu besarnya rasa sayang Rio padanya.


"Jadi Rio marah ni sama Mommy?" tanya Dilla lagi.


"Iya Liyo malah cama Omy," jawab Rio sambil menunjukkan muka sedang marah.


Dilla dan lainnya menahan ketawa, muka Rio sangat menggemaskan jika begini. Pipi Rio, Rio kembungkan dan mata besarnya semakin dibesarkan.


"Tenapa teltawa, Liyo agi malah ni," kata Rio makin ngambek.


"Habis Rio lucu kalau marah begini, besok besok Mommy akan buat Rio sering marah ah, biar Mommy bisa lihat wajah menggemaskan Rio yang begini," goda Dilla.


Dilla mencubit pipi gembul Rio.


"Omyyy," rengek Rio tidak terima.


"Ya sudah kalau Rio marah, marahnya sampai besok saja ya. Soalnya Mommy ada beli oleh oleh ini. Oleh oleh ini buat Abang Reza dan Rafa saja, kan Rio lagi marah sama Mommy. Pasti Rio tidak mau snack yang enak ini. ada coklat, banyak lagi," ujar Dilla.


Untung saja Dilla tadi sempat menyuruh Ryan berhenti di supermarket searah jalan pulang. Entah kenapa dia punya insting jika harus beli snack. Ternyata memang tidak rugi dia beli semua snack tadi.


"Liyo mau liyo mau," kata Rio bersemangat.


"Katanya lagi marah sama Mommy," Dilla makin menggoda Rio.


"Liyo udah ndak malah, adi Liyo mau ya Omy," kini Rio mencoba membujuk Dilla.


Rio sangat tergiur sama sogokan Dilla.


"Tidak usah di kasih Mommy, tadi masih marah, jatah Rio buat Papa saja," kata Ryan memanasi Rio.


"Papaaa…," teriak Rio tidak Terima.


"Ryan jangan begitu sama anak kamu sendiri, sudah sana masuk, kasihan Rio belum sarapan pagi sampai jam segini," tegur Rita.


"Iya Ma," sahut Ryan patuh.


Rio segera menarik Dilla masuk. Dilla lebih memilih membawa Rio ke kamar nya dulu. Dilla memilih memandikan Rio di kamarnya sambil Dilla juga ikutan mandi, baru kemudian membawa Rio ke kamarnya untuk ganti baju.


***


Reza dan Rafa setelah pulang sekolah langsung menyerang Dilla, mereka bilang bahwa mereka kangen sama Dilla. Dilla hanya menggelengkan kepala. Dilla tidak tau bagaimana jika suatu saat nanti jika dia pergi dari sini, jika mereka berpisah sama Dilla kurang dari 24 jam saja sudah rindu.


Mereka dengan patuh mengikuti perintah Dilla. Setelah selesai makan mereka kembali bermain di ruang keluarga kali ini mereka bermain menyusun block. Jelita kembali ikut bergabung sama mereka.


Jelita dari tadi menemani Dafa pergi, sekarang rasa capeknya hilang melihat Rafa yang sedang tertawa dengan yang lainnya. Jelita buru buru mandi dan menggantikan baju setelah itu dia menghampiri mereka. 


"Mbak Jelita dari mana saja, baru sekarang kelihatannya?" tanya Dilla kepo.


"Mbak tadi temani Dafa, Dafa mau ada rapat penting dalam waktu dekat ini, jadi dia menyuruh Mbak buat temani dia beli pakaian baru," jawab Jelita.


"Ohhh."


Mereka kembali melanjutkan kegiatan masing masing. Jelita sengaja duduk di samping Rafa. Jelita memperhatikan apa yang di lakukan Rafa. jeylita yang melihat sepertinya ada block yang salah di pasang sama Rafa berniat membantu Rafa.


"Sayang ini bagusnya di sini," saran Jelita.


Rafa menepis tangan Jelita dan membongkar yang dipasang Jelita.


"Rafa bisa sendyori," ujar Rafa.


Dilla yang melihatnya merasa sedih, tapi dia dapat merasakan jika Mbak Jelita jauh lebih sedih darinya.


"Rafa jangan begitu saja, itu tidak baik. Mbak Jelita itu Mommy nya Rafa. Mommy tidak suka lihat Rafa bersikap begitu," tegur Dilla.


"Rafa bisa menyusunnya sendiri tidak usah dibantu," jawab Rafa.


"Tapi Rafa…."


"Sudah tidak apa Dilla, mungkin ini salah Mbak yang sudah ikut campur," jawab Jelita.


"maafkan Mommy ya sayang, Mommy yang salah ayo lanjut susun nya," ujar Jelita mencoba menahan sakit di dadanya.


Jelita ingin mengusap sambut Rafa, Rafa menepisnya dan block yang dia pegang malah terjatuh ke susunan block yang sudah Rafa susun dengan susah payah.


"Lihat, block Rafa jadi jatioh semua!" teriak Rafa tidak terima.


"RAFA," tegur Dilla keras.


"Mommy tidak pernah mengajar Rafa membentak begitu. Dan tadi Mommy juga lihat kalau Rafa sendiri yang menjatuhkan block itu ke atas block Rafa sendiri. Mommy tau jika Mbak Jelita salah tapi bukan begini caranya," tegur Dilla.


Dilla merasa jika sikap Rafa sudah sedikit keterlaluan.


"Sudah Dilla, ini salah Mbak, jangan marahin Rafa, bukan Rafa yang salah," ujar Jelita.


Jelita tidak mau menambah masalah sama Rafa.


"Mbak Rafa nya sudah kelewat batas bagaimanapun Mbak ini sudah meminta maag dengan tulus dan Mbak juga Ibu kandungnya Rafa," sahut Dilla.


Rafa menendang blok itu dan berlari kearah kamar, Dilla dan lainnya kaget dengan sikap Rafa. 


"Rafa," panggil Jelita.


"Rafa," tegur Dilla.


Rafa mengabaikan dan segera lagi ke kamarnya.


"Mbak, Dilla titip Rio dan Reza ya, biar Dilla yang menyusul Rafa," kata Dilla.


Jelita hanya menganggukan kepala dan mengandalkan Dilla saat ini.


"Rio dan Reza tunggu di sini ya, Abang Rafa lagi marah, jadi Mommy mau menenangkan Abang Rafa dulu ya," ujar Dilla.


Setelah memastikan mereka setuju, Dilla segera menyusul Rafa. Dari tadi Rio dan Reza hanya memperhatikan saja. Rio dan Reza juga kaget melihat Rafa yang marah begitu. Selama ini Rafa tidak pernah marah sedikitpun. Jika marah hanya marah sebentar saja.


Bersambung….


Jangan lupa vote dan follow nya.


Akan ditunggu.


Semoga bisa naik peringkatnya.


Tentang up akan dikabari di grup ya.