Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 115. Pertemuan 2



Sesuai dengan perkataan Danang, Danang kembali lagi ke tempat Dilla pada hari selanjutnya. Danang mengetuk pintu dari luar. 


"Tunggu sebentar," sahut Dilla dari dalam.


"Bang Danang," kata Dilla setelah membuka pintu. 


Rio segera ke depan saat mendengar Dilla menyebutkan nama Danang. Telinga Rio jadi sensitif sama Danang. Rio takut jika Mommynya akan di ambil sama Danang.


"Tenapa Om te cini. Om angan etat-etat cama Omy Liyo," ujar Rio sambil memeluk kaki Dilla erat.


"Rio tidak baik begitu," tegur Dilla.


Rio memonyongkan bibirnya, Rio tidak suka Mommynya membela orang lain.


"Hai," sapa Danang.


Mereka bertiga membuang muka, tidak mau melihat dan menjawab sapaan Danang.


"Anak asuh kamu unik ya," kata Danang salah tingkah.


Danang malu sendiri sama respon mereka bertiga. Danang seperti ditolak mentah-mentah. Sedangkan Dilla hanya tersenyum tidak enak. Dilla tau jika mereka bertiga tidak suka sama Danang.


"Eh ada Om Danang," sapa Budi yang baru datang dari dapur.


"Iya Budi," jawab Danang.


"Om sebaiknya pergi di sini," usir Rafa. 


"Rafa," tegur Dilla.


Dilla tidak mentolerir sikap tidak sopan. Jika tidak bisa terbawa sampai dewasa.


"Omy angan ekat-etat cama Om ini ya. Liyo ndak cuma," ulang Rio lagi.


Dilla hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku mereka bertiga. 


"Budi, Yudi kalian tidak pergi ke sawah? Di sawah ada banyak anak-anak yang sedang bermain layang-layangan," kata Danang. 


Budi dan Yudi yang mendengar kata layang-layangan mereka bersorak gembira. Mereka sangat suka bermain layang-layangan.


"Terima kasih Om Danang telah memberitahukan kami. Kami akan segera kesana," ucap Budi.


Budi dan Yudi segera berlari ke belakang rumah untuk mengambil layang-layangan milik mereka. Kemudian dia kembali lagi ke tempat tadi. 


"Kalian bertiga mau ikut tidak?" tawar Yudi.


"Kami mau main layang-layangan di sawah, main layang-layangan sangat seru loh. Kita nanti bisa berganti-gantian mainnya. Kalian pasti belum pernah bermain layang-layangan kan," ajak Budi. 


"Tapi bagaimana dengan Mommy? kami tidak mau Mommy berduaan sama Om ini," tanya Reza.


"Om Danang orangnya baik kok, pasti tidak akan mengganggu Mbak Dilla," kata Budi.


"Kalian tidak mau ikut sama Budi? Nanti kalian bisa bergabung sama anak-anak lainnya yang ada di sini. Om hanya ingin bicara sebentar sama Mommy kalian. Om janji tidak akan mengganggu Mommy kalian," ujar Danang meyakinkan mereka.


Mereka menimbang perkataan Danang. Mereka sebenarnya juga penasaran bagaimana bermain layang-layangan. Mereka yakin jika bermain layang-layangan sangat suruh saat melihat betapa antusiasnya Budi dan Yudi mengambil layang-layangan. 


"Kalian sebaiknya ikut saja bersama Budi dan Yudi. Nanti Mommy akan menyusul kalian bertiga ke sana," bujuk Dilla.


"Tapi Liyo mau main cama Omy uga," rengek Rio.


"Reza juga mau bermain bersama Mommy," ujar Reza.


"Mommy kan janji akan menyusul kalian bertiga ke sawah. Nanti kita bisa bermain bersama," kata Dilla.


Mereka masih bimbang memikirkan memilih bermain layang-layang atau menemani Dilla biar tidak dekat sama Danang.


"Katanya kalian ingin berkeliling kampung ini, tetapi kenapa kalian tinggalin Mbak Dilla sebentar saja tidak mau," ucap Budi.


"Baiklah kami ikut," sahut Rafa.


"Budi dan Yudi karena kalian yang paling besar makan kalian jaga mereka dengan baik ya. Mereka belum tahu tempat ini."


"Baik Mbak Dilla, kami akan menjaga mereka dengan baik," sahut Budi.


Budi segera menggandeng tangan Rio. Budi mengajak mereka keluar dari Rumah. Mereka berlima segera pergi berlari kecil ke arah persawahan. 


"Ayo duduk Bang Danang," suruh Dilla.


Mereka lebih memilih menyuruh duduk di teras rumah karena sekarang Bibi dan Paman Dilla sedang pergi ke pasar. Dilla sangat canggung dengan keadaan saat ini karena mereka sama-sama diam.


"Jadi bagaimana dengan keputusan kamu Dilla?" tanya Danang memulai percakapan.


"Maksud Abang, apakah kamu ingin meneruskan pernikahan ini atau tidak?" 


Dilla hanya diam mendengar pertanyaan Danang. Dilla semakin tidak karena kehadiran Reza dan Rio.


"Bang Danang tidak akan memaksakan kamu. Jika kamu masih belum yakin maka sebaiknya pernikahan kita di tunda dulu. Mas Danang tidak mau kalau kamu salah memilih dan kamu menyesal menikah dengan saya." 


"Maaf Mas Danang," hanya itu respon yang bisa Dilla berikan.


Danang menganggukkan kepalanya.


"Apakah kamu mencintai ayah dari anak asuh kamu?" tanya Danang tiba-tiba. 


Dilla terkejut dengan pertanyaan Danang yang tidak pernah dia sangka.


"Kenapa Bang Danang bisa bertanya seperti itu."


"Sepertinya memang benar kalau kamu mencintai Ayah dari pada mereka bertiga." 


"Bang Danang," tegur Dilla. 


"Kamu tidak perlu menutupinya dari saya. Saya  tahu bagaimana dengan sifat kamu. Jika kamu  gugup maka kamu tidak akan berhenti memainkan tangan kamu seperti sekarang ini."


Dilla segera melepaskan tangannya yang saling bertautan.


"Jadi bagaimana dengan Ayah dari anak asuhmu itu. Apakah dia orang bai?" tanya Danang. 


Dilla menatap Danang dengan tatapan yang sulit diartikan. 


"Apakah hubungan kalian tidak baik-baik saja? karena tidak mungkin kamu akan pulang ke sini jika semuanya berjalan lancar. Apalagi mereka bertiga ikut menyusul kamu kemari pasti ada sesuatu yang terjadi," kata Danang.


"Jadi bisakah kamu menceritakan sama saya. Saya ingin mendengar cerita dari kamu." 


Dilla terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dia ceritakan kepada Danang. Dilla ingin mengubur masalahnya ini, dia tidak mau membahas masalah ini sama Danang.


"Kenapa Bang Danang membahas Ayah dari mereka bertiga?" tanya Dilla balik.


"Jika dia memang pria yang baik dan bisa menjaga kamu, maka aku tidak masalah melepaskan kamu. Tapi jika dia pria yang buruk maka aku tidak akan melepaskan kamu," kata Danang serius.


Dilla tidak tahu harus menjawab apa dari pertanyaan Danang. Pertanyaan Danang seperti ranjau bagi Dilla. Dilla hanya dapat menduga-duga kenapa Danang bisa berkata demikian.


Tiba-tiba ada sebuah mobil yang lewat di depan rumah Dilla. Dilla sangat mengenali mobil itu. Mobil itu adalah mobil yang biasa digunakan oleh Ryan, Tuannya Dilla. Dilla segera bangun dan mendekati mobil Ryan.


Ryan keluar dari dalam mobil, tatapan mata Ryan tidak terarah pada Dilla tetapi pada lelaki yang ada di belakang Dilla.


"Tuan," panggil Dilla. 


Ryan baru mengalihkan perhatiannya kepada Dilla saat Dilla memanggilnya. Danang segera mendekati Ryan dan Dilla.


"Perkenalkan saya Danang, calon suami Dilla," kata Danang dengan menjulurkan tangannya ke arah Ryan.


Ryan menatap sekilas tangan Danang, karena mengingat sopan santun Ryan mau membalas jabat tangan Danang. 


"Ryan," jawab Ryan pendek. 


"Kenapa Tuan bisa ada di sini?" tanya Dilla.


"Saya kesini untuk menjemput anak-anak saya dan juga Rafa," jawab Ryan. 


Dilla menganggukkan kepalanya, dia merasa menanyakan pertanyaan yang sudah tahu jawaban Ryan. 


'Selain buat jemput Rio, Reza dan Rafa buat apa lagi buat apalagi Tuan kemarin. Kamu jangan berpikir yang anek-aneh Dilla.'


Dilla sedikit sedih saat mendengar jawaban Ryan. 


"Dilla, sebaiknya kamu segera mencari mereka bertiga, biarkan Ryan bersama saya sebentar. Ada yang sayaingin bicarakan sama Ryan," ujar Danang. 


Rian menaikkan alisnya saat mendengar perkataan Danang. Dia tidak tahu kenapa Danang ingin membicarakan suatu hal sama dia. Padahal mereka baru saja bertemu kurang dari lima menit.


"Baiklah kalau begitu, Dilla pamit dulu mencari mereka bertiga," jawab Dilla.


Dilla segera berlalu dari situ.


"Ayo Ryan silahkan duduk di sana saja," ajak Danang ke tempat tadi dia duduk dengan Dilla. 


Ryan mengikutinya dari belakang, Ryan seperti sedang bertamu ke rumahnya Danang saja.


Bersambung….