
"Kalian kenapa berdiri di sini?" tanya Rita yang melihat Ryan dan Dafa berdiri di tengah ruangan keluarga. Tadi Rita hanya kebetulan lewat saja.
"Itu Ma, tadi Dilla sama Jelita menyuruh kami untuk membelikan cake coklat. Jadi Ryan dan Dafa hanya membeli satu cake saja. Ukuran cake lumayan besar jadi cukup buat semua orang," sahut Ryan.
"Jadi apa masalahnya?" tanya Rita tidak mengerti.
"Mereka saling berdebat cara makan cake. Dilla bilang akan enak jika dimakan saat hangat. Sedangkan Jelita bilang akan enak saat dimakan dingin," ujar Dafa.
"Kalian berdua jangan memasukkan ke dalam hati jika tersinggung. Kalian harus bisa mentolerir sifat mereka saat ini. Saat ini mereka sedang mengandung, jadi emosi mereka tidak stabil. Wajar saja jika mereka seperti itu,' kata Rita.
"Iya Ma."
"Iya Tante."
"Ya sudah ya. Kalau begitu Tante mau menyusul mereka berdua," pait Rita.
Rita segera menuju ke arah dapur. Rita ingin melihat keadaan duo ibu hamil dengan hormon mereka.
***
Di dapur Dilla dan Jelita kembali berdebat lagi.
"Seperti yang Mbak bilang tadi, jika cake benaran lebih enak jika makan dengan dingin. Dilla setuju dengan ide Mbak."
"Tidak Dilla. Mbak setuju dengan ide kamu yang tadi."
"Kalian masih saja ribut. Apa kalian tidak ingat anak dan suami lagi," tegur Rita.
"Iya, Liyo bocan liyat Omy dan Mommy libut-libut. Liyo uga mau main cama Omy," ujar Rio cemberut.
"Maafkan Mama sayang. Maaf jika Mama mengabaikan Rio. Ya udah Mbak, ini dimasukkan ke kulkas saja," suruh Dilla.
"Tidak Dilla. Kita masukkan ke microwave saja," tolak Jelita lagi.
"Omy, Liyo mau matan yang angat dan uga dinin ya. Liyo mau matan cemua. Angat dan dinin cama enak," ujar Rio memotong perdebatan Dilla dan Jelita.
"Kalian dengar, Rio yang kecil saja tahu bagaimana harus memilih. Kalian yang sudah besar masih saja ribut," kata Rita.
"Sini serahkan sama Mama, biar Mama bagi dua. Setengah masukkan ke kulkas dan setengah lagi kita hangatkan," tambah Rita.
Dilla dan Jelita canggung, mereka berdua tidak ingat jika bisa dibagi.
***
Sekarang usia kehamilan Jelita dan Dilla sudah memasuki bulan keenam. Jelita dan Dilla selalu kompak pergi ke rumah sakit untuk cek kandung. Kadang tidak sekali dua kali mereka juga berselisih pendapat, yang ujung-ujungnya mereka juga berdamai.
Mereka juga telah mengetahui jenis kelamin bayi yang mereka kandung. Dilla sebenarnya tidak mau memeriksa jenis kelamin dengan cepat. Dilla ingin ada ke juga. Tetapi karena Jelita yang ingin mengetahui dan juga penasaran, meminta Dilla juga ikut serta.
Rio juga ikut mendukung dengan semangat. Rio ingin tau apa dapat adik laki-laki atau perempuan. Akhirnya Dilla juga memeriksa.
Hasil dari pemeriksaan dinyatakan jika bayi yang dikandung oleh Dilla adalah anak perempuan. Sedangkan anak yang dikandung oleh Jelita adalah anak laki-laki.
Rio yang mendengar akan mendapat adik perempuan dia sangat senang. Rio meloncat-loncat dan berlari-lari di rumah sakit.
Dilla dari awal sudah ada tanda-tanda seperti mengandung anak perempuan. Seperti suka berhias diri. Dilla sekarang sudah sedikit mahair dalam berhias. Jelita yang tetap sabar mengajari Dilla.
Sedangkan Jelita sangat malas bermake up. Kadangkala Jelita juga malas berbenah diri. Jelita juga malas bergerak seperti saat ini.
"Dilla, kamu saja ya yang menjemput Reza dan Rafa. Mbak sekarang lagi sibuk," ujar Jelita sambil makan cemialan dan nonton tv.
"Bukannya Mbak hanya…."
"Holeee…. jempyut bang Eja dan bang Lapa. Ayo Omy tita peldi," ajak Rio tidak sabaran.
Rio sangat ingin pergi ke sekolah lagi. Rio sangat senang di sekolah. Di sana Rio bisa bertemu dengan banyak orang.
"Kalau begitu Dilla pamit ya Mbak," pamit Dilla.
"Iya, kamu hati-hati dijalan," ujar Jelita dengan mata yang tidak lepas dari TV.
***
"Bang Eza, Bang Lapa," teriak Rio dari kejauhan.
Rio berlari mendekati Reza dan Rafa. Sedangkan Dilla memilih berdiri di dekat mobil. Dilla tidak mau terlalu capek. Lagian juga dia sudah melihat Reza dan Rafa yang sudah keluar dari kelas.
Dilla yang mendengar suara di dekatnya segera menoleh. Ternyata ada Sam di samping Dilla. Dilla melihat ke arah sekeliling karena dia yakin, jika tadi Sam yang memanggil mommy.
Dilla tidak melihat Jessica sama sekali. Yang Dilla lihat malahan Daniel yang berada tidak jauh dari mereka. Daniel semakin mendekati mereka.
"Siang Dilla," sapa Daniel.
"Siang Tuan," ujar Dilla.
Daniel melihat ke arah perut Dilla yang sudah membesar.
"Kamu sedang hamil,? tanya Daniel.
"Iya, Tuan."
"Sudah berapa bulan?" tanya Daniel basa-basi.
"Sudah jalan enam bulan," sahut Dilla.
Sam menatap fokus ke arah perut Dilla yang membesar. Sam sudah paham jika Dilla saat ini sedang mengandung. Sam tiba-tiba juga mau punya adik.
Rio tadinya sedang berbicara sama Reza dan Rafa dengan heboh. Tetapi saat matabRio melihat Dilla dekat dengan Sam kembali berlari dengan cepat ke arah Dilla. Rio seakan-akan punya alarm sendiri jika Sam mau mengambil Dilla. Rio memeluk kaki Dilla dengan erat dan menatap tajam ke arah Sam.
"Omy ayo pulang," ajak Rio.
"Sabar ya, itu abang Rafa dan Reza sedang menuju ke sini," kata Dilla sambil mengusap rambut Rio.
"Ma, ayo kita pulang sekarang. Reza sudah sangat lapar," ujar Reza.
"Bukannya Mama sudah siapkah bekal yang banyak buat Reza?"
"Iya, makanan yang Mama buat sangat enak. Hanya sebentar sudah habis. Sekarang Reza sudah lapar lagi," sahut Reza.
Dilla mengganggukan kepala.
"Kalau begitu saya pamit duluan ya Tuan," pamit Dilla.
Dilla segera mengajak Rio, Reza dan Rafa masuk ke mobil setelah berpamitan dengan Daniel.
Daniel masih menatap lurus ke arah Dilla dan trio R. Pandangan Daniel kembali beralih kepada Sam saat Daniel merasakan Sam yang menggenggam tangannya dengan begitu kuat.
"Sam kenapa?" tanya Daniel.
Sam melihat ke atasan denga berkaca-kaca.
"Daddy, kapan Daddy akan mengabulkan permintaan Sam. Ulang tahun Sam bahkan sudah lama lewat, tapi Daddy juga belum bisa tepati janji sama Sam," ujar Sam sedih.
Daniel berjongkok agar sejajar dengan Sam.
"Sam yang sabar ya. Daddy pasti akan mengabulkan permintaan Sam. Daddy janji tidak akan lama lagi. Daddy sudah merencanakan semuanya. Jadi Daddy harap agar Sam bisa menunggu sebentar lagi."
"Daddy janji?" tanya Sam senang.
"Iya, Daddy janji kepada Sam. Daddy akan membawa Dilla untuk Sam."
"Hore," ucap gembira Sam.
Sam sama sekali tidak tau apa yang dia lakukan. Yang Sam tau hanyalah dia yang dapat mommy baru. Sam segera memeluk leher Daniel.
'Ryan maafkan aku. Aku akan membawa Dilla pergi bersama aku dan anak aku. Aku tidak mau melihat anakku terus-terusan sedih dan iri melihat anak kamu yang sayang oleh Dilla. Aku juga mau anakku mendapatkan kasih sayang yang sama. Jika nanti Sam sudah cukup merasakan kasih sayang dari Dilla, aku janji akan mengembalikan Dilla. Dann aku juga janji akan menjaga baik-baik anak di dalam kandungan Dilla,' batin Daniel.
Daniel melepaskan pelukan sama Sam.
"Ayo kita pulang."
"Baik Daddy," sahut Sam semangat.
Sam berlari ke arah mobil.
"Ayo Daddy, kita pulang," teriak Sam dari dai pintu mobil.
Daniel tersenyum melihat senyuman Sam yang begitu jarang. Sam tidak pernah tersenyum selepas ini. Daniel bisa membayangkan Sam pasti akan lebih sering tersenyum jika dia berhasil membawa Dilla kepada Sam.
Bersambung….