Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 95. Dilema



Ryan dan Sultan akhirnya memutuskan pergi ke ruangan Sultan. Para Perawat membantu Sultan dan Ryan mengobati luka mereka. Mereka sudah sedikit lebih tenang sekarang.


"Kenapa tadi kamu memukul aku, padahal kamu itu salah paham. Antara aku sama Mina tidak ada hubungan apapun. Pembantu kamu itu yang ganjen dan tidak jelas," kata Sultan setelah perawat pergi dari sana.


Ryan mendengus keras.


"Lagian aku dan Dilla hanya pura-pura pacaran, jadi jika aku dekat sama cewek lain tidak masalah," lanjut Sultan sambil meniup lebam di tangannya.


Sultan tidak melihat ekspresi Ryan yang terkejut.


'Jadi selama ini mereka hanya berpura-pura pacaran.'


"Aku tu minta Dilla supaya jadi pacar bohongan aku, karena Mama aku suka sekali menjodohkan aku. Padahal sudah berulang kali aku menolaknya tapi mama aku kayak tidak pernah kehabisan stok cewek. Dulu aku yang kebetulan bertemu Dilla di kafe sendiri, jadi aku meminta bantuan Dilla. Dilla sih awalnya menolak tapi karena dengan ketampanan aku ini akhirnya dia luluh juga," sambung Sultan dengan menaik-turunkan alisnya.


Ryan menampilkan ekspresi jijik. Sultan dan segala kepedeannya.


"Kenapa kamu ekspresinya tidak enak lihat begitu, aku ini ganteng lho," puji Sultan.


"Ya ganteng jika dilihat dari puncak monas," sahut Ryan.


"Bilang aja kamu iri. Sekarang aku mau tanya sama kamu, kenapa kamu memukul aku?" tanya Sultan.


"Itu salah kamu sendiri, kamu bilang pacaran sama Dilla, tapi bermesraannya sama Mina."


"Kenapa juga kamu marah segitunya. Marah ya marah aja tapi tidak memukul juga kali. Kamu itu punya hak apa mukul aku, saudara bukan, pacar juga bukan."


Ryan diam. Ryan tidak tau kenapa bisa sangat marah saat membayangkan Dilla dikhianati.


"Tapi Jelita bilang kalau Dilla sudah ada yang melamar. Pria itu bukan kamu?" tanya Ryan.


"Aku aja baru dengar dari kamu. Mungkin yang melamarnya itu orang sekampungnya. Karena tidak mungkin orang di kota. Soalnya Dilla itu bagaikan burung dalam sangkar. Dia itu jarang pergi karena anak-anak kamu selalu mengikuti Dilla bagaikan anak bebek," terang Sultan.


"Asem kamu, enak aja anak aku yang ganteng disamakan sama bebek. Kamu tu yang suka koleksi pernak pernik bebek. Sudah besar masih aja koleksi begituan," sindir Ryan


"Hobby orang ya suka-sukalah, kenapa situ yang repot," balas Sultan.


"Tapi kenapa memangnya kalau ada yang melamar Dilla, kenapa kamu kepo. Gadis sebaya Dilla itu sudah cukup umur untuk menikah apalagi dia memiliki sifat keibuan yang besar. Jika saja ada wanita seperti Dilla yang bisa menikah dengan aku," sambung Sultan.


Sultan mulai halu membayangkan aka sosok wanita yang seperti Dilla. Tapi di bayangan malah Mina yang muncul. Sultan segera sadar dari imajinasi halu.


"Memangnya kamu tidak suka sama Dilla?" tanya Ryan penasaran.


"Kalau ditanya suka ya suka. Siapa sih orang yang tidak menyukai orang seperti Dilla. Mama aku aja langsung suka sama Dilla. Tapi beda halnya kalau kamu tanya jika aku mencintai Dilla."


"Ryan, walaupun aku jomblo sudah lama tanpa karatan. Aku bisa tau beda antara cinta dan rasa suka. Jika rasa suka itu senang saat lagi bersama tapi tidak akan terluka jika kita melihat dia akan dekat dengan orang lain. Tapi jika rasa cinta itu kita akan merasa marah dan sakit hati saat kita tau dia bersama orang lain."


Ryan memikirkan perkataan Sultan, jika memang perkataan Sultan benar, maka dia sudah jatuh cinta sama Dilla. Ryan merasa marah dan sakit hati saat tau Dilla dilamar orang.


'Tapi bagaimana dengan janji aku, apa aku sudah mulai mengkhianati cinta Riana. Tidak ini tidak boleh terjadi, aku harus bisa menepati janji aku. Aku bukanlah orang yang ingkar janji. Tapi satu sisi aku juga harus memperhatikan masa depan anak-anak aku. Jika aku memilih janji aku maka anak-anak, aku atau mungkin Dilla juga akan terluka. Tapi jika aku mengingkari janji aku apa Dilla mau menerima aku yang lebih tua dan juga memiliki dua orang anak. Dilla pasti lebih memilih bujangan daripada seorang duda. Sebaiknya aku lebih memilih menepati janji aku, nanti aku akan menahan Dilla dulu sementara sampai anak-anak bisa lepas dari Dilla dan mendapatkan pengganti yang lain. Ya ini adalah solusi yang paling tepat.'


Ryan menganggukkan kepala karena yakin sama pemikirannya sudah tepat. 


"Kenapa kamu begitu, kalau lagi kesambet sana pergi jauh-jauh, itu pintunya masih tertutup rapat, silahkan buka sendiri," ujar Sultan ngeri.


***


Jelita sudah dinyatakan boleh pulang, untuk sementara tangan dan kakinya di pakai gibs dulu. Rafa dan Dafa selalu memanjakan Jelita. Jelita sekarang bagaikan putri raja. Mau apa tinggal bilang pasti Rafa atau Dafa akan bantu.


Selama dua minggu kaki Jelita sudah mulai bisa berjalan lagi. Tapi disarankan agar tidak terlalu banyak berjalan juga. Tapi tangannya yang masih di gips karena mengalami retakan yang lumayan parah.


***


"Kamu kapan pulang Nak?" tanya Bibi Dilla.


"Dilla belum tau Bi," jawab Dilla.


"Nak kamu ini sudah 20 tahun, gadis sebaya kamu di kampung sudah pada nikah semua Nak. Apa kamu mau jadi perawan tua. Jika sudah melewati 20 tahun sudah susah mendapat jodoh Nak. Sebaiknya kamu pulang ke kampung saja. Kamu sudah kerja hampir setahun di sana sudah cukup uang untuk mengumpulkan uang. Lagian anak Pak Kades sudah melamar kamu. Mereka sering ke sini menanyakan kamu kapan pulang Nak supaya bisa lamaran resmi. Karena Bibi selalu bilang agar menunggu kamu balik dulu Nak."


"Maaf Bi, Dilla belum bisa pulang sekarang."


"Ya sudah jika kamu belum bisa pulang sekarang, tapi kamu sudah janji sama Bibi dan Paman akan pulang 2 minggu lagi. Sudah ya Nak, kamu hati-hati di sana. Jaga diri yang baik."


Dilla menutup telepon Air matanya keluar, dia terasa berat meninggalkan rumah ini. Dilla sudah terlanjur menyayangi Rio dan Reza, dia bahkan sudah mencintai Ryan, Tuannya. Bagaimana bisa dia menerima lamaran orang lain jika hatinya sudah ada yang memiliki. Dilla tidak mau menikah tanpa cinta, dia takut akan menyakiti pasangannya.


Dilla menghapus air matanya. Dia tidak mau yang lain mengetahui jika dia lagi menangis.


Dilla mungkin bisa membohongi anak anak, tapi tidak dengan Jelita. Jelita bisa melihat raut wajah Dilla yang tertekan. Jelita sengaja menyuruh anak anak main di tempat lain dulu. Saat ini Jelita ingin bicara sama Dilla.


Lagi-lagi Rio menolaknya. Jelita yang tidak habis ide mengatakan jika ingin membicarakan masalah perempuan jadi laki-laki tidak boleh ikut, ini rahasia wanita.


Dengan memonyongkan bibir Rio, Reza dan Rafa memutuskan pergi ke teras rumah. Mereka adalah laki laki jantan, jadi tidak mau mengganggu rahasia perempuan.


Bersambung….