
Mereka pulang dalam keadaan hening, baru dalam setengah perjalanan pulang terjadi badai dan ada pohon tumbang di depan mereka, Ryan memilih berbalik ke tempat pesta tadi tapi sialnya bensin mobil sudah habis. Ryan memukul stir mobilnya dengan kesal.
Hujan dan angin semakin kencang, mereka terjebak di tengah jalan yang sepi.
"Ada apa Tuan, kenapa berhenti?" tanya Dilla.
Dilla takut sama suara petir, jadi dia mulai cemas karena beberapa kali suara petir menyambar.
"Maaf Dilla, sepertinya kita terjebak di sini, kita kehabisan bensin," ujar Ryan.
"Terus bagaimana ini Tuan, tempat ini sangat sepi," Dilla semakin parno.
Dilla berpikir jika siap tau aja muncul hantu tiba tiba. Dilla takut juga sama hantu.
"Saya juga tidak tau Dilla, jika kita cari bensin cuaca di luar tidak mendukung. Di belakang memang ada satu payung. Tapi kita tidak tau seberapa jauh tempat jual bensin," terang Ryan.
"Sepertinya kita harus menunggu orang lain lewat atau sampai hujannya reda," sambung Ryan.
"Tapi Tuan, sepertinya hujannya bakalan awet sampai pagi," sahut Dilla.
"Kita tidak ada pilihan lain Dilla."
Mereka berdua kembali terdiam. Dilla sekali kali melirik ke samping, dia seperti mendengar langkah seseorang, Dilla semakin takut. Saat Dilla melirik ke samping tidak ada sesuatu pun.
Dilla menelan ludahnya, dia mencoba menenangkan diri.
"Kamu baik baik saja Dilla?" tanya Ryan.
Ryan tadi sempat melihat gelagat aneh Dilla, dia jadi khawatir.
"Saya baik baik saja Tuan," jawab Dilla mencoba menguatkan diri.
Keadaan kembali hening.
Tok tok tok
Dilla yang mendengar suara ketukan di sampingnya langsung menoleh.
"KYAAA…," teriak Dilla kencang dan segera loncat ke samping Ryan.
Dilla bahkan memeluk Ryan erat karena terlalu terkejut dan takut.
Tadi saat Dilla menoleh, Dilla melihat seperti bayangan seseorang dan menggunakan cahaya ke wajahnya. Dilla pikir itu adalah hantu.
"Dilla tenang itu hanya orang," ujar Ryan menenangkan.
Ryan mencoba membuka kaca mobil. Dilla segera melepaskan pelukan saat yakin itu adalah orang.
"Maaf Nak jika Nenek menakuti kalian," ujar seorang Nenek Nenek.
"Iya Nek tidak apa," sahut Ryan.
"Kenapa kalian berhenti di sini tengah malam?" tanya Nenek itu.
"Maaf Nek, mobil kami kehabisan bensin dan kami tidak terlalu kenal sama wilayah sini," jawab Ryan.
"Kalau begitu apa kalian mau singgah di tempat Nenek dulu, tempat Nenek ada di sana," tunjuk Nenek itu.
Ryan bisa melihat ada cahaya lampu yang menyala tidak jauh dari mereka. Mereka tadi tidak melihatnya.
"Gimana Dilla apa, kita singgah di sana dulu, daripada kita di tengah jalan begini?" tanya Ryan kepada dilla.
"Iya Tuan, sebaiknya kita singgah saja, di sini seram," ujar Dilla.
"Baik Nek kami ikut Nenek, sebentar ya Nek saya ambil payung dulu."
Ryan segera mengambil payung dan baju ganti, karena dia yakin mereka pasti akan basah sampai ke rumah Nenek itu.
Ryan dan Dilla berjalan mengikuti cahaya senter dari Nenek itu. Dilla berjalan sambil melirik ke kiri dan ke kanan, dia makin parno.
Cetarrr….
Terdengar suara petir yang menggelegar keras.
"KYAAA…," teriak Dilla lagi.
Kini Dilla meloncat ke arah Ryan. Dilla memeluk Ryan begitu erat, tangan Dilla melingkar di leher Ryan dan kakinya melingkar di paha Ryan. Untung saja Ryan tidak terjatuh.
Ryan cukup kaget akan aksi Dilla.
"Sepertinya dia sangat takut sama petir," kata Nenek itu.
Ryan diam dan tidak merespon apapun.
Dilla segera turun kembali dari tubuh Ryan, Dilla merasa malu. Dilla mau menjauh dari Ryan tapi suara petir kembali menyambar. Dilla kini memeluk tangan Ryan.
"Maaf Tuan, Dilla pinjam tangan nya ya. Dilla takut petir," kata Dilla memelas dengan air mata di pinggir mata.
Mereka akhirnya sampai di rumah Nenek itu.
"Oh iya Nenek lupa. Kenalkan nama Nenek Nenek Sumbi, kalian panggil Nenek saja ya. Dan Nenek sarankan Hp kalian di mati kan karena bisa disambar petir," saran Nenek Sumbi.
"Iya Nek," sahut Dilla.
Ryan dan Dilla segera mengambil HP dan mematikannya setelah Ryan mengirim pesan buat ibunya jika mereka terjebak badai.
"Kalau boleh tau nama kalian siapa?"
"Nama saya Ryan Nek dan ini Dilla."
"Kalian bisa menginap di kamar pojok sana, hanya ada satu kamar yang tertinggal. Tidak aapkan kalian satu kamar."
Dilla melirik ke arah Ryan, dan Ryan menatap balik.
Jedarrr….
Dilla kembali merapatkan tubuhnya ke Ryan saat mendengar suara petir.
"Tuan, Dilla tidak mau ditinggal sendiri," bisik Dilla.
Ryan kasihan melihat Dilla yang ketakutan.
"Baik Nek kami akan tinggal satu kamar," putus Ryan akhirnya.
"Ya sudah kalian masuk aja ke kamar, ini sudah larut Nenek juga mau tidur karena sudah malam.
Dilla dan Ryan menuju ke kamar itu. Ruangannya bisa di golongan kecil dan sempit, tapi mereka bersyukur ada orang baik hati yang menolong mereka .
Tok tok tok.
Dilla segera membuka pintu, ternyata Nenek Sumbi.
"Ini ada handuk, selimut juga ada daster buat Nak Dilla. Kebetulan di rumah ini Nenek hanya tinggal dengan cucu perempuan Nenek saja."
Dilla menerima pemberian Nenek itu.
"Nenek permisi ya," Nenek itu kembali pamit.
Dilla segera meletakkan handuk, selimut dan juga daster.
Dilla mengambil daster tersebut dan masuk ke kamu mandi mau ganti baju. Dilla dengan buru buru ganti baju karena petir masih sering terdengar.
"Tuan jangan lama lama ya," teriak Dilla dari luar saat Ryan sudah ada di dalam.
Ryan tidak menyahut dan lanjut membuka baju.
"Tuan jangan lama," ujar Dilla setelah 10 detik terdiam.
"Tuan," panggil Dilla lagi.
Dilla memutuskan naik ke kasur, tiba tiba ada kecoa yang melintas di depan Dilla.
"KYAAA…," Dilla kembali berteriak keras dan berlari ke arah kamar mandi.
Ryan yang mendengarkan teriakan Dilla segera keluar. Tadi Ryan hanya sempat menggantikan celana tanpa memakai atasan lagi.
Mereka berdua bertabrakan, Ryan menjaga keseimbangannya. Entah yang sudah keberapa kali Dilla hari ini suka menempel pada Ryan.
Dilla membuka matanya karena merasa memeluk sesuatu yg terasa aneh. Muka Dilla memerah sempurna.
Plakkk….
"Dasar mesum," teriak Dilla.
Dila segera memundurkan langkahnya.
Muka Ryan berpaling, dengan pelan pelan Ryan melihat ke arah Dilla. Ryan berjalan pelan pelan ke arah Dilla. Ryan menahan perih di pipinya.
"Coba kamu ulang siapa yang mesum, tadi siapa ya yang memeluk saya," kata Ryan pelan.
"Maafin Dilla Tuan, tadi reflek sumpah deh," kata Dilla sambil mengangkat dua jarinya.
Ryan menggosok pipinya.
"Kamu itu kecil kecil tapi kekuatannya seperti seorang kuli," ujar Ryan kesal.
"Kenapa Tuan masih tidak pakai baju," ujar Dilla pelan dia hanya mencuri curi lirik ke arah Ryan.
Ryan punya ide untuk membalas Dilla. Ryan berjalan semakin mendekati Dilla.
Bersambung....