
Setelah sarapan pagi usai, seperti yang telah dikatakan Dafa, Dafa ingin menghabiskan waktu berdua sama Jelita.
"Ryan aku titip Rafa ya," kata Dafa sambil melambaikan tangan.
Dafa segera membawa Jelita untuk naik lagi ke atas.
"Si Dafa itu benar-benar," ujar Ryan yang melihat kepergian Dafa dan juga Jelita.
"Sudah lah Mas. Kita lebih baik membawa anak-anak jalan saja. Biarkan Mbak Jelita sama Mas Dafa menikmati waktu mereka berdua. Dilla tidak masalah kok menjaga mereka bertiga," ujar Dilla.
'Bukan kamu yang tidak masalah, tapi aku,' batin Ryan berteriak histeris.
"Ayo cepat Pa," panggil Reza.
Dilla mengikuti langkah mereka bertiga yang sudah di lobby hotel. Ryan dengan langkah lemas mengikuti mereka.
"Sial benar nasib aku.'
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Ryan setelah berdiri di dekat mereka.
"Pa bagaimana kalau kita ke pantai saja. Kemarin kita kan batal pergi ke pantai," usul Reza.
"Liyo itut Liyo itut," sahu Rio.
"Baiklah kita pergi ke pantai."
***
Dafa dan Jelita sudah berada di kamar mereka kembali.
"Dafa apa tidak apa-apa kita menitip Rafa sama Ryan dan Dilla?" tanya Jelita tidak enak.
"Tidak masalah kok, kan Dilla bisa menjaga mereka dengan baik. Apalagi Rafa tidak mau terpisah dengan Rio dan Reza," jawab Dafa santai.
"Tapi aku kasihan sama Ryan dan Dilla."
"Mau bagaimana lagi jika anak-anak tidak mau pisah sama Dilla. Kita kan tidak memaksa Rafa ikut sama mereka. Rafa sendiri yang ikut mereka," ucap Dafa.
"Aku masih tidak enak sama mereka. Seharusnya mereka yang harus berdua dan kita yang menjaga anak-anak."
"Sudahlah, semuanya sudah terlanjur. Sekarang kita nikmati waktu kita berdua dulu," ucap Dafa sambil memeluk Jelita dengan mesra.
"Kamu ini," kata Jelita sambil mencubit lengan Dafa yang sedang memeluknya.
Dafa meletakkan kuningnya di kening Jelita. Mereka saling bertatapan.
"Sekarang lupakan masalah Ryan dan Dilla juga anak-anak. Sekarang mari kita nikmati waktu kita bersama," ujar Dafa sambil tersenyum.
Jeiita juga membalas senyuman milik Dafa.
***
Mereka berlima tiba di pantai. Karena masih terlalu pagi maka tidak banyak para pengunjung yang datang. Setelah pintu dibuka, Rio, Reza dan Dafa segera berhamburan keluar dan berlari di tepi pantai.
Dilla menyusul mereka bertiga agar tidak lari jauh. Ryan menyusul setelah memastikan mobil terkunci dengan benar.
"Ma, Pa apa boleh mandi?" tanya Reza berharap.
"Tidak tidak, tidak boleh, kalian tidak membawa baju ganti. Jika kalian mandi nanti kalian pulang bisa masuk angin," sahut Dilla.
"Huuuu tidak seru," ucap Rafa.
Mereka bertiga langsung cemberut.
"Kalian boleh main di tepi pantai, tapi lepaskan sepatu kalian bertiga dulu biar tidak basah. Mainnya jangan jauh-jauh," ujar Dilla.
Mereka bertiga segera melepaskan sepatu mereka bertiga.
"Jangan lupa kalian menarik celana kalian biar tidak basah ya," teriak Dilla karena mereka bertiga sudah berhamburan berlari ke arah bibir pantai.
"Ayo Dilla kita duduk disini saja," ajak Ryan untuk duduk pada bangku yang disediakan di tepi pantai.
Dila menyusun Ryan yang telah duduk duluan. Ryan menarik tubuh Dilla agar berada di dekatnya. Tadi Dilla duduk berjarak sejengkal dari Ryan. Ryan memeluk Dilla erat.
"Mas," tegur Dilla sambil memukul tangan Ryan.
"Iya," jawab Ryan cuek
"Mas jangan begini dong, malu sama dilihat sama orang lain," ujar Dilla.
Ryan melihat ke sekeliling apa ada orang atau tidak.
Dilla diam begitu juga dengan Ryan. Mereka menikmati momen seperti itu sambil menjaga Rio, Reza dan Rafa yang sedang bermain kejar-kejaran di pinggir pantai.
"Sekarang aku merasa sangat tua dengan memiliki 3 orang anak," ujar Ryan tiba-tiba.
"Mas bisa aja deh," sahut Dilla.
"Nanti saat kita memiliki anak lagi, pasti akan bertambah ramai," kata Ryan.
"Mas," ujar Dilla.
"Aku tidak sabar ingin punya anak sama kamu Dil."
"Mas," panggil Dilla pelan.
"Iya sayang."
"Mas, apa sebaiknya kita tunda dulu untuk memiliki anak segera?" tanya Dilla.
Ryan segera membalikkan tubuh Dilla saat mendengar perkataan Dilla.
"Apa maksud kamu Dilla. Apa kamu tidak ingin memiliki anak dengan aku?" tanya Ryan.
"Bukan begitu maksud Dilla Mas. Sekarang Rio masih kecil jadi Dilla pikir sebaiknya kita fokus dulu kepada Rio sampai dia besar. Setelah itu baru kita bahas tentang anak kita nanti."
"Jadi kamu tidak ingin segera memiliki anak kandung kamu sendiri. Biasanya perempuan akan lebih menyayangi anak kandungnya sendiri," ujar Ryan
"Dilla juga mau punya anak yang lahir dari rahim Dilla Mas. Takutnya jika Dilla segera hamil maka nanti Dilla tidak bisa berfokus lagi sama Rio dan Reza mereka masih sangat kecil. Bagi Dilla mereka adalah anak kandung Dilla sendiri."
"Dilla, kamu tidak sendiri dalam mengurus mereka berdua. Ada aku di samping kamu. Aku juga akan menjaga, merawat dan memberi mereka kasih sayang. Kita akan bersama-sama menyayangi mereka, begitu juga anak kita nanti."
"Mas," ujar Dilla dengan suara pelan.
"Mas harap semoga kamu tidak menolak jika kita memang diberikan seorang anak," ujar Ryan sambil menggenggam tangan Dilla.
"Iya Mas, Dilla mengerti Mas, tapi…."
Ryan meletakkan jari telunjuknya bibir Dilla.
"Kamu percaya saja sama Mas. Mas pasti bisa menyayangi kamu, Rio, Reza dan juga anak kita nanti," ulang Ryan.
Dilla menganggukkan kepalanya.
"Baik Mas."
Ryan senang dengan keputusan Dilla. Ryan mengusap sebentar pipi Dilla. Mereka saling bertatapan, sedikit demi sedikit Ryan mendekatkan wajahnya kepada Dilla.
"Omy," teriak Rio dari kejauhan.
Ada perempatan yang muncul di dahi Ryan. Rio selalu merusak suasana romantis dia sama Dilla. Dilla segera menjauhkan mukanya dari Ryan. Dilla tidak mau ketahuan berbuat macam-macam di depan anak-anaknya. Apalagi mereka masih kecil. Dilla segera duduk menjauh dari Ryan dan duduk tegap kembali.
"Iya sayang," sahut Dilla.
"Ini buwat Omy," kata Rio sambil menyerahkan kulit kerang dan batu karang yang dia kumpulkan.
"Dari mana Rio mendapatkan ini?" tanya Dilla.
"Dali cana Omy. Macih banaak tapi angan Liyo ndak muat," tunjuk Rio pada ke arah bantai.
"Badaimana, apa Omy cuka," tanya Rio berbinar.
"Iya Omy suka," jawab Dilla sambil mengelus kepala Rio.
Dilla mengambil semua yang dikumpulkan oleh Rio dan meletakkannya di samping tempat duduknya. Dilla segera mengambil tisu dalam tasnya dan menyapu tangan Rio yang kotor. Reza dan Rafa juga menyusul Rio.
"Bagaimana kalian sudah puas semuanya?" tanya Dilla.
"Iya Ma, kami puas mainnya."
"Rafa juga puas Ma, nanti Rafa mau kasih ini ke Mommy," sambung Rafa.
"Kalau kalian sudah puas mainnya, bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain?" tawar Ryan.
"Holeee…."
"Horeee mau Pa," sahu Rafa dan Reza.
Mereka bangkit dari tempat duduknya. Dilla tidak lupa mengambil kulit kerang dan batu karang yang telah dikumpulkan oleh Rio dengan susah payah.
Bersambung....