Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 167. Bahaya



"Ini foto dia. Aku ingin kalian menculik dia dan membawa dia ke villa aku yang ada di pegunungan," ujar Daniel dengan menyerahkan foto Dilla. 


Orang yang disuruh oleh Daniel mengambil foto tersebut.


"Aku tidak mau, pokoknya kalian jangan sampai terjadi apa-apa sama perempuan itu dan juga kandungan dia. Jika di sekeliling dia ada anak kecil aku juga tidak mau kalian melukai dia. Ingat, kalian harus membawa dia dalam keadaan baik-baik saja dan tidak terluka sedikitpun," perintah Daniel. 


"Baik Tuan. Kami akan melakukan dengan serapi dan sebaik mungkin."


"Sana, lakukan tugas kalian," usir Daniel.


Mereka segera keluar dari sana setelah mendapatkan perintah yang sudah jelas.


"Daniel, apakah ini tidak keterlaluan?" tanya Gio asisten dan teman akrab Daniel. 


"Kamu ikuti saja perintah aku."


"Aku tahu. Tetap saja iini sudah kelewatan batas. Selama aku menjadi teman kamu, aku tidak pernah lihat kamu berbuat senekad ini," ujar Gio menegur Daniel.


Daniel diam dan membelakangi Gio.


"Aku mengatakan ini sebagai teman kamu, bukan sebagai bawahan kamu," tambah Gio.


"Aku tahu jikaapa yang aku lakukan ini adalah jahat. Tapi aku tidak mau lagi melihat Sam sedih." 


"Apakah kamu bagaimana keadaan Ryan dan anak-anak Ryan nanti jika mereka kehilangan Dilla. Mereka pasti jauh lebih sedih," kata Gio menegaskan.


Daniel sudah mempertimbangkan apa akibat dari tindakan dia. Daniel tetap menguatkan tekad, dia tidak mau jika anaknya kekurangan satu hal apapun. Bagi Daniel, Sam adalah segala-galanya. Walaupun Sam hadir bukan dari perempuan yang ia cintai, tetapi Sam adalah anak kandung dia. Daniel akan berusaha membuat Sam bahagia. 


"Kamu tahu? Sekarang Sam adalah prioritas utama aku. Aku tahu jika aku sering mengabaikan dia, tapi aku selama ini hanya berusaha untuk dia," ujar Daniel pelan. 


"Kapan kamu akan memprioritaskan kamu sendiri? Kapan kamu akan mencari kebahagian sendiri?" tanya Gio berturut-turut.


Daniel membalikkan badan menatap ke arah Gio. 


"Bahagia?" tanya Daniel terkekeh.


"Aku bahkan sampai lupa kapan orang terakhir yang bertanya seperti itu, termasuk keluarga aku. Kapan aku bahagia?" sambung Daniel dengan masih menertawakan nasib sendiri.


"Daniel kamu berhak bahagia. Sebaiknya kamu batalkan rencana kamu ini. Jika memang Sam adalah prioritas kamu, kamu bisa mencari perempuan lain yang bisa menjadi ibu sambung Sam dan mencintai kamu denga tulus. Tidak dengan cara seperti ini."


"Kamu kan tahu gimana Dilla bisa menyayangi anak Ryan dengan tulus. Aku yakin jika dia bisa menyayangi Sam juga." 


"Apa kamu yakin jika Dilla bisa menyayangi Sam dengan tulus jika begini caranya?"


Daniel kembali terdiam.


"Kamu dengarkan aku. Kamu batalkan rencana ini. Kamu cari perempuan yang lain yang kamu cintai dan mencintai kamu dan juga Sam."


"Aku tahu jika kamu hanya mencintai satu orang perempuan saja dunia ini. Tapi coba kamu buka hati kamu lagi Daniel, ini demi Sam dan juga kamu," tambah Gio.


"Bagaimana aku membuka hati aku jika hati dan pikiran aku sudah dia bawa pergi. Aku yakin jika dia telah menikah dan mempunyai anak dan hidup bahagia bersama suaminya itu," ujar Daniel.


"Mengapa saat itu kamu tidak mencoba untuk mengatakan pada dia?" 


"Bagaimana aku bisa mengatakan pada dia jika ke orang kedua orang tua aku memaksa aku menikah dengan Jessica. Kamu tahu sendiri orang tua aku tidak menyukai orang yang tidak sederajat."


"Tapi Daniel, siapa tahu saja jika Bel…."


"Cukup! aku tidak mau membahas dia lagi. Aku tidak mau kamu menyebut nama dia di depan aku lagi. Sekarang kamu pergi dari hadapanku," usir Daniel emosi.


Gio memilih pergi. Gio tidak mau bikin Daniel emosi lagi. Gio kasihan sama Daniel juga Sam.


Setelah kepergian Gio, Daniel kembali menatap ke arah jendela memperhatikan gedung-gedung yang tinggi. Mata Daniel tidak menatap pada gedung tersebut, tetapi mengingat kembali perempuan yang pernah hadir di dalam kehidupannya.


"Bella, bagaimana kabar kamu sekarang. Kamu pasti hidup senang, sangat berbeda dengan aku."


"Dilla kamu jalan duluan ya. Aku ada barang yang ketinggalan," ujar Jelita pada Dilla. 


Saat ini mereka sedang berada di parkiran mall. Mereka baru saja selesai belanja.


"Baik Mbak. Kami akan ke mobil duluan. Ayo Rio, kita pergi duluan," ajak Dilla.


Dilla berjalan sambil menenteng beberapa barang bawaan. Sedangkan Jelita kembali memasuki dalam mall. Mereka terus berjalan tanpa menyadari jika beberapa orang mengikuti mereka. Saat mendekati mobil, tiba-tiba salah satu penjahat ingin menutup mulut dan hidung Dilla menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Dilla yang terkejut reflek menyiku orang itu dengan siku tangan.


Orang itu mengaduh kesakitan. Ada tiga orang yang menghadang Dilla dan Rio.


Dilla segera mengambil ancang-ancang dalam menyembunyikan Rio di belakang tubuh dia.


"Apa mau kalian?" tanya Dilla. 


"Apa mau kami?" tanya penjahat itu mengejek. 


"Lebih baik kalian pergi dari sini atau aku akan berteriak," ujar Dilla dengan tatapan was-was.


Dilla sedikit takut. Jika Dilla saat ini tidak sedang hamil dan tidak ada Rio, maka Dilla pasti tidak akan segan menghajar mereka bertiga. Tetapi kondisi Dilla yang hamil dan juga Rio yang membuat Dilla sedikit waspada. Apalagi jika terjadi sesuatu sama kandungan dia. Dilla terus memundurkan langkahnya dengan Rio tetap di belakang tubuh Dilla. 


Saat penjahat itu ingin mendekati dan membius Dilla lagi, Dilla menangkap tangan itu dan memelintir tangan penjahat itu ke punggung. Dilla menendang penjahat itu dengan kuat. Dilla sedikit kesusahan bergerak dengan kandungan yang sudah membesar. Dilla mengusap perut karena sedikit terasa nyeri. 


"Ternyata wanita ini pandai beladiri. Sekarang kita bergerak cepat. Sebelum datang orang lain."


"Baik." 


"Tapi ingat, jangan sampai melukai mereka," peringati dia lagi.


Mereka kembali mengepung Dilla dan Rio. Dilla mencoba melihat ke kiri dan ke kanan, apakah ada orang atau tidak. Entah kenapa tidak ada orang sama sekali.


"Omy… Liyo atut," ujar Rio dengan tangan dan kaki yang bergetar.


Dilla mengusap rambut Rio agar Rio bisa sedikit tenang. 


Sekarang Rio dan Dilla sudah terpojok. Mereka dikepung oleh mereka bertiga di dekat mobil. 


Salah satu penjahat mulai mendekati lagi. Dia memajukan tangan untuk menangkap Dilla. Dilla dengan cepat memukul tangan kanan penjahat itu dengan lengan kiri dan meninju perut orang itu dengan kuat dengan tangan kanan.


Orang itu terjatuh kesakitan.


"Omy, olong Liyo," teriak Rio yang telah ditangkap oleh penjahat. 


Dilla ingin mendekat dan menyelamatkan Rio. Salah satu penjahat lain kembali ingin membungkam mulut dan hidung Dilla tapi Dilla kembali menarik tangan dia dan membanting tubuh penjahat itu. Dilla sudah mulai terasa sangat capek, nafas Dilla sudah tidak beraturan lagi. Dilla tidak peduli jika dirinya sedang ke lelah, yang penting bagi Dilla saat ini adalah menyelamatkan Rio. 


"Berhenti! jika kamu tidak berhenti, maka aku tidak akan segan-segan melukai bocah ini," kata penjahat sambil menyodorkan pisau di belakang Rio. 


"Rio… tolong jangan sakiti anakku. Apa mau kalian? Apakah kalian mau uang? Jika kalian ingin uang, aku akan menyerahkan semuanya. Tolong jangan sakiti anakku," ujar Dilla panik.


Dilla buru-buru menyerahkan tas dia. 


"Yang kami inginkani bukan uang. Tapi…." 


Penjahat itu memberikan kode kepada temannya untuk membungkam Dilla lagi. Dilla ingin memberontak tetapi…. 


"Jika kamu masih melawan maka anak ini akan terluka," ancam penjahat itu.


Dilla yang takut terjadi apa-apa dengan Rio, dia tidak berani melawan. Lama-kelamaan Dilla mulai tidak sadarkan diri. Mereka juga meletakkan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius di muka Rio. Mereka meletakkan tubuh Rio di sana dengan tas dan barang belanjaan yang berhamburan. 


Mereka segera memasukkan Dilla ke dalam mobil. Mobil itu segera keluar dari sana dan menghilang.


Bersambung...