Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 154. Ngidam Part 1



Pada malam hari saat tengah malam, Ryan dan Dilla sudah tidur. Ryan tidur dengan pulas, tetapi beda hal nya dengan Dilla. Dilla dari tadi membolak-balik badan dengan rasa gelisah. Ryan mulai terganggu dengan gerakan Dilla.


"Kenapa sayang?" tanya Ryan dengan membuka sedikit mata.


"Tidak apa-apa Mas," sahut Dilla.


"Ya sudah, ayo tidur lagi," ajak Ryan sambil memeluk Dilla.


Dilla mencoba menutup mata kembali. Dilla bisa kembali tertidur sebentar. Kemudian Dilla terbangun lagi karena ingin sekali memakan nasi goreng. Padahal jam hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Dilla mencoba menutup mata kembali dan membelakangi Ryan. Dilla berusaha mencoba untuk tidur kembali tetapi Dilla masih saja tidak bisa tertidur. Dilla kembali membolak-balik badan karena ada keinginan yang mengganggu.


Ryan yang berada di samping Dilla terbangun kembali karena gerakan Dilla yang dari tadi terus bolak-balik. Ryan membuka mata lagi. Ryan bisa melihat Dilla yang sedang gelisah.


"Sayang," panggil Ryan lagi.


"Maaf Mas jika Dila mengganggu waktu tidur Mas," kata Dilla tidak enak.


"Kamu kenapa hem?" tanya Ryan. 


"Tidak apa-apa Mas," sahut Dilla berbohong.


Kemudian Dilla mencoba untuk menutup mata kembali. Ryan tau jika Dilla sedang berbohong. Ryan memutuskan untuk berpura-pura tidur agar bisa melihat Dilla.


Tidak mencapai sepuluh menit, Dilla kembali membolak-balikan badan. Akhirnya Ryan memutuskan untuk bangun dan duduk di atas kasur sambil menatap Dilla yang masih bolak-balik.


"Sayang, ada apa sama kamu?" tanya Ryan lagi.


Dilla yang tidak bisa lagi menahan keinginan untuk makan nasi goreng dia akhirnya ikut duduk. 


"Gini Mas, entah kenapa tiba-tiba Dilla jadi kepingin makan nasi goreng," sahut Dilla.


"Bukannya tadi malam kamu makan banyak?" tanya Ryan.


"Tadi ya tadi Mas. Sekarang tidak tahu kenapa Dilla tiba-tiba terbangun dan terbayang-bayang makan nasi goreng," ujar Dilla sambil mengelus perut.


Ryan melihat pergerakan Dilla tersebut. 


"Apa jangan-jangan kamu sedang mengidam?" tanya Ryan memastikan.


"Mengidam?" tanya Dilla balik.


"Iya, biasanya ibu hamil sering mengidam."


"Tapi ini tengah malam Mas."


"Mengidam itu tidak mengenal waktu sayang. Biar Mas carikan nasi goreng. Kamu tunggu aja di sini," kata Ryan sambil melihat jam.


Ryan segera bangun dari tempat tidur. Ryan mengganti baju tidur dan meraih dompet dan kunci mobil.


'Semoga saja masih ada yang jualan.'


"Apa Mas tidak apa-apa mencari malam," kata Dilla tidak enak.


Ryan kembali mendekat ke arah Dilla.


"Saat ini kamu sudah mengidam. Jadi apapun yang kamu inginkan pasti akan Mas cari. Ini demi anak kita juga. Mas akan berusaha terbaik untuk anak kita," ujar Ryan.


"Mas berangkat dulu ya. Kamu kunci pintu dan jangan buka sebelum Mas pulang," sambung Ryan sambil menuju ke arah pintu.


"Mas," panggil Dilla saat Ryan memegang gagang pintu.


"Iya sayang," sahut Ryan.


"Dilla maunya nasi goreng yang dibuat sama bapak-bapak berkumis dan pakai sarung ya," request Dilla sambil mengusap perut.


Ryan menaikkan alis mendengar permintaan Dilla. 


"Iya, akan Mas usahakan," jawab Ryan.


Ryan tidak mau membantah permintaan Dilla. Dulu saat Riana hamil, Ryan tidak pernah melihat Riana mengidam apapun. Riana bahkan sama saja saat dia hamil atau tidak. Ryan malah iri sama temannya yang memiliki istri yang mengidam. Ryan juga mau berjuang demi anaknya.


***


Ryan mulai berputar-putar mencari di mana tempat yang ada dijual nasi goreng saat tengah malam. Ryan berputar-putar kurang lebih setengah jam baru dia mendapat seorang bapak-bapak penjual nasi goreng. Ryan segera memberhentikan mobil di dekat gerobak tersebut. Penjual nasi goreng sedang memasak nasi goreng dan membelakangi Ryan.


"Apa Tuan mau nasi goreng juga? Sekarang tinggal satu bungkus lagi," kata sang penjual.


"Maaf Pak, saya bukan ingin membeli nasi goreng Bapak," sahut Ryan.


"Terus Tuan kenapa menghampiri saya?"


"Saya cuma mau numpang tanya Pak?"


"Oh mau bertanya. Mau tanya apa, mungkin Bapak bisa bantu," kata penjual itu dengan ramah.


"Apa di daerah sini masih ada tukang jual nasi goreng lain?" tanya Ryan kepada penjual nasi goreng.


"Jika Tuan tidak suka sama nasi goreng saya Tuan bisa cari tempat lain sendiri. Jangan menyindir saya secara terang-terangan begini Tuan," ucap penjual nasi goreng tersinggung. 


"Maaf Pak, maksud saya bukan seperti itu. Maksud saya itu, saya sedang mencari penjual nasi goreng yang menggunakan kain sarung dan juga berkumis. Saat ini istri saya sedang mengidam Pak. Dia meminta permintaan seperti itu, bukan menyindir Bapak," kata Ryan menjelaskan kejadian yang sesungguhnya.


"Bilang lah dari tadi. Jika seperti itu saya bisa maafkan. Habis perkataan Tuan yang buat saya salah paham," kata penjual itu dengan ramah kembali.


"Jadi apa ada penjual nasi goreng lain di dekat sini Pak?" tanya Ryan ulang.


"Di daerah sini hanya saya satu-satunya yang menjual nasi goreng Pak. Sedangkan penjual nasi goreng lain berada jauh di kawasan sana," tunjuk tukang nasi goreng itu pada jalan yang dimaksud.


"Tapi jam segini biasanya mereka juga sudah habis. Mereka yang jual di sana juga anak-anak muda biar laris," sambung penjual nasi goreng itu.


"Apa tidak ada lain?" tanya Ryan kecewa.


"Memang tidak ada lagi Tuan."


"Maaf Pak ini piringnya," kata salah satu pelanggan.


Pelanggan itu kebetulan berkumis. Ryan jadi gagal fokus sama pelanggan yang berkumis seperti pak Raden.


"Tuan, bagaimana jika kita meminta Bapak ini saja yang memasak nasi goreng. Kebetulan Bapak ini ada kumis. Nanti saya pinjamkan kain sarung saya saat memasak," usul penjual nasi goreng.


"Ada apa ini? kenapa saya dibawa-bawa," tanya pelanggan itu.


"Pak apa boleh saya minta tolong sama Bapak?" tanya Ryan yang tidak memiliki pilihan lain.


"Minta tolong apa?"


"Saat ini istri saya sedang hamil. Dia sedang mengidam ingin nasi goreng yang dibuat sama Bapak berkumis dan menggunakan kain sarung. Bapak tenang saja, nanti saya yang akan bayar nasi goreng Bapak. Saya juga akan kasih Bapak uang imbalan. Jadi bagaimana Pak? Apa Bapak mau membantu saya?" tanya Ryan.


"Maaf Tuan, bukan saya tidak mau membantu Tuan. Tapi saya tidak bisa memasak," tolak pelanggan itu.


"Jika Bapak mau, saya akan mengajari Bapak. Kasihan istri Tuan ini. Istri saya juga sering mengidam saat dia hamil," kata penjual nasi goreng.


Akhirnya pelanggan itu menerima tawaran Ryan. Penjual itu menyerahkan kain sarung yang dia gunakan kepada pelanggan itu. 


Pelanggan itu mulai memasak nasi goreng sesuai arahan penjual nasi goreng. Tetapi karena memang bukan bakat, nasi goreng yang dibuat oleh pelanggan itu asin dan pahit karena hangus.


Ryan dan penjual nasi goreng sempat mencicipi tapi langsung memuntahkan segera. Mereka berebutan meminum air karena tenggorokan dan mulut terasa aneh.


"Bagaimana ini Tuan, ini adalah stok nasi yang terakhir," kata penjual nasi goreng.


"Atau Tuan bawa pulang saja nasi goreng pesanan saya yang tadi," saran pelanggan itu karena merasa tidak enak.


Ryan memutuskan membawa nasi goreng hangus dan asin itu beserta nasi goreng yang normal. Ryan pulang setelah memberikan tips kepada pelanggan dan penjual nasi goreng itu. Mereka dengan senang hati menerima imbalan tersebut.


Apakah Dilla akan makan nasi goreng itu?


Tunggu di bab selanjutnya.


Bersambung….


Saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya bagi pendukung Nanny dan Duda. Berkat dukungan dan do'a kalian semua Novel saya ini bisa menjadi juara harapan You Are A Writer Seasons 3. Saya sangat bersyukur atas semua ini. Semoga ke depan kalian tetap mendukung karya saya yang lain ya. Sekali lagi, terima kasih banyak. 🙏🙏🙏


Mohon dukungan kalian selalu, jangan lupa like, komentar dan vote yang banyak ya.