Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 159. Tanda-tanda



Jangan lupa kritikan dan sarannya ya. Like dan vote juga. Terima kasih.


Selamat membaca sahabat NAD.


***


"Apa Mas tidak perlu ke kantor saja," kata Dilla yang melihat Ryan yang baru saja siap muntah untuk kesekian kali.


"Mas tidak apa-apa kok," sahut Ryan agar Dilla tidak khawatir.


"Tapi Mas dari tadi muntah terus," ujar Dilla gelisah. 


"Kata dokter ini hal yang biasa. Mas tidak apa-apa, lagian Mas ada rapat pagi ini," sahut Ryan berusaha untuk menyakinkan Dilla.


Dilla tidak lagi membujuk Ryan. Dilla percaya sama Ryan, apalagi jika Ryan ada rapat yang penting di kantor.


"Omy," panggil yang baru saja datang


"Anak Mama sudah bangun sendiri dan sudah rapi. Tumben anak Mama tidak mau menunggu Mama bangunkan dan mandikan," ucap Dilla.


"Iya dong Omy. Liyo cudah becal. Liyo tan mau adi abang. Liyo halus mandili. Liyo mau adi abang yang batik," sahut Rio.


"Anak Papa sudah besar. Sudah bisa menjadi contoh abang yang baik untuk adiknya," puji Ryan kepada Rio. 


"Halus dong Pa. Talau ndak, anti adik Liyo ciapa yang aga," ucap Rio semangat.


"Nah, ayo kita turun ke bawah. Sudah saatnya kita sarapan pagi," ajak Dilla.


***


Dilla dan Jelita rencana pada hari ini akan pergi berbelanja. Dilla yang sudah menunggu Jelita lama akhirnya dia memutuskan untuk menyusul Jelita di kamar. 


"Mbak Jelita," panggil Dilla.


"Iya Dilla sebentar. Buka saja pintu, pintunya tidak dikunci," sahut Jelita dari dalam.


Dilla membuka pintu kamar Jelita tanpa masuk ke dalam. 


"Jadi perginya Mbak?" tanya Dilla. 


"Iya jadi. Sebentar ya, Mbak mau menyingkirkan barang ini dulu. Sejak beberapa hari yang lalu Mbak tidak sanggup mencium bau make up sama sekali. Jadi Mbak memutuskan untuk menyimpan semuanya," kata Jelita sambil meneruskan pekerjaannya.


Jelita memasukkan satu persatu perlengkapan ke dalam satu kantong plastik. Isi alat make up Jelita hampir penuh satu kantong plastik besar. Setelah selesai Jelita menghampiri Dilla.


Dilla menatap kantong plastik yang dipegang oleh Jelita sambil mengusap perutnya. Tiba-tiba dia ingin sekali barang yang dipegang oleh Jelita. 


"Kamu kenapa?" tanya Jelita ketika mata Dilla tidak terlepas dari kantong plastik yang Jelita pegang.


"Tidak apa-apa Mbak," sahut Dilla kecil.


Dilla tidak berani meminta kepada Jelita. Dilla tau jika harga make up punya Jelita harganya selangit.


"Tidak apa-apa tapi kenapa mata kamu terus menatap ini?" tanya Jelita dengan mengangkat kantong plastik.


"Itu Mbak... kalau Mbak tidak butuh lagi, apa boleh buat Dilla saja," Dilla sudah tidak dapat membendung rasa ketertarikan.


Jelita heran melihat Dilla meminta alat make up. Dilla adalah wanita simple yang tidak memakai banyak make up hanya memakaikan badak tipis dan lipstik saja.


"Tumben, buat apa kamu alat make up ini?"


Dilla salah tingkah saat Jelita bertanya. Dilla kembali mengusap perutnya. 


"Apa kamu sedang mengidam?" tanya Jelita yang fokus sama gerak gerik Dilla. 


"Tidak tahu Mbak. Dilla hanya tiba-tiba ingin apa yang Mbak pegang," jawab Dilla. 


"Itu namanya kamu sedang mengidam. Sudah ini, ini buat kamu saja. Mbak sudah tidak tahan sama bau nya," ujar Jelita dengan menyerah kepada Dilla.


Dilla segera menerimanya dengan senang hati.


"Kamu tunggu sebentar ya. Mbak mau siapa dulu," ujar Jelita. 


"Baik Mbak. Kalau begitu Dilla mau taruh ini di kamar dulu."


***


Dilla menata satu persatu make up yang dikasih oleh Jelita dengan rapi. Dilla menatap puas hasil kerjanya. Dulu meja rias hanya ada beberapa saja termasuk punya Ryan. Sekarang sudah didominasi sama alat make up punya Jelita.


Dilla menghirup nafas kencang agar bisa mencium bau make up. Dilla merasa senang dan nyaman hanya dengan baunya saja. 


***


Dilla, Rio dan Jelita mulai berkeliling mall. Mereka berniat ingin mencuci mata sambil berbelanja. Mereka memasuki salah satu tempat penjualan baju dan perlengkapan anak-anak. Jelita ingin membeli baju baru buat Rafa. Jelita mulai memilih baju yang sekiranya sesuai dengan Rafa.


Dilla juga memilih beberapa potong baju buat Rio dan Reza. Rio berdiri tepat di samping Dilla. 


Kemudian mata Dilla beralih pada baju anak perempuan yang terpasang indah pada manekin. Menurut Dilla, baju gaun itu sangat imut dan lucu. Dilla meletakkan baju yang telah dia pilih dan menuju ke baju tersebut. Dilla memandang dengan mata bersinar.


"Ada apa Dilla?"


"Ini Mbak, baju ini sangat lucu dan cantik," sahut Dilla tanpa memandang Jelita.


Jelita menatap Dilla dengan datar.


"Apa mungkin calon anak kamu nanti adalah perempuan?" tanya Jelita terus terang.


"Apa maksud Mbak?" tanya Dilla balik. 


"Dulu saat Mbak mengandung Rafa, Mbak juga tidak bisa mencium bau make up dan tidak suka sesuatu yang feminim. Mbak lebih suka dengan pernak-pernik anak laki-laki. Kali ini Mbak juga merasakan begitu. Sepertinya kali ini calon anak yang Mbak kandung juga laki-laki," kata Jelita sambil mengusap perutnya. 


"Dan sepertinya, calon anak yang kamu kandung adalah anak perempuan. Buktinya saja kamu sekarang lebih menyukai baju anak perempuan dan tadi juga kamu suka dengan alat make up," tambah Jelita. 


"Yang benar Mbak?" 


"Biasanya sih seperti itu. Tapi bisa juga bukan, kita hanya bisa memprediksi. Untuk hasil akurat, nanti kita bisa USG," jawab Jelita. 


"Begitu ya Mbak. Tapi baju ini sangat lucu, Dilla sangat ingin membelinya."


"Jika kamu ingin membelinya, kamu ambil saja," saran Jelita.


Dilla akhirnya mengambil baju anak perempuan itu. Dilla sangat senang begitu baju itu ada ditangannya. 


"Adik jangan begitu," tegur salah satu pegawai toko. 


"Ini buwat adik na Liyo," kata Rio dengan memeluk erat boneka kelinci.


"Tapi dik, itu harus di bayar dulu."


"Rio, apa yang terjadi sayang," ujar Dilla mendekati Rio.


"Liyo mau boneta ni tuk adik Liyo Omy. Api Ante tu ilang ndak boyeh," lapor Liyo. 


"Maaf Mbak, bukan tidak boleh, Tapi barangnya harus dibeli dulu baru boleh di bawah pergi," kata petugas toko. 


"Maaf Mbak, jika anak saya berbuat salah. Dia masih kecil, saya yang kurang mengawasi dia," ujar Dilla meminta maaf. 


"Iya Mbak." 


"Rio mau boneka ini?" tanya Dilla mensejajarkan tubuh sama Rio.


"Iya Omy. Liyo mau kacih buwat adik Liyo."


"Tapi Rio tidak boleh seperti itu. Bonekanya belum kita beli. Lain kali kita beli dulu baru dibawa ya," nasehat Dilla.


"Iya Omy."


Dilla mengambil boneka itu dan berjalan ke arah kasir. Setelah mereka membayar semua belanjaan, mereka memutuskan untuk berkeliling lagi. Setelah lelah baru mereka memutuskan untuk pulang.


***


Dalam perjalanan pulang, Dilla yang melihat penjual buah-buahan tiba-tiba Dilla ingin sekali makan mangga. 


"Mbak, bagaimana kalau kita beli buah mangga dulu. Dilla ingin makan mangga."


Jelita juga melirik ke arah para penjual buah-buahan. 


"Baiklah, Mbak tiba-tiba juga ingin makan mangga muda," sahut Jelita.


Jelita segera menepi mobilnya ke arah tempat parkiran yang kosong.


Bersambung…. 


Rekomendasi novel yang bagus buat kalian sambil menunggu up saya selanjutnya….