Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 36. Malu 2



Sampai keesokkan paginya Dilla juga belum siuman. Rio yang sejak bangun langsung mencari Omynya, tapi kata sang Papa Mommy masih tidur.


Hingga menuju siang Dilla juga belum sadar, Rio sudah diperbolehkan pulang sama Dokter. Rio yang melihat Omynya masih tidur mendekati ranjang Dilla. Kebetulan hanya mereka berdua yang ada di kamar tersebut. Ryan lagi ke kamar mandi dan Dafa lagi cari makan buat sarapan mereka. Seharusnya sudah hampir siang tapi mereka juga belum sempat makan.


Rio menarik salah satu kursi karena dia tidak setinggi ranjang rumah sakit, dengan hati hati Rio berusaha naik ke atas kursi sampai akhirnya usahanya berhasil. Rio berdiri pas di samping Dilla yang terlelap. Dengan berlahan Rio memegang badan Dilla.


"Omy Omy angun dah ciang," ujar Rio.


Rio berusaha membangunkan Dilla tapi tidak ada respon dari Dilla. Karena Rio mengira kalau Dilla lagi tidur seperti kata Papa.


"Omy Omy angun," kata Rio lagi.


Setelah berapa lama Rio mencoba membangunkan Dilla tapi Mommynya itu juga belum bangun. Rio mulai cemas, air matanya sudah berkumpul diujung matanya, Rio takut hal buruk menimpa Mommynya.


Rio jadi teringat sama peliharaan Bang Reza yang dia mandikan dulu. Hewan peliharaan yang biasa menemaninya bermain saat pengasuhnya yang dulu mengabaikannya. Rio berniat memandikan hewan peliharaan itu karena kotor terkena makanan.


Rio yang tiba di kamar mandi tanpa aba aba langsung meletakkan hewan peliharaan tersebut di bak mandi. Bak mandi tersebut cukup dalam buat ukuran hewan peliharaan. Kemudian dia sendiri keluar mau ambil handuk buatnya, biar tidak kedinginan, itulah yanh ada dipikirkan polos Rio. Tapi karena kelamaan di bak mandi dan hewan tersebut tidak bisa naik ke atas permukaan, maka pas Rio balik hewan peliharaanya sudah terapung indah di dalam bak mandi.


Besoknya Reza bilang bahwa hewan peliharaannya sudah mati karena kelamaan di dalam air dan sudah tidak bisa menemani Rio. Rio jadi sedih karena sudah hilang temen bermainnya.


Come back to story....


Rio kini sudah meneteskan air mata, Rio sangat takut jika Mommynya tidak akan menemaninya bermain seperti hewan peliharaannya dulu.


"Omyyy...."


Rio mulai menggoyangkan badan Dilla dengan sekencang yang dia bisa.


"Omy angun, angan ninggalin Liyo," tangisan Rio mulai terisak.


"Omy, Omy angun, Omy angun," panggil Rio lagi.


Kini Rio sudah menangis histeris karena tidak melihat Dilla bergerak sama sekali, persis seperti peliharaannya.


Ryan yang di dalam kamar mandi yang mendengar tangisan Rio dengan kencang langsung keluar dari kamar mandi. Saat Ryan keluar kamar mandi, kebetulan Dafa baru masuk. Mereka menghampiri Rio dengan perasaan takut terjadi hal buruk.


"Rio apa yang terjadi sayang?" tanya Ryan.


"Omy hiks... hiks... Omy Pa, Omy dah mati, dali tadi Liyo anguntan tapi ndak gelak gelak," Rio mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


"APAAA...," teriak keduanya.


"Dafa cepat panggilkan Dokter," suruh Ryan.


Dafa segera mencari Dokter lagi.


Dengan panik Ryan kini juga ikut mencoba membangunkan Dilla. Beberapa saat kemudian Dokter masuk dengan cepat. Dokter datang lengkap dengan alat yang biasa digunakan untuk memompa jantung, karena kata Dafa tadi Dilla sudah tidak bergerak yang artinya sudah sekarat.


Sesampai di dalam ruangan Dokter hanya diam, Dokter melihat Ryan dan Rio yang lagi membangunkan Dilla diikuti dengan Dafa.


"Dok apa yang Dokter lakukan, cepat cek segera, siapa tau Dilla masih bisa di selamatkan," Ryan berkata dengan keras.


Dokter dan Suster di sana hampir ketawa terbahak, tapi ditahan tidak mungkin menertawakan anggota pasien.


"Kenapa Dokter malah ketawa di saat seperti ini, Dokter tidak lihat jika pasien lagi kritis," kini Dafa jadi marah dengan respon Dokter dan suster.


"Emm tuan...," dengan ragu perawat menengur.


"Apalagi," bentak Dafa.


Perawat jadi takut mendengar bentakkan Dafa. Dokter menghela nafas.


"Tuan Tuan jangan panik," ujar sang Dokter.


"Kalau sampai terjadi sesuatu sama Dilla kalian yang harus bertanggung jawab," sambung Dafa.


Dokter mendekati ranjang Dilla. Ryan langsung mengondong Rio yang masih menangis dan Dafa juga ikutan bergeser tidak ingin menganggu kegiatan Dokter.


Dengan santai Dokter membetulkan selimut yang Dilla pakai karena sudah berantakan tidak karuan.


"Tuan Tuan, apa yang kalian lakukan tadi bisa menganggu istirahat pasien," nasehat Dokter.


"Tidak, tidak mungkin Dok, Dilla masih baik baik saja, dia belum boleh pergi meninggal kami," kata Ryan.


Bagaimana dengan kedua anaknya nanti jika Dilla beneran pergi, itulah sekarang yang ada di pikiran Ryan.


"Hiks... hiks... Omy...," lirih Rio.


Dokter kasihan sama Rio yang sudah cegukkan. Kenapa kedua orang dewasa ini bisa lebay begini. Sepertinya mereka belum sadar.


"Tuan apa bisa melihat monitor ini," dokter berkata dengan santai sambil menunjukkan layar monitor.


Ryan dan Dafa langsung melihat ke arah monitor yang ditunjuk Dokter. Dari layar monitor di sana menunjukkan hal hal yang normal.


"Sepertinya Tuan Tuan ini salah paham, kondisi Dilla dalam keadaan baik kecuali dia belum sadar," terang Dokter.


Ryan dan Dafa kini merasa malu setengah mati karena panik tidak jelas. Para perawat kini sudah cekikikan tidak kuat menahan tawa.


"Apa alasan kalian sehingga berasumsi bahwa Dilla sudah meninggal?" tanya sang Dokter penasaran.


"Omy ndak angun angun Dok, cama tek hewan Bang Eja yang abis Liyo mandiin, dan ndak bica ain cama Liyo lagi," jelas Rio dengan polos.


Ryan jadi keingat, dulu Mamanya pernah bercerita tentang hewan peliharaan Reza yang mati karena dicebur ke bak mandi sama Rio. Sehingga hewan itu mati menggemaskan.


Ryan dan Dafa kini lebih malu lagi mendengar penjelasan Rio, mereka tadi panik sehingga tidak sempat mengecek layar monitor.


"Kalau gitu kami pamit dulu karena tidak terjadi apapun, lain kali cek lebih teliti lagi," kata Dokter.


Dokter menepuk bahu Ryan kemudian keluar diikuti Suster yang mendorong kembali peralatan darurat. Setelah pintu ditutup mereka mendengar suara tawa, mereka yakin yang mereka tertawakan adalah sikap mereka tadi.


"Ekhem," Ryan dan Dafa berdehem untuk mengembalikan sifat wibawa mereka yang sempat hilang.


"Pa Omy dimana?" tanya Rio.


"Mommy tidakk apa apa sayang, Mommy masih capek makanya butuh waktu tidur lebih panjang," jelas Ryan.


"Tapi hewan Bang Eja?" tanya Rio takut.


"Itu hal yang berbeda Rio, kan Mommy lebih kuat, jadi dah hapus air matanya. Lebih baik Rio tidur lagi ya tadi udah capek menangis," ujar Ryan.


Rio menuruti omongan sang Papa. Rio memang sudah sangat lelah dan merasa mengantuk lagi, hanya beberapa detik di kasur Rio langsung tidur tanpa dosa.


Ryan dan Dafa kini merasa canggung mereka masih keingat sikap ketidak elitan mereka.


"Kenapa tadi kamu tidak lihat monitornya dulu Ryan."


"Ya mana sempat aku lihat, kan kita sama sama paniknya tadi."


"Tadi bener benar malu maluin tau tidak, sampai Suster sama Dokter ketawain kita."


"Sudah jangan di bahas lagi, aku tidak mau mengingat kejadian tadi."


Mereka akhirnya melanjutkan sarapan mereka yang sudah bisa dibilang makan siang. Hal ini merupakan hari terbodoh bagi mereka, panik tanpa melihat situasi dulu.


Bersambung....