Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 106. Gagal



Dilla keluar dengan didampingi oleh Marni. Marni menuntun Dilla duduk di samping Danang. Mari memasangkan kain penutup kepala kepada mereka berdua. Setelah itu Marni segera duduk di samping Wulan.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Pak Penghulu. 


"Sudah Pak, semuanya sudah siap. Sekarang acara akad nikahnya sudah bisa dimulai," ujar Marni.


Dilla menggenggam lututnya. Dilla merasakan sangat gugup. Disaat detik-detik ini, entah kenapa Dilla jadi ragu. Didalam hati dilla, dia ingin ada orang yang menggagalkan akad nikah ini. Dilla tidak mungkin lagi jika menolak saat sekarang.


Danang melihat sekilas tangan Dilla. Danang berfikir jika Dilla saat ini sedang gugup. Dia tidak berpikiran lain.


"Kalau begitu mari kita mulai acara akad nikahnya," kata Penghulu.


"Sekarang nmNak Danang pegang tangan Bapak Penghulu ya," sambung Pak Penghulu.


Danang segera mengulurkan tangannya, dia memegang tangan Pak Penghulu.


Dilla semakin gelisah dan khawatir, sekarang tidak ada lagi yang bisa dilakukan sama Dilla.


"Bismillahirrahmanirrahim acara…."


"Omyyy…." teriak Rio.


"Mommy…." sahut Reza.


"Mbak Dilla," sambung Rafa.


Ucapan Pak Penghulu terpotong dengan gerakan Rio dan lainnya.


Rio, Reza dan Rafa memasuki rumah Dilla. Mereka bertiga segera berlari dan memeluk Dilla yang masih duduk. Dilla kaget dengan kedatangan mereka bertiga. Dilla tidak menyangka jika mereka bertiga akan datang ke rumah Dilla. 


Para tamu dan lainnya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Semua tamu pada bisik-bisik tentang mereka bertiga.


Dilla berdiri setelah mereka bertiga melepaskan pelukannya pada Dilla.


"Kenapa kalian bertiga bisa ada disini?. Ada apa dengan kepala Rio?" tanya Dilla.


Dilla dengan hati-hati menyentuh perban yang ada di kepalanya Rio. Saat ini kepala Rio terbalut dengan perban.


"Sakit sayang?" tanya Dilla lagi.


"Atit Omy," jawab Rio dengan mimik kesakitan.


Dilla meniup luka di kepala Rio. Dilla berharap luka Rio segera sembuh. Dia cemas dengan keadaan Rio. Selama Dilla di sana, Dilla tidak pernah melihat Rio terluka. Dilla pati menjaga mereka semua dengan baik-baik.


"Gimana? masih sakit?" tanya Dilla setelah meniup kepala Rio sebentar.


"Ndak Omy, atit nya angcung tabul, ilang," jawab Rio senang.


Rio, Reza dan Rafa sangat senang bisa bertemu dengan Dilla.


"Dilla, apa mereka bertiga adalah anak asuh kamu yang di kota?" tanya Danang.


 Dilla kembali sadar, tadi dia terlalu fokus sama mereka bertiga. Dilla malah mengabaikan Danang.


Dilla mengagungkan kepalanya untuk pertanyaan Danang.


"Om ni ciapa?" tanya Rio memiringkan kepala.


Orang yang ada di sana merasa gemas terhadap Rio. Rio sangat lucu dan menggemaskan bagi mereka.


"Om…."


"Kenapa Om dan Mommy memakai baju seperti ini. Bukannya ini baju yang dipakai oleh orang-orang yang mau menikah?" tanya Rafa.


"Jangan-jangan Om mau merebut Mommy dari kami ya," sambung Reza.


"Itu…."


"Omy cuma unya Liyo, Om angan etat-etat cama Omy," tambah Rio.


Rio segera menjauhkan Dilla dari Danang. Rio tidak suka jika ada yang merebut Mommynya.


Danang hanya menghela nafas. Omongan dia dipotong terus, kapan sempat dia menjawabnya.


Acara terhenti karena kedatangan mereka bertiga. 


Wulan dan lainnya heran dengan kedatangan ketiga anak kecil itu.


"Apakah acara ini akan dilanjutkan atau tidak? kami hari ini masih harus menikahkan pasangan lain, jadi jangan terlalu lama menunda akad menikahnya," tanya Pak Penghulu.


"Sebentar ya Pak, kita akan melanjutkan acaranya sebentar lagi," sahut Wulan.


"Ndak oyeh, Omy cuma unya Liyo," tolak Rio lagi.


"Mommy tidak akan menikah sama Om. Om cari saja yang lain. Mommy akan menikah sama Papa," sahut Reza.


"Om jangan dekat-dekat," ujar Rafa saat Danang ingin mendekati Dilla.


Langkah Danang terhenti. Rio segera melepas pelukannya sama Dilla. Rio berjalan cepat ke arah Danang dan memukul kecil kaki Danang dengan tangan kecilnya.


"Om ayat, Om angan ambil Omy nya Liyo. Omy anya unya Liyo, Papa dan Bang Eja," kata Rio.


Rio terus memukul Danang dengan menangis. Reza dan Rafa juga ikutan menangis. Mereka tidak rela jika Dilla diambil oleh yang lain.


Dilla segera memisahkan mereka dari Danang. 


"Rio jangan begitu, Mommy tidak suka jika Rio nakal," tegur Dilla.


Danang dan lainnya terkejut mendengar sebutan Dilla sendiri kepada anak-anak itu.


"Apa ini Dilla, sekarang coba kamu jelaskan semua ini. Kenapa mereka memanggil kamu Mommy dan kamu menyebut diri kamu itu Mommy di depan mereka?" tanya Bibi Dilla.


Dilla hanya menunduk, dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan masalahnya. Sekarang masalahnya semakin rumit.


"Pak Penghulu, sepertinya acara pernikahan hari ini kita tunda dulu," ujar Danang tiba-tiba.


"Danang," tegur Wulan tidak terima.


"Sabar Bu, semua ini adalah keputusan Danang sendiri. Kita jangan mengganggu keputusan anak kita. Dia pasti telah memikirkan matang-matang pilihannya Ibu," cegah Yanto.


"Tapi Ayah."


"Sabar Bu."


Pak Penghulu dan lainnya meninggalkan rumah Dilla. Sekarang hanya tinggal keluarga Dilla dan keluarga Danang.


"Apakah sekarang kamu bisa menjelaskan semuanya pada kami Dilla?" tanya Marni.


"Budi dan Yudi, kalian berdua tolong temenin Rio, Reza dan Rafa sebentar ya. Mbak mau bicara hal yang penting," suruh Dilla.


"Baik Mbak," sahut Yudi dan Budi.


"Ayo kita ke kamar kami aja," ajak Budi.


"Liyo ndak mau, Liyo mau cama Omy," tolak Rio.


"Rio, Mommy hanya sebentar saja ya, Mommy ingin berbicara sebentar sama Om dan Tante itu," bujuk Dilla halus. 


Marni dan lainnya bisa cemistry antara ibu dan anak antara Rio dan Dilla.


Rio melihat siapa yang dimaksud sama Dilla. Dengan cemberut Rio menggangukkan kepalanya.


"Api angan ama-ama ya Omy," pinta Rio.


"Iya, Mommy janji, Mommy tidak akan lama. Reza dan Rafa ikut sama Bang Yudi dan Bang Budi ya.Nanti Mommy akan menyusul kalian semua," ujar Dilla.


"Baik Mommy," sahut Reza.


Mereka bertiga mengikuti langkah Yudi dan juga Budi.


Dilla tau mereka semua membutuhkan penjelasan dari Dilla. Dilla tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Dilla meremaskan kedua tangannya.


"Mereka bertiga adalah anak asuh Dilla dari kota. Dilla di kota bekerja sebagai pengasuh anak. Mereka bertiga adalah anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu mereka. Rio dan Reza adalah anak yang Dilla asuh sebelum datang Rafa, anak yang paling besar diantara mereka bertiga. Rio dan Reza kehilangan Ibunya karena meninggal saat melahirkan Rio. Saat itu Ibu dan Ayah mereka mengalami kecelakaan. Ayah mereka mengalami kelumpuhan dan mengabaikan mereka berdua karena larut dengan kepergian sang Istri. Sedangkan Rafa, dia ditinggal sama Ibunya yang berkerja sebagai model. Jadi karena Dilla terlalu dekat sama mereka bertiga, maka mereka bertiga memanggil Dilla dengan sebutan Mommy," terang Dilla. 


Mereka yang mendengarkan penjelasan Dilla  mengerti dan paham dengan perkataan Dilla. Mereka yakin jika mereka bertiga sangat membutuhkan kasih sayang. Anak-anak pasti akan menganggap Dilla sebagai Ibunya karena Dilla memang orang yang penuh kasih sayang yang tulus.


Bersambung....