Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 32. Ngambek



Malam ini tidak seperti malam biasanya, Dilla mengabaikan ketiga bocah itu, walaupun begitu Dilla masih mengurus mereka. Dilla masih ingat kejadian sore tadi yang membuat dia malu, karena dia pingsan dengan tidak elitnya. Sekalian Dilla ingin memberi peringatan keras, kalau bicara saja pasti kurang cukup.


'Masak Dilla pingsan gara-gara ketiban bocah itu. Mending ketiban duren kan enak. Eh tidak usah deh, kan kalau ketiban duren bisa sakit. Ntar jadi penyok lagi.'


Rita, Aditya dan Dafa tidak mempermasalahkan atas sikap Dilla. Sekali-kali anak dan cucu mereka perlu diberi peringatan keras agar tidak nakal lagi.


"Dilla, tolong kamu panggil Ryan dan bawa dia ke sini dulu ya. Dia masih di atas," suruh Rita.


"Iya Tante," jawab Dilla.


"Itut...," kata Rio merengek, dia ingin turun dari kursi.


Rio tidak mau di diamkan terus-menerus. Rio merasa benar-benar bersalah. Rio ingin Dilla perhatian pada dia lagi.


Dilla hanya melihat datar Rio. Dilla sengaja memasang wajar datar. Dilla ingin menunjukkan kalau dia sedang marah.


"Rio di sini saja ya, temani Kakek," ujar Aditya.


"Uuuh...."


Rio menganggukkan kepala dengan tidak semangat, karena biasanya ke mana pun Rio minta ikut maka dia akan dibawa. Rio naik kembali ke kursi dengan lesu.


Dilla dan Ryan kini sudah berada di ruang makan. Mereka berdelapan makan dengan tenang. Kali ini ketiga bocah itu makan sendiri. Sesekali Rita membantu Rio makan.


***


Setelah makan mereka berkumpul di ruang keluarga. Aditya dan Rita tidak ikut karena harus menghadiri undangan klien yang penting.


"Pa, Omy acih alah ya?" dengan lesu Rio bertanya pada sang papa.


"Iya Daddy, dari tadi mommy diam saja. Apa kita ada salah ya Daddy. Kan kita sudah tidak nakal lagi," sambung Rafa.


Ryan dan Dafa saling melirik sebentar.


"Mommy kalian tidak marah sama kalian kok. Mungkin mommy lagi capek saja," jawab Ryan.


"Apa .ommy capek urus kita ya?" tanya Reza dengan sedih.


"Makanya kalian yang mandiri. Kalian kan sudah besar, masak apa-apa dibantuin sama mommy. Apalagi Rio selalu minta digendong, padahal sudah gede," ujar Dafa sambil mencubit gemas hidung Rio.


Rio mengelus hidung sendiri sambil mengerucutkan bibir mungil dia.


"Liyo tan acih cil Addy," bantah Rio.


"Walaupun masih kecil tapi Rio harus belajar mandiri juga. Nanti kalau mommy capek dan tidak betah di sini lagi, terus pergi bagaimana?" pancing Ryan.


"JANGAN...."


"JANGAN...."


"ANGAN...."


Teriak mereka berbarengan. Ryan dan Dafa terkekeh melihat tingkah mereka.


"Jika kalian mau mommy tidak pergi, bantuin mommy juga dong," kata Dafa.


"Bantuin gimana Daddy?" tanya Rafa.


"Kalian kan bisa mandi sendiri, beresin kamar dan mainan kalian sendiri. Tidak usah dibantu sama mommy terus," jawab Ryan.


"Tapi Reza mau nya sama-sama mommy terus Pa," sahut Reza.


"Kalian bisa selalu sama mommy sambil bantu mommy kalian. Kalau semua mommy yang bantu nanti mommy bisa capek terus jatuh sakit," tambah Ryan.


"Omy bica atit...," kata Rio.


Muka Rio menampilkan mimik raut wajah kaget dan takut mendengar sang mommy bisa jatuh sakit.


Ryan dan Dafa ingin ketawa melihat raut wajah Rio yang lucu menurut mereka. Rio masih memegang kedua pipi sendiri.


"Iya, nanti mommy harus dibawa ke rumah sakit dan harus disuntik," Dafa tambah menakut-nakuti mereka.


'Reaksi mereka lucu sekali,' batin Dafa dan Ryan.


"Rafa tidak mau mommy disuntik Daddy," kata Rafa.


"Iya Pa, disuntik itu sangat sakit Pa," tambah Reza.


"HUWAAA... OMYYY...."


Dengan buru-buru Rio turun dari kursi menuju dapur, karena Dilla di dapur lagi mengambil cemilan.


Mereka berempat kaget atas teriakan Rio, mereka hanya menonton kepergian Rio.


"Ryan tidak dikejar itu anak mu?" tanya Dafa.


"Tidak usah, bentar lagi juga balik. Lagian apa kamu lupa aku tidak bisa jalan," dengan cuek Ryan menjawab, karena Ryan yakin Rio pasti mencari Dilla.


"Dik Rio kenapa Pa?" tanya Reza.


"Tidak ada apa-apa sayang. Rio kepelet pipis mungkin," jawab Ryan cuek.


"Oooo...," sahut Reza dan Rafa.


Dafa hanya menggelengkan kepala melihat sifat dan tingkah sepupunya.


"Jadi Daddy, mommy tidak jadi disuntikkan Daddy?" tanya Rafa lagi.


"Iya Pa, kasian mommy," kata Reza.


Mereka kompak tiba tiba mengelus kepala anak mereka sebentar.


"Mommy akan baik-baik aja. Jika kalian tidak buat mommy kalian capek," kata Ryan.


"Kalian bisa bantu mommy dengan cara yang seperti Papa Ryan bilang tadi dan jangan buat mommy repot sama kelakuan kalian. Kalian paham?" tambah Dafa.


"Iya Daddy, Reza akan jadi anak mandiri. Tidak mau bikin mommy capek," kata Reza.


"Rafa juga akan beresin mainan Rafa sendiri," sambung Rafa.


"Nah itu baru anak Papa dan Daddy," ujar Ryan dan Dafa barengan lagi dengan bangga.


"Maaf Tuan, ini minuman dan cemilannya," kata Dilla.


Dilla segera meletakkan nampan di atas meja. Rio yang tadi berdiri di samping Dilla segera duduk di samping Ryan. Reza dan Rafa segera mendekati Dilla yang duduk di karpet dekat sofa Ryan dan Dafa duduki.


"Mommy maafin Rafa ya. Rafa janji tidak akan buat Mommy capek lagi. Kami tidak mau Mommy disuntik. Disuntik kan sakit," ujar Rafa.


"Iya, kami juga akan beresin semuanya sendiri. Mommy jangan sampai sakit ya," sahur Reza.


Dilla bingung kenapa anak asuhnya jadi aneh malam ini. Tidak biasanya mereka kompak begini.


'Apa tadi maksud sakit dan suntik-suntikan tadi.'


Dilla melihat ke arah Ryan dan Dafa. Sedangkan Ryan dan Dafa dari tadi melihat interaksi anak mereka. Tapi pas kini dilihat balik sama Dilla, mereka pura-pura sibuk makan cemilan.


"Ryan kue ini enak ya, apa ini kue baru?" tanya Dafa mengalihkan perhatian.


"Iya, kayaknya ini rasa baru deh," jawab Ryan.


"Iya uwe na wenak...," sahut Rio.


Setelah habis satu potong, Rio mengambil sepotong lagi.


Merasa dicuekin Dilla mengalihkan perhatian dia kembali ke Reza dan Rafa.


"Terima kasih ya, sudah memperhatikan Mommy. Mommy sangat senang," kata Dilla.


"Kami juga senang Mommy," Reza dan Rafa memeluk Dilla barengan.


Rio yang melihat abangnya memeluk sang Mommy, Rio segera mengunyah cepat kue yang di mulut dan segera minum biar tidak keselek. Setelah selesai minum Rio juga bergabung memeluk Dilla.


"Eluk ugaaa...," kata Rio cemburu.


Mereka semua ketawa melihat tingkah lucu Rio. Malam itu akhirnya berlalu setelah mereka selesai makan cemilan. Dilla mengajak mereka ke kamar karena sudah waktunya bocah bocah itu tidur.


***


Di dapur saat Rio mencari Dilla


"HUWAAA... OMYYY...."


Dengan tiba-tiba Rio memeluk kaki Dilla yang lagi buat minuman.


"Ada apa sayang?" tanya Dilla.


Dilla segera berjongkok. Dilla heran kenapa Rio berteriak tadi.


"Omy angan atit ya. Anti diuntik, untik atit. Omy angan apek-apek," ujar Rio.


Rio mengelus rambut, bahu dan tangan Dilla. Rio berharap agar rasa sakit jauh dari Dilla.


Dilla heran kenapa Rio tiba-tiba bilang begitu. Tetapi Dilla juga tersentuh mendengar omongan Rio.


"Iya sayang, Mommy tidak akan sakit. Jadi Rio ke sini mau bilang itu aja?" tanya Dilla lagi.


Rio mengangguk-angguk kepalanya.


"Kalau gitu ayo kita ke depan. Sini Mommy gendong," kata Dilla.


Dilla merentangkan tangannya ingin mengendong Rio. Tapi Rio segera mundur selangkah saat melihat Dilla mau mengendongnya.


"Lho kenapa sayang," heran Dilla biasanya Rio sangat suka bila Dilla yang gendong.


"Liyo dan bica andi cendili Omy," walaupun ingin, Rio tetap menolak.


'Lah apa hubungannya gendong sama mandi sendiri.'


"Maksud Rio mandi sendiri bagaimana sayang."


"Liyo bica alan cendili Omy. Okoknya eljain cendili," jelas Rio.


"Maksud Rio mandiri."


"Ahaaa... akcud Liyo mandili," Rio menepukkan tangannya, karena jawaban Dilla yang Rio maksud.


"Oke kalau gitu ayo kita ke depan," ajak Dilla.


"Ayooo..."


Dilla segera mengambil nampan langsung ke ruang keluarga yang diikuti Rio di belakang dengan memegang baju Dilla.


Bersambung....