
Beberapa menit kemudian komedi putar berhenti.
"Ayo turun, sekarang sudah selesai," kata Ryan.
"Pa sekali lagi ya," tawar Reza.
"Iya dong Pa, masak sekali saja sih, jarang jarang kita main ini, lagi ya Pa," Rafa juga ingin naik lagi.
"Liyo uga, Liyo mau agi," tambah Rio.
"Mommy apa kita naik sekali lagi?" tanya Ryan pada Dilla.
Ryan ingin tau pendapat Dilla.
"Iya Papa, biar kita naik sekali lagi aja, kasihan anak anak," ujar Dilla ke Ryan.
"Janji ya sekali lagi, karena masih ada permainan yang lainnya," sambung Dilla ke trio R.
"Siap Mommy," jawab Reza.
"Oke Mommy," sahut Reza
"Oteh Omy," jawab Rio.
"Bagaimana Pak apa mau lanjut?" tanya Petugas untuk memastikannya.
"Iya Pak, kami lanjut," sahut Ryan
"Berati lima tiket lagi ya Pak," ujar Petugas.
Ryan segera memberikan lima tiket lagi agar mereka bisa naik sekali lagi. Begitu turun dari komedi putarĀ Ryan merasa lelah karena harus memegang Rio yang hiper aktif.
"Ayo Pa kita putar putar lagi, kita lihat permainan apa yang seru," ujar Reza.
"Ayo dong Pa, kenapa Papa malah duduk," tambah Rafa.
"Iya ya, ayo kita lanjut," Ryan segera berdiri lagi, Ryan tidak mau merusak mood anak anak.
Mereka kembali berjelajah, hari sudah semakin naik, sudah banyak pengunjung yang berdatangan.
"Omy tu tu...," ujar Rio.
Rio menunjuk ke arah penjual permen kapas.
"Mana sayang?" tanya Dilla.
Dilla segera melihat ke arah yang di tunjuk Rio. Reza dan Rafa juga ikut melihat ke arah sana. Reza dan Rafa langsung berlari ke arah penjual permen kapas begitu tau Rio minta permen kapas. Reza dan Rafa juga mau.
Reza dan Rafa sedang melihat bagaimana cara pembuatan permen kapas, mata mereka sangat berbinar, mereka kagum cara pembuatannya.
"Mau beli Dek," tawar Penjual.
"Iya, Reza mau, satu ya Om," minta Reza.
"Om, Rafa juga mau satu dong," sahut Rafa.
Dilla dan Ryan segera menyusul mereka.
"Omy atu," minta Rio juga.
"Iya, Pak minta tiga ya," sahut Ryan.
Anak anaknya begitu antusias melihat bagaimana gulali bisa terbentuk.
"Apa Mommy juga mau," tawar Ryan.
Dilla melihat antara permen kapas dan Ryan.
"Iya, Mommy juga mau satu Papa," kata Dilla tapi Dilla malah melihat ke arah lain.
Ryan hanya tersenyum lagi melihat Dilla yang masih malu.
"Pak tambah satu lagi ya, buat Ibunya anak anak," canda Ryan.
Dilla yang mendengarnya jadi tambah malu.
"Baik Tuan," jawab Penjual.
Penjual segera memberikan kepada mereka. Rio segera minta turun, mau memegang sendiri. Mereka menikmati makan permen kapas itu dengan hikmat.
"Apa Papa juga mau," tawar Dilla.
Dilla menawarkan Ryan permen kapas karena Ryan terlalu serius menatap trio R makan permen kapas. Dilla pikir Tuannya juga mau.
"Benarkah?" tanya Dilla memastikan lagi.
"Iya...."
Dilla yang melihat Ryan membuka mulut langsung menarik sedikit permes kapas dan memasukkannya ke mulut Ryan. Ryan buru buru ingin mengeluarkannya kembali, tapi kecepatan permen kapas meleleh lebih cepat. Permen kapas itu sudah terlanjur meleleh.
"Hahaha Papa tidak suka makan permen kapas," kata Rafa.
Mereka beriga ketawa melihat sang Papa yang buru buru membuang permen kapas.
Dilla segera mengangkat dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah sebagai permintaan maaf. Dilla hanya bercanda.
Bukan Ryan namanya kalau Ryan tidak bisa membalas Dilla. Ryan segera mendekati Dilla dan mengelitiknya. Dilla sudah tidak bisa kabur lagi karena Ryan sudah duluan menangkapnya.
"Papa ampun ampun, janji tidak akan mengulanginya lagi," ujar Dilla kegelian.
Dilla kapok mengerjai Tuannya kalau begini hasilnya.
"Ini rasakan, balasan kejailan kamu," sahut Ryan.
Ryan masih menggelitik pinggang Dilla. Anak anak yang melihat sang Mommy yang mulai kualahan langsung mencoba membantu.
"Pa lepas Mommy, Mommy sudah menyerah," kata Reza.
"Iya Pa, kasihan Mommy," tambah Rafa.
"Papa epas," Rio juga ikut membantu.
Ryan masih tetap mengeitik Dilla.
"Aduh bahagianya saat jadi keluarga muda, bisa bermesra bermesraan begitu, sama kayak kita masih muda ya Kek," kata seorang pengunjung yang sudah Nenek Nenek.
"Iya Nek, jadi ingat zaman muda, bisa bermesraan dimana saja, saat itu Kakek juga masih kuat," tambah sang Kakek.
Ryan dan Dilla yang mendengarnya segera menyingkir, mereka berdua langsung memisahkan diri. Mereka berdua malu sendiri, ternyata bukan hanya Kakek dan Nenek Nenek itu saja yang memperhatikan tingkah konyol mereka, tapi juga beberapa pengunjung lain.
"Ekhem," Ryan berdehem untuk menghilangkan suasana yang canggung.
"Ayo kita lanjut bermainnya," kata Ryan mengalihkan topik.
Ryan tadi tidak sadar telah menggelitik Dilla seperti itu, Ryan jadi keingat sama almarhumah istrinya yang juga suka jail. Jika Riana sudah keterlaluan, maka Ryan sering menggelitik Riana sampai Riana minta maaf. Ini sudah kebiasaan Ryan.
Ryan segera mengendong Rio dan Dilla mengandeng Reza dan Rafa. Mereka segera pergi dari sana karena telah menjadi pusat perhatian.
Saat lagi jalan jalan Dilla melihat permainan menembak. Yang menjadi fokus Dilla bukan karena permainan itu, tapi salah satu hadiah di sana.
Ryan yang melihat Dilla berhenti juga ikut berhenti. Ryan melihat ke arah pandangan Dilla
"Ada apa mommy?" tanya Rafa.
Mereka semua melihat ke arah yang Dilla lihat.
Rafa dan Reza segera menarik tangan Dilla karena permainan yang Mommy lihat sepertinya seru, Ryan hanya mengikuti mereka dari belakang.
"Pa ayo main ini kayaknya seru," ujar Reza.
"Om, mau main," Rafa malah langsung minta permainannya langsung.
"Kalau mau main harus pakai dua tiket Dek, nanti kalian bisa ada kesempatan menembak sebanyak lima kali kesempatan. Kalian lihat angka di sana," tunjuk Petugas.
Reza dan Rafa segera melihat kearah yang ditunjukkan.
"Jika kalian bisa menjatuhkan angka tersebut, maka kalian akan mendapatkan hadiah sesuai dengan No yang jatuh, hadiahnya dapat di lihat di sebelah sana, kalian pilih dulu mau hadiah mana, nanti baru tembak angka tersebut," terang Petugas penjaga permainan.
Mereka semua melihat dan mau memilih hadiahnya.
Di sana ada berbagai macam boneka dan juga mainan.
"Reza mau yang topi yang itu Pa, topinya lucu, ada gambar beruang," ujar Reza bersemangat.
"Rafa juga mau main, Rafa mau kaus bergambar monyet itu," ujar Rafa.
"Kenapa Rafa mau pilih kaos yang ada gambar monyetnya, itukan sangat besar untuk ukuran Rafa, ukurannya lebih cocok buat Papa, kan masih banyak hadiah yang lain yang lebih bagus," tawar Ryan.
"Tidak ah Pa, Rafa mau kaos yang gambar monyet itu, soalnya mirip Daddy kalau merajuk, Rafa mau kasih buat Daddy" sahut Rafa.
Ryan dan Dilla ingin tertawa pas Rafa bilang begitu, masa Dafa di bilang mirip monyet sama anaknya sendiri. Tapi Ryan hanya mengiayakan saja yang penting Rafa senang.
Bersambung....