
Setelah bertemu dan bersepakat sama Sultan, Dilla segera kembali ke tempat anak anak. Dilla yakin mereka sudah mencari nya, karena Dilla sudah lumayan lama pergi.
"Omy lama," rengek Rio.
"Mommy ke mana aja sih?" tanya Rafa.
Memang sesuai dugaan Dilla. Mereka sudah pada merajuk.
"Maafkan Mommy ya sayang, Mommy tadi bertemu sama temannya Nenek kalian, jadi sedikit lama, ya sudah ayo kita kita mandi sekarang, ini sudah sore," ajak Dilla.
Dilla telah selesai memandikan mereka semua dan memastikan mereka juga sudah rapi. Jelita kemudian datang menghampiri mereka. Saat ini mereka ada di kamar Rio.
Rafa yang melihat Jelita datang tidak suka melihatnya. Jelita ingin mendekati Rafa tapi Rafa malah menjauh.
"Ayo Reza kita keluar duluan, kita tunggu Mommy dan Rio di luar saja, di sini panas," ujar Rafa.
Rafa menarik tangan Reza dan segera pergi dari sana, dia tidak suka dekat dengan Jelita. Jelita hanya melihat kepergian Rafa dengan raut wajah sedih. Dia tidak mau terlalu memaksakan kemauannya pada Rafa saat ini. Karena Rafa sedikitpun tidak mau memaafkannya.
"Mbak Jelita," sapa Dilla tidak enak.
Jelita melihat antara Dilla dan Rio.
"Rio," panggil Jelita.
Rio melihat ke arah Jelita yang memanggilnya tanpa menyahut.
"Rio main sama Abang Rafa dan Reza dulu ya, Tante pinjam Mommy sebentar saja ya. Tante ada hal yang mau di bahas dengan Mommy Rio," ujar Jelita lembut.
"Mbak Jelita mau bicara berdua sama Dilla?" tanya Dilla.
"Iya ada yang mau saya bahas sama kamu, aku harap kamu mau bicara berdua saja sama saya sebentar," ucap Jelita.
"Ante mau bicala cama Omy? cama Liyo ndak?" tanya Rio polos.
Jelita mencubit pipi Rio gemas, dia yakin jika Rafa saat seusia Rio pasti menggemaskan seperti ini.
"Tante cuma mau bicara sama Mommy Dilla aja, boleh ya, tidak lama kok, hanya sebentar saja Tante pinjam Mommy nya," ujar Jelita dengan berdiri dengan lutut agar Rio tidak terlalu melihat ke atas.
Rio sedang berpikir, menimbang apa turun sama Mommy atau sama Abang Abang nya.
"Tadi Tante ada pesan kue coklat lho, Tante simpan di kulkas, Rio bisa minta sama Mbak Mina di bawah," tawar Jelita.
Jelita tau jika Rio sangat suka sama coklat, jadi Jelita mencoba menyogok Rio.
"Tue clat," ujar Rio senang.
Rio yang mendengar kata kue coklat merasa senang. Tanpa bicara lagi dia segera berlari keluar dan menarik Rafa dan Reza turun juga. Rio tidak sabar makan kue coklat.
Setelah kepergian Rio, Jelita menutup pintu agar tidak ada yang menganggu pembicaraan mereka berdua.
"Mbak Jelita mau bicara apa sama Dilla?" tanya Dilla.
Jelita memilih duduk dulu di sofa. Dia mau bicara dengan suasana nyaman.
"Ayo duduk di sini Dilla, lebih nyaman kita bicara sambil duduk," ujar Jelita.
Jelita menepuk kursi di sampingnya, menyuruh Dil la agar duduk di sampingnya.
Dilla segera mendekat dan duduk di sampaing Dilla. Dilla sangat penasaran, kenapa Mbak Jelita mau bicara berdua dengannya saja.
"Kamu sudah lama bekerja di sini?" tanya Jelita basa basi.
"Belum lama Mbak, tidak sampai setahun," jawab Dilla.
"Belum setahun ya," ulang Jelita.
"Kamu ini masih muda, tapi bagaimana kamu bisa cepat dekat sama mereka?" tanya Jelita lagi.
"Saya memang baru mengenal mereka Mbak, tapi di kampung saya mempunyai dua adik sepupu, mereka seperti adik kandung saya sendiri. Dari kecil mereka sering bersama saya, jadi Dilla sudah ada pengalaman merawat anak kecil," terang Dilla.
"Tapi Mbak ingin bicara apa sama Dilla, Mbak bukan hanya mau tanya itu saja kan?" tanya Dilla balik.
"Saya ingin kamu membantu saya, agar Rafa mau memaafkan saya, saya tau saya bersalah dan kesalahan saya sangat fatal. Tapi saya ingin berubah, saya ingin memulai dari awal kembali," sahut
"Kenapa Mbak minta tolong sama Dilla, Dilla hanya pengasuh mereka," ucap Dilla tidak mengerti.
"Karena kamu pengasuh Rafa dan yang lain makanya saya minta tolong sama kamu. Saya tau Rafa sangat peduli sama kamu, kamu pasti bisa membujuk Rafa atau setidaknya mendekatkan kami. Sebagai gantinya aku juga akan bantu kamu," tawar Jelita.
"Oh begitu ya Mbak, Dilla tifak masalah sih bantu Mbak, dilla senang malahan. Asal Mbak harus janji tidak akan mengulanginya lagi. Karena menurut Dilla setiap orang harus diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya dan berbuat lebih baik."
"Iya, saya janji, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah saya lakukan. Saya akan berusaha menjadi Mommy yang baik buat Rafa, saya tidak akan membuat Rafa kecewa lagi," ucap Jelita sambil memegang tangan Dilla.
Jelita tidak menyangka Dilla menjawab akan membantunya secepat ini. Setidaknya sekarang Dilla bisa membatu dia untuk bisa segera berbaikan sama Rafa.
Jelita sangat senang memikirkan bahwa dia, Rafa dan Dafa menjadi keluarga kecil kembali. Jelita segera memeluk Dilla terharu.
"Terimakasih Dilla," ujar Jelita penuh rasa syukur.
"Iya sama sama Mbak," sahut Dilla.
Dilla membalas memeluk Jelita. Dilla yakin Jelita sekarang sudah mau berubah dengan sungguh sungguh.
"Karena kamu sudah membatu saya, maka saya juga akan membantu hubungan kalian," ujar Jelita setelah selesai acara peluk pelukan.
Dilla sedikit pun tidak paham sama omongan Jelita.
'Apa maksud Mbak Jelita hubungan Dilla sama Dokter Sultan ya.'
"Tidak perlu Mbak, saya sama Dokter Sultan baik baik saja," tolak Dilla.
Dilla tidak mau menambah masalah dengan bantuan Jelita. Bantuan Jelita bukan menjadi bantuan tapi malah menjadi masalah.
"Masud saya bukan hubungan kamu sama Sultan tapi hubungan kamu sama Ryan," Jelita menjelaskan kembali maksudnya.
"Apa maksud Mbak Jelita, Tuan Ryan hanya majikan saya, saya tidak ada hubungan apapun sama Tuan Ryan selain majikan dan pengasuh, " bantah Dilla cepat cepat.
Dilla sangat terkejut mendengar ucapan Jelita. Dilla tidak tau kenapa Jelita bisa tau jika dia menyukai Tuannya, Ryan.
"Kamu tidak usah berbohong sama saya, saya tau kamu dan Sultan itu hanya pura pura pacaran untuk membantu Dokter Sultan. Tadi saya tidak sengaja mendengar obrolan kalian di dekat taman," terang Jelita.
Jelita tidak mungkin bilang jika dia sengaja menguping obrolan mereka.
Dilla kaget saat Jelita bilang mendengar pembicaraan mereka.
'Tapi bagaimana Jelita bisa mengetahui perasaan Dilla ke Tuan, pasti Mbak Jelita hanya menebaknya, aku harus menyangkal dengan cepat agar Mbak Jelita tidak curiga.'
"Dan saya bisa melihat bahwa kamu menatap Ryan dengan tatapan cinta bukan tatapan seorang pengasuh kepada ayah dari anak anak asuhnya," Jelita makin menyudutkan Dilla.
Dilla segera mengeleng kepala dengan cepat. Dilla merasa malu Jelita bisa mengetahui perasaannya.
Bersambung....
Part dua Insyaallah besok pagi ya...
Jangan lupa Follow bagi yang belum ya dan gabung juga ke grup author untuk info tentang update, tanya tanya atau ingin kepo.
Terimakasih....