
Mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga setelah selesai makan malam.
"Ne Papa," panggil Rio.
"Iya sayang," sahut Ryan.
Saat ini Rio duduk di samping Ryan. Jelita sengaja memilih Rio sebagai poin utama untuk mengajak Ryan pergi, karena tokoh penting jalan jalan ini adalah Ryan. Jelita yakin jika Ryan pasti akan luluh dengan permintaan Rio.
"Papa tapan tita alan-alan agi?" tanya Rio.
Sekarang Ryan sudah sedikit mengerti sama bahasa Rio.
"Jalan-jalan?" tanya Ryan balik.
"Ne Papa."
"Rio mau jalan-jalan ya," ujar Ryan.
"Iya Papa, tadi tan tata…."
Jelita segera memberi kode pada Rio agar tidak keceplosan lagi. Dilla pernah cerita jika Rio berkata super jujur. Jelita membuat tanda silang dan menggelengkan kepala.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Dafa khawatir.
"Tidak apa-apa kok, tadi hanya pegal saja. Makanya digerakkan," jawab Jelita mencari alasan.
Dafa yang percaya kembali fokus menonton.
Jelita melihat ke arah Rio. Dilla yang disamping mereka juga ikutan was-was.
"Atcud Liyo, Liyo mau alan alan pa. Yang banyak airnya," ralat Rio.
"Banyak air?" tanya Ryan.
"Iya Pa, anti ada ail yang lali-lali, telus ailnya ulung-ulung," kata Rio sambil mempraktekkan gerakan ombak dengan tangannya.
"Airnya banaaak, ada tapal tapal agi," lanjut Rio dengan merentangkan tangan.
"Maksud Rio jalan jalan ke pantai?" tanya Ryan yang sudah tau kode Rio.
"Pa Reza juga mau jalan jalan ke pantai. Reza belum pernah ke pantai," sahut Reza.
"Rafa juga belum pernah ke pantai, Rafa juga mau ke pantai. Daddy, Mommy, kita pergi ke pantai ya. Lagian Rafa belum pernah pergi jalan jalan sama Daddy dan juga Mommy. Rafa mau pergi bareng Daddy dan Mommy," ujar Rafa lirih.
Jelita mengusap kepala Rafa lembut.
"Iya, sabtu ini kita pergi jalan-jalan, Mommy dan Daddy pasti ikut juga," jawab Jelita lembut.
Jelita akan membuat momen ini menjadi momen yang bagus juga buat mereka bertiga. Sekali dayung semoga dia perahu bisa berjalan.
"Horeee, jalan-jalan ke pantai sama Daddy dan Mommy," teriak Rafa senang.
"Tapi sayang, aku sabtu ini tidak bisa, aku harus pergi ke kota sebelah," sahut Dafa.
Rafa yang mendengar jawaban Dafa jadi murung seketika. Jelita ingin sekali melemparkan Dafa ke laut karena tidak melihat ekspresi Rafa yang terluka.
"Pokoknya aku tidak mau tau, kamu harus pergi sama kami. Pekerjaan kamu bisa di tunda dulu," kata Jelita.
"Maaf sayang, jika aku mengundurkan pertemuan ini maka akan mengacaukan agenda yang lain."
"Sekarang kamu pilih pekerjaan atau kami berdua. Atau kau pilih pekerjaan tapi kamu tidur di luar selama sebulan," ancam Jelita.
"Sayaaang," kata Dafa tidak Terima.
"Aku hitung 1 dan 10,kami mau pilih yang mana. Aku dan anak kamu atau pekerjaan dan tidur di luar," tawar Jelita.
"Kita pergi minggu depan aja ya," tawar Dafa balik.
"Satu."
"Pertemuan ini penting sayang."
"Sepuluh."
"Sayang."
"Pekerjaan atau kami."
"Iya ya, aku nyerah. Aku pilih kalian," Dafa lebih memilih mengalah daripada harus tidur di luar.
Dia harus menyusun ulang semua jadwalnya.
"Nah gitu dong," jawab Jelita senang.
Rafa segera mencium pipi Jelita karena bisa membujuk Daddy pergi juga. Ini akan menjadi liburan keluarga Rafa pertamanya kali. Rafa sangat antusias menunggu hari sabtu sekarang.
"Tapi kenapa dari satu langsung kesepuluh?" tanya Dafa.
"Aku kan tidak bilang mau hitung dari satu sampai sepuluh. Aku tu bilang hitung satu dan sepuluh."
"Papa…," rengek Rio dan Reza.
Rio dan Reza merengek karena Rafa akan pergi jalan-jalan ke pantai bersama Daddy dan Mommy Jelita, mereka juga mau.
"Papa kita pergi juga ya, masak Rafa pergi dan kami tidak," rayu Reza.
"Liyo mau peldi uga pa," kata Rio sambil menggoyangkan tangan Ryan.
"Kita perginya minggu depan aja ya, setelah Rafa balik. Nanti kalian bisa tanya sama Rafa mana tempat yang seru," saran Ryan.
"Ndak mau."
"Tidak mau."
Tolak mereka berdua, mereka tidak mau jika hanya Rafa yang pergi. Mereka ingin pergi bersama-sama.
"Tapi sayang, Papa kalau minggu ini sibuk. Papa banyak pekerjaan."
"Talau Papa ndak mau peldi, liyo mau cali Papa balu," ancam Rio.
Yang mendengarnya pada menahan tawa. Jelita tidak menyangka kalau Rio akan mengatakan cari papa baru, padahal tadi dia hanya iseng saja.
"Papa baru? Rio mau cari dimana Papa baru?" tanya Ryan yang kaget.
Ryan tidak pernah berfikir jika anaknya akan mencari Papa baru.
"Cali di pacal, tata bi ima, di pacal ada uwal banaak balang. Anti Liyo mau cali Papa balu," jawab Rio.
Ryan menepuk jidatnya, apa Rio pikir Papa ada dijual di pasar. Yang ada manekin yang banyak.
"Ryan Kamu pergi saja, kasihan anak-anak kamu. Mereka pasti juga ingin pergi ke pantai, apa kamu tega kepada mereka," ujar Rita.
Ryan menghela nafas, Ryan tidak tega sama anak-anaknya, jadi dia memutuskan untuk pergi.
"Baik Ma, nah sekarang kalian senang tidak kita akan pergi jalan-jalan ke pantai sabtu ini?" tanya Ryan.
"Horeee."
"Holeee."
Reza dan Rio berteriak girang.
"Makasih ya Pa."
"Maacih Pa."
"Iya sama-sama sayang."
Rio, Reza dan Rafa berpegangan berpegangan tangan, mereka melompat kecil-kecil karena kegirangan. Sedangkan Jelita dan Dilla saling melirik. Mereka senang bisa meyakinkan Ryan pergi jalan-jalan. Jelita memberikan Dua jempol buat Rio karena Rio berhasil melakukan tugasnya dengan baik.
Rita dan Aditya memutuskan juga ikut pergi, mereka sekeluarga akhirnya akan pergi bersama.
Flashback
Jelita sengaja menyuruh Dila supaya memanggil Rio, karena Jelita yakin kalau Ryan lebih menuruti kemauan Rio dibandingkan siapapun. Dilla dengan patuh memanggil Rio, pertama Rio menolaknya karena ingin bersama Dilla. Tetapi, karena Dilla mengatakan bahwa Tante Jelita ingin sekali membicarakan hal yang sangat rahasia pada Rio, Rio yang mendengar kata rahasia jadi tertarik. Rio segera berlari ke arah Jelita yang ada di ruangan yang lain.
Tugas Dilla sekarang adalah menjaga Reza dan Rafa, Daffa dan Ryan sudah pergi ke kamar masing-masing, mereka sudah memastikan bahwa pembicaraan Jelita sama Rio tidak didengar oleh siapapun.
"Rio, sini Rio duduk samping Tante, " Panggil Jelita.
" Ada apa Tante," sahut Rio.
"Rio mau jalan-jalan ke pantai tidak. "
"Mau mau Ante, api, patai itu apa?" tanya Rio.
Jelita segera mengambil HP dan menunjukkan gambar dan video pantai kepada Rio. Rio melihatnya dengan antusias, dia baru tahu kalau gambar yang dia lihat ini yang dinamakan dengan pantai.
"Bagaimana bagus tidak?"
"Badus Ante," jawab Rio dengan mata berbinar.
"Kalau Rio mau jalan-jalan ke sini, maka Rio harus mendengarkan permintaan Tante Jelita terlebih dahulu."
"Baik Ante."
"Jadi begini, nanti tugas Rio adalah meyakinkan Papa Ryan supaya pergi jalan-jalan ke pantai bersama. Jika Papa tidak pergi, maka kita batal pergi jalan-jalan ke pantai. Apa Rio mengerti "
"Iya Ante Liyo enti."
"Pokoknya Rio harus bisa membuat Papa ikut, jika Papa tidak mau ikut nanti Rio bilang saja Rio mau cari Papa baru," kata Jelita sembarangan.
"Oteh Ante."
Jelita senang saat Rio bisa diajak kerjasama, sekarang tugas mengajak Riani pergi sudah bisa diserahkan kepada Rio. Sekarang tugasnya meyakinkan yang lain juga pergi. Ini hanya sebagai ajakan pergi jalan-jalan bersama tetapi fokusnya untuk mengungkapkan perasaan Ryan yang sesungguhnya.
Bersambung….