
Aditya membuka pintu kamar Rio, di dalam kamar Rio masih merengek kesakitan di pangkuan Dilla yang berada di atas kasur. Rio bahkan tidak mau disuruh tidur dulu sama Dilla, dia lebih memilih duduk di pangkuan Dilla.
"Sultan, coba kamu cek keadaan Rio, dari tadi dia mengeluh giginya sakit," suruh Ryan.
Sultan mendekat ke arah kasur, dia membuka tas perlengkapannya dan mengambil senter kecil.
"Ayo sini biar Om Sultan lihat gigi nya," pinta Sultan.
Rio tidak menoleh, dia mengelengkan kepalanya di bahu Dilla.
"Dilla coba kamu yang suruh Rio buka giginya," suruh Rita pada Dilla.
"Baik Tante, Rio sini Mommy lihat dulu giginya sebentar," Dilla memegang kedua pipi Rio.
"Mommy!" seru Sultan.
"Wah tega bener loe jadi teman Ryan, nikah lagi tapi tidak ngundang ngundang, katanya dulu dia bukan mommy mereka, jahat bener kamu jadi temen," sambung Sultan yang salah paham.
Ryan yang mendengar perkataan Sultan segera mengambil bantal dan menemplok muka Sultan pakai bantal.
"Kapan aku nikah lagi," kata Ryan kesal.
"Itu katanya Mommy," Sultan juga ikutan kesal dipukul oleh Ryan pakai bantal dengan tidak elitnya.
Untung saja Rio tidak melihat apa yang di lakukan Papanya. Sungguh perbuatan yang tidak patut untuk ditiru.
"Nak Sultan sepertinya salah paham. Rio, Reza bahkan Rafa memang memanggil Dilla Mommy, bukan karena Ryan dan Dilla menikah apalagi sama Dafa, tapi kerena Dilla sudah seperti Ibu bagi mereka, mereka sendiri yang memanggil Dilla Mommy," Rita menjelaskan.
"Oh begitu, aku pikir Ryan beneran menikah lagi. Dilla kalau Ryan tidak mau nikah sama kamu, kamu mau tidak nikah sama aku saja, aku orangnya baik kok, tidak neko neko. Kan jarang ada gadis yang keibuan seperti kamu, anak orang lain aja kamu rawat dengan baik, apalagi anak kita nanti," rayu Sultan tanpa melihat situasi dan kondisi.
"Sultan kamu...," omongan Ryan di potong sama Rio.
"Omy anya punya Liyo," bantah Rio.
"Kan Dokter Sultan bisa jadi Daddynya Rio nanti, jika Om Sultan menikah dengan Mommy, bagaimana?" tawar Sultan.
"Ndak mau, Omy atan nitah cama Liyo," protes Rio lagi.
Rio tidak mau dipisahkan sama Mommynya.
"Memang Rio tau apa itu nikah," tantang Sultan.
"Ndak tau," jawab Rio cepat.
Mereka yang di sana hanya tersenyum geli mendengar jawaban Rio, mau nikah tapi tidak tau apa itu nikah. Rio memang anak yang sungguh lucu.
"Rio saja tidak tau apa itu menikah, tapi Rio mau menikah sama Mommy," ujar Sultan.
"Otoknya Omy unya Liyo."
"Bagaimana jik...."
Nyut
"Huwaaaa Omy atit, atit gi,"
Omongan Sultan kepotong sama teriakan Rio.
"Sultan kamu jangan bercanda lagi, kamu jadi Dokter kenapa tidak becus, dari tadi bercanda saja kerjaannya sih," sewot Ryan yang melihat anaknya kesakitan.
Ingin sekali Ryan rasanya melempar sahabatnya itu ke gunung sumatra biar di makan sama harimau, anaknya sakit malah di kerjain.
"Iya ya, sekarang aku akan serius ok, ayo Rio buka mulutnya," suruh Sultan.
Rio masih juga tidak mau membuka mulutnya, Sultan memberikan kode ke Dilla agar Dilla mau menyuruh Rio mambuka mulutnya karena sepertinya Rio hanya mau nurut sama Dilla.
"Ayo Rio buka mulutnya, biar Dokter Sultan periksa, biar sakitnya Rio hilang."
Rio akhirnya mau membuka mulutnya. Sultan segera melihat kondisi mulut dan gigi Rio. Gigi Rio ternyata ada yang berlubang.
"Apa tadi Rio ada makan makanan yang manis manis?" tanya Sultan.
Rio bukan menjawab malah melihat ke arah Dilla.
"Ayo di jawab sayang," kata Dilla lembut.
"Da."
"Banyak tidak?" tanya Sultan lagi.
Rio melihat lagi ke arah Dilla.
"Banaak."
Rio melihat lagi ke arah Dilla dengan takut takut. Kemudian Rio membuat kode dengan tangannya, pakai jari jempol dan telujuk dengan jarak tiga senti.
"Seberapa banyak Rio?" kini Dilla yang bertanya.
Rio membuat jarak lagi antara jari jempol dan jari telunjuk sejauh yang dia bisa. Yang lain yang melihat interaksi Rio dan Dilla hanya penasaran apa yang terjadi.
"Seberapa banyak?" tanya Dilla lagi.
Rio mulai mengganti kode dengan kedua tangan sejarak bahunya.
"Seberapa banyak?" tanya Dilla lagi.
Kini Rio baru merentangkan kedua tangannya.
"Maap omy...'" Rio menangis lagi, takut Mommynya marah karena dia nakal. Dilla menghela nafas sebentar dan mengusap bahu Rio yang memeluknya lagi.
"Dilla apa maksudnya ini?" Rita bertanya mewakili yang lain, karena tidak mengerti apa yang terjadi.
Dilla menghela nafas lagi, masalah ini pasti lama kelamaan juga bakal ketahuan.
"Maaf Dilla Tante, Dilla ceroboh tidak bisa jagain Rio dengan baik."
"Butan cala Omy, Liyo calah, Liyo natal," bantah Rio.
"Dilla," tuntut Rita minta penjelasan.
Dilla lebih memilih menenangkan Rio terlebih dahulu daripada menjawab pertanyaan Rita.
"Udah ya Rio jangan menangis lagi, Dokter apa tidak sebaiknya Rio diberi obat dulu, baru nanti Dilla ceritakan," usul Dilla.
"Ah iya bentar," Sultan segera mengambil beberapa obat yang cocok untuk Rio.
"Ini," Sultan segera menyerahkan obatnya pada Dilla.
"Rio minum obat dulu ya."
"Ndak mau Omy ahit."
"Rio harus minum ini jika Rio mau sakitnya hilang ya, kalau Rio tidak mau minum nanti es krim jatah Rio Mommy kasih ke Abang Reza dan Rafa, karena Rio tidak bisa makan es krim dulu, kan giginya masih sakit," ancam Dilla.
"Angan Omy, otek Liyo num."
Rio yang mendengar es krimnya mau di kasih ke Abangnya tidak setuju.
Dilla segera memberikan obat itu ke Rio.
"Sebaiknya kita bahas diluar saja, jangan menganggu istirahat Rio, obat yang Rio minum akan membuat dia mengantuk," usul Dokter Sultan.
Dilla kamu di sini dulu ya, setelah Rio tertidur kamu langsung ke bawah saja. Kami akan menunggu kamu di bawah.
"Baik Tante."
Mereka semua pergi meninggalkan Rio dan Dilla di kamar. Dilla segera membaringkan Rio yang nampak sudah mulai mengantuk.
(Biasanya efek obat yang bikin mengantuk memerlukan waktu, di sini author buat obatnya cepet bekerja ya)
"Rio tidur sekarang ya, besok sakitnya pasti sembuh," ujar Dilla.
Rio mulai memejamkan matanya, tidak sanggup lagi menjawab perkataan sang Mommy. Setelah Rio tertidur Dilla menarik selimut Rio dan mencium kening Rio sekilas. Setelah itu Dilla segera turun ke bawah.
***
"Dafa mana Reza dan Rafa," Rita sudah tidak melihat Reza dan Rafa lagi di ruang keluarga.
Rita dan lainnya segera duduk di sofa yang tersedia.
"Reza dan Rafa sudah Dafa suruh tidur Tante, tadi Rafa suruh Mina menemani mereka sebentar," jawab Dafa.
"Pantas mereka tidak ada di sini lagi," ujar Aditya.
"Jadi bagaimana kondisinya Rio Tante, Om?" tanya Dafa.
"Rio hanya sakit gigi, sekarang dia sudah tidur."
"Menurut Dafa ya wajar Rio sakit gigi jika Rio banyak makan coklat sekaligus."
"Maksud kamu apa Dafa?" tanya Ryan.
"Tadi Reza dan Rafa cerita sama aku, Ryan, bahwa Rio menghabiskan satu keranjang penuh coklat di supermaket," jelas Dafa.
Bersambung....