Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 91. Baikan



Rafa dengan senantiasa menunggu Jelita bangun di samping Jelita. Sudah berapa kali di ingatkan tapi Rafa tidak mau istirahat juga. Rafa duduk di kursi samping Jelita sambil memegang tangannya. Rafa sudah mulai terkantuk-kantuk.


"Rafa ayo istirahat dulu," suruh Dafa.


Rafa menggelengkan kepala. Tapi tidak lama kemudian Rafa tertidur di kursi. Dafa segera mengangkatnya dan memindahkan nya ke bed Rafa sendiri.


"Dafa, kami pamit dulu ya, ini sudah malam. Besok pagi Tante dan Om balik lagi ya," ujar Rita.


"Iya Tante."


Rita dan Aditya meninggalkan tempat itu. Di sana hanya tinggal Dafa dan Ryan yang menjadi penjaga Rafa dan Jelita. Ryan tetap mau berada di situ untuk menemani Dafa. Ryan jadi keingat saat Rio masuk ke rumah sakit dan Dafa juga menemani nya. 


Dilla, Rio dan Rafa sudah dari tadi siang pulang karena sudah sore. 


Kini jam sudah menunjukan pukul 6 pagi. Ryan masih tertidur di sofa dan Dafa yang berjaga. Dafa duduk di dekat Jelita. 


Jelita mulai menggerakkan tangannya, matanya muali berkedut. Pelan namun pasti dia membuka matanya. Dafa yang melihat nya merasa senang.


Jelita menggerakkan bibirnya, tapi Dafa tidak paham.


"Sebentar ya sayang, aku panggilkan Dokter dulu," kata Dafa.


Jelita memegang tangan Dafa, mencegah Dafa pergi. Jelita mencoba bicara lagi.


"Fa… Fa… Ra… Fa…," eja Jelita terbata-bata.


"Kamu cari Rafa sayang?" tanya Dafa.


Jelita mengangguk pelan.


"Rafa ada di sana," tunjuk Dafa ke kasur yang di tempati Rafa.


"Dia saat ini masih tertidur. Kamu tenang aja, Rafa baik-baik saja karena kamu telah menyelamatkan anak kita," ujar Dafa bangga.


Jelita meneteskan air mata. Dia senang jika Rafa baik baik saja.


"Kamu jangan nangis ya," kata Dafa sambil menghapus air mata Jelita.


Tapi air mata Jelita tidak berhenti. Dafa memilih menekan tombol panggilan.


Ryan yang mendengar suara orang masuk terbangun. Ryan segera mendekat ke ranjang pasien. 


"Alhamdulillah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisi Ibu baik baik saja. Tapi saya sarankan untuk beberapa minggu ke depan tangan dan kaki kanan jangan banyak bergerak dulu. Karena kaki Ibu mengalami keretakan, jadi usahakan menggunakan tangan kiri dulu atau di bantu sama suami atau keluarganya."


Jelita tidak mendengar sama sekali perkataan Dokter, dia masih fokus melihat Rafa.


"Sebaiknya Ibu banyak istirahat agar cepat pulih," tambah dokter lagi.


"Iya Dok, saya akan menjaga dan merawat istri saya dengan baik." jawab Dafa.


Dokter berlalu pergi.


"Sayang istirahat lagi ya, Rafa juga lagi istirahat. Aku dan Ryan akan menjaga kalian," ujar Dafa lembut.


Jelita menurut, dia masih sangat lemah.


***


"Omy Omy, anti adi te lumah atit agi tan. Liyo mau acih edang Liyo buat Bang Lapa, bial Bang Lapa tuat cepeti cupel hilo," ujar Rio.


Rio menunjukkan pedang kesayangan nya, pedang yang Rio dapat saat pergi ke taman bermain. Entah kenapa Rio sangat suka pedang itu di banding mainan dan pedang mahal lainnya. 


"Emang Rio tidak takut ke rumah sakit?" tanya Dilla sambil melipat baju Rio dan Reza.


"Liyo ndak atut Omy, atan liyo hiak hiak," kata Rio sambil mengayunkan pedang.


"Rio hati hati main pedang nya nanti bisa…."


Prakkk 


Terlambat sudah, lampu tidur kali ini yang menjadi korban. Dilla sudah tidak bisa menghitung sudah berapa banyak korban dari pedang itu.


"Maap Omy," kata Rio menyesal.


Rio segera menyembunyikan pedang itu di belakang tubuhnya. Dia takut jika akan di sita lagi. Baru kemarin dia bisa pegang pedang itu gara gara tanpa sengaja Rio malah menghancurkan kaca lemari pajangan.


"Rio, apa janji Rio kemarin?" tanya Dilla gemas.


Rio memang bukan anak yang pendiam. Rio sangat suka bergerak, lari sana sini, loncat loncatan lah. Dilla pusing memikirkan dari mana energinya Rio.


"Maap Omy, Liyo anji ndak tan ulang agi," janji Rio lagi.


"Maap omy, Liyo tan ndak ica itung," jawab Rio berbohong.


"Oh Rio tidak bisa berhitung," kata Dilla mengangguk-anguk.


Dilla tau jika Rio sudah bisa berhitung, Rio memang tidak pernah mau belajar tapi daya tangkap nya cepat, dia hanya suka menggambar saja.


"Ya sudah kalau begitu. Oh ya kemarin Kakek ada beli coklat. Kata Kakek kasih buat Rio paling banyak."


Rio yang mendengar kata coklat sangat senang, apalagi dia mendapatkan bagian yang paling banyak.


"Nanti buat Rio Mommy kasih 10 deh dan Abang Reza dan Rafa dapat dikit, hanya 15 aja," ucap Dilla. 


"Lho, tenapa unya Bang Lapa dan Bang Eja ebih banaak, tan ata Omy Liyo di acih aling banaak cama tatek," protes Rio.


"Nah itu bisa bedain mana yang lebih banyak," sahut Dilla.


Rio menutup mulutnya, dia ketahuan bohong.


"He he, Omy intel," puji Rio memberikan dua jempol.


"Sini kamu ya, kalau masalah makanan aja baru pinter," kata Dilla gemas.


Dilla menangkap Rio dan mencium seluruh wajah Rio sampai Rio berteriak ampun karena geli.


***


Rafa membuka mata, setelah tau di mana dia segera menghampiri Jelita.


"Rafa, kenapa lari lari, kan bisa jalan pelan-pelan sayang," ujar Rita.


Sekarang yang menjaga mereka adalah Rita. Ryan dan Dafa sudah berangkat ke kantor karena ada pekerjaan yang penting. Jika tidak penting Dafa lebih memilih menemani Jelita.


"Sini Nenek bantuin," kata Rita.


Rita membantu Rafa duduk di kursi. Rafa menunggu Jelita bangun. 


Rafa tadi juga sudah selesai makan di bantu Rita. Rafa masih tetap menunggu Jelita bangun.


Jelita membuka mata, Rafa yang melihat menjadi senang.


"Mommy," panggil Rafa riang.


Jelita melihat ke arah suara, dia tidak yakin jika Rafa yang tadi memanggil Mommy ke arahnya.


"Mommy," ulang Rafa.


Jelita terharu, dia kembali meneteskan air mata. Jelita mendengakan kembali kata yang sangat dia harapkan. Jelita tidak mau bangun lagi jika ini adalah mimpi.


"Mommy kenapa menangis apa ada yang terasa sakit," ujar Rafa sambil menghapus air mata Jelita.


Air mata Jelita semakin keluar lagi. Jelita sangat ingin memeluk Rafa.


"Ahhh," Jelita merasa sakit di tangan kanannya.


"Nenek, Mommy kesakitan," lapor Rafa khawatir.


"Jelita, tangan dan kaki tangan kamu ada retak dan juga memar, jadi jangan di gerakkan dulu ya. Kata Dokter tangan dan kaki kanan kamu untuk sementara jangan banyak di gerakkan dulu supaya bisa mempercepat proses penyembuhan," ujar Rita.


Jelita yang mendengarkan penjelasan Rita mencoba menggerakkan tangan kirinya. Dengan lemah tangan kiri Jelita bisa menyentuh pipi Rafa dengan bantuan Rafa.


"Rafa anakku," ujar Jelita lirih.


"Iya Mommy ini Rafa anaknya Mommy," jawab Rafa.


Jelita dan Rafa sama sama mengeluarkan air mata.


"Maaf kan Mommy sayang," ucap Jelita dengan suara semakin serak karena menangis.


"Iya, Rafa memaafkan Mommy, tapi Mommy harus janji sama Rafa, Mommy tidak akan meninggalkan Rafa lagi," sesekali Rafa menghapuskan air matanya dan juga Jelita.


Rafa memegang tangan Jelita dengan erat di pipinya.


"Iya sayang, Mommy janji, Mommy tidak akan mengulanginya lagi. Mommy akan menjadi Mommy yang terbaik buat Rafa."


Rita juga tidak bisa membendung air matanya. Dia menghapus air mata. Rita terharu, hubungan Rafa dan Jelita sudah baikan.


Bersambung….