Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 185. Kepulangan Dilla



Jangan lupa like dan tinggalkan komentar ya. Like dan komentar kalian sudah cukup jadi penyemangat buat saya. Terima kasih banyak.


Selamat membaca.


***


Dafa pulang ke kediaman Suherman dengan diantar oleh mobil dinas polisi. Rita, Aditya dan Jelita yang mendengar suara mobil segera buru-buru ke luar dari rumah.  


"Pa, kenapa hanya ada mobil polisi yang datang Dimana mobil punya Ryan Pa," tanya Rita.


"Papa juga tidak tahu Ma. Kita tunggu bapak polisi turun dulu. Nanti kita tanya sama polisi saja," sahut Aditya. 


Dafa membuka pintu mobil. Dafa turun dari mobil polisi.


"Terima kasih Pak telah mengantar saya," ucap Dafa.


"Sama-sama Pa. Kami hanya menjalankan tugas. Kalau begitu kami pamit ya Pak. Kami masih ada tugas lain yang harus kami kerjakan," pamit pak polisi.


"Iya Pak. Sekali lagi terima kasih." 


Mobil polisi meninggalkan pekarangan Suherman. Masih banyak kasus yang harus mereka segera pecahkan. Kasus penculikan Dilla dan Rio yang menghilang sudah dianggap selesai.


"Dafa kenapa kamu pulang sendiri dimana Ryan. Apa kalian menemukan Dilla dan Rio," tanya Rita buru-buru.


"Ma yang sabar dulu," tegur Aditya. 


"Bagaimana mana Mama masih bisa bersabar Pa. Mama sangat khawatir dengan keadaan mereka," bantah Rita.


"Iya Ma, Papa tahu. Tapi setidaknya biarkan Dafa masuk terlebih dahulu," ucap Aditya. 


"Iya Tante. Sebaiknya kita bicarakan saja di dalam. Apalagi kondisi Tante yang masih kurang sehat. Tidak baik Tante berlama-lama berdiri," ujar Jelita.


"Baiklah, mari kita bicarakan di dalam. Ayo Dafa, kita masuk," ajak Rita.


Rita segera merangkul lengan Dafa. Rita ingin segera mendengar kabat tentang Dilla dan Rio.


"Ayo Jelita, kita masuk juga," ajak Aditya. 


"Baik Om," sahut Jelita. 


***


"Jadi bagaimana Dafa?" tanya Rita setelah mereka duduk.


Aditya menggeleng kepala. Mereka semua khawatir dengan keadaan Dilla dan Rio. Tapi mereka masih bisa bersabar beberapa menit agar Dafa bisa menarik nafas dulu. Ini jangankan beberapa menit, bahkan belum beberapa detik saja, Rita sudah kembali bertanya.


"Kami telah menemukan Dilla dan Rio," jawab Dafa.


"Kalau kalian sudah menemukan mereka, kenapa Ryan dan mereka belum pulang?" 


"Tante tidak perlu khawatir, mereka dalam keadaan baik-baik saja. Dafa pulang dulu karena Ryan harus menyelesaikan masalah tentang penculikan Dilla," sahut Dafa.


"Jika ingin menyelesaikan kasus penculikan itu, kenapa kamu pulang sama polisi? Kenapa penjahat itu tidak dibawa ke kantor polisi?"


"Tante, semuanya tidak seperti yang kita bayangkan," bantah Dafa.


"Apa maksud kamu Dafa?" tanya Aditya.


"Tante, Om, yang menculik Dilla adalah Daniel, teman Ryan sendiri. Jadi oleh karena itu, mereka ingin menyelesaikan dengan damai."


"Apa? Kok, bisa? Kenapa teman Ryan menculik Dilla? Apa hubungannya Dafa?" tanya Rita berturut-turut.


"Dafa juga tidak tahu ceritanya dengan lengkap Tante. Kita tunggu saja mereka pulang. Baru nanti kita tanyakan sama Ryan dan Dilla langsung."


"Papa setuju dengan usulan Dafa. Nanti kita tanyakan sama Ryan apa yang sebenarnya terjadi," sahut Aditya. 


"Apapun yang terjadi Mama tidak rela jika penjahat itu lepas begitu saja. Dia harus menerima hukuman yang setimpal. Dia sudah dengan lancang menculik menantu Mama," kata Rita tidak rela jika penjahat bebas begitu saja.


"Kita serahkan semuanya sama Ryan Ma. Ryan pasti bisa mengambil keputusan yang baik."


"Dafa, apa kamu tahu inti ceritanya bagaimana?" tanya Jelita.


"Yang Dafa tahu, Daniel menculik Dilla karena Sam anaknya Daniel ingin Dilla menjadi ibu Sam. Kemudian Rio yang tidak sengaja menemukan sapu Dilla yang terjatuh oleh Daniel. Jadi Rio mengikuti Daniel secara diam-diam dan sendiri," cerita Dafa secara singkat.


"Tapi sayang, Rio tidak apa-apa kan?" 


"Iya Jelita, Rio tidak apa-apa. Rio baik-baik saja. Rio bisa bertemu dengan Dilla dengan selamat." 


"Syukurlah kalau Rio dan Dilla baik-baik saja. Nanti kita tunggu kabar baik dari Ryan," sahut Jelita.


***


Setelah menunggu beberapa jam, baru mobil Ryan tiba di kediaman Suherman. Rita, Aditya, Dafa dan Jelita sudah cukup lama menunggu kepulangan Mereka. Rita segera menuju ke arah Dilla untuk menyambut kepulangan Dilla. 


"Ya ampun sayang. Apa kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Rita di depan pintu.


"Iya Ma, Dilla tidak apa-apa. Dilla baik-baik saja," sahut Dilla.


"Terus bagaimana dengan kandungan kamu Dilla?"


"Kandungan Dilla juga baik-baik saja. Tidak ada masalah," jawab Dilla. 


"Lebih baik besok kamu cek kandungan kamu. Mama tidak mau terjadi apa-apa sama kandungan kamu," suruh Rita. 


"Baik Ma. Besok Dilla akan pergi ke dokter kandungan."


"Ryan, kamu jangan lupa besok pagi bawa Dilla ke dokter kandungan," kata Rita kepada Ryan.


"Ma, besok pagi Ryan ada rapat penting karena sudah berapa kali mengundurkan jadwal rapat. Jadi Ryan akan mengantar Dilla setelah rapat selesai," sahut Ryan.


"Kamu ini bagaimana mana sih. Kamu ini lebih mementingkan pekerjaan dibanding istri kamu yang sedang hamil," tegur Rita marah.


"Ma, Dilla tidak apa-apa. Kalau Mas Ryan sibuk, nanti Dilla bisa ditemani sama Mbak Jelita. Kami bisa periksa barengan," ujar Dilla menangani.


"Tidak, tidak boleh. Bukan Mama tidak percaya sama Jelita. Tapi Mama khawatir sama kalian. Kemarin kamu baru saja hilang karena pergi berdua sama Jelita. Mulai sekaran Kalian tidak boleh pergi berdua. Kalian sama-sama hamil, bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu lagi sama kalian juga kandungan kalian. Pokoknya besok Mama yang akan menemani kalian pergi ke dokter kandungan," final Rita. 


Kejadian kemarin sudah membuat Rita khawatir. Rita tidak mau terulang kembali. Rita akan selalu mengawasi mereka. Harus ada yang menemani mereka.


"Bukannya Mama masih kurang sehat?" tanya Aditya. 


"Mama sakit?" tanya Dilla mendengar pertanyaan Aditya.


"Mama tidak apa-apa sayang. Mama hanya khawatir sama kalian saja. Melihat kamu baik-baik saja, Mama sudah merasa sehat kembali," bantah Rita.


"Mama jangan terlalu memaksakan diri. Biar Papa saja yang menemani mereka," sahut Aditya.


"Pa, Mama tidak apa-apa kok. Mama masih muda dan kuat," kata Rita tidak mau mengalah.


Mereka menyerah membujuk Rita. Sifat Rita kadang juga keras kepala. Mereka memilih mengawasi saja. Asalkan semuanya baik-baik saja tidak masalah.


"Sekarang di mana cucu Mama yang nakal?" tanya Rita yang tidak melihat Rio.


"Liyo ndak natal Nek. Liyo anak Omy, anak penulut," bantah Rio yang turun dari mobil.


"Kalau kamu tidak nakal kenapa kamu ikuti orang sembarangan. Orang yang tidak Rio kenal hemm," ujar Rita.


"Liyo tan cali Omy, Nek. Tan Papa tenal cama Om tu. Adi tak apa tan?" tanya Rio polos.


Rita memijit kening yang terasa pening. Kemudian Rita melihat Sam dan Lala yang keluar dari dalam mobil. Rita sama sekali tidak mengenal mereka berdua.


"Mereka siapa Ryan, Dilla?" tanya Rita.


"Mereka itu…."


Apakah Rita dan Aditya akan marah dengan kedatangan Sam dan Lala karena tau siapa yang menculik Dilla?


Apa mereka akan menerima kehadiran Sam dan Lala juga?


Nantikan di bab selanjutnya.


Bersambung....


Rekomendasi novel buat kalian dari author lainnya yang juga tidak kalah seru. Novelnya sangat keren dan bagus sambil kalian menunggu up saya selanjutnya.