
Di kediaman Suherman, Rita dan sang suami alias Aditya baru saja pulang dari kantor. Aditya berusia sekitar 58 tahun. Mereka hari ini bisa pulang siang karena kerjaan di kantor sudah selesai dikerjakan. Aditya memutuskan mengajak sang istri pulang karena Aditya begitu rindu kepada sang cucu. Sudah lama dia tidak melihat cucunya karena terlalu sibuk sama kerjaan kantor.
Aditya dan Rita merasa heran kenapa rumah hari ini terasa sepi sekali.
"Bi... Bi Imah," panggil Rita.
Tidak lama kemudian muncul bi Imah dari arah dapur.
"Iya Nyonya, ehh Nyonya dan Tuan sudah pulang."
"Kalau kami belum pulang, bagaimana kami bisa ada di sini Bi," heran Rita.
"Maaf Nyonya, maksud saya tumben jam segini pulang. Biasanya kan sore-sore baru pulang atau agak larut," jelas bi Imah.
"Sudah lupakan, itu semua tidak penting. Sekarang mana cucu-cucu saya. Saya sudah sangat rindu sama mereka," potong Aditya.
"Iya Bi, mana mereka. Sepi sekali rumah hari ini," sambung Rita.
'Lah biasanya juga sepi, mana berani saya jawab gitu, yang ada malah dipecat nanti."
"Maaf Tuan dan Nyonya, kalau Tuan Muda Reza belum pulang dari sekolahnya. Mungkin Tuan Muda Reza akan telat pulang karena hari ini Tuan Muda Reza ada perlombaan di sekolahnya," terang bi Imah.
"Kalau Rio dan Dilla mana, biasanya mereka kan ada di ruang TV."
"Ah... kalau Tuan Muda Rio dan Dilla tadi pagi ngantar makanan Tuan Muda Reza yang ketinggalan. Mereka sekalian mendukung perlombaan Tuan Muda Reza, sebenarnya Dilla ingin mengantarkannya sendiri tapi karena yang lain juga pada sibuk jadi Tuan Muda Rio juga diajak," jawab bi Imah sambil menjelaskan sebelum ditanya.
"Pasti sebentar lagi mereka juga pulang Nyonya Tuan."
"Assalamu'alaikum...," salam Dilla dan Reza.
"Wa'alaikumsalam," sahut Rita, Aditya dan bi Imah.
"KAKEEEK... NENEEEK...," teriak Reza.
Reza kemudian memeluk kakek dan neneknya dengan senang.
Rita, Aditya dan bi Imah terkejut dengan teriakan Reza dengan riang. Biasanya cucunya itu hanya diam atau irit ekspresi dan bicara.
"Kakek, Nenek, hari ini Reza menang lomba lho. Kelas kami banyak dapat hadiah," cerita Reza dengan senang.
"Oh ya," respon Rita dan Aditya karena masih terkejut.
Mereka saling melirik, tidak pernah cucunya ini bercerita tentang sekolahnya.
"Tuan muda Reza sebaiknya mandi dan ganti baju dulu. Baru nanti ngobrol lagi sama Nenek dan Kakeknya," ujar Dilla tiba-tiba.
"Baik, nanti Mbak Dilla yang mandiin Reza ya ya," jawab Reza dengan memengang tangan Dilla penuh harap.
'Tumben Tuan Muda minta dimandikan,' batin Dilla dan bi Imah.
'Tapi memang sejak selesai perlombaan pertama tadi sifat Tuan Muda Reza berubah. Tapi tak apalah selama perubahan itu baik. Wajar kalau anak-anak bersikap manja daripada mandiri sejak dini.'
"Baik, ayo ke atas, nanti Mbak Dilla bantu mandikan."
"Nek, Kek dan Bi Imah, Reza ke atas dulu ya, mau mandi. Nanti Reza ceritakan kegiatan Reza tadi di sekolah," ujar Reza bersemangat.
"Sama Papa tidak diceritakan juga Tuan Muda Reza?" tanya Dilla.
Semua orang di sana terkejut atas ucapan Dilla, mereka kompak melihat ke arah Dilla dan Reza. Karena sejak Ryan lumpuh, Ryan tidak pernah lagi menemui anak-anaknya. Apalagi berbicara dan berbagi cerita. Reza merenung sejenak dengan tangan kiri menahan tangan kanan dan tangan kanan menahan dagu persis seperti ibu-ibu yang memikirkan dan menimbang harga sembako yang lagi naik.
Rita, Aditya dan bi Imah makin terkejut dengan ucapan Reza. Tak pernah sekalipun Reza mau menjumpai papanya karena takut. Sedangkan Dilla hanya tersenyum, tidak melihat raut wajah yang lain yang sangat shock.
Reza dulu pernah mencoba menemui papanya, tapi sekarang Reza takut sama papanya. Papanya yang baru saja kehilangan sang Mama sangat labil, papanya cepat sekali emosi dan hilang kendali, sehingga berteriak-teriak tak karuan. Reza yang melihat keadaan papanya jadi takut sendiri.
"Kalau begitu Tuan, Tante dan Bi Imah kami ke atas dulu ya," pamit Dilla.
Reza sudah menarik tangan Dilla dengan tidak sabar.
Sesudah tidak lagi kelihatan Dilla dan Reza, mereka sudah sadar dari keterkejutannya.
"Nyonya itu...," ucapan bi Imah distop Rita dengan meletakkan tangannya di depan muka bi Imah.
"Sudah sana, Bi Imah kembali ke dapur aja."
Bi Imah tanpa protes langsung kembali ke dapur.
"Mah apa itu cucu kita."
Itu adalah kata-kata pertama yang dikeluarkan Aditya selepas dari rasa kagetnya.
"Mama juga tidak tau Pa."
"Lebih baik kita ke kamar aja, kayaknya kita butuh istirahat," sambung Rita.
"Ayo Ma, kayaknya Papa juga kecapean deh karena banyak kerjaan di kantor, sehingga melihat tingkah Reza jadi aneh begitu."
Rita dan Aditya langsung pergi ke kamar untuk istirahat. Mereka sungguh terkejut dengan apa yang terjadi tadi.
Ada yang tanya di mana Rio. Rio sebenarnya sejak pulang dari sekolah sudah tertidur di gendongan Dilla. Rio sangat lelah karena sangat aktif geraknya di sekolah sang abang minus bicara. Dari naik mobil jemputan sampai di bawa ke lantai atas, Rio masih tertidur di gendongan hangat Dilla.
***
Dilla membaringkan Rio di kamar Reza, karena Rio sebentar lagi juga harus bangun dan mandi. Jadi Dilla rencananya mau mandikan Reza dulu, baru mandikan Rio.
"Sini Mbak Dilla bantu lepaskan bajunya."
Reza hanya menurut saja. Dilla membantu membuka baju Reza dan meletakkannya di tempat baju kotor. Dilla membalut tubuh Reza dengan handuk.
"Ayo kita ke kamar mandi," ajak Dilla.
Dilla menggenggam tangan Reza. Sesampai di kamar mandi, Dilla memandikan Reza dengan telaten. Dilla memandikan Reza sampai sebersih mungkin.
Dilla memberikan sabun dan shampo juga, khusus punya anak-anak. Setelah Dilla merasa semuanya sudah bersih, Dilla menyiram kembali Reza sampai busanya hilang dan bersih.
Dilla menarik kembali handuk yang tadi Dilla letakkan di dekat pintu. Dilla mengelap Reza sampai kering. Kemudian dia membalutkan tubuh Reza dengan handuk dan mengangkatnya.
Reza sebenarnya kaget dan tidak menyangka bahwa Mbak Dilla akan menggendongnya. Tapi Reza tidak protes dia malah merasa senang.
Saat keluar dari kamar mandi Dilla melihat Rio yang sudah bangun. Dilla mendekati tempat tidur dan menurunkan Reza di atas kasur di samping Rio.
"Tuan Muda Rio sudah bangun sendiri hem. Sebentar ya, Mbak Dilla pakaikan baju Abangnya dulu, baru nanti Mbak Dilla mandikan Tuan Muda Rio ya."
Rio menganggukan kepalanya dengan lemah. Dilla segera mengambil baju Reza yang ada di dalam lemari. Baru kemudian memandikan Rio.
Bersambung....