
Ryan tidak sepenuhnya mengerti sama ucapan Rio. Dia bingung dengan perkataan Rio.
"Maksud Rio apa, papa tidak mengerti?" tanya Ryan balik.
Dilla segera mengambil alih gendongan Rio. Ryan menatap aneh Dilla yang seperti orang kepanikan.
"Ah itu Tuan, maksud Rio tadi ada makananya yang hilang jadi dia mau makan yang banyak," jawab Dilla cepat.
Dilla tadi segera mencari alasan, dia berharap agar Ryan bisa menerima alasan tersebut.
"Oh begitu, ya sudah kalau begitu, kalian tunggu di sini saja dulu, saya ada rapat," kata Ryan.
Ryan segera pergi dari sana karena rapat sebentar lagi mau mulai.
Lima belas menit kemudian pintu terbuka, Siska masuk sambil membawa kue pesanan Rio, kue coklat. Siska meletakkannya kasar di atas meja. Siska bisa melihat anak Bos yang bermain riang dengan Dilla.
Dilla hanya melirik Siska yang meletakkan kue di samping mereka.
"Holeee tue nya atang!" seru Rio.
Rio segera membuka kue itu dan memakan dengan lahap. Tangan dan mulut Rio kini sudah belepotan.
"Aduh Rio, makannya yang pelan, sudah kotor semua ini," tegur Dilla.
Dilla mengambil tissue dan mengelap tangan dan mulut Rio.
"Enyak Omy," beritahu Rio.
"Iya enak, tapi makannya pelan-pelan dan hati hati ya, jangan sampai kotor lagi," ujar Dilla lembut.
"Oteh Omy," jawab Rio.
Rio lanjut makan kue dengan pelan agar tidak mengotori yang lain lagi.
Siska dari tadi belum keluar. Dia masih melihat Dilla dan juga Bos kecil.
"Pantes aja anak Bos makan belepotan gitu, yang jaganya aja begitu, kampungan," sindir Siska.
Dilla lebih memilih diam. Dia tidak mau berurusan sama orang tipe seperti Siska, jika dibalas maka akan terus diserang.
"Wah ternyata selain kampungan juga budeg ya, hei aku tu ngomong sama kamu kamu denger tidak," kata Siska sambil mengetuk kepala Dilla pakai jari tangannya.
Kemudian dia mengelap kembali tangannya seperti ada kuman.
"Mbak jangan tidak sopan dong, saya diam bukan saya tidak dengar, saya tidak mau berurusan sama orang macam Mbak," ujar Dilla tidak terima .
"Duh tangan aku jadi gatal karena pegang kamu, kamu banyak kumannya," sambung Siska yang tak nyambung.
"Ante angan ahat cama Omy, Liyo ndak cuka," kata Rio marah.
"Aduh Bos kecil kenapa suka sama gadis kampungan ini, sini sama Tante aja mainnya," ucap Siska.
Siska mau meraih tangan Rio tapi Rio menepis tangan Siska kasar. Rio segera bersembunyi di belakang Dilla. Rio takut sama Siska.
"Mbak jangan narik narik Rio dong, Rio jadi takut ini," tegur Dilla.
"Kamu diam aja deh, kamu itu anak kampungan nggak pantas bersama Bos kecil, sekarang kamu minggir, biar Bos kecil sama aku saaj," suruh Siska minggir.
"Saya ini Baby sitter Rio, jadi sudah wajar jika saya menjaga Rio," jawab Dilla.
"Alah bilang aja kamu mendekati Tuan Ryan. Ngaku aja deh, aku itu tau semua cewek pasti berpura pura baik di depan Tuan agar bisa naik ke tempat tidurnya," kata Siska meremehkan Dilla
"Mbak kalau bicara disaring dulu ya atau di rumah Mbak tidak ada saring makanya Mbak bicara kasar, kalau tidak ada biar saya belikan. Lagian saya tidak pernah berpikiran seperti itu," jawab Dilla tidak terima
"Tidak usah sok polos deh, ngaku aja," Siska makin menyudutkan Dilla
"Udah ah, malas bicara sama orang yang antenanya pendek," ucap Dilla.
"Kamu jangan kurang ngajar sama aku," ujar Siska marah.
Dilla yang tidak menerima mendorong Siska balik, Siska tidak bisa mengelak sehingga dia tersungkur. Saat Siska tersungkur masuklah Ryan.
"Ada apa ini?" tanya Ryan yang melihat Siska jatuh.
"Dia yang mendorong saya Bos, padahal tadi saya hanya bermaksud mengajak Rio bermain tapi dia malah menuduh saya yang tidak tidak dan mendorong saya Bos," ujar Siska sambil mengeluarkan air mata buaya.
'Rasain kamu, sekarang Bos pasti akan memecat kamu'
Siska tersenyum licik di balik rambutnya yang menutupi wajahnya. Dia mencoba bangun pelan pelan seolah olah dia adalah korban
"Apa yang sebenarnya terjadi Dilla?" tanya Ryan pada Dilla.
Ryan ingin mengetahui dulu dari kedua pihak.
"Tuan tanya aja sama Rio," sahut Dilla acuh.
Dilla duduk kembali di sofa. Saat ini Dilla sedang menahan amarahnya. Jika saat ini dia berada di kampung mungkin Siska sudah dia ajak gelut. Dilla sangat tersinggung sama ucapan Siska dan dia marah karena hampir membuat Rio terluka. Dilla bukan orang yang akan menerima dibully, tidak ada dalam kamusnya dia akan dibully.
"Rio," panggil Ryan.
Rio segera berlari ke arah Ryan, dia meminta Ryan menggendongnya.
"Ante ni natal Papa, dia olong olong omy," lapor Rio.
Ryan tidak mengerti apa yang dikatakan Rio.
"Dilla bisa kamu jelaskan, saya tidak mengerti apa yang dibilang sama Rio sama sekali," pinta Ryan pada Dilla.
"Tadi Mbak ini ngomong kasar sama Dilla, kemudian dia mendorong Dilla dengan kasar pula. Untung aja Dilla tidak terjatuh, kalau jatuh tadi maka Dilla bisa menimpa Rio yang berdiri di belakang Dilla. Dilla yang tidak terima ya Dilla dorong balik. Untung aja ini di kantor kalau tidak sudah Dilla ajak gelut, enak aja dilla di bilang suka naik ke atas kasur laki-laki, emang Dilla cewek apaan," cerita dilla sambil mendengus kasar.
"Tidak Bos, itu tidak benar, itu fitnah. Saya tidak tau kenapa dia tiba tiba dorong saya Bos," bela Siska.
'Dasar gadis kurang ajar, bisanya hanya mengadu, awas aja kamu'
"Ante yang belpula pula, Ante yang olong Omy," protes Rio tidak terima.
"Siska sekarang kamu keluar, aku tidak mau melihat kamu berakting lagi sana keluar dari sini atau aku pecat,"
"Tapi bos…."
"Keluar atau saya pecat," ancam Ryan.
Siska lebih memilih keluar daripada dipecat. Dia keluar dengan keadaan yang sangat marah.
Ryan mendekati Dilla dan duduk di sofa samping Dilla.
"Dilla kamu baik baik saja?" tanya Ryan.
"Menurut Tuan bagaimana?" tanya Dilla balik.
Ryan menggaruk tekuknya. Ryan tau Dilla masih terbawa emosi.
"Kamu tidak usah mendengarkan dia, dia memang begitu. Dia bisa bekerja disini karena pekerjaannya sangat baik. Yah hanya saja sifatnya yang kurang," bujuk Ryan.
"Hemmm," Dilla hanya bergumam.
Dilla menghela nafas, ini bukan salah Tuannya. Tapi dia malah menyambung emosinya ke arah Tuan Ryan.
"Kalau kamu sudah tidak marah lagi ayo kita pergi makan siang ini sudah waktunya makan siang," ajak Ryan.
"Matan matan, ayo Pa, Omy tita pelgi matan ciang," malah Rio yang menjawab.
Rio sudah tidak sabar mau makan siang. Mereka bertiga keluar dari ruangan Ryan dan pergi makan siang bersama
Bersambung….