Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 88. Brakkk



"Uwooo mata Ante celam, cepeti mata moltel," kata Rio saat melihat Jelita yang menghampiri mereka.


Dilla Reza dan Rafa melihat ke arah Jelita. Mata Jelita memang memerah dan bengkak gara gara semalam dia menangis terus tanpa berhenti. Jelita bahkan tidak ikut makan malam. Jelita menggosok lengan nya karena merasa canggung.


Dilla segera menghampiri Jelita, saat ini mereka lagi berada di teras. Tadi Dilla memang sedang menunggu Jelita, karena Jelita sekarang tidak pernah melewatkan satu kali pun mengantar Rafa ke sekolah.


"Mbak, kenapa sama mata Mbak, Mbak habis menangis?" tanya Dilla khawatir.


"Tidak apa apa kok Dilla, Mbak semalam keasikan nonton film sedih, jadi kebawa perasaan saja," jawab Jelita berbohong.


Jelita tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya ampun Mbak, kenapa nonton sampai segitunya sih," kata Dilla tak percaya.


"Sebaiknya Mbak istirahat saja dulu, kasihan matanya," saran Dilla.


"Iya, Mbak hanya ingin melihat kalian berangkat saja kok," jawab Jelita.


Jelita mengalihkan perhatiannya kepada Rafa, Rafa dari tadi juga melihat Jelita, tapi saat Jelita menatap balik Rafa mengalihkan matanya ke arah lain. Rafa segera naik ke mobil dan disusul sama yang lain.


Rafa kembali menatap Jelita, Jelita masih melihat Rafa sambil melambaikan tangan.


Mommy akan selalu menyayangi kamu, maafkan Mommy.


Rafa bisa membaca gerakan bibir Jelita. Entah kenapa Rafa merasakan perasaan yang tidak enak.


"Kenapa kamu di sini, dari tadi aku nyariin kamu di dalam," kata Dafa yang baru datang.


Jelita tersenyum melihat kedatangan Dafa. Jelita meraih kedua tangan Dafa.


"Apa kamu masih mencintai aku, sebesar cinta kamu yang dulu," ujar Jelita tiba tiba.


Dafa heran dengan pertanyaan Jelita.


"Ya tentu tidaklah, semakin hari cinta aku sama kamu itu semakin besar, cintaku kepadamu akan tumbuh seperti pohon yg selalu disiram dan diberi pupuk," jawab Dafa yakin.


Dafa tetap saja menjawab pertanyaan Jelita. Jelita senang mendengarnya.


"Apa kamu mau memaafkan aku lagi jika aku pergi lagi?"


"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskan kamu lagi. Bila perlu aku akan mengurung kami di kamar terus biar kamu tidak akan pergi lagi dari sisi aku dan Rafa," Dafa menjawab dengan nada emosi.


Dafa beneran takut jika Jelita akan pergi lagi, sudah cukup dia menunggu Jelita kembali. Dia tidak akan membiarkan Jelita pergi lagi.


Jelita terkekeh mendengar jawaban Dafa.


"Kamu ini kenapa emosi, aku kan hanya bertanya saja," ujar Jelita tersenyum geli.


Dafa memegang pipi Jelita dan menempel dahi mereka.


"Aku tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan kamu lagi sayang," ucap Dafa dengan tatapan penuh cinta.


Jelita beneran tersentuh. Jelita segera memeluk Dafa.


"Aku janji tidak akan meninggalkan kalian lagi, hanya maut yang akan memisahkan kita sekarang."


Dafa melepaskan pelukan Jelita.


"Tidak, jika kamu meninggalkan aku, aku juga akan ikut kamu kemanapun, bahkan ke neraka sekali pun."


"Kamu harus ingat Rafa sayang, jika aku pergi aku mau kamu menjaga dan merawat Rafa dengan baik."


"Kamu tidak boleh begitu sayang, kita akan menjaga Rafa sampai dia tumbuh besar menjadi laki laki yang hebat. Kita akan mendampingi Rafa menikah dan kita juga akan melihat cucu kita nanti," kata Dafa menggebu-gebu.


Jelita mencubit pinggang Dafa gemas.


"Rafa masih TK kamu mikirnya kita punya cucu. Rafa harus sekolah yang tinggi dulu." 


Dafa hanya tersenyum tidak jelas.


"Ya sudah kita bahas ini saat Rafa besar, sekarang kamu bersiap siap dulu, aku yang antarkan kamu ke rumah sakit."


"Aku tidak menerima penolakan sayang."


Jelita yang mau menolak jawaban Dafa tidak jadi, dafay sudah duluan memutuskan. Jelita mengikuti tuntunan Dafa masuk ke rumah. Dia memang harus ke rumah sakit karena badannya kurang sehat.


***


"Mommy kita jangan pulang dulu ya, kita makan es krim dulu, soalnya Rafa dan Reza dapat nilai 100," Kata Rafa saat tiba di depan Dilla.


Rafa dan Reza segera menunjukkan nilai hasil ulangan mereka tadi.


"Baiklah, ini sebagai hadiah kalian bisa dapat nilai bagus," ujar Dilla bangga.


"Horeee," Sahut Reza dan Rafa senang.


"Nah sekarang ayo naik ke mobil. Kita akan langsung pergi kesana," kata Dilla.


***


Mereka turun di depan cafe es krim dan juga cake. Rio sangat senang turun di sini. 


"Ayo Pak masuk," ajak Dilla.


"Tidak usah Dilla, Bapak di luar saja menunggu kalian. Bapak tidak suka makanan yang manis-manis," tolak Pak Jaka.


Dilla masuk setelah pamit sama Pak Jaka. Pak Jaka memilih duduk di tempat penjual kaki lima.


"Mommy sini sini," Panggil Rafa yang sudah ada di meja.


"Cini Omy, camping Liyo," tambah Rio.


Dilla menghampiri mereka bertiga. Dilla memesan beberapa es krim dan juga cake untuk mereka berempat. Mereka makan dengan santai.


"Rio makanya pelan pelan, tidak ada yang mengambil jatah Rio. Tuh bajunya jadi kotor kan," tegur Dilla.


"Maap Omy, abis ais telimnya wenak, Liyo boleh ambah Omy?" pinta Rio.


Dilla menghela nafas. Rio selalu makan banyak tapi badannya segitu gitu aja. Dia makan banyak langsung naik berat badan. Dilla jadi iri, Dilla juga pengen bisa banyak makan tanpa takut naik timbangan.


"Omyyy boleh…," rayu Rio.


Dilla memutuskan memesan satu lagi tapi harus bagi tiga. Reza dan Rafa tadi juga mau nambah.


Setelah selesai makan mereka keluar, saat di luar mereka berpapasan sama Jelita.


Jelita tadi hanya jalan jalan saja karena merasa suntuk dirumah. Tadi setelah Dafa mengantarnya pulang sampai rumah, Jelita memilih pergi lagi menggunakan taksi. Jelita tidak pernah menggira akan berjumpa Dilla dan lainnya di jalan.


"Mbak Jelita kok di sini, bukannya istirahat," tegur Dilla.


"Mbak suntuk di rumah jadi memilih jalan jalan," Jawab Jelita.


Tangan Jelita tanpa disuruh mengelus rambut Rafa. Rafa kembali menolak sentuhan Jelita.


"Jangan pegang pegang," kata Rafa.


"Rafa, Rafa tidak boleh begitu  ingat apa yang kita bahas kemarin," ujat Dilla mengingatkan.


Jelita jadi ke ingat perkataan Rafa kemarin.


"Rafa maafkan Mommy, Mommy sungguh menyesal. Mommy minta kesempatan kedua ya," Pinta Jelita.


"Tidak, Mommy jahat, Mommy tega ninggalin Rafa sendiri, Rafa benci sama Mommy," Jawab Rafa keras.


Jelita kali meneteskan air matanya. Air mata yang sudah seharusnua kering kini keluar kembali.


"Rafa, Mommy mohon, maafkan Mommy, Mommy sangat menyesal."


"Rafa bilang tidak ya tidak."


Jelita mencoba memeluk Rafa, tapi Rafa mendorong Jelita keras. Rafa segera berlari ke arah jalan tanpa melihat kiri dan kanan. 


"RAFA…," teriak Dilla dan Jelita.


Brakkk….


Mobil itu tidak sempat mengerem karena Rafa melintas tiba tiba. 


Bersambung….