
Jangan lupa vitamin (like dan komen) buat penyemangat ya. Terima kasih.
Selamat membaca.
***
Setelah menghabiskan waktu beberapa hari, mereka akhirnya pulang kembali ke kediaman Suherman.
"Tatek, Nenek," panggil Rio setelah turun dari mobil.
Rio mendekati Rita dan Aditya yang sudah menunggu kedatangan mereka semua.
"Liyo angen cama Tatek dan uga Nenek," ucap Rio dengan semangat.
"Nenek juga kangen sama Rio. Tapi kenapa Rio nakal hemmm," ujar Rita.
Rio hanya tersenyum dan tertawa terkekeh.
"Kalian sebaiknya masuk dulu. Kalian semua pasti sudah capek karena perjalanan yang cukup jauh," kata Aditya.
"Tapi sepertinya cucu Nenek yang satu ini masih full baterainya," ucap Rita.
"Bagaimana baterainya tidak full Ma. Jika Rio selalu di dekat charger," sahut Ryan.
"Jadi Mas mau bilang jika Dilla ini charger," protes Dilla pura-pura ngambek.
"Itu hanya perumpamaan sayang. Rio kalau sudah nempel sama kamu pasti bersemangat lagi," ucap Ryan.
"Bilang aja kamu cemburu karena HP butut jarang dicas," canda Dafa.
Mereka semua tertawa mendengar candaan Dafa kecuali Ryan dan trio R yang tidak paham.
"Sudah-sudah, kalian masuk aja. Baru pulang kalian sudah ribut," lerai Rita.
Mereka semua mulai memasuki rumah. Rita menyuruh pembantu untuk membawa barang bawaan Dilla dan lainnya. Pembantu itu adalah pembantu yang baru direkrut oleh Rita. Karena Mina sudah mengundurkan diri atau lebih tepatnya diseret oleh Mama Minta. Dilla yang sekarang bukan lagi pengasuh Rio dan Reza, Rita juga memperkerjakan beberapa orang lagi.
"Bagaimana liburan kalian?" tanya Rita setelah mereka duduk di sifa.
"Seru Nek, kami di sana jalan-jalan. Pergi ke tempat bermain. Pokoknya suruh Nek," ujar Reza.
"Iya Nek, coba Nenek ikut, pasti Nenek juga senang," tambah Rafa.
"Kenapa tidak satu kampung aja di ajak," batin Ryan.
"Lain kali kita pergi bersama ya," ucap Aditya.
Reza, Rio dan Rafa mereka bertiga terus menceritakan perjalanan mereka kali ini dengan penuh semangat.
***
Reza dan Rafa kini sudah tamat dari sekolah TK. Sekarang mereka sudah pindah ke sekolah dasar. Hari ini adalah hari pertama Reza dan Rafa pergi ke sekolah dasar. Saat ini Dilla sedang berusaha membujuk Rio agar Rio tetap di rumah. Wali kelas menyarankan agar setiap siswa diwakili oleh salah satu wali masing-masing di hari pertama mereka sekolah.
Ryan dan Dafa sudah berangkat duluan pagi pagi. Mereka ada rapat penting dan berada diluar kota sehingga harus berangkat lebih awal. Dilla tidak mau mengambil resiko dengan membawa Rio ke sekolah. Dilla nanti pasti harus lebih fokus pada Reza yang masuk sekolah dasar pertama kali. Dilla khawatir jika Rio ikut, maka nanti di sana akan terjadi kehebohan oleh ulah Rio.
"Sayang, Mama tidak akan lama kok. Jadi Rio di rumah saja ya," bujuk Dilla.
"Ndak mau, Liyo itut Omy. Talau Liyo ndak peldi Omy ndak boyeh peldi," tolak Rio sambil memegang tangan Dilla.
"Sayang, Mama ke sekolah mau menemani Abang Reza. Tidak mungkin Mama tidak menemani Abang Reza sedangkan wali lainnya datang. Apa Rio tidak kasihan melihat Abang Reza tidak didampingi sama orang tuanya. Pasti Abang Reza akan iri melihat siswa lain didampingi sama Mama mereka," entah sudah berapa kali Dilla membujuk Rio yang tetap ingin pergi.
Rio melipat kedua tangannya dengan bibir yang dimajukan. Rio masih tetap tidak mau Dilla pergi meninggalkannya. Rio sebenarnya mau ikut tetapi dilarang tapi sama yang lainnya. Padahal Rio sangat penasaran dengan sekolah baru Reza.
"Api Omy, Liyo mau liyat cetolah baru Bang Eja dan Bang Lapa Rio," pintar Rio.
"Kan Rio masih bisa pergi besok. Besok Mama janji akan ajak Rio ya."
"Ndak mau, Omy peldi na lama," tolak Rio mencari alasan lain.
"Rio, Mama janji tidak akan lama. Mama perginya hanya beberapa jam saja. Nanti saat jarum jam sudah ada di tengah, Mama akan juga pulang kok," tambah Dilla.
"Kalau tidak begini saja. Sekarang Mama akan menemani Abang Reza pergi sekolah sampai siang hari. Nanti setelah Mama pulang, nanti giliran Mama yang menemani Rio sampai malam," tawar Jelita ke Rio.
"Bagaimana?" tanya Dilla harap-harap cemas.
"Omy anji anti cuma main cama Liyo?" tanya Rio.
"Iya, Mama janji. Dari siang sampai malam Mama akan bermain sama Rio sampai Rio puas sebagaimana?"
"Oteh Omy. Omy anji ya cama Liyo. Omy cuma main cama Liyo," kata Rio sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
"Iya Omy janji," sahut Dilla sambil menyambut jari kelingking Rio.
Mereka bersyukur jika mereka masih bisa membujuk Rio agar tidak ikut dengan mereka.
"Sebaiknya kalian berangkat sekarang saja. Kalau tidak kalian bisa terlambat," saran Rita.
"Baiklah Ma, kami berangkat dulu ya Ma," pamit Dilla diikuti sama yang lainnya.
Dilla segera meraih tangan Reza dan Jelita yang meraih tangan Rafa. Mereka berempat siap pergi ke sekolah.
***
Mereka berempat tiba di sekolah. Pada hari ini Jelita sengaja memakai pakaian yang paling sederhana seperti yang digunakan oleh Dilla. Jelita tidak ingin terlihat terlalu mencolok jadi dia juga tidak menggunakan perhiasan dan barang bermerek lainnya.
"Sudah sana cepat jalan aja sendiri. Kamu ini anak laki-laki dan sudah besar masih saja mau ditemani. Apa kamu tidak malu sama yang lainnya," kata Jesika kepada Samuel.
"Tapi Mom, semua siswa baru hari ini ditemani sama ibu mereka. Sam juga mau ditemani sama Mommy," kata Sam sambil harap kasih pada Jesika.
"Kamu jangan samakan Mommy sama orang tua mereka. Mama ini sibuk dan orang tua mereka hanyalah pengangguran. Jadi kamu jangan samakan Mommy sama yang lainnya. Sudah sana kamu masuk saja. Mommy harus segera berangkat. kata Jesika dengan kasar.
'Coba saja jika Daniel tidak mengancam akan menarik semua kartu kredit ku, maka aku tidak mau urusan sama anak kecil ini. Sudah capek aku lahirkan masih juga harus aku yang membesarkannya.'
Jelita dan Dilla mereka melihat bagaimana Jesika memperlakukan Sama. Seolah-olah Sam adalah bukan anak kandung daripada Jesika sendiri.
Mata Jesika tidak sengaja melihat ke arah Dilla.
"Oh kamu lagi," kata Jesika meremehkan.
"Kamu kenal sama dia Dilla?" tanya Jelita kepada Dilla.
"Dia istrinya Tuan Daniel Mbak, kliennya Mas Ryan dan Dafa. Kami hanya pernah bertemu Dian kali saja," sahut Dilla tanpa menjelaskan lebih detail lagi.
"Kenapa kalian bisik-bisik, iri ya melihat barang mewah aku yang bermerek semua," ucap Jelita sombong sambil memamerkan barang yang dia pakai.
Jelita rasanya ingin tertawa terbahak-bahak dengan kepedean yang dimiliki oleh Jesika. Jesika tidak tahu aja jika Jelita juga memiliki banyak barang bermerek dan semuanya adalah asli bukan seperti yang digunakan oleh Jesika. Barang yang digunakan oleh Jesika ada beberapa barang KW. Jelita dengan jelas bisa membedakan mana barang yang asli dan barang tiruan. Dunia fashion adalah dunia yang sangat Jelita kenal sehingga Jelita bisa tau semuanya.
Dila hanya terdiam dia tidak tersinggung sama sekali dengan apa yang dikatakan oleh Jesika. Dilla lebih memilih memasukkan perkataan Jesika melalui telinga kanan dan langsung keluar melewati telinga kiri tanpa tersaring sedikitpun.
"Aku iri sama kamu? tidak level," sahut Jelita tidak terima.
"Iya betul, kita memang tidak satu level. Lihatlah pelan-pelan apa yang kamu gunakan dari atas sampai bawah. Tidak ada satupun barang yang bermerek, dasar kere," hina Jesika.
Jelita marah mendengar Jesika menghina Dilla dan dia. Jelita ingin mencakar mulut Jesika yang pedas. Dilla mencoba menahan tangan Jelita agar tidak terpancing.
"Mbak sabar," ujar Dilla mengelus bahu Jelita.
"Dilla kamu jangan diam saja jika ada yang menghina kamu. Mulut yang seperti dia itu harus diberi pelajaran agar dia bisa jera. Bila perlu kita cuci itu mulut pakai deterjen," kata Jelita emosi.
"Sudahlah, bicara sama kalian menghabiskan waktuku yang sangat penting."
"Dan kamu, sana masuk sendiri,"setelah berkata begitu Jesika segera masuk ke mobil kembali dan meninggalkan Sam sendirian.
Bersambung….
Notes: Carilah teman yang tidak satu sifat sama kita agar saling melengkapi. Jika kita suka cepat emosi cari teman yang sabar yang bisa membantu kita menahannya. Hidup akan lebih berwarna jika kita bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain.
Rekomendasi Novel yang bagus untuk kalian ya