Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 134. Mandi



Jangan lupa like setiap bab sebelum atau sesudah ya. Jangan sungkan kasih saran dan juga kritikan. Biar saya semakin semangat up. Terima kasih.


Selamat membaca.


***


"Sayang, kenapa lama sekali. Sini gosokan punggung Mas," ujar Ryan sambil menyerahkan alat penggosok punggung pada Dilla. 


Karena kelamaan menunggu Dilla, Ryan sudah membasuh dirinya dengan air sehingga sekarang dia sudah siap untuk di gosok punggungnya. 


"Baik Mas," Jawab Dilla.


Dilla segera mengambil alat gosok itu dan menggosok bahu serta punggung Ryan dengan pelan-pelan. 


"Sayang, kamu lagi menggosok atau mengelus punggung sih. Tidak apa-apa ingin mengelus punggung Mas, tapi nanti ya selesai mandi. Jika sekarang kita bisa masuk angin," canda Ryan.


Dilla diam mendengar ucapan Ryan. Dilla segera mengeluarkan tenaga lebih untuk menggosok punggung l seluruh punggung Ryan sampai bersih. Setelah itu Ryan membersihkan diri dengan air.


"Sekarang gantian, biar Mas yang gosokkan punggung kamu ya," ujar Ryan. 


"Tidak apa-apa Mas. Dila bisa melakukannya sendiri," tolak Dilla karena malu. 


"Ayo duduk sini," kata Ryan sambil menarik tangan Dilla agar duduk di tempat dia duduk tadi.


Ryan sengaja mengabaikan perkataan Dilla. Kemudian Ryan mengambil air dan menyiramkan ke tubuh Dilla yang menggunakan handuk. Ryan mulai menggosok bahu Dilla, kemudian dia menarik handuk Dilla sedikit agar bisa menggosok punggung Dilla lebih leluasa. Dengan Dilla tetap mempertahankan handuk yang dia pakai. Setelah selesai mandi bersama, mereka keluar dari kamar mandi. 


Dilla ingin memakai bajunya kembali tetapi Ryan mencegahnya dengan menarik baju dan membuang ke sembarang arah. 


"Sekarang kamu adalah istri Mas Dilla. Mas ingin kamu malam ini melayani Mas layaknya suami-istri," bisik Ryan.


Dilla terdiam sebentar, kemudian Dilla menganggukkan kepalanya. Ryan membalikkan tubuh Dilla agar menghadapnya. Ryan mengangkat wajah Dilla agar menatapnya. Ryan mulai mencium kening mata hidung dan area wajah lainnya. Setelahnya Ryan menuntun Dilla ke tempat tidur.


***


Jelita, Dafa, Reza, Rafa dan Rio pulang saat tengah malam tiba. Dafa sengaja mengulur-ngulur waktu agar Rio tidak meminta pulang. Usaha Dafa untuk membujuk Rio dan lainnya membuat dompet Dafa kempes seketika. 


Mereka bertiga dengan senang hati meminta ini itu sama Dafa. Dafa hanya bisa menyogok mereka bertiga dengan mainan dan makanan agar mereka tidak segera minta pulang. Dafa hanya bisa melihat seluruh isi dompetnya yang sudah berpindah ke brankas orang lain. 


Selama dalam perjalanan pulang Rio sudah tertidur pulas di dalam gendongan Jelita. Mereka kembali memasuki hotel dan sudah sampai di depan kamar mereka.


Tok tok tok


Reza mencoba mengetuk pintu kamar Dilla dan Ryan. 


"Reza malam ini tidur sama Daddy dan Mommy saja ya," bujuk Dafa.


"Reza mau tidur sama Mama dan Papa," sahut Reza. 


"Sekarang kan sudah malam. Mama dan Papa pasti tidak tidur dari tadi," ucap Dafa supaya Reza mengerti. 


"Iya, pasti Mama dan Papa saat ini sudah capek. Apa Reza tega membangunkan Papa dan Mama," ujar Jelita menakuti Reza.


"Baiklah, Reza tidur sama Mommy dan Daddy. Reza tidak mau mengganggu waktu tidurnya Papa dan Mama," ucap Reza tak reka. 


Dengan langkah lemas Reza mengikuti Jelita dan Dafa yang memasuki kamar mereka. Jelita membaringkan Rio di tengah kasur agar tidak terjatuh. 


"Sekarang kalian juga sudah harus tidur. Sini ganti baju dulu," suruh Jelita sambil menyerahkan baju tidur milik Reza dan Rafa. 


Setelah itu Jelita segera menggantikan baju Rio agar Rio tidak gerah saat tidur. 


"Sekarang kalian berdua naik ke atas tempat tidur," suruh Dafa.


Mereka dengan patuh segera naik ke tempat tidur karena mereka juga sudah sangat kelelahan. Jelita dan Dafa juga menyusul mereka setelah mereka bertiga tertidur pulas.


Saat tengah malam, Dafa terbangun karena ingin ke kamar mandi. Dengan mata yang masih terbuka tertutup Dafa mencoba pergi ke kamar mandi untuk membuang hasratnya. Setelah selesai Dafa kembali ke atas kasur. 


"Rio…," panggil Dafa pelan agar tidak membingungkan yang lainnya. 


Dafa segera mencari Rio ke sekitar ruangan dan tidak menemukan Rio dalam kamar. Dafa segera membuka pintu untuk mencari Rio di luar. Siapa tahu Rio ada di luar pintu. Ternyata dugaan Dafa memang benar. Rio berada di depan pintu kamar Dilla dan Ryan sedang menangis dan mengetuk pintu mereka.


"Omy… hiks… hiks…," panggil Rio. 


"Rio kenapa bisa ada di luar dan menangis?" tanya Dafa


"Liyo mau cama Omy hiks hiks. Liyo dah anggil Omy belulang-lulang tapi Omy ndak jawab Addy," lapor Rio dengan mata memerah dan suara serak.


'Apa dia sudah menangis lama ya. Suaranya sudah sampai serak begitu.'


"Rio, ini kan sudah tengah malam, maksudnya mau pagi. Papa dan Mama pasti sudah tidur Rio. Rio tidur sama Daddy dan lainnya aja ya," bujuk Dafa.


"Ndak mau, Liyo mau cama omy hiks hiks," tolak Rio.


Duk duk duk


Rio kembali mengetuk atau menggedor pintu dengan dua tangan kecilnya.


"Omy buta intu, Liyo mau macuk," ucap Rio dengan air mata yang mengalir.


"Rio jangan begitu, nanti Rio bisa membangunkan orang lain," ujar Dafa memperingati Rio.


Rio mengabaikan perkataan Dafa. Rio terus mengetuk pintu Ryan dan Dilla.


"Omy… hiks… hiks…."


"Rio…."


Dafa ingin meraih tangan Rio tapi Rio malah menghindari Dafa. Dafa segera menggendong Rio agar Rio berhenti mengetuk pintu kamar Ryan dan Dilla. Rio memberontak ingin turun dari Dafa.


"Sudah ya, Rio jangan menangis lagi," bujuk Dafa lagi sambil mengelus punggung Rio.


Tangisan Rio bukan berhenti. Rio malah semakin menangis dengan keras. Dafa tidak tahu harus berbuat dengan tangisan Rio. Dafa akhirnya kembali ke dalam kamar untuk minta bantuan sama Jelita.


Tangisan Rio yang keras membuat yang lainnya terjaga. Jelita segera menghidupkan lampu supaya lebih terang. 


"Ada apa Dafa? kenapa Rio bisa menangis seperti ini?" tanya Jelita.


"Hiks… hiks… Omy…."


"Rio ingin ke tempat Dilla, untung saja tadi aku terbangun. Kalau tidak, aku juga tidak tau jika Rio sedang mengendor pintu kamar Ryan dan Dilla," jawab Dafa.


"Rio sudah ya. Jangan menangis lagi. Saat ini Papa dan Mama pasti masih tidur," Jelita juga mencoba membujuk Rio.


"Liyo mau cama omy hiks."


"Besok saja ya kita ketemu sama Papa dan Mama."


"Ndak mau. Liyo mau tetemu Omy cetalang," tolak Rio lagi.


Rio semakin menaikkan nada suaranya semakin tinggi. 


"Bagaimana ini Dafa?" tanya Jelita khawatir dengan kondisi Rio.


Bersambung...


Rekomendasi Novel yang bagus ini juga ya....