Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 52. Masuk



Mobil yang dikendarai Ryan baru sekitar setengah perjalanan. Tapi kini Reza dan Rafa sudah tertidur kembali di dalam mobil. Menit menit pertama perjalanan mereka begitu energi membahas apa yang akan dilakukan. Setelahnya mereka mulai mengantuk dan akhirnya tertidur kembali.


Mungkin itu semua karena mereka sudah lelah dan tadi pagi juga bangun kecepatan. Dilla yang melihatnya hanya bisa menghela nafas.


"Apa mereka masih tidur Dilla?" tanya Ryan.


Ryan lebih memilih bertanya daripada melihat ke arah belakang. Takutnya mereka nanti kecelakaan karena Ryan melihat ke belakang.


"Iya Tuan, itu pasti mereka tadi pagi cepat sekali bangun, bahkan Rio sampai sekarang juga masih tidur," sahut Dilla.


"Apa kamu tidak capek memangku Rio Dilla? atau Rio juga ikut di baringkan di belakang saja," usul Ryan karena melihat Dilla yang kerepotan


"Tidak apa apa Tuan, Rio ringan kok, tidak berat," kata Dilla.


"Ya sudah kalau begitu," jawab Ryan.


Akhirnya mobil mereka hampir sampai di taman bermain.


"Rafa, Reza ayo bangun, itu tamannya sudah dekat," beritahu Dilla.


Reza dan Rafa yang mendengar kata taman bermain langsung terjaga.


"Mana mana?" tanya mereka berdua heboh.


"Itu coba lihat ke arah sebelah kiri," jawab Dilla.


"Wah, akhirnya kita sampai," ujar Reza sangat senang.


Akhirnya Reza bisa juga jalan jalan seperti teman temannya.


"Mommy Mommy nanti kita naik yang tinggi itu ya, yang seperti roda," kata Rafa tak kalah semangat.


"Iya, nanti kita coba semua permainannya," bukan Dilla yang menjawab, tapi Ryan.


"Hore asyik, ayo Papa, bawa lebih cepat lagi," suruh Reza tidak sabaran.


"Ini sudah cepat Reza, sebentar lagi juga sampai, sabar ya."


Akibat kegaduhan mereka Rio juga ikut terjaga.


"Omy...," panggil Rio belum sadar sepenuhnya.


"Ada apa eumm," ujar Dilla.


Rio segera bangun dari tidurnya, Rio melihat kearah sekeliling. Saat Rio melihat taman bermain Rio langsung loncat loncat kegirangan.


"Rio jangan loncat loncat nanti bisa jatuh," Dilla memperingati Rio.


"Rio jadi anak yang patuh, atau kita akan pulang sekarang,"


"JANGAAAN...," teriak Reza dan Rafa dari belakang.


"ANGAAAN...," Rio juga ikut berteriak.


"Jadi jika kalian tidak ingin pulang kalian harus janji dulu sama Papa dan Mommy."


Mereka bertiga langsung mengangguk patuh.


"Nanti kalian jangan berlarian ke sana kemari ya, harus ada selalu di kekat Mommy atau Papa, kalau kalian hilang bisa repot carinya. Kedua kalau mau pergi kemana pun harus bilang bilang dulu. Ketiga kalau seandainya nanti kalian terpisah dari Papa dan Mommy kalian langsung kebagian informasi ya, biar Papa bisa menjemput kalian. Jika kalian tidak dengar atau nakal saat itu juga kita pulang," Ryan memperingati mereka.


"Baik, siap laksanakan," ujar mereka bersemangat.


"Ayo Reza cepat turun," suruh Dafa.


"Iya sebentar," jawab Reza.


Reza segera membukakan pintu begitu mobil sudah berhenti. Mereka berdua langsung keluar dan berlari ke arah pintu masuk.


"Reza... Rafa...," panggil Ryan.


Mereka berdua tidak mendengar panggilan Ryan.


"Anak itu, baru saja di bilang tapi sudah lupa," ujar Ryan.


"Ya maklum saja Tuan, mereka sudah dari kemarin menunggu," jawab Dilla.


"Omy ulun," ujar Rio.


Rio yang melihat abangnya berlarian juga mau ikutan.


Akhirnya mereka juga keluar dari mobil. Dilla segera menurunkan Rio. Begitu menginjak tanah Rio segera menyusul Reza dan Rafa.


Ryan membuka bagasi mobil dan mengambil barang bawaan mereka. Sedangkan Dilla lebih memilih memperhatikan mereka, takutnya mereka hilang.


"Mommy Papa ayo cepat," panggil Rafa tidak sabaran.


Ryan segera menyerahkan barang Dilla dan Reza pada Dilla. Sedangkan barang lainnya Ryan yang bawa.


"Ayo Dilla," ajak Ryan.


"Iya Tuan," sahut Dilla.


Mereka berdua segera menghampiri trio R yang sudah tidak sabaran mau masuk.


"Ini kalian pakai tasnya masing masing," Ryan segera memberi tas punggung Rio dan Rafa.


Dilla juga segera menyerahkan tas milik Reza. Mereka segera memakainya.


"Pak ini tiketnya untuk lima orang," kata Ryan.


Ryan segera memberikan tiket kepada sang petugas setelah memastikan anak anak sudah siap.


"Iya Pak silahkan masuk, sepertinya anak Bapak dan Ibu sudah tidak sabaran," ujar petugas yang salah paham.


"Maaf Pak, ini Tuan saya, bukan seperti yang bapak katakan, Bapak salah paham," Dilla segera meluruskan kesalahpahaman.


"Oh maaf saya pikir kalian adalah sebuah keluarga, soalnya kalian sangat serasi dan kompak," sahut petugas.


"Iya Pak, maaf ya Pak kami permisi mau masuk," pamit Dilla.


Dilla segera mengandeng Reza dan Rafa. Sedangkan Rio ada di gendongan Papa. Rio kali ini tidak perotes di gendong sama sang Papa. Biasanya dia akan lebih senang digendong Dilla.


Baru beberapa langkah masuk Reza mulai berhenti berjalan.


"Ada apa Reza? apa ada yang ketinggalan,"tanya Dilla.


Reza melihat ke arah sang Papa dan Mommy.


"Mommy boleh tidak jangan panggil Papa Tuan hari ini, Reza ingin ini menjadi liburan keluarga, Reza mau bermain bersama Papa dan Mommy, bukan sama orang lain," minta Reza dengan sedikit ragu ragu.


Dilla segera melihat ke arah Tuannya tidak enak.


"Reza, Dilla ini bu...," ucapan Dilla di potong sama Ryan.


"Iya, Papa akan panggil Mbak Dilla Mommy dan Mbak Dilla akan panggil Papa dengan panggilan Papa, jadi Reza jangan sedih lagi ya," kata Ryan.


"Tapi Tuan," bantah Dilla.


"Dilla saya mohon pengertian kamu, saya ingin memberikan kenangan indah buat anak anak, selama ini saya belum bisa membuat mereka bahagia, kamu tidak usah sungkan sama saya, anggap saja hari ini kita adalah hari liburan keluarga," pinta Ryan.


"Tapi Tuan, itu tidak sopan, bagai ma...," ucapan Dilla dipotong lagi.


"Mommy...," panggil Reza dengan mata berkaca kaca.


Reza sangat berharap jika Mommy mau memanggil Papa dengan sebutan Papa.


"Iya baik lah," Dil la hanya bisa mengalah melihat raut wajah sedih Reza.


"Horeee...," seru Reza senang.


Ryan yang melihat anaknya senang juga ikutan senang.


"Terima kasih ya Dilla, maksudnya Mommy," ujar Ryan.


Entah kenapa Dilla saat ini malu mendengar Ryan memanggilnya dengan Mommy. Biasanya dia akan menganggap hal itu biasa.


"Sama sama Tuan," jawab Dilla.


"Kok Tuan lagi sih Mommy, Papa dong," protes Reza.


"Terima kasih Pa... Papa," kata Dilla gugup.


Dilla yakin kini wajahnya sudah memerah. Ryan yang melihatnya juga ikut tersenyum simpul.


"Ayo kita berangkat, kita jelajahi taman bermain ini," kata Ryan supaya anaknya semakin bersemangat.


"Pulangnya malam ya Pa," tawar Rafa.


"Kalau belum capek belum pulang ya apa," tambah Reza.


"Iya kita akan pulang malam, sebelum capek dan habis berkeliling pantang kita pulang," ujar Ryan.


"Horeee...," sorak Reza dan Rafa.


"Horeee...," Rio juga tidak mau kalah.


"Nah kalau begitu permainan mana dulu yang mau kita coba?" tanya Ryan.


Bersambung....