
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar ya. Like dan komentar kalian sungguh berarti buat saya. Terima kasih banyak.
Selamat membaca.
***
Dilla, Jelita, Rita, Aditia beserta Rio dan Lala menemani Dilla dan Jelita ke rumah sakit. Sedangkan Reza dan Rafa pergi ke sekolah. Tadi Reza dan Rafa juga ingin ikut ke rumah sakit, tetapi dilarang oleh Rita karena mereka harus ke sekolah. Reza dan Rafa mau tidak mau harus pergi sekolah.
"Bagaimana Dokter dengan hasilnya? Apa cucu saya baik-baik saja?" tanya Rita.
"Semuanya baik-baik saja Bu. Kedua janin Ibu-ibu ini sehat. Tidak ada masalah.
"Syukurlah," jawab mereka semua.
"Tapi Dokter, kemarin anak saya mengalami hal buruk. Apa nanti tidak berpengaruh sama kandungannya?" tanya Rita khawatir dengan memegang Dilla.
"Maksud Ibu?" tanya sang dokter.
Rita melihat ke arah Dilla dan lainnya. Rita tidak enak untuk bercerita juga.
"Sejauh ini anak dan calon cucu Ibu baik-baik saja. Walaupun anak ibu mengalami hal buruk tapi tidak mempengaruhi mereka sama sekali," sahut dokter yang tau jika kejadian itu tidak enak untuk diceritakan.
"Benar Dokter?" tanya Rita lagi.
"Iya Bu. Jika Ibu tidak percaya, apa mau saya periksa sekali lagi," tawar sang dokter.
"Tidak perlu Dok. Saya percaya sama Dokter. Tadi hanya memastikan lagi," ujar Rita.
"Iya Bu. Saya memakluminya."
***
Sekarang mereka sudah ada diparkiran rumah sakit. Mereka ingin segera pulang. Pemeriksaan sudah dilakukan.
"Sekarang semuanya sudah selesai kan. Ayo kita pulang," ajak Aditya.
"Pa, boleh tidak kita jangan pulang dulu," pinta Dilla.
"Memangnya ada apa Dilla. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rita.
"Dilla tidak apa Ma," jawab Dilla.
"Apa ada yang ketinggalan? Biar Papa yang ambilkan. Kalian tunggu disini," ujar Aditya.
"Bukan Pa. Dilla tidak ada barang yang ketinggalan. Tapi Dilla tiba-tiba ingin berbelanja," sahut Dilla.
"Berbelanja?" tanya Aditya.
"Tidak boleh. Kalian tidak boleh pergi ke mall. Sebaiknya kalian istirahat dulu yang banyak," bantah Rita tidak mau kejadian kemarin terulang lagi.
"Tapi Ma. Dilla sangat ingin belanja buat Lala. Dila ingin beli pernak-pernik perempuan. Kapan lagi Dilla bisa belanja pakaian dan pernak-pernik lainnya kalau bukan sekarang. Sebelum Dilla melahirkan Ma," ujar Dilla mengelus perutnya.
"Apa kamu ngidam lagi Dilla?" tanya Jelita.
"Iya Mbak Jelita. Sepertinya Dilla mulai ngidam lagi. Mungkin karena sudah ada Lala, jadi keinginan Dilla bisa puas belanja," ucap Dilla.
"Kalau begitu ayo kita pergi. Tidak baik jika kamu tidak mengabulkannya," kata Aditya.
"Iya Pa. Mama tidak mau jika cucu kita nanti aneh," ujar Rita bercanda.
***
Mereka berenam tiba di pusat perbelanjaan. Rio memegang tangan Dilla, Lala memegang tangan Rita, sedangkan Jelita berjalan bersama Aditya di belakang. Mereka berjalan menelusuri beberapa toko.
"Sekarang kita mau kemana dulu?" tanya Rita.
"Kita langsung ke toko baju aja bagaimana Ma?" tawar Dilla.
"Boleh Dilla. Ayo kita ke sana saja," ajak Rita.
Mereka berjalan menuju tempat penjualan baju anak-anak perempuan. Dilla dengan semangat memilih baju buat Lala. Dilla beberapa kali mencocokkan baju ke tubuh Lala. Dilla bingung mau pilih yang mana. Semuanya bagus di mata Dilla
"Bagaimana Lala? Apa Lala suka dengan baju ini?" tanya Dilla akhirnya setelah memilih dari sekian banyak baju.
"Antik Ante," jawab Lala.
"Baju ini Lala ya," kata Dilla sambil menyerahkan baju itu untuk Lala.
Rio yang melihat Dilla menyerahkan baju buat Lala dia tidak suka. Dia segera mengambil baju itu sebelum dipegang oleh Lala.
"Ndak boyeh Omy. Ni buwat adik Liyo," kata Rio dengan memeluk baju yang Dilla pilih.
Dila menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dilla merasa tidak enak Lala. Lila memilih lagi baju untuk Lala.
"Iya Ante," sahut Lala patuh.
Tetapi terulang kembali. Rio merebut kembali baju yang diberikan Dilla ke Lala.
"Rio, kenapa Rio mengambil lagi baju itu. Baju itu buat Lala," ucap Dilla.
"Ni buwat adik Liyo," ujar Rio lagi.
Dilla tidak mau ambil pusing. Dilla mulai memilih lagi baju untuk Lala. Tetapi Rio kembali merebutnya.
"Rio kenapa dari tadi mengambil baju yang Mama kasih buat Lala?" tanya Dilla akhirnya yang sudah mulai lelah.
"Omy ndak boyeh tacih baju buwat Lala," larang Rio.
Dilla dan lainnya heran melihat Rio seperti itu. Tidak biasanya Rio sangat pelit. Kecuali soal makanan.
"Kenapa malah tidak boleh beli buat Lala, sayang?" tanya Dilla mewakili yang lain.
"Omy anya boyeh beyi baju buwat adik Liyo," sahut Rio dengan mengusap perut Dilla.
Sekarang mood Dilla untuk beli baju sudah hilang melihat tingkah Rio. Buat apa Dilla memilih jika Rio mengambilnya. Padahal Dilla ingin melihat Lala memakai baju yang dia pilih langsung.
"Apa Rio tidak suka sama Lala?" tanya Jelita tiba-tiba.
"Tenapa Momny anya ditu?" tanya Rio balik.
"Karena Rio dari tadi ganggu Mama. Rio tidak mengizinkan Mama untuk membeli baju untuk Lala," sahut Jelita.
"Liyo ndak mau Omy cayang cama lain. Omy anya boyeh cayang cama adik Liyo. Anti adik Liyo cembululu," ujar Rio tidak ingin adiknya nanti diabaikan.
Mereka yakin, jika Rio nanti besar maka Rio akan sangat overprotektif sama calon adiknya. Sekarang saja sudah jelas terlihat.
"Jika Rio tidak membolehkan Mama membeli baju untuk Lala, terus siapa yang beli baju buat Lala?" tanya Rita.
"Bial Liyo aja yang beli buwat Lala," sahut Rio yakin.
"Memangnya Rio ada uang untuk beli baju," kata Aditya usil.
"Ndak unya Tek," sahut Rio mengeluarkan kantong celana yang kosong.
"Kalau Rio tidak ada uang, bagaimana Rio membeli baju nanti?"
"Liyo mau minta cama Omy. Omy, Liyo minta uwang ya. Uwang na buwat beli baju ntuk Lala. Anti Omy beli buwat adik Liyo aja, " pinta Rio sambil menawar.
"Iya sayang, boleh," sahut Dilla yang tidak mau ambil pusing lagi.
"Ayo Lala beli baju. Bial Liyo yang bayal," kata Rio dengan percaya diri, seolah-olah Rio mempunyai banyak uang.
"Lala ndak mau baju Mais Liyo," tolak Lala.
"Lala ndak mau baju? Telus Lala mau apa uga?"
"Lala mau itu," kata Lala sambil menunjukkan aksesoris yang berada di luar toko.
Rio melihat arah telunjuk Lala. Rio paham jika Lala suka yang berkilau.
"Ayo kita beli," ajak Rio dengan menarik tangan Lala.
"Kenapa rasanya Dilla seperti menemani anak Dilla kencan ya," ujar Dilla yang fokus pada Rio dan Lala.
"Kamu ini ada-ada aja Dila. Mereka itu masih kecil," sahut Rita.
"Iya Ma, Dilla tahu. Tapi tingkah Rio yang seperti orang dewasa itu yang buat Dilla geleng-geleng kepala," ucap Dilla.
"Kalau itu jangan dikatakan lagi Dilla. Rio memang bilangnya buat orang jantungan," kata Rita.
"Ma, kalau gitu Dilla susul Rio dan Lala ya. Dilla tidak mau mereka hilang," ujar Dilla.
"Tidak boleh, kamu tidak boleh pergi sendiri," larang Rita.
"Biar Papa yang bersama dengan Dilla Ma. Mama temani Jelita saja," bujuk Aditya.
"Baik Pa," sahut Rita.
Bersambung....
Rekomendasi novel buat kalian dari author lainnya yang juga tidak kalah seru. Novelnya sangat keren dan bagus sambil kalian menunggu up saya selanjutnya.