Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 131. Piknik



"Rafa nanti ikut sama Mommy jalan-jalanya. Katanya Rafa mau pergi jalan-jalan sama Mommy dan Daddy," ujar Jelita. 


"Baiklah Mommy. Rafa ikut pergi jalan-jalan sama Mommy dan Daddy," jawab Rafa.


"Nah bagaimana dengan Reza? apa mau ikut jalan-jalan sama Daddy dan Mommy juga?" tanya Dafa 


"Mau kemana Daddy?" tanya Reza balik.


"Rencananya Mommy sama Daddy mau jalan-jalan. Sekalian nanti Daddy akan traktir makan es krim dan coklat," tawar Dafa.


"Apa Mama dan Papa juga ikut?. Reza mau jalan-jalan sama Mama dan Papa," jawab Reza.


"Papa dan Mama lagi ada urusan penting hari ini. Jadi Reza ikut sama Mommy saja pergi jalan-jalannya. Soalnya Rio juga ikut," ujar Jelita.


Jelita sudah tahu idenya Dafa untuk bisa membuat Dilla sama Ryan berduaan. 


Dilla menatap ke arah Jelita tidak yakin. Tidak biasanya jika Rio akan mau dibujuk pergi tanpa dirinya. Apalagi kemarin Rio malah nekat menyusul mereka ke sini dengan cara bersembunyi di dalam koper.


"Beneran Rio mau ikut sama Daddy dan Mommy?" tanya Dilla.


"Iya Omy, Liyo mau itut cama Addy," sahut Rio.


Jelita memberikan kode kepada Dilla saat mata mereka bertemu. Dilla sekarang paham maksud Dafa dan Jelita.


"Ya sudah jika Rio mau ikut main sama Daddy dan Mommy. Tapi Rio jangan nakal ya," ucap Dilla menasehati.


"Iya Omy, Liyo anji ndak tan Natal."


"Jadi bagaimana Reza? apa Reza mau ikut juga," tanya Dafa sekali lagi. 


"Baiklah, Reza juga ikut," jawab Reza. 


Ryan lega Rio dan Reza mau ikut sama Dafa dan Jelita. Kalau tidak bisa kacau rencana yang sudah dia siapakan secara mendadak.


***


"Sekarang ayo kita nikmati waktu kita berdua," ajak Ryan.


"Kita mau kemana Mas," tanya Dilla.


"Sayang, kamu ikut saja ya. Nanti kamu juga akan tahu,"  jawab Ryan.


Dilla mengangguk dan mengiyakan perkataan Ryan. 


***


Ryan membawa Dilla ke daerah pegunungan. Dilla sepanjang jalan melihat ke arah sekitar yang memiliki pemandangan yang sangat indah dan udara yang begitu sejuk. Udara yangbmembuat Dilla menjadi sangat nyaman.


Mobil mereka telah tiba pada tempat tujuan. Ryan membawa Dilla kepada sebuah hamparan tanah seperti padang rumput. Ryan keluar terlebih dahulu kemudian ia memutar menuju kearah pintu mobil Dilla. Ryan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Dilla keluar.


"Sayang ayo turun. Kita sudah sampai," ujar Ryan sambil menjulurkan tangan.


Dilla segera menyambut tangan Ryan. Setelah Dilla keluar, Ryan kembali menutup pintu mobilnya.


"Mas, mengapa kita di sini. Di sini tidak ada orang lain," tanya Dilla. 


"Ini adalah salah satu tempat yang bagus buat cuci mata. Mas sudah cari tau tempat ini. Sekarang sepi karena masih terlalu awal. Jika sore tempat ini banyak orang yang datang untuk berfoto. Sekarang kita bisa menikmati waktu kita berdua tanpa ada orang lain. Mas telah menyiapkan semua perlengkapannya. Mas telah menyiapkan bahan piknik kecilan buat kita berdua," ujar Ryan panjang lebar.


Ryan mengecup sekilas pinggiran mata Dilla. Kemudian dia beralih ke belakang untuk mengambil tikar dan barang lainnya. Dilla menyusul Ryan untuk membantu Ryan mengeluarkan beberapa makanan dan minuman yang telah disediakan oleh Ryan.


"Ini semua Mas yang menyiapkan semua ini secara mendadak?" tanya Dilla tidak percaya.


Padahal dalam agenda mereka tidak ada piknik.


"Mas sudah menyiapkan semua ini dari semalam. Semalam Dafa mengatakan jika dia mau membujuk anak-anak untuk ikut dengan dia. Jadi mas segera menyiapkan semua ini buat kita berdua." 


"Ayo kita bentangkan tikar ini," ujar Ryan.


Dilla segera membantu Ryan Menggelarkan tikar di bawah sebuah pohon. Kemudian mereka berdua menata makanan, minuman dan barang lainnya. Setelah menata itu semua, Dilla segera mencari posisi yang nyaman untuk duduk. Dilla memilih duduk di dekat pohon dan bersandar di pohon tersebut.


"Ahh capeknya," ujar Ryan sambil meletakkan kepalanya di atas paha Dilla. 


Dilla menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut Ryan. Ryan yang merasa nyaman menutup matanya. Mereka terdiam menikmati momen itu beberapa saat. Setelah itu Ryan kembali membuka matanya  dan segera bangkit untuk duduk.


Ryan menarik tubuh Dilla agar tubuh Dilla jatuh di atas pangkuannya. 


"Mas," tegur Dilla malu.


Dilla memukul bahu Ryan pelan tanda protes.


"Mas bikin Dilla kaget," ujar Dilla.


Dilla ingin turun tetapi ditahan sama Ryan dengan cara memeluk Dilla dengan erat. Rtan sudah lama tidak bermesraan seperti ini lagi. Ini salah satu momen yang Ryan rindukan. Sekarang dia bisa menikmati momen itu dengan orang yang dia cintai bukan sama bantal.


"Sayang kamu duduk disini saja," ucap Ryan.


"Tapi Mas, Dilla malu."


"Kenapa kamu harus malu. Kan Mas suami kamu sendiri. Lagian jam segini tidak ada orang," ujar Ryan.


Dilla menunduk malu, dia benar-benar sangat malu dengan posisi yang sekarang. 


Ryan mengarah wajah Dilla ke arah muka sendir. Ryani menatap instan wajah Dilla. Dilla malah semakin menunduk malu. 


"Ayo sini tatap Mas. Mas pengen lihat muka kamu sayang," kata Ryan menggerakkan muka Dilla.


Dengan malu-malu Dilla menggerakkan muka dan bola matanya ke arah Ryan. Tatapan itu tidak sampai lima detik. Kemudian Dilla mengalihkan matanya lagi ke arah lain asal jangan ke mata Ryan.


"Ayo sayang cepat tatap mata Mas," ujar Ryan lagi.


Dilla kembali mencoba menatap mata Ryan. Mata mereka saling bertatapan. Ryan mendekatkan wajahnya ke wajah dilla pelan-pelan tanpa memutuskan tatapan mereka. Ryan mengecup lama kening Dilla. Diila menutup matanya untuk merasakan sensasi kecupan kasih sayang dari Ryan.


Ciuman Ryan dari kening beralih ke arah pipi kiri dan pipi kanan. Ryan juga menciumi anggota wajah Dilla lainnya. Setelah mencium seluruh anggota wajah Dilla, Ryan menjauhkan mukanya dari wajah Dilla. Ryan bisa melihat muka Dilla yang sudah memerah seperti buah tomat atau kepiting diberus. Apalagi jika kepiting itu dimasak sama saos padang pasti bikin tambah enak dilihat.


Dilla dari tadi sudah menunduk lagi sambil memegang baju Ryan di bagian dada.


"Kenapa muka kamu jadi lucu begini sih," ujar Ryan gemas sambil memeluk Dilla dan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan.


Dilla juga membalas pelukan Ryan dengan membisu. Dilla terlalu malu untuk berbicara sekarang.


"Ya sudah ayo kita makan sekarang," ajak Ryan sudahlah melepaskan pelukannya pada Dilla.


Dilla segera turun dari pangkuan Ryan dan mengambil berapa kue dan minuman yang telah disiapkan oleh Ryan.


"Ayo duduk disini lagi," suruh Ryan sambil menepuk pahanya.


Ryan sudah berpindah tempat duduk. Ryan duduk bersandar di pohon yang Dilla duduk pertama kali. Dilla mendekati Ryan dengan pelan. Dilla ragu untuk duduk dipangguan Ryan.


"Ayo duduk di sini," kata Ryan dengan menarik tangan Dilla.


Dilla terduduk kembali berlatih paha Ryan.


"Mana makanannya aaa…," ucap Ryan sambil membukakan mulutnya.


Dilla segera menyuapkan makanan tersebut kepada Ryan. Mereka terus menikmati waktu mereka berdua sampai sore hari saat orang lain datang. 


Bersambung....


Maaf jika adegannya kurang romantis. Saya yang sambil nulis segini aja malu minta ampun 🤭🤭🤭. Semoga kalian suka ya. Jangan lupa kritikan dan sarannya. serta like dan vote.