Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 199. Dilla vs Rio



"Sayang, kamu tidak jadi bereskan kamar di sebelah hari ini," tanya Ryan keesokan harinya.


"Dilla sangat capek Mas. Besok saja Dilla bereskan," sahut Dilla. 


"Ya sudah jika kamu capek sayang. Kamu jangan memaksakan diri lagi ya. Utamakan kesehatan," ujar Ryan.


"Iya Mas."


"Ayo kita ke bawah. Mumpung hari ini hari libur. Mari kita nikmati waktu keluarga kita," ajak Ryan turun. 


"Mas duluan saja. Dilla mau ganti baju dulu," sahut Dilla. 


"Memangnya baju itu kenapa? Kan tidak kotor?" tanya Ryan melihat baju Dilla yang masih bersih. 


"Tadi Dilla tidak sengaja tertumpah air di kamar mandi Mas. Jika Dilla tidak ganti segera nanti bisa masuk angin," kata Dilla menuju lemari pakaian.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Ryan khawatir.


"Dilla tidak apa-apa Mas. Hanya basah saja," jawab Dilla.


"Ya sudah. Mas temani kamu saja, nanti kita turun bersama."


"Tidak apa Mas. Mas duluan saja. Tidak lama kok." 


"Baiklah," jawab Ryan mengalah dan turun duluan. 


Dilla membuka lemari dan menggantikan baju basah. Hanya butuh beberapa menit Dilla sudah mengganti pakaian. Dilla Ingin menutup kembali pintu lemari karena sudah selesai. 


Tapi Dilla mengurungkan niatnya saat tidak sengaja melihat gaun yang pernah dia beli dulu bersama Jelita.  Gaun itu masih terbungkus cantik di dalam plastik di pojokan lemari. Tiba-tiba Dilla ingin melihat seseorang memakai gaun itu. Dilla mengambil gaun itu dan membuka kantong plastiknya.


"Omy, Omy cedang apa?" tanya Rio yang baru masuk.


Rio mendekati Dilla yang masih berada di pintu lemari. Dilla menutup pintu lemari dengan gaun sudah ada di lengannya. Kemudian mata Dilla berfokus antara Rio dan baju yang dia pegang.


'Tidak ada rotan, akar pun jadi,' batin Dilla. 


"Rio sayang, Rio mau membantu Mama tidak?" tanya Dilla basa basi 


"Antu apa Omy?' tanya Rio balik.


"Apa Rio mau memakai baju ini," tawar Dilla menunjukkan gaun itu. 


"Ndak mau Omy. Liyo ndak cuta. Tu tan baju anak peyempuwan. Liyo tan anak lati-lati Omy," tolak Rio. 


"Tapi Mama ingin lihat orang pakai baju ini sayang. Rio mau ya. Rio kan anak baik," bujuk Dilla.


"Ndak mau!" teriak Rio keras.


Rio segera berlari ke bawah dengan cepat. Rio tidak mau memakai baju perempuan. Bagi Rio tidak keren sama sekali pakai baju perempuan. 


"Rio jangan lari-lari di tangga sayang. Nanti Rio bisa jatuh," kata Ryan dengan menangkap Rio yang berada di ujung tangga 


Ryan menurunkan Rio kembali. Di sana yang tidak ada Aditya dan Rita yang sudah pergi ke undangan teman mereka.


"Itu Pa, Omy… Omy…." kata Rio dengan suara kehabisan nafas.


"Mama kenapa Rio?" tanya Ryan takut terjadi sesuatu sama Dilla.


"Omy…."


"Rio jangan berlari-lari. Sudah berapa kali Mama bilang," kata Dilla yang sudah ada di lantai satu.


Dilla turun menggunakan lift. Dilla datang dengan gaun masih ada di lengan Dilla. Mereka menoleh ke arah Dilla yang mendekat.


Rio segera bersembunyi di belakang paha Ryan. Ryan menatap aneh ke arah Rio. Ryan yakin jika ada sesuatu yang Rio takutkan dari Dilla. 


'Pasti Dilla mau sesuatu yang aneh. Anaknya saja dibuat takut.'


"Sayang, kenapa Rio tadi berlari-lari meneriakkan nama kamu?" tanya Ryan.


"Ini Mas, Dilla hanya ingin melihat Rio memakai gaun ini," jawab Dilla.


"Hanya?" tanya Ryan menaikan sebelah alisnya.


"Iya Mas, Dilla tahu. Dilla masih muda, belum pikun. Dilla hanya ingin ada orang yang memakai baju ini," ucap Dilla.


"Kenapa kemarin tidak suruh Lala pakai saja?"


"Dilla lupa Mas. Dilla baru tadi menemukan gaun ini."


"Sepertinya Rio tidak mau sayang," bujuk Ryan kasihan sama Rio. 


"Iya Omy, Liyo ndak mau patai," sahut Rio menggelengkan kepala.


Dilla kecewa dengan jawaban Rio. Kemudian mata Dilla terarah ke arah Reza dan Rafa. Dilla kembali tersenyum.


"Sayang…." 


"Sepertinya Reza masih ada PR yang belum kerjakan semalam. Reza lupa. Pa, Ma, Reza pamit mau buat tugas dulu ya," pamit Reza dengan cepat lari dari sana. 


Melihat Reza lari, kemudian Dilla beralih kepada Rafa.


"...." 


"Rafa juga baru ingat, jika Rafa belum membereskan kamar tadi setelah bermain. Rafa mau membereskan kamar juga," ujar Rafa sebelum Dilla berbicara.


 Reza dan Rafa sama-sama tidak mau disuruh pakai gaun itu. Mereka yang menyadari lebih dulu makanya segera kabur. Padahal mereka sudah selesai buat tugas dan tidak main di kamar.


Karena Reza dan Rafa sudah kabur, Dilla berharap lagi kepada Rio. Hanya Rio yang ada di sana.


"Rio sayang," panggil Dilla berharap. 


"Ndak mau Omy," tolak Rio membuang muka. 


"Sayang mau ya," pinta Dilla lagi. 


"Ndak mau Ony. Liyo ndak cuta," tolak Rio kesekian kali.


"Kalau tidak bisa ya sudah," jawab Dilla pura-pura bersedih.


"Sekarang tidak ada yang sayang sama Mama. Tidak ada yang mau membantu Mama. Mama sangat sedih. Mama mau menangis huhuhu," ujar Dilla dengan mengeluarkan air mata buaya. 


Dilla sengaja berpura-pura menangis untuk menarik perhatian Rio. Dilla bahkan sengaja duduk memeluk tangga supaya lebih terlihat kasihan. Dilla yakin jika Rio tidak akan tega melihat dia menangis.


"Omy angan cedih. Liyo adi menanis uga," ujar Rio yang ikut mengeluarkan air mata.


"Bagaimana Mama tidak menangis hiks hiks. Tidak ada lagi yang peduli sama Mama. Tidak ada lagi yang sayang sama adik ini nanti hiks hiks," isak menangis pura-pura Dilla dengan mengelus perut.


Rio tidak lagi bersembunyi di belakang Ryan. Rio mendekat ke arah Dilla. Rio memeluk Dila dengan erat.


"Omy… Omy angan menanis. Liyo… Liyo cayang Omy dan adik Liyo hiks hiks," sahut Rio dengan menangis.


Ryan, Jelita dan Dafa geleng-geleng kepala. Rio dengan mudah terjebak jebakan Dilla. Padahal akting Dilla jauh dari kata bagus. 


Reza dan Rafa bersyukur mereka lari. Mereka masih bersembunyi di balik tembok melihat Dilla dan lainnya. Mereka tidak yakin bisa menolak lagi permintaan Dilla jika sudah susah payah pura-pura akting. Sekali lihat mereka tahu jika Dilla sedang berbohong.


"Rio tidak sayang lagi sama Mama. Rio tidak mau menuruti permintaan Mama hiks hiks."


"Liyo… Liyo…."


Liyo bingung mau pilih yang mana. Tapi Rio tidak mau Dilla bersedih.


"Sudah, jika tidak ada yabg sayang lagi sama Mama, Mama mau pergi saja," kata Dilla mencoba berdiri.


"Omy angan peldi ya. Liyo atan patai baju na," jawab Rio memegang kedua pipi Dilla.


"Rio tidak bohong sama Mama?" tanya Dilla memastikan.


"Liyo ndak boong cama Omy. Liyo cayang Omy," ucap Rio memeluk Dilla kembali.


Dilla senang akhirnya Rio mau menyetujuinya. Semua sesuai dugaan Dilla.


Bersambung….