
Maaf sebelumnya, karena ada yang kasih saran maka Rio tetap panggil Dilla Omy dan Dilla panggil Ryan Mas ya.
Terima kasih sarannya.
***
"Aduuuhhh…."
"Suara apa itu?" tanya Dilla pada Ryan.
Ryan dan Dilla saling menatap beberapa detik, kemudian tatapan mereka berdua berubah menjadi tatapan seperti melihat hantu. Mereka segera beralih menatap ke arah koper kembali.
Mereka takut jika apa yang mereka bayangkan memang benar-benar terjadi. Dilla segera mendekat ke arah koper itu dengan tangan gemetar. Dilla mulai membuka resleting koper itu dengan pelan-pelan. Dilla berdoa apa yang dia pikirkan itu tidak terjadi.
Dilla membuka koper, ternyata benar jika Rio bersembunyi di dalam koper. Dilla terjatuh terduduk dengan lemas dari jongkok nya.
***
Sekarang kita kembali ke vila di tempat syukuran Dilla dan Ryan dilaksanakan.
"Bagaimana dengan Rio? apakah dia masih tidur?" tanya Rita.
Saat ini semuanya sudah berkumpul untuk makan malam tetapi hanya Rio yang tidak hadir di sana. Di sana masih ada paman dan bibi Dilla beserta dua sepupu Dilla.
"Sepertinya Rio masih ngambek karena tidak diizinkan ikut sama Ryan dan Dilla," jawab Jelita.
"Tapi kita juga tidak mungkin membiarkan mereka membawa Rio untuk pergi. Mereka pasti butuh waktu berdua," ujar Rita.
"Padahal Reza juga ingin ikut pergi sama Papa dan Mama," sahut Reza dengan cemberut.
Rita menggelengkan kepalanya, ternyata Reza juga masih cemburu tidak diajak pergi.
"Setelah Papa dan Mama pulang kalian masih bisa pergi bersama," bujuk Rita lagi.
"Tapi maunya sekarang Nek," ujar Reza.
"Nanti kalau mereka sudah pulang kalian bisa main sepuasnya sama Mama," hibur Rita.
Reza masih saja cemberut kalau membahas masalah Ryan dan Dillla pergi.
"Sudah sudah, kita akan segera mulai makan malam," lerai Aditya.
"Biar Jelita yang membangunkan Rio saja," ujar jelita.
"Terima kasih," ucap Rita.
Jelita menganggukkan kepalanya pelan dan segera menuju ke kamar Rio. Dengan pelan-pelan Jelita membukakan pintu kamar yang ditempati sama Rio. Jelita menatap gundukan yang ditutup oleh selimut. Jelita mendekati kasur itu dan duduk disamping gundukan itu.
"Rio, sekarang sudah malam. Ayo kita makan malam," ujar Jeliita.
Beberapa detik menunggu Jelita tidak mendapat respon dari Rio.
"Rio," panggil Jelita lagi.
"Tante tahu jika Rio masih ngambek karena tidak bisa ikut sama Papa dan Mama. Nanti kalau mereka sudah pulang Rio bisa bermain sepuasnya sama Papa dan juga Mama ya."
Jelita juga tidak mendapat respon dari Rio.
"Rio," panggil Jelita lagi sambil mencoba menepuk gundukan itu.
Jelita mengernyitkan alisnya, seharusnya saat menepuk orang ada rasa padat tapi dia tidak merasakan seperti itu. Jelita seperti menepuk bantal yang lembut bukan tubuh orang l. Jelita menyingkapkan selimut itu, ternyata dalam selimut adalah berisikan dengan bantal guling.
"Rio, Rio kamu di mana," panggil Jelita.
"Rio, Rio, Rio."
Jelita mencoba mencari di balkon kamar mandi bahkan juga dalam lemari. Jelita pikir Rio sedang bersembunyi karena masih marah. Karena masih tidak menemukan Rio di dalam kamar akhirnya Jelita segera ke ruang makan.
"Tante, Om, Jelita tidak menemukan Rio dimanapun di kamarnya," ujar Jelita begitu sampai di ruang makan.
"Apa maksud kamu Jelita?" tanya Aditya.
"Tadi Jelita ingin membangunkan Rio tapi di dalam kamar Rio hanya ada bantal yang ditutupi oleh selimut. Jelita pikir itu adalah Rio yang sedang tertidur tetapi bukan," jelas Jelita.
"Apa? kok bisa," tanya Rita tak percaya.
"Saya juga tidak tahu Om,"jawab Jelita menggelengkan kepala.
"Mungkin saja Rio pergi menyusul Papa dan Mamanya," ujar Budi tiba-tiba.
Mereka kaget mendengar pernyataan Budi atau lebih tepatnya horor membayangkan bjika hal itu terjadi. Mereka tidak akan sanggup membayangkan jika Rio beneran pergi sendiri untuk mencari Ryan dan Dilla. Mereka yakin jika Rio tidak tahu tempat Dilla dan Ryan pergi.
"Budi, kamu jangan bicara sembarangan. Jangan membuat yang yang lainnya tambah khawatir, mungkin saja Rio ada di sekitar sini," tegur Abdul.
"Maaf Ayah, Budi hanya menduga saja. Soalnya kemarin Texa, Rafa dan Rio nekat pergi mencari Mbak Dilla ke kampung kita. Siapa tahu aja Rio juga pergi mencari Papa dan Mamanya," terang Budi dengan pendapatnya.
"Bagaimana ini jika Perkataan Budi bener. Rio kemarin pergi adanya Rafa dan juga Reza yang tau arah jalan. Sekarang dia pergi sendiri tanpa teman dan alamat," kata Rita.
Rita dan Jelita kini mata tajam ke arah Rafa dan Reza.
"Ini adalah ulah kalian berdua. Coba kalian tidak mengajak Rio nekat kabur kemarin, pasti Rio tidak akan kepikiran buat kabur lagi," ucap Jelita dengan menahan amarah.
Reza dan Rafa memang harus diberi teguran keras biar mereka jadi anak lebih baik.
"Jelita kamu jangan begitu, bagaimanapun Rafa dan Reza juga masih kecil," bela Dafa.
Jelita menghilangkan nafas supaya tidak terbawa emosi.
"Maafkan Mommy jika Mommy membuat kalian takut," kata Jelita menyesal.
"Sudah-sudah sekarang sebaiknya kita mencari Rio di sekitar villa saja, siapa tahu Rio lagi bermain," ujar Aditya menenangkan perdebatan yang tidak jelas.
"Iya, sebaiknya kita mencari Rio terlebih dahulu," sahut Dafa.
Mereka mulai mencari Rio sekitar villa.
"Rio," panggil mereka semua.
Mereka menyebar untuk mencari Rio, setengah jam pun berlalu tapi mereka tidak menemukan Rio.
"Bagaimana apakah kalian semua menemukan Rio?" tanya Rita.
"Ma, Papa tidak menemukan Rio dimanapun."
"Dafa juga tidak menemukan Rio."
"Kami juga tidak menemukan mereka Bu. Kami tadi sudah mencari ke halaman depan."
"Terus bagaimana ini."
"Sepertinya Rio memang mencari Mama dan Papa," beritahu Reza.
Rita segera duduk di kursi karena kakinya sudah sangat lemas membayangkan Rio nekat pergi sendiri.
"Bagaimana Rio nekat pergi sendiri, dia masih sangat kecil," Rita mulai menangis.
Aditya mencoba menenangkan Rita supaya tidak menangis.
"Apa sebaiknya kita mengabari hal ini pada Dila dan Ryan. Bagaimanapun mereka orang tuanya, mereka berhak tahu," kata Abdul.
"Tapi mereka saat ini pasti belum sampai tempat tujuan. Mereka pasti masih di perjalanan," ujar Jelita.
"Sebaiknya kita cari saja Rio di sekitar jalan di villa ini. Dafa akan mencoba mencari dia di sekitar dan bertanya pada warga. Siapa tau ada warga yang melihatnya," kata Dafa dengan idenya.
"Dafa aku ikut dengan kamu," pinta Jelita.
"Tante, Reza juga mau ikut mencari Rio," ujar Reza.
"Rafa juga mau ikut."
"Kalian sebaiknya di rumah saja temani Nenek," saran Rita.
Reza dan Rafa mengantuk patuh.
***
Jelita dan Dafa pergi dari sana menggunakan Mobil. Mereka memutuskan untuk mencari Rio di sepanjang jalan dan sekali-kali berhenti untuk bertanya pada warga.
Bersambung....