Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 109. Terguncang



Tolong jangan lupa like setiap bab ya. Coba cek yang tertinggal. Terima kasih.


***


Ryan segera berlari cepat ke arah Rio yang sudah tergeletak. Ryan memangku Rio yang melemah. Kepala Rio mengeluarkan darah.


"Rio sayang ayo bangun Nak, ini Papa," panggil Ryan khawatir.


"Omy Omy," kata Rio lirih.


Disela-sela kesadaran Rio yang terakhir, dia masih bisa menyebutkan Mommy. Setelah mengucapkan Omy beberapa kali Rio tidak sadarkan diri. 


"Sayang ayo bangun," Ryan menepuk kecil pipi Rio.


"Ryan cepat kamu angkat Rio dan kamu bawa dia sekarang ke rumah sakit," perintah Dafa.


Ryan kembali tersadar dan mengangkat Rio dengan terburu-buru. Semua mengikuti langkah Ryan. 


"Biar aku yang menyetir," ujar Dafa.


Ryan menganggukkan kepala. Ryan, Rita dan Aditya segera masuk ke mobil. Sedangkan Jelita tidak ikut karena ingin menjaga Reza dan Rafa yang sudah menangis histeris.


***


Ryan langsung berlari saat mobil sudah berhenti. 


"Dokter tolong anak saya!" teriak Ryan.


Para Perawat segera mengambil alih tubuh Rio dan membawa Rio ke UGD. Dokter yang bertugas menyusul para Perawat.


"Ryan bagaimana dengan Rio?" tanya Rita.


"Rio, sudah dibawa ke ruang UGD Ma," jawab Ryan.


"Seharusnya kamu tidak mengatakan hal itu kepada Rio. Bagaimanapun Rio masih sangat kecil, jadi dia butuh waktu untuk melupakan Dilla," ucap Aditya.


"Tapi Pa, mereka harus bisa melupakan dia, karena dia tidak akan pernah kembali lagi ke sini. Jika Ryan bisa mencegah dia pergi maka akan Ryan lakukan Pa. Tapi hal itu tidak mungkin Pa. Kalian kan juga tahu kalau dia akan segera menikah," sahut Ryan.


"Papa tahu jika Dilla akan segera menikah dan Reza dan Rio pasti akan sulit menerima hal itu. Karena mereka sudah sangat dekat sama Dilla jadi kita harus bisa membujuk mereka agar bisa merelakan Dila sedikit demi sedikit, tidak dengan cara kamu yang seperti ini Ryan," balas Aditya.


"Bagaimana caranya Pa? mereka pasti tidak akan mendengarkan perkataan kita." 


"Sudah sudah jangan ribut lagi, sekarang Rio masih diperiksa di dalam. Lebih baik kita berdoa saja," Rita meleraikan Ryan dan Aditya.


Ryan yang merasa tidak becus jadi seorang Ayah memukul tembok yang ada di sampingnya. Dia merasa menjadi Ayah yang gagal dan bersalah. Dia tidak mau kehilangan anaknya.


Rita, Dafa dan Aditya hanya melihat Ryan yang memukul tembok. Mereka tidak mencegah Ryan yang meluapkan emosinya pada tembok. Buat apa mereka mencegah jika semua ini kesalahan Ryan sendiri. Yang kasihan adalah tembok yang tidak salah apapun jadi korban tinju Ryan.


Beberapa saat kemudian Dokter keluar dari UGD. 


"Dok, bagaimana dengan keadaan anak saya Dokter?" tanya Ryan. 


"Keadaan anak Bapak baik-baik saja. Untung Bapak cepat membawa dia ke sini, kalau tidak bisa hal yang buruk menimpa anak Bapak. Sekarang dia sudah bisa melewati keadaan kritis," ujar Dokter.


Mereka semua merasa lega karena keadaan Rio baik-baik saja.


"Tapi kondisi fisiknya tidak sama dengan keadaan jiwanya. Sepertinya ada hal yang dia pikirkan sehingga menjadi beban pikirannya. Sebaiknya anak Bapak tidak memikirkan hal yang berat, yang bisa membuat dia terlalu banyak pikiran. Karena hal itu bisa mengganggu perkembangan pertumbuhan anak Bapak," saran Dokter. 


Dokter dan Perawat segera pergi dari sana setelah memberikan sedikit arahan kepada Ryan. Ryan merasa terpukul dengan perkataan Dokter, dia tidak tahu kalau anaknya bisa sampai seperti itu. Rita hanya bisa mengelus bahu anaknya supaya anaknya bisa tegar.


Para Perawat mendorong ranjang tidur yang ditempati oleh Rio. Mereka mengikuti para Perawat tersebut dalam diam.


***


Rio baru sadar pada keesokan harinya. Nama atau kata pertama yang disebutkan oleh Rio adalah nama Dilla.


"Omy," panggil Rio lemah.


Ryan yang melihat Rio sadar segera mendekati Rio. Dia memegang tangan Rio dan mengelusnya. 


"Sayang kamu sudah bangun. Mana yang sakit," ujar Ryan.


"Omy," ujar Rio lagi.


"Sayang ini Papa," kata Ryan dengan air mata yang keluar.


Ryan melihat di mata Rio yang tidak ada tanda kehidupan. Ryan sangat cemas dengan keadaan jiwa anaknya seperti yang telah dikatakan oleh Dokter. Sekarang dia tidak tahu harus melakukan apa lagi, tidak mungkin dia untuk membujuk Dilla untuk kembali merawat kedua anaknya.


 "Omy Omy angan ingalin Liyo," ujar Rio menatap ke atas. 


Ryan melambaikan tangannya di atas mata Rio, tapi Rio sama sekali tidak merespon. Ryan semakin panik, dia tidak mau apa yang diprediksi Dokter beneran terjadi.


Ryan menekan tombol darurat untuk memanggil Dokter. Ryan menekankannya beberapa kali berharap Dokter segera datang.


"Omy Omy."


Beberapa saat kemudian Dokter datang berbarengan sama Rita. Dokter segera memeriksa keadaan Rio.


"Ryan, apa yang terjadi sama Rio?" tanya Rita cemas melihat Ryan yang panik.


"Omy Omy, Liyo mau cama Omy."


"Ryan tidak tau Ma, Rio dari tadi hanya mengatakan Omy."


"Keadaan fisik anak Bapak sudah membaik, tapi seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, jiwa anak Bapak sedang terguncang. Dari perkataan anak Bapak, sepertinya dia ingin menemui Ibunya. Lebih baik Bapak membawa istri Bapak ke sini."


"Omy yang anak saya sebutkan bukan istri saya Dokter. Istri saya sudah meninggal saat anak saya lahir. Dia adalah pengasuh mereka," jawab Ryan.


"Kalau begitu Bapak bisa membawa dia kesini. Hanya dia yang bisa menenangkan anak Bapak."


"Itu tidak mungkin Dokter, dia sudah pulang kampung dan akan segera menikah."


"Kalau Bapak tidak bisa membawa dia, berarti Bapak harus bersiap saat anak Bapak dibawa ke psikolog."


"Apa maksud Dokter, Dokter jangan bicara sembarangan," ujar Ryan marah.


Dia tidak terima jika anaknya dibawa ke psikolog. Ryan mencengkram jas Dokter.


"Ryan lepas, apa yang kamu lakukan," tegur Rita.


Rita mencoba melepaskan tangan Ryan. Rita tidak mau anaknya berbuat masalah di rumah sakit.


"Jika kamu tidak melepaskan Dokter nanti Rio bisa di usir dari rumah sakit."


Ryan melepaskan cengkraman, Dia tidak mau membuat masalah baru. Dokter membenarkan jasnya kembali.


"Omy omy," teriak Rio sambil berontak.


Dokter dan lainnya mendekati Rio. Dokter kembali memeriksa keadaan Rio. Dia mengambil suntikan dan ingin menyuntik ke cairan infus Rio.


"Apa yang Dokter lakukan?" tanya Ryan.


Ryan mencegah tangan Dokter. 


"Maaf Pak, anak Bapak harus diberikan obat penenang karena anak Bapak terus saja berontak dan berteriak-teriak."


"Apa Dokter tidak punya pilihan lain?" 


Rita dan Ryan terkejut saat Rio harus diberikan coba penenang.


"Maaf Pak, saya tidak punya pilihan lain. Jika anak Bapak tidak segera diberikan obat penenang makan kondisi anak Bapak bisa lebih parah lagi."


Dokter segera menyuntikkan obat itu ke selang infus. Rita hanya menangis melihat kejadian itu. Ryan mengepalkan kedua tangannya.


"Sekali lagi saya sarankan sama


Bapak, bawa pengasuh itu atau anak Bapak akan bertambah parah. Untuk kemungkinan terburuk, Bapak bisa saja kehilangan keceriaan anak Bapak atau anak Bapak sendiri."


Setelah kepergian Dokter, Rita menangis tersedu-sedu di pelukan Ryan. Ryan mengelus Ibunya sambil memikirkan perkataan Dokter. sekarang dia sudah tidak punya pilihan lain.


Bersambung....