Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 179. Hasil part 2



Jangan lupa like dan komentar ya. Tinggalkan jejak kalian. Serta follow saya juga. Terima kasih.


Selamat membaca.


***


"Jadi, apakah kamu masih mencintai aku?" tanya Daniel setelah berdiam cukup lama. 


Bella kembali tersentak mendengar pertanyaan Daniel. Bella menatap ujung kuku kaki dia.


"Bella?"


"...."


"Asal kamu tahu Bella. Kamu adalah cinta pertama aku. Aku berharap kamu juga yang akan menjadi cinta terakhir aku."


Bella menatap keseriusan di mata Daniel. Tetapi Bella tidak mau jika masa lalu terulang kembali. Bella sudah cukup terluka. 


Dulu kedua orang tua Daniel telah memutuskan beasiswa yang dia peroleh. Bella mati-matian kerja buat menghasilkan uang untuk biaya kuliah. Tapi kedua orang tua Daniel malah membuat Bella dipecat. Tidak hanya itu, kedua orang tua Daniel membuat Bella tidak diterima kerja di manapun. Akhirnya Bella memutuskan pulang ke kampung.


"Maaf Daniel, aku tidak bisa. Sebaiknya kamu pulang saja." 


"Aku mohon Bella. Tolong beri aku kesempatan sekali saja," mohon Daniel.


"Aku tetap tidak bisa Daniel. Aku tidak mau kedua orang tua kamu mengganggu kehidupan aku lagi. Orang tua kamu tidak akan setuju dengan hubungan kita."


"Jadi kamu masih mencintai aku?" tanya Daniel menarik kesimpulan dari perkataan Bella.


Bella menghela nafas. Bella hanya ingin hidup tentram. 


"Memang benar jika aku masih mencintai kamu. Dari dulu sampai sekarang. Saat aku menikah sama suami aku, aku masih memiliki perasaan sama kamu."


"Kalau kamu memang mencintai aku, kenapa kamu mau menikah sama almarhum suami kamu?" potong Daniel dengan cepat.


"Dia yang selama ini membantu aku dan ibu aku dulu. Dia yang terus berjuang untuk aku dan ibuku, tidak ada alasan lagi aku menolak lamaran dia. Apa yang bisa aku harapkan sama cinta. Cintalah yang merusak kehidupan ku sendiri."


Daniel meremas genggaman dengan kuat. Daniel tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Bella. Seandainya dulu jika kedua orang tua Daniel tidak mengganggu Bella pasti kehidupan Bella tidak seperti sekarang. Bella bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak.


"Jadi kamu mau memberi aku kesempatan?"


"Aku tetap tidak bisa menerima kamu Daniel. Aku tidak mau jika orang tua kamu menyentuh Lala. Lala adalah segalanya bagi aku." 


Daniel mencoba mendekati Bella. Daniel berlutut di depan Bella.


"Bella, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menerima aku. Sudah cukup selama ini aku menderita memendam perasaan aku kepada kamu. Kehidupan aku tidak pernah bahagia. Orang tua aku sering memaksa aku ini dan itu, termasuk menikahi mantan istri aku. Hanya Sam satu-satunya harta yang berharga bagi aku, sama seperti kamu menyayangi anak kamu. Aku mohon, beri aku kesempatan Bella."


Bella tersentuh dengan perkataan Daniel. Ternyata mereka selama ini sama-sama menderita. Bella masih terlalu berat untuk menerima Daniel. Dia dan Daniel berasal dari keluarga yang berbeda. Andai saja mereka sama-sama orang biasa, Bella pasti mudah menerima Daniel.


"Bella," panggil Daniel dengan menggenggam kedua tangan Bella.


"Bella, please. Beri kesempatan sekali buat aku. Tolong jadi ibu buat Sam dan aku menjadi ayah buat Lala. Mari kita lengkapi apa yang kita butuhkan." 


"Apa maksud kamu?" tanya Bella. 


"Aku tahu, aku tahu jika selama ini Lala  sering diejek karena tidak mempunyai ayah. Aku janji akan menerima Lala sebagai anak aku, sama seperti Sam. Aku memang bukan ayah yang baik buat Sam. Selama ini, aku sering mengabaikan Sam. Tetapi apa yang dia inginkan pasti aku turuti. Mari kita bahagia bersama."


"Tapi…."


"Ku mohon, percaya sama aku. Aku pasti akan melakukan yang terbaik. Jika yang kamu khawatirkan tentang kedua orang tuaku, aku akan tetap memperjuangkan kamu apapun yang terjadi. Jika nanti mereka tetap tidak menerima kamu, aku tetap akan memilih kamu." 


"Tapi mereka adalah kedua orang tua kamu. Kamu tidak bisa begitu." 


"Mereka adalah kedua orang tuaku. Seharusnya mereka ingin anaknya bahagia bukan mempertahankan keegoisan mereka. Sekarang kebahagiaan aku tepat berada di depan mataku," yakini Daniel kepada Bella.


Pertahanan Bella mulai runtuh melihat sikap Daniel. 


Daniel tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan untuk membujuk Bella. Jika Daniel pulang tanpa hasil, Daniel tidak yakin ada kesempatan kedua lagi. 


Bella menghapus air mata yang keluar dari mata Daniel. Daniel terkejut dan menatap  kembali ke arah Bella. 


"Aku juga ingin bahagia. Kumohon tolong jaga aku dan anakku," akhirnya Bella mengambil keputusan.


Bella tidak tega melihat Daniel dan dia yang sama-sama terluka. 


"Terima kasih, terima kasih Bella," kata Daniel.


Daniel meraih kedua tangan Bella dan menciumnya berapa kali. Kemudian Daniel memeluk Bella dengan erat. 


Bella menepuk bahu Daniel dengan air mata yang juga keluar. Tangisan Bella adalah tangisan kebahagiaan. Bella dapat merasakan hatinya kini yang ringan, seolah ada beban berat yang terangkat.


Daniel melepaskan pelukannya. 


"Aku janji, air mata yang keluar hari ini tidak akan pernah keluar lagi. Kecuali saat kamu bahagia seperti aku bahagia sekarang," Daniel tersenyum, senyuman yang jarang Daniel perlihatkan sama orang-orang.


***


Setelah Daniel dan Bella selesai bicara, mereka keluar untuk menemui Dilla dan lainnya. 


Dilla yang melihat mereka berdua selesai bicara mendekati Daniel dan Bella. Dilihat dari raut wajah mereka berdua, Dilla sudah tau bagaimana hasilnya. 


"Bagaimana Tuan? apa semuanya lancar?" tanya Dilla basa-basi.


Daniel tersenyum merekah dan memeluk bahu Bella. 


"Semuanya berjalan lancar. Bella mau memberikan satu kesempatan bagi aku," ujar Daniel bangga. 


"Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada kamu Dilla. Kamu telah membantu saya," sambung Daniel. 


"Sama-sama Tuan. Dilla  senang jika Tuan juga bahagia," sahut Dilla dengan tulus.


"Saya juga mengucapkan terima kasih atas bantuan kamu Dilla." 


"Sama-sama Mbak. Tapi Mbak, apa boleh saya pinjam kamar mandi. Saya mau buang air kecil," pinta Dilla.


Dilla sudah dari tadi menahan hasrat buat buang air kecil. Dilla tidak berani mengganggu Daniel yang sedang berbicara. 


"Iya Dilla. Ayo ikut saya," ajak Bella.


"Tuan, titip Rio sebentar ya. Rio di sini saja ya. Mama mau ke kamar mandi," kata Dilla.


"Oteh Omy," sahut Rio.


Dilla dengan buru-buru mengikuti Bella ke kamar mandi. Setelah Dilla selesai dari kamar mandi, Dilla kembali lagi ke teras rumah.


Ketika Dilla tiba di teras rumah, Dilla melihat Ryan dan Daniel yang sedang bertengkar. Lebih tepatnya, Ryan yang sedang memukul Daniel. 


"Ryan berhenti," teriak Dilla.


Bersambung….


Maaf jika pada bab ini terasa muter-muter tidak jelas. Sudah saya usahakan untuk menjelaskan sebaik mungkin tapi saya rasa masih saja bukan yang terbaik. Semoga kalian mengerti jalan ceritanya.


Silahkan komentar di bawah untuk saran perbaikan ya.


Btw, GC saya lagi ada pembersihan akun yang tidak aktif. Jadi silahkan gabung lagi jika ada yang terkenal pembersihan. Cukup tinggalkan komentar kalian di karya saya ya. Yang belum gabung, silahkan bergabung.


Rekomendasi novel karya teman saya buat kalian sambil nunggu up.