
Saat waktu menunjukkan pukul tigapagi dini hari, Dilla terbangun. Dilla yang tidak bisa lagi tidur memutuskan untuk keluar dari kamar. Dilla berjalan menuju ke arah jendela, Dilla ingin melihat apakah ada orang yang masih terjaga atau tidak ada. Di luar rumah sana masih ada beberapa penjaga yang masih berkeliaran.
"Apa segitunya Daniel tidak mau aku pergi. Itu para penjaga dari semalam tidak tidur kah? Apa mereka tidak lelah ya," guman Dilla.
Dilla kembali melangkah meneliti lagi rumah itu.
"Dilla," panggil Gio.
Dila berbalik arah melihat Gio yang datang menghampiri dia.
"Iya Tuan," sahut Dilla.
"Apa kita bisa bicara sebentar. Kebetulan kamu sudah bangun. Saya sudah mendapat informasi tentang Bella," ujar Gio.
"Bella itu siapa?" tanya Dilla tidak kenal.
"Bella itu adalah perempuan yang disukai oleh daneil yang kita bahas semalam," ucap Gio.
"Kenapa Tuan Gio tidak bilang. Kan Dilla tidak tahu siapa namanya."
"Sebaiknya kita jangan bicara di sini. Kita bicara di tempat yang lebih aman saja supaya tidak didengar oleh orang lain."
Mereka berbicara di pojok ruangan yang sedikit jauh dari kamar Daniel dan juga Sam.
"Jadi bagaimana?" tanya Dilla antusias.
Gio menyerahkan map yang dia pegang.
"Lebih baik kamu baca sendiri," suruh Gio.
Dilla menerima amplop itu dan membukanya.
"Bella, usia tiga puluh satu tahun. Janda satu orang anak. Suaminya meninggal saat Bella sedang mengandung dua bulan karena kecelakaan. Anak perempuan Bella berusia dua tahun. Mereka tinggal di daerah perkampungan," guman Dilla membaca data yang diberikan oleh Gio.
"Bukankah tempat ini tidak terlalu jauh?" tanya Dilla.
"Iya, tempat itu memang tidak terlalu jauh dari sini."
"Saya tidak menyangka jika Bella sudah ditinggal pergi oleh suaminya. Bukannya aku tidak kasihan sama Bella, tapi ini adalah berita Bagus. Artinya tuan Daniel memiliki peluang untuk bersama dengan Bella."
"Tpi bagaimana kita menyatukan Daniel. Daniel keras kepala seperti batu."
"Apa kepala dia kita hantam pakai batu juga ya. Biar seimbang," canda Dilla.
"Kenapa tidak pakai palu sekalian."
Dilla terkekeh dengan candaan sendiri. Dilla mukai berfokus memikirkan bagaimana cara menyatukan Bella dan Daniel. Dilla melihat karakter Daniel yang keras kepala hanya mau luluh sama kemauan Sam saja.
"Dilla punya ide," ucap Dilla.
"Apa itu?" tanya Gio.
"Selama ini apa yang diminta Sam pasti akan Daniel turuti. Jadi bagaimana kalau kita membujuk Sam dulu. Kalau Sam sudah mau, nanti membuju Daniel pasti lebih mudah," usul Dilla.
"Bagaimana kita membujuk Sam lagi."
"Urusan Sam serahkan saja pada saya."
"Baiklah kalau begitu. Semoga rencana kamu bisa berhasil," ucap Gio.
"Kalian berdua sedang apa pagi-pagi buta main di pojokan?" tanya Daniel yang baru datang.
Gio dan Dilla terkejut. Dilla segera menjatuhkan map yang dia pegang ke bawah kursi agar tidak dilihat oleh Daniel. Jika Daniel tahu mungkin hal ini tidak berjalan dengan lancar.
"Pagi Daniel," sapa Gio.
Daniel tidak membalas sapaan Gio. Daniel masih menatap Gio dan Dilla dengan tatapan curiga.
"Tuan, tadi Dilla hanya menanyakan apa makanan kesukaan Sam," jawab Dilla berbohong.
"Oh," respon Daniel.
Daniel yang tidak curiga sama mereka lagi meninggalkan mereka berdua. Daniel memilih kembali lagi di kamar untuk bersiap-siap pergi ke kantor.
Dilla dan Gio lega karena Daniel pergi begitu saja.
***
Daniel, Dilla dan Sam baru saja makan sarapan pagi. Ketika Daniel ingin pergi ke kantor tidak sengaja Daniel menabrak pelayan yang membawa makanan. Makanan itu mengotori jas milik Daniel.
"Kalau jalan yang benar dan hati-hati," tegur Daniel.
"Maaf tuan. Saya tidak sengaja. Saya tidak melihat Tuan tadi," ujar pembantu itu dengan ketakutan.
Daniel melihat lengan jas dia yang kotor.
"Kamu tidak tahu ya. Aku hari ini ada rapat penting. Sekarang jas aku sudah kotor. Kamu membuang-buang waktu aku untuk kembali mengambil jas baru," marah Daniel.
Dilla segera bangkit dan membantu pembantu itu untuk berdiri karena tadi terjatuh dan tidak berani bangun.
"Tuan Daniel, tadi bibi tidak sengaja. Lagian jas Tuan yang kotor hanya sedikit. Disapu juga bersih," ujar Dilla.
"Lebih baik Tuan sapu saja pakai sapu tangan ini," kata Dilla sambil menyerahkan saputangan yang sering dia pakai.
"Tuan, kita harus segera berangkat. Kalau tidak kita bisa terlambat," ujar Gio.
Daniel yang buru-buru mengambil sapu tangan itu untuk membersihkan lengan baju yang kotor sambil berjalan. Kemudian Daniel memasukkan sapu tangan itu ke dalam kantung celana dia.
"Sudah Bi. Sudah tidak apa-apa. Biar Dilla yang bantu bereskan."
"Tidak usah non. Biar Bibi saja non. Di sini non adalah tamu."
Pembantu itu segera mengambil pecahan piring yang pecah.
"Mommy ayo kita pergi main," ajak Sam.
Sam segera menarik tangan Dilla. Dilla pasrah saja saat tangan dia ditarik Sam. Hari ini Sam sengaja libur sekolah karena ingin bersama dengan Dilla. Sam lebih senang bersama Dilla daripada dia pergi ke sekolah.
***
Sekarang Sam dan Dilla sedang berada di kamar Sam. Sam ingin bermain robot-robotan.
Dilla mulai memikirkan bagaimana membujuk Sam.
"Mommy, Mommy kenapa dari tadi bengong saja?" tanya Sam.
"Itu Sam... Mommy hanya memikirkan sesuatu."
"Apa yang Mommy pikirkan?" tanya Sam.
"Seandainya jika Sam diberikan adik perempuan yang sudah berusia dua tahun, apa Sam akan suka sama adik itu?" tanya Dilla mulai merayu Sam.
"Adik perempuan?"
"Iya, nanti Sam bisa menjadi abang yang hebat buat adik Sam."
"Sam mau jadi abang. Sam mau punya adik perempuan," jawab Sam dengan bersemangat.
Dilla segera mengeluarkan salah satu foto yang diberikan oleh Gio. Dilla menyerahkan foto anak perempuan Bella yang sedang memegang boneka kusam.
"Nah ini bagaimana, cantik tidak?"
"Iya Mommy cantik," ujar Sam berbinar.
"Tapi Mommy, ini siapa?" tanya Sam.
Dilla menyerahkan lagi foto satu lagi, foto milik Bella.
"Ini namanya tante Bella. Mommy nya gadis kecil ini," ujar Dilla menunjukkan foto Bella.
Sam melihat foto kedua, foto Bella memeluk gadis kecil itu. Sam mengernyitkan alis. Sam sama sekali tidak mengenal perempuan yang ada di foto tersebut.
"Sam ingin mommy baru kan. Ini adalah tante Bella. Jika tante Bella ini bisa menjadi mommy Sam maka Sam juga akan memiliki adik perempuan yang ini."
Sam menatap antara kedua foto itu dan Dilla.
"Sam hanya mau Mommy Dilla saja," sahut Sam dengan membuang kedua foto itu.
Sam memeluk Dilla dengan kuat.
Dilla mengambil kembali ke dua foto itu.
"Tante Bella ini adalah perempuan yang disukai oleh daddy Sam. Apa Sam tidak mau jika daddy bahagia sama tante ini?"
"Maksudnya Mommy?"
"Bukannya Mommy mau menjelekkan mommy Sam, tetapi daddy Sam tidak pernah menyukai mommy Sam. Daddy Sam hanya menyukai tante Bella ini. Jika daddy Sam dengan tante Bella pasti daddy Sam akan bahagia. Sam lihat sendiri, selama ini daddy sibuk sama pekerjaan tanpa memikirkan diri sendiri," ucap Dilla mengelus rambut Sam.
Sam mencerna perkataan Dilla. Sa tahu jika daddy Sam selama ini hanya pura-pura bahagia. Sam tidak pernah melihat sang Daddy tertawa lepas.
Saat ada mommy sam sendiri, Sam bisa melihat jika daddy dia tidak pernah seperti mommy dan daddy yang lain yang selalu bersama. Sam juga ingin sang daddy bahagia.
"Apa jika daddy sama tante ini bersama, apa daddy bisa bahagia?" tanya Sam ragu-ragu.
"Setahu mommy, jika kita bersama orang yang kita sayangi maka kita pasti akan bahagia. Seperti Sam yang menyayangi Mommy Dilla. Apa Sam bahagia bersama Mommy?" pancing Dilla.
Sam menganggukan kepala.
"Begitu pula dengan daddy Sam. Daddy Sam pasti akan bahagia sama tante Bella. Semua ini tergantung sama Sam. Apa Sam itu mau menerima tante Bella sebagai Mommy Sam."
"Sam ingin daddy bahagia juga Mommy."
"Daddy Sam pasti akan bahagia. Mommy yakin, kita semua akan bahagia. Nanti kita bisa pergi bermain bersama, sama Reza dan Rio juga."
Sam terdiam. Bujukan Dilla bisa mempengaruhi Sam.
"Apa nanti tante Bella bisa menyayangi Sama, seperti Mommy saya sama Sam?"
"Mommy percaya dan yakin, jika tante Bella bisa menyayangi Sam juga."
Bersambung….