
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar ya. Like dan komentar kalian sungguh berati buat saya. Terima kasih banyak.
Selamat membaca.
***
"Kenapa Lala?" tanya Sam yang melihat raut wajah Lala cemberut.
"Lala bocan Bang Cam," sahut Lala lesu.
"Kenapa bosan bermain? Kan main robotan seru," ujar Sam tida mengerti.
"Bang Cam, ma-in lobot-lobotan ini anya tuk anak lati-lati. Lala tan anak peyempuwan," kata Lala sebal.
Lala menyerahkan robot itu kembali kepada Sam. Lala sudah dari tadi bosan. Lala hanya memegang robot dengan malas. Lala tidak suka pada benda kaku itu, sama sekali tidak enak dipeluk.
"Betul seperti apa yang dikatakan oleh Lala. Anak perempuan memang tidak suka bermain robot-robotan. Mereka pasti lebih suka bermain sama boneka," ucap Reza.
"Kalau Lala tidak mau bermain robot, jadi Lala mau bermain apa?" tanya Sam setelah mendengarkan perkataan Reza dengan baik.
Lala terdiam. Kemudian Lala melirik kembali pedang yang ada di tangannya. Lala tidak mau jika pedang itu rusak. Makanya Lala tidak mau memainkan pedang itu.
Kemudian mata Lala melihat kepada Rio. Rio sedang bermain bongkar pasang atau puzzle. Lala memperhatikan Rio yang begitu serius mencocokkan satu persatu bagian bongkar pasang.
"Lala mau belma-in cama mais Liyo aja," ucap Lala akhirnya.
Lala mendekati Rio. Lala duduk di depan Rio. Rio tidak melihat Lala karena terlalu serius.
"Mais Liyo, Lala itutan ma-in ya," pinta Lala.
Rio baru melihat ke arah Lala setelah dipanggil. Kemudian Rio melihat lagi ke arah Sam, Reza dan Rafa. Ternyata mereka bertiga memperhatikan Rio dengan tangan memegang robot.
"Lala bocan?" tanya Rio.
"Iya Mais Liyo, Lala bocan ma-in lobot. Ndak celu. Adi boyeh Lala itutan ma-in ya," pinta Lala penuh harap.
"Boyeh. Anti Lala acang di cini ya. Liyo badian ini," ujar Rio mengarahkan Lala.
"Cala ma-in na dimana Mais Liyo," tanya Lala belum paham.
"Ini diacang di cini. Acang yang milip-milip," ujar Rio sambil menyerahkan beberapa potongan bongkar pasang.
"Bedini?" tanya Lala setelah memasangkan satu bagian.
"Butan, butan ditu. Api yang ini cama yang ini. Tan dambal na ocok," kata Rio mengajari Lala.
"Oh ditu," ujar Lala menganggukkan kepala sudah paham.
"Kenapa kamu terusan lihat Rio dan Lala bermain? Apa kamu cemburu?" tanya Rafa iseng.
"Iya, Sam cemburu. Kenapa Lala tidak mau bermain sama aku. Padahal aku ini abangnya Lala," sahut Sam cemberut.
"Siapa juga yang mau bermain sama kamu," ucap Reza.
Sam memberikan tatapan tajam kepada Reza, setajam tikungan. Sam tidak terima apa yang Reza katakan. Sam sudah yakin jika dia sudah menjadi abang yang perhatian.
"Kalian berdua jangan bertengkar," lerai Rafa.
"Aku tidak bertengkar Reza," bantah Reza.
"Lagian Sam, ini semua salah kamu sendiri," ucap Reza.
"Salah?" tanya Sam.
"Iya salah. Seharusnya kamu ajak Lala bermain apa yang disukai oleh Lala. Bukan yang kamu suka."
"Tapi kan, aku tidak tahu apa yang Lala suka," sahut Sam.
"Makanya, kamu harus belajar dari Reza. Reza itu sudah duluan punya adik, sudah senior," ucap Rafa bersikap sok bijak.
"Jadi Reza, bagaimana caranya?" tanya Sam penasaran.
"Sekarang biarkan Lala bermain sama Rio," sahut Reza.
"Tidak mau. Masak Lala harus bermain sama Rio. Lala kan adik Sam, bukan adik Rio," bantah Sam.
"Sam, coba kamu lihat Lala sekarang," suruh Reza sambil menunjuk ke arah Lala dan Rio yang sedang bermain.
Sam melihat ke arah Rio dan Lala. Terlihat sekali kalau Lala senang bermain bersama Rio. Mereka juga sangat kompak.
"Sebenarnya Lala bukan hanya suka bermain sama Rio," ucap Reza.
"Apa maksud kamu?" potong Sam tidak suka.
"Sekarang aku tanya sama kamu. Kamu lebih suka bermain sama aku atau sama Rio?" tanya Reza.
"Tentu lebih seru main sama kamu," sahut Sam cepat.
"Kalau begitu sama juga dengan Lala. Lala pasti lebih suka bermain sama yang usianya sama seperti dia," terang Reza.
"Tapi aku juga mau main bersama Lala," ujar Sam sedih mendengar perkataan Reza.
"Kamu masih tetap bisa bermain bersama Lala. Tapi kamu hanya mengawasi dia saja. Kamu jangan memaksa Lala bermain sama apa yang kamu suka kepada dia. Nanti Lala tidak mau main lagi sama kamu," kata Reza menjelaskan.
Sam setuju apa yang dikatakan sama Reza. Menurut sam sendiri, dia lebih suka bermain sama orang dengan seusia dibandingkan yang lebih muda atau lebih tua. Main sama yang seusia lebih cocok.
Rafa, Reza dan Sam mendekati Lala dan Rio. Mereka mengamati mereka berdua bermain. Sekali-kali mereka membantu membenarkan apa yang salah.
Di dekat mereka berlima ada Dilla dan Jelita yang memperhatikan mereka dari tadi. Jelita begitu fokus memperhatikan interaksi antara Lala dan Rio.
"Dilla," panggil Jelita.
"Iya Mbak," sahut Dilla.
"Kamu coba perhatikan deh, antara Lala dan Rio," suruh Jelita.
Dilla kembali melihat ke arah Lala dan Rio. Dilla sama sekali tidak merasakan ada yang aneh di antara mereka berdua. Mereka bermain seperti Rio bermain sama abang-abangnya.
"Ada apa Mbak? Dilla tidak mengerti apa yang maksud perkataan Mbak," sahut Dilla.
"Kamu belum paham?" tanya Jelita.
"Tidak Mbak," jawab Dilla menggelengkan kepala.
"Aduh Dilla. Masak kamu tidak paham. Coba kamu dengar deh pembicara mereka," perintah Jelita.
"Memangnya apa salah Mbak?" tanya Dilla lagi karena tidak ada yang aneh.
"Ya ampun Dilla. Kamu ini bener-bener tidak peka ya. Kamu coba dengar lagi baik-baik," suruh Jelita lagi.
Dilla mencoba mendengarkan lagi perkataan Lala dan Rio. Dilla memang tidak menangkap yang aneh.
"Beneran Mbak, tidak ada yang aneh dari pembicaraan mereka. Mereka hanya berbicara tentang mainan dan bicaranya mereka sama-sama cadel," sahut Dilla.
"Itu adalah masalahnya."
"Masalah?"
"Iya masalah. Usia Rio dan Lala itu terpaut sekitar dua tahun kan?"
"Memang betul Mbak."
"Coba kamu dengarkan lagi ucapan Lala dan Rio. Mereka berbicara hampir sama persis."
Sekarang Dilla sudah tahu apa maksud dari perkataan Jelita. Cara bicara Rio sama seperti Lala. Seharusnya ada perbedaan.
"Menurut Mbak, Rio itu lebih tertinggal cara bicaranya dibanding dengan Lala. Seharusnya cara bicara Rio lebih lancar dan jelas dibandingkan Lala."
"Namanya juga masih anak-anak Mbak. Pasti ada kelebihan dan kekurangan. Memang benar jika Rio mengalami kendala dari berbicara. Saat Dilla berjumpa sama Rio pertama kali saja dia belum berbicara satu kata pun. Dilla percaya jika Rio nanti akan berbicara dengan normal. Setiap anak pasti punya kelebihan tersendiri."
"Apa yang kamu bilang benar juga sih," kata Jelita.
"Dibalik cara bicara Rio yang masih cadel, dia sudah cukup pintar. Bahkan kita saja dibuat kewalahan oleh Rio."
"Hahaha… bener apa kata kamu Dilla. Rio sering membuat kita geleng-geleng kepala," ujar Jelita sambil ketawa.
Jelita dan Dilla tertawa bersama membahas tentang tingkah laku yang dilakukan oleh Rio. Mereka mulai membicarakan satu persatu kejadian yang pernah dilakukan oleh Rio.
"Mais Liyo liyat apa?" tanya Lala penasaran.
"Liyo anya helan Lala," sahut Rio menatap lurus ke arah Dilla dan Jelita.
"Apa yang Mais Liyo helan?" tanya Lala lagi.
"Apa ada yang aneh," tanya Rafa ikut penasaran.
"Itu omy cama mommy. Dali adi meleta teltawa telus. apa ya yang omy dan mommy bicalatan?" tanya Rio balik
"Pasti mereka sedang membahas tentang dunia orang dewasa," sahut Reza.
"Api Bang Eja, tenapa Liyo melinding ya. Bulu-bulu Liyo uga beldili," kata Rio menunjukkan tangannya.
"Mais Liyo boong. Bulu Mais Liyo ndak beldili tuh," bantah Lala.
"Lala ditu cih. Talau di tipi-tipi itu, jita ada yang aneh itu ilang bulu na beldiri," kata Rio sambil memajukan bibirnya.
"Ah maap," ucap Lala bersalah.
"Iya ndak apa," sahut Rio lesu.
"Wah, bulu Mais Liyo benelan beldili," ujar Lala bersemangat mengikuti perkataan Rio.
Mereka berempat terdiam menatap Lala.
"Tenapa?" tanya Lala heran.
"Dah basi."
"Dah baci."
Sahut mereka berempat kompak.
Sekarang giliran Lala yang cemberut.
Bersambung....
Rekomendasi novel buat kalian dari author lainnya yang juga tidak kalah seru. Novelnya sangat keren dan bagus sambil kalian menunggu up saya selanjutnya.