Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 38. Pulang



"Assalamualaikum Mommyyy...," salam Reza dan Rafa.


Reza dan Rafa memasuki kamar rawat Dila diikuti dengan Rita di belakang. Tadi Rita berpamitan sama Dilla untuk menjemput Reza dan Dafa. Selama Dilla sakit Rita yang banyak mengurusnya, Dilla sengaja tidak mengabari Paman dan Bibi yang ada di kampung, takut mereka khawatir. Jadi, karena Dilla di kota tidak ada sanak keluarga, maka Rita dengan senang merawat Dilla, apalagi Dilla telah menjaga cucunya dengan baik.


"Waalaikumsalam, eh Reza dan Rafa sudah pulang sekolah," sahut Dilla.


"Iya Mommy, Reza dah pulang, kangen sama Mommy," ujar Reza.


"Rafa juga kangen," tambah Rafa.


"Kan baru tadi pagi kalian lihat Mommy?" tanya Dilla.


"Kami tidak pernah bosan sama Mommy, maunya sama Mommy terus menerus," kata Rafa.


Dilla yang mendengarnya merasa terharu, segitukah rasa sayangnya anak anak kecil ini sama dia.


"Ya sudah, tapi jangan ribut ya, nanti Adik Rio bangun, kalian tau Rio belakangan ini sangat rewel," ujar Dilla.


Ya belakangan ini Rio sangat rewel, dia akan menangis jika di pisahkan sama Dilla walau sedetik pun. Bahkan jika Dilla hanya ingin ke kamar mandi, maka Rio juga akan minta ikut, kalau tidak dia akan menangis. Tapi Dilla dengan sabar menasehati Rio bahwa Dilla hanya sebentar saja ke kamar mandi. Rio akhirnya mau nurut walau cemberut. Rio akan selalu menempel pada Dilla kecuali ke kamar mandi sekarang.


"Kenapa Rio sangat manja sekali sih, kan Rafa juga mau," Rafa menoel noel pipi tembem Rio yang lagi tidur.


"Kenapa Rafa cemburu ya," goda Dilla.


"Iya dong Mommy, Rafa cemburu, Rafa juga mau manja manjaan sama Mommy," sahut Rafa.


"Kan Rafa sudah besar, memang Rafa tidak malu apa masih manja manjaan?" tanya Dilla.


"Kenapa harus malu, kan Rafa manja sama Mommy aja," ujar Rafa tanpa menoleh.


Rafa masih asyik menoel noel pipi bak pao Rio, tapi Reza segera menyingkirkan tangan Rafa.


"Jangan di tekan terus nanti Rio bangun," tegur Reza.


"Uhhh... biarin aja Rio bangun," bantah Rio.


"Rafa," ujar Rita menengahi.


"Iya Nek," dengan lesu Rafa menuju ke arah Rita yang ada di sofa.


Dilla dan Rita hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah Rafa, ya mungkin Rafa dan Reza cemburu berat sama Rio. Karena Rio selalu menempel pada Dilla. Rafa sering kali cemberut atau berdebat dengan Rio beberapa kali soal menempelnya Rio sama Dilla. Rafa ingin sekali memisahkannya, tapi kata yang lain Rio masih sakit, jadi Rafa sedikit memaklumi walaupun dengan muka cemberut.


Sebenarnya Reza juga cemburu tapi tidak terlalu menunjukkannya, apa lagi dia sayang sekali sama Adiknya, jadi Reza lebih memilih mengalah.


"Gimana sekolahnya Rafa sama Reza?" tanya Dilla tentang sekolah mereka.


"Biasa aja Mommy, tidak seru," jawab Rafa.


"Biasa gimana?" tanya Dilla lagi.


"Tidak seru tidak ada Mommy yang antar jemput, tidak ada yang bikin bekal juga," jelas Reza.


"Kan masih ada Bi Imah sama Mina," kata Dilla.


"Kan beda antar Mommy sama Bi Imah dan Mbak Mina," bela Rafa.


"Ya sudah sini Rafa ganti baju dulu, Reza sini juga, Nenek gantiin baju kalian," panggil Rita.


Rita menggantikan baju Rafa dan Reza. Waktu terus berlalu hingga kini hari sudah sore. Reza dan Rafa tetap di rumah sakit menemani Dilla, tidak mau pulang, mereka ingin bersama Dilla padahal sebentar lagi Dilla sudah bisa pulang juga, sesekali mereka menjaili Rio sampai Rio merengek baru berhenti.


Dafa, Ryan dan Aditya masuk ke kamar rawat Dilla. Dilla yang melihat Ryan berjalan mata berkedip kedip heran.


"Mata Omy lucu, tek mata itan mais di tolam," seru Rio.


Rio meraih pipi Dilla dengan ke dua tangan kecilnya, karena Rio sekarang berada di pangkuan Dilla.


Yang ada di situ langsung melirik Dilla karena Rio berkata dengan cukup keras. Reza dan Rafa segera mendekat ke ranjang mau lihat muka Dilla yang lucu seperti kata Rio.


"Wah bener mata Mommy kayak mata ikan mas yang ada di kolam,  berkedip kedip lucu hihihi," ujar Rafa.


"Ada apa Dilla?" tanya Rita.


Mata Dilla kini sudah kembali berkedip normal, Dilla yang ditanya melirik ke arah Rita kemudian melihat ke arah Ryan lagi.


"Yah mata Omy ndak ucu ladi," ujar Rio kecewa.


Dilla mengabaikan perkataan Rio, kini ada yang membuat dia lebih penasaran.


"Tuan Ryan sudah bisa jalan ya," ujar Dilla.


Ya Dilla baru mengingat kalau Ryan kan lumpuh. Kemarin saat sadar Dilla tidak peka dengan keadaan karena baru sadar dan setelah sadar sebentar dia langsung tidur lagi. Jadi ya wajar jika Dilla tidak tau tentang Ryan.


"Kok bisa, upsss... maksud Dilla gini, bukankah kemarin Ryan masih di atas kursi roda, berati baru beberapa hari sudah bisa sembuh, Dilla hanya kaget saja tidak ada maksud lain," kata Dilla tidak enak.


"Iya tidak apa apa kok Dilla, Tante mengerti, mungkin ini adalah keajaiban. Ryan bisa berjalan setelah Ryan menolong kamu yang tenggelam kemarin," ujar Rita.


"Jadi Ryan yang menyelamatkan Dilla yang tenggelam Tante?" tanya Dilla.


"Iya Ryan yang menyelamatkan kamu."


"Tuan Ryan terima kasih ya telah  menyelamatkan Dilla," Dilla mengucapkan terima kasih.


"Iya tidak apa apa, saya juga berterima kasih karena kamu juga telah menyelamatkan Rio anak saya," sahur Ryan.


"Iya sama sama Tuan."


"Nah kalau gitu kita berkemas kemas sekarang, bukankah Dilla dan Rio sudah bisa pulang sore ini?"


"Ah iya Tante, Dilla akan beres beres dulu."


"Tak apa Dilla, biar Tante aja yang bantu."


"Tidak apa apa Tante, Dilla masih bisa beresin sendiri kok."


"Kan kamu baru sembuh istirahat aja."


"Tidak apa apa Tante, barang Dilla juga sedikit."


Dengan segera Dilla membereskan semua barangnya, tidak mungkinkan jika Majikannya yang membereskan barang bawaannya. Setelah berapa lama Dilla sudah siap membereskan barangnya dan Rita juga sudah siap menyelesaikan barang Rio.


"Ayo kita pulang," ujar Dilla.


"Hore Mommy pulang."


"Nanti bisa main bareng lagi sama Mommy dong."


"Ayo Mommy kita pulang," ajak Rafa.


"Ayo," jawab Dilla.


"Omy... endong " pinta Rio.


"Rio biar Papa saja yang gendong ya, kasihan Mommy baru pulih," sahut Ryan.


"Tapi Pa, mau cama Omy," protes Rio.


"Nanti kalau Mommy sudah sembuh baru di gendong sama Mommy ya," kata Ryan.


Ryan langsung mengendong Rio, Rio yang sudah di gendongan Papa langsung cemberut walaupun tidak menolak.


"Kenapa cemberut emmm, tidak suka di gendong sama Papa lagi ya, papa jadi sedih nih karena anak Papa tidak mau digendong sama Papa lagi," kata Ryan berpura pura sedih.


"Liyo cenang kmtok di endong Papa."


Ryan yang mendengarnya senang.


"Tapi...."


"Tapi apa emmm."


"Liyo lebih cenang di endong Omy, Omy lebih empuk dan angat," tambah Rio.


Ryan tadi yang merasa diterbangkan ke langit tapi sekarang seperti dibanting balik ke tanah.


"Oh jadi Papa keras gitu dan tidak hangat."


"Papa endongnya bitin badan Liyo atit, tangan dan dada papa kelas," tambah Rio sambil meraba dada dan lengan Ryan.


"Udah jangan berdebat lagi ayo kita pulang," Rita menengahi debat Rio dan Ryan.


"Ayo Mommy," Reza dan Rafa langsung menarik tangan Dilla, Reza di tangan kanan dan Rafa di tangan kiri, mereka kini sudah keluar dari kamar.


"Pa Pa ayo kejal Omy nanti ilang," Rio menarik narik baju Ryan.


Ryan hanya bisa mengelengkan kepala, anaknya kini lebih lebih lebih sayang kepada Dilla daripada dirinya.


"Iya iya," jawab Ryan lesu.


Ryan dan lainnya juga ikutan meninggalkan kamar itu.


Bersambung....