
Dilla sampai di rumah dia tidak lagi melihat Danang. Yang Dilla lihat adalah Pamannya yang menepuk bahu Ryan. Abdul langsung kembali ke dalam setelah menatap Dilla sebentar.
"Tuan," panggil Dilla.
Ryan menganggukan kepalanya.
"Papa, Reza tidak mau pulang, Reza mau sama Mommy di sini," pinta Reza
Reza memeluk kaki Dilla.
"Rafa juga tidak mau pulang kalau Rio dan Reza tidak mau pulang," kata Rafa memeluk kaki kiri Dilla.
Ryan menghela nafas melihat kedua anaknya dan keponakannya yang sangat menempel pada Dilla. Ryan mendekat ke arah mereka. Mereka semakin memeluk kaki Dilla dengan erat. Ryan mengangkat tangannya dan mengusap kepala Rio yang dari tadi tidak mau melihat dia sama sekali.
"Kalian boleh bermain sama Mommy kalian untuk sementara waktu. Papa tidak akan membawa pulang kalian hari ini," ujar Ryan.
Dilla menatap Ryan tidak mengerti Tuannya bisa bicara seperti itu.
"Benelan Pa?"
"Yang Benar Pa?"
"Iya, Papa tidak akan membawa pulang kalian hari ini. Seminggu lagi Papa akan ke sini kembali."
"Holeee."
"Horeee."
Teriak mereka bertiga. Rio segera meminta turun dari tubuh Dilla, dia berlari melingkari mereka semua dengan teriakan gembira. Reza dan lainnya juga ikut-ikutan berlari kecil.
Ryan tersenyum lepas saat melihat anaknya bisa sesenang itu. Sedangkan Dilla yang melihat senyuman Ryan jadi tertegun. Ryan yang merasa di tatap sama Dilla, dia berbalik arah ke arah Dilla.
"Dilla," panggil Ryan.
Dilla tidak merespon panggilan Ryan. Ryan mengangkat tangan dan melambai di depan wajah Dilla. Dilla mulai mengerjapkan matanya beberapa kali.
Ryan terkekeh melihat aksi lucu Dilla. Dilla jadi salah tingkah dengan sikapnya yang terus menatap Ryan.
"Saya tahu jika saya ini tampan dan keren. Kamu tidak usah menatap saya seperti itu, kamu bisa melihat saya kapan saja," canda Ryan.
Dilla menunduk malu.
"Sebentar lagi saya mau pulang. Saya harap kamu bisa menjaga mereka untuk seminggu ini. Saya akan kembali seminggu lagi untuk menjemput mereka dan kamu. Saya harap kamu bisa menjaga anak anak," ujar Ryan sambil mengelus kepala Dilla berapa kali.
Dilla terbengong dan tersipu dengan perkataan dan tindakan Ryan.
'Apa maksud perkataan Tuan dengan anak-anak dan menjemput Dilla seminggu lagi.'
"Apa maksud perkataan Tuan?"
"Kamu akan tahu nanti."
Dilla memegang kedua pipinya yang terasa panas setelah Ryan berbalik kearah mereka yang masih berlari-lari.
Ryan memanggil mereka bertiga untuk berpamitan, setelah berpamitan Ryan kembali berpamitan sama Dilla.
***
Mobil yang dikendarai oleh Ryan tidak menuju ke kediamannya. Mobil Ryan kali ini menuju ke arah pemakaman umum. Ryan ingin mengunjungi makam Riana.
Dengan langkah pelan Ryan menuju ke tempat pemakaman Riana dengan membawa satu ikat bunga sebagai bawaannya. Dia meletakkan bunga itu di depan batu nisan Riana. Ryan berdoa sebentar sebelum dia berbicara sama kuburan Riana.
"Kamu pasti sudah bahagia di sana, kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan anak-anak kita. Sekarang mereka sudah tumbuh besar dan sehat."
Ryan terdiam sebentar.
"Aku ke sini ingin kamu mendengar keputusanku. Maafkan aku jika aku menghianati janji yang telah kita buat. Kita telah berjanji akan mencintai seumur hidup kita sampai ajal menjemput. Sekarang di dalam kehidupanku dan anak-anak kita hadir seorang gadis yang bisa membuat aku terbangun dari keterpurukan saat kamu meninggalkan aku. Anak-anak kita juga sudah membaik. Reza juga sangat pendiam sejak kamu telah tiada. Dia bisa membuat anak kita seperti saat kamu masih ada. Sekarang Rio juga sudah bisa bicara berkat dia. Dia merupakan gadis yang sangat baik. Jika saja kamu masih hidup aku ingin memperkenalkan kalian berdua tetapi takdir telah memisahkan alam kita. Riana maafkan aku jika aku memilih dia untuk menjadi ibu dari anak-anak kita. Aku harap kamu bisa memaafkan aku."
Setelah Ryan berkata unek-uneknya, dia kembali lagi ke rumah.
***
Dilla menghampiri Abdul, dia menanyakan apa yang dibicarakan antara Abdul sama Ryan sehingga Ryan bisa berkata aneh seperti itu. Ryan belum pernah mengusap rambut dan memandangnya seperti itu.
"Paman," panggil Dilla saat melihat Pamannya yang duduk di teras rumah sambil menikmati suasana sore ditemani sama secangkir kopi hangat.
Dilla menyusul duduk di samping Abdul
"Apa yang Paman bicarakan sama Tuan Ryan?" tanya Dilla.
"Kami hanya membicarakan masalah laki-laki saja," jawab Abdul sambil membalikkan koran.
"Hal laki-laki apa Paman?"
Dilla menatap Pamannya tajam. Dilla mencium ada bau sesuatu yang tidak beres.
"Paman yakin tidak ada hal lain yang Paman dan Tuan Ryan bahas?" tanya Dilla lagi.
"Bahas apa maksud kamu?" tanya Abdul balik.
Abdul meminum kopi yang telah disajikan terlebih dahulu.
"Apa Paman pernah berbohong pada kamu?" tanya Abdul lagi.
"Maaf Paman," sahut Dilla menyesal.
Dilla tau jika Pamannya tidak pernah berbohong kepadanya, maka dia harus bisa percaya sama perkataan Abdul. Tapi disisi lain dia merasa ada sesuatu hal yang ditutupi oleh Pamannya kepada dia. Dilla kembali masuk ke dalam rumah setelah dia tidak menemukan jawaban apa yang ingin dia ketahui.
Mobil Ryan berhenti di kediamannya pada waktu sudah malam. Rita dan lainnya sudah menunggu Ryan di depan rumah dari tadi sore.
"Ryan di mana cucu-cucu Mama?" tanya Rita memegang tangan Ryan.
Mereka tidak melihat Rio, Reza ataupun Rafa.
"Ryan dimana anak kami?" Dafa juga ikut bertanya.
"Mereka masih ingin di tempat Dilla jadi Ryan tidak membawa mereka pulang dulu. Seminggu lagi Ryan akan menjemput mereka lagi," jawab Ryan.
"Kalian tenang saja, jika mereka bersama Dilla pasti mereka baik-baik saja," sambung Ryan saat melihat raut wajah mereka yang khawatir.
Mereka menganggukan kepalanya, mereka bisa mengerti kondisi Rio,Reza dan Rafa yang sudah sangat rindu kepada Dilla. Mereka kembali lagi masuk ke dalam rumah.
***
Setelah makan malam Ryan kembali ke kamarnya. Ryan mengambil sebuah foto bingkai, foto milik dia dan Riana.
"Sekali lagi maafkan aku."
Setelah berkata begitu dia meletakkan kembali foto tersebut. Ryan memilih tidur untuk melepaskan rasa lelahnya.
(Di alam mimpi)
Di alam mimpi Ryan seperti melihat sebuah film yang memutar masa lalu antara dia bersama Riana.
"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Ryan kepada Riana.
Riana hanya terdiam.
"Aku janji, jika kamu menerima aku, aku akan mencintai kamu seumur hidup kamu," kata Ryan serius.
Riana menerima lamaran Ryan.
Kemudian bayangan berganti saat kejadian kecelakaan Riana dan Ryan. Ryan meneteskan air matanya. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Ryan. Ryan menoleh ke arah belakang. Ryan terkejut saat tau yang menepuk bahunya adalah Riana.
"Riana," ujar Ryan dengan suara kecil.
Riana tersenyum melihat Ryan.
"Maaf, maafkan aku, sekali lagi maaf jika aku telah mengingkari janji kita," ucap Ryan berulang kali.
Riana mengangkat tangannya dan meletakkan di bibir Ryan.
"Kamu tidak mengingkari janji kita. Janji kamu saat itu adalah bahwa kamu akan mencintai aku seumur hidup aku. Sekarang aku telah tiada, kamu bebas mencintai wanita lain karena janji kita telah berakhir. Kamu cukup menyimpan kenangan kita di sini," kata Riana.
Riana menunjuk ke arah dada Ryan.
"Sekarang aku ingin kamu dan kedua anak kita hidup berbahagia. Tolong bahagiakan Reza dan Rio. Hanya itu permohonan terakhir aku."
Setelah berkata begitu Riana menghilang. Ryan ingin mengejar Riana tapi dia terjatuh.
Ryan terbangun karena terjatuh dari kasur. Ryan masih terjerembab di lantai karena dia masih kaget dengan perkataan Riana. Ryan kembali mengingat apa yang dikatakan oleh Riana di dalam mimpinya. Ryan segera bangun dan mengambil foto Riana.
"Terima kasih, terima kasih," ucap Ryan berulang kali.
Sekarang Ryan bisa mengambil keputusan yang pasti. Dia sudah tenang bisa mencintai Dilla dengan sepenuhnya tanpa teringat sama janjinya dengan Riana. Ryan segera bersiap siap untuk mandi dan menemui ke orang tuanya. Ryan ingin segera membahas hal ini dengan kedua orang tuanya.
Bersambung….
Biasanya jika kita terlalu banyak memikirkan suatu masalah maka akan terbawa sampai ke alam mimpi. Kadang kita memiliki solusi saat mimpi itu datang atau hanya menjadi bayangan seperti kejadian asli di dunia nyata. Saya tidak tau jika kalian berpendapat sama atau tidak. Karena saya sering seperti itu.
Silakan kalian berikan kritikan dan saran di kolom komentar ya. Jangan lupa like dan bantu vote sebanyak yang bisa kalian berikan dengan ikhlas.
Bila bisa bantu tolong bantu share ke teman-teman kalian ya. Terima kasih.