
Setelah menjemput Reza, mereka ke rumah sakit mau menjenguk Rafa. Rio tidak lupa membawa pedang mainnya, dia serius mau meminjamkannya pada Rafa agar Rafa cepat sembuh.
"Ennek," panggil Rio.
Rita menyambut Rio dengan pelukan hangat.
"Aduh cucu Nenek sudah di sini semua," ujar Rita senang.
"Siang Tante, Mbak Jelita," sapa Dilla.
"Siang," sahut mereka.
"Nek ulun," kata Rio.
Rio mendekati Rafa yang ada di ranjang Jelita.
"Ni buwat Bang Lapa, bial Bang Lapa tuat," ujar Rio sambil memberikan pedangnya.
"Bukannya ini pedang kesukaan Rio?, nanti Rio tidak bisa menyerang monster lagi," tanya Rafa.
"Tan ada Omy yang indungi Liyo, iya tan Omy?" kata sambil Rio memeluk kaki Dilla.
"Iya, Mommy akan selalu selalu melindungi Rio, Reza dan juga Rafa," jawab Dilla.
Rafa menggenggam pedang pemberian Rio.
"Emmm Mommy," panggil Rafa ke Dilla.
Tapi Dilla dan Jelita keduanya melirik ke arah Rafa. Jelita pikir Rafa memanggilnya tapi melihat arah pandangan Rafa, Jelita tau bukan dia yang dipanggil. Walaupun Rafa sudah memanggilnya kembali dengan sebutan Mommy, tapi hati Jelita masih berdenyut di kala Rafa memanggil Dilla Mommy.
"Mommy, karena Rafa sudah punya Mommy sendiri jadi...."
Rafa menoleh kerah Jelita, kemudian melihat ke arah Dilla lagi.
"Jadi…," kata Rafa ragu ragu.
"Iya sayang,Mommy mengerti. Sekarangv kamu bisa memanggil Mommy dengan sebutan Mbak Dilla saja, karena Rafa sudah punya Mommy sendiri," jawab Dilla perhatian.
Dilla tau maksud Rafa, Rafa pasti merasa sungkan sama dia.
"Terima kasih Mommy, maksud Rafa Mbak Dilla," ujar Rafa senang.
Rafa segera memeluk Jelita dan Jelita memeluk Rafa erat. Jelita tidak menyangka semua ini akan secepat ini. Dia mengecup beberapa kali ubun-ubun kepala Rafa.
"Terima kasih Dilla," kata Jelita.
"Sama-sama Mbak," jawab Dilla.
Dilla senang melihat mereka sudah baikan.
"Omy Omy," panggil Rio
"Iya sayang," sahut Dilla.
"Tenapa Bang Lapa ilang Omy Bak Ila?"
"Karena Abang Rafa sudah punya Mommy Jelita sekarang. Jadi Abang Rafa tidak memanggil Mommy dengan Mommy lagi sekarang, tapi panggilnya menjadi Mbak Dilla. Rio mengerti?" tanya Dilla balik.
Rio melirik ke arah Rafa dan Jelita sebentar.
"Ndak Omy, Liyo ucing," jawab Rio menggelengkan kepalanya.
'Boleh cubit tidak ni anak' teriak Dilla dalam hati.
Dilla gemas sama jawaban Rio.
"Intinya mulai sekarang, Mommy Dilla punya Rio sama Reza. Rafa sudah ada Tante sebagai Mommy Rafa," sambung Jelita.
"Adi omy anya unya Liyo dan Bang Eja," kata Rio senang.
"Holeee Omy punya Liyo dan Bang Eja. Anti Bang Lapa angan etat etat cama Omy tami agi ya. Bang Lapa udah ada Omy alu," kata Rio memperingati.
Yang di sana hanya menggelengkan kepala.
"Tidak, nanti Rafa akan nempel terus sama Mbak Dilla," jawab Rafa usil.
"Onmyyy," teriak Rio tidak terima.
"Sudah, sekarang saatnya kalian makan siang dulu. Abang Rafa hanya mengerjai Rio saja tadi," kata Dilla.
Rafa memeletkan lidah pada Rio. Rio mau menghampiri Rafa tidak terima, tapi tubuhnya duluan di pegang sama Dilla. Dilla membawa Rio dengan memegang pinggangnya. Seperti orang mengangkat rumput.
"Sudah saatnya kalian makan dulu," ujar Dilla lagi.
Dilla segera membuka makan siang. Reza yang dari tadi hanya mendengar saja mendekati Dilla dan Rio.
"Kami sudah makan siang, kalian lanjutkan makan saja," jawab Rita.
"Omy aaa," kata Rio sambil membuka besar-besar mulutnya.
"Kenapa minta disuapin lagi, kan sudah bisa makan sendiri," ujar Dilla.
"Omy aaa," ulang Rio.
"Rio manja," kata Dilla.
Dilla tetap menyuapi Rio, Rio makan dengan lahap. Sesekali Rio pamer pada Rafa, Rafa hanya mendengus saja.
"Dasar manja," cibir Rafa.
"Bialin, Omy Omy nya Liyo," balas Rio.
Rio kembali menerima suapan.
"Kamu sudah cocok jadi seorang Ibu Dilla, kamu kelihatan seperti Ibu mereka saja," kata Jelita yang dari tadi melihat interaksi Dilla dan Rio.
"Iya, Tante juga setuju. Kamu ini sudah cocok menjadi seorang Ibu di usia kamu yang muda ini," sambung Rita.
"Ibu sama Mbak terlalu memuji. Tapi inikan bisa sebagai latihan jika Dilla punya anak sendiri nanti," jawab Dilla sambil terus menyuapi Rio.
"Memangnya Dilla sudah berniat menikah?" tanya Rita kecewa.
Rita menganggap bahwa Dilla sudah punya calon sendiri.
"Dilla tidak tau Tante, apalagi belakangan ini Bibi Dilla sering menelpon Dilla suruh balik. Katanya ada seseorang yang melamar Dilla." kata Dilla pelan.
"Kenapa kamu tidak menolaknya langsung bukankah kamu menyu… ehem maksud Jelita kamu pasti punya pilihan sendiri," ujar Jelita.
Tadi Jelita hampir keceplosan. Untung saja Rita tidak mendengarnya.
"Iya benar kata Jelita, jika kamu tidak suka kamu tolak saja, menikah bukan hal main main," sambung Rita.
"Maaf jika Dilla jadi curhat," ucap Dilla sambil terus menyuapi Rio.
"Tidak apa apa Dilla, kamu bisa cerita sama kami. Kamu sudah bagaikan keluarga kami sendiri," ujar Rita.
Dilla senang jika dia diterima baik di keluarga Suherman.
"Sekarang apa kamu bisa cerita sama Mbak dan Tante apa yang dikatakan sama Bibi kamu Dilla?"
"Sebenarnya untuk ukuran gadis kampung Dilla, Dilla sudah telat untuk menikah. Biasanya di kampung kami, kami menikah sekitar umur 17 atau tamat SMA. Sangat jarang jika ada gadis yang belum menikah di usia 20 tahun. Jadi Bibi Dilla menyarankan agar Dilla segera menikah karena kebetulan ada orang yang melamar Dilla, tapi Dilla belum yakin sama sama yang melamar Dilla," curhat Dilla.
Bagaimanapun Dilla masih harap bisa bersama Ryan.
"Memangnya kamu kenal sama orang yang melamar kamu itu?" tanya Rita.
"Iya Tante, Dilla kenal. Dia anak kepala desa, dia orangnya juga baik. Dia juga sering bantu Dilla dan keluarga Dilla."
"Hiiih itu orang pasti sudah punya modus, kamu jangan tertipu Dilla. Sekarang banyak cowok yang memperdaya perempuan dengan iming iming bantuan. Setelah apa yang dia mau dia dapatkan, dia bakalan pergi," kata Jelita curiga.
Dilla hanya membalas dengan senyuman. Dilla yakin betul kalau yang melamarnya itu orang baik baik dan tulus. Tapi yang menjadi masalahnya dia sudah terlanjur mencintai Ryan.
"Kamu harus hati hati Dilla, lelaki sekarang sulit ditebak, banyak modus." sambung Rita.
"Omy Omy, nitah tu apa, apa wenak?" tanya Rio yang tidak nyambung.
Yang ada di situ semua pada ketawa.
"Tenapa teltawa, ada yang lutu?" tanya Rio tidak mengerti.
"Sayang menikah itu bukan makanan, tapi menikah itu dua orang hidup bersama," jawab Dilla.
"Oh, talau tida apa namanya omy, apa nitah uga, Omy, Liyo dan Bang Eja," kata Rio sambil menjelaskan maksud dari tiga.
"Itu beda Rio, menikah itu untuk dua orang dewasa, yang satu laki-laki dan yang satu perempuan. Nanti akan jadi Mommy dan Daddy seperti Tante dan Om, atau bisa juga di panggil Papa dan Mama."
"Ohhh ditu. Liyo pitil matanan," Rio meneruskan makannya.
Rio telah selesai makan jatah makan siangnya. Tapi Rio malah minta jatah Dilla juga. Dilla dengan berat hati memberikan pada Rio, soalnya Dilla pikir Rio mau nambah sedikit, tapi nyatanya Rio menghabiskan setengah jatah punya Dilla. Dilla hanya makan sisa setengahnya, setelah Rio bilang dia sudah kekenyangan. Padahal Porsi makanan mereka bertiga sama besar, jatah untuk orang dewasa.
Rio dengan segala nafsu makannya.
Bersambung….
Yang tanya kapan mereka menikah itu saat tamat season 1 dan genre romantis lebih banyak di season 2. Saat ini genre nya lebih kekeluargaan dan humor.
Saya sukanya pacaran atau romantis setelah menikah. Pacaran setelah menikah itu lebih indah, hubungan mereka berjalan pelan namun pasti. Biarkan cinta tumbuh karena kebersamaan dan kenyamanan karena itu akan membuat cinta menjadi lebih kuat. Ini sudah masuk ke spoiler ya.
Jangan lupa vote sebanyak mungkin biar semakin semangat update banyak atau sering ya. Vote gratis kok.