Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 156. Pulang



Tetap terus beri dukungan ya.


Terima kasih dan selamat membaca.


***


"Mobil siapa itu?" tanya Aditya saat mendengar suara mobil.


"Tidak tahu juga Pa," sahut Rita.


"Apa mungkin ada tamu?" tanya Dafa. 


Hari ini adalah hari Minggu, makanya mereka semua ada di rumah. 


"Tapi dari suara Mobil terdengar seperti suara mobil Ryan," kata Rita.


Mendengar kata Ryan alias sangat papa disebutkan, Rio segera berlari ke arah luar Rumah.


"Rio tunggu, jangan lari-lari," cegah Rita.


Rio mengabaikan perkataan Rita dan terus berlari. Reza juga menyusul Rio berlari. Mereka berharap jika papa dan mama yang pulang.


"Mungkin itu beneran Dilla dan Ryan," ucap Jelita.


Mereka memutuskan untuk ke pintu depan juga. 


"Omy…," teriak Rio begitu Dilla turun dari mobil.


Reza dan Rio segera menghampiri Dilla. Mereka memeluk Dilla dengan erat. Dilla membalas pelukan mereka. Dilla sengaja berjongkok agar mereka bisa memeluk Dilla.


"Bagaimana kalian selama Mama tidak ada di rumah. Apakah kalian berbuat nakal dan usil?" tanya Dilla


"Reza tidak nakal Ma. Reza anak penurut," jawab Reza.


"Iya Omy. Liyo uga nulut. Liyo uduk manis," sambung Rio.


"Baguslah kalau kalian begitu. Mama senang jika anak Mama pada nurut semua," kata Dila dengan mengusap kedua rambut mereka.


Setelah menyapa Reza dan Rio, Dilla berdiri kembali untuk memberi salam dan sapa kepada Rita, Aditya dan lainnya.


"Ryan kenapa lama turun?" tanya Rita. 


"Itu Ma, Mas Ryan…," kata Dilla terputus karena Ryan yang sudah keluar dari mobil.


Ryan turun dari mobil dengan wajah yang pucat dan lemas. Sepanjang perjalanan pulang, mereka sering berhenti karena Ryan beberapa kali muntah. Dilla juga mengusulkan agar mereka beristirahat di perjalanan, tetapi Ryan tetap mau segera pulang. Ryan ingin segera mengabari kabar bahagia tentang kehamilan Dilla.


"Ryan ada apa dengan kamu nak?" tanya Rita menghampiri Ryan dengan khawatir.


"Tidak apa-apa Ma. Ryan hanya capek saja," sahut Ryan agar sangat mama tidak khawatir.


"Lebih baik kita masuk dulu. Kita bicarakan semua di dalam," usul Aditya 


***


Ryan langsung menyenderkan badan pada sofa. Ryan memang merasa sangat lemah sesuai dengan wajah yang pucat.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama kalian? Kenapa kalian bisa cepat pulang? Mengapa kondisi Ryan bisa sepucat ini?" tanya Rita berturut-turut.


"Ryan tidak apa-apa Ma. Ryan hanya ukh ukh ukh…." 


Tiba-tiba Ryan kembali merasa mual. Ryan segera bangkit dari sofa dan berlari ke arah kamar mandi. Dilla yang melihat Ryan berlari juga ikut menyusul. Begitu pula dengan Rita. 


"Apa yang sebenarnya terjadi sama Ryan?" tanya Dafa melihat Ryan lari.


"Nanti kita tanyakan saja sama mereka," ujar Jelita. 


"Apa papa sedang sakit ya, Kakek?" tanya Reza.


"Mungkin papa hanya kelelahan saja," sahut Aditya menenangkan Reza dan Rio.


Lima menit kemudian Ryan datang dengan dibantu oleh Dilla. Dilla mendudukkan Ryan kembali di atas sofa.


"Ryan apa yang terjadi sama kamu? Apa kamu sakit?" tanya Rita.


"Tidak apa-apa Ma. Ini hanya hal biasa," jawab Ryan.


"Biasa bagaimana? Kamu pulang-pulang dengan muka pucat dan muntah-muntah," ucap Rita tidak percaya.


Ryan mendudukkan diri dengan tegap. Ryan juga meraih kedua tangan Dilla dengan kedua tangan sendiri. 


"Ma, Pa, Reza, Rio dan lainnya, Ryan dan Dilla ingin memberitahukan suatu kabar bahagia," ucap Ryan sambil menggenggam tangan Dilla. 


"Kabar gembira apa itu?" tanya Rita dan Aditya berbarengan.


Ryan tersenyum sebelum menjawab. Ryan mengusap kepala Rio dan Reza secara bergantian dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri masih bertautan dengan Dilla.


"Sebentar lagi kalian akan segera mempunyai adik. Apa kalian senang dengan kabar ini?" kata Ryan.


"Benarkah Pa?" kata Reza senang.


"Iya benar," ucap Ryan.


Rio dan Reza segera memeluk Dilla erat.


"Maacih Omy."


"Terima kasih Ma. Reza senang," ujar Reza.


"Jadi terima kasih hanya untuk Mama saja. Apa untuk Papa tidak ada," kata Ryan sebal.


Rio dan Reza malah tertawa mendengar perkataan Ryan.


"Ini beneran Ryan?" Rita ingin memastikan lagi.


"Iya Ma."


"Tapi kok bisa. Cepat amat jadinya," ucap Dafa ceplas-ceplos.


"Au…."


Jelita yang geram dengan pertanyaan tidak berbobot Dafa, Jelita langsung mencubit pinggang Dafa.


"Dari sekian banyak pertanyaan kenapa harus tanya itu sih," sewot Jelita.


"Aku hanya penasaran. Kenapa mereka bisa tokcer begitu. Mereka baru pergi tiga hari," kata Dafa membela.


"Kamu ini ya, aneh. Bukannya senang malah itu yang diurus."


"...."


"Tokcer itu apa Daddy?" tanya Rafa memotong pembicaraan Dafa dan Jelita.


Jelita memberikan pelototan tajam kepada Dafa. Seolah-olah Jelita mengatakan awas jika kamu berani meracuni kepolosan Rafa.


Dafa jadi dilema. Dafa memutar otak agar bisa membohongi Rafa.


"Iya Daddy apa itu tokcer?" tanya Reza ulang.


Sekarang bukan hanya Jelita yang menatap Dafa tajam. Tetapi seluruh orang dewasa di sana.


'Mati aku.'


"Tokcer itu… ah tokcer itu tokek kececer," jawab Dafa saat teringat tokek.


"Tapi kenapa Papa bisa ketemu tokek?"


"Mungkin tokeknya lagi bertamasya," jawab Dafa ngawur.


"Sudah, tidak usah bahas tokek lagi. Nanti malam bakal ada tokek di depan pintu. Sekarang kita lagi bahas calon adik Reza dan Rio," kata Jelita mengalihkan ke topik utama.


Dafa cemberut saat Jelita menyamakan dia sama tokek. Dafa tidak berani protes, takut jika mood Jelita lebih parah.


"Jadi sejak kapan Dilla hamil?" tanya Rita setelah perdebatan tokek selesai.


"Usia kehamilan Dilla sama seperti Jelita. Kata dokter yang di sana, kemarin ada kesalahan dalam pemeriksaan," sahut Dilla.


"Kalau begitu selamat ya, Dilla dan Ryan," kata Rita.


Rita menghampiri Dilla. Rita memeluk Dilla sebagai bentuk menyambut kedatangan calon anak mereka.


"Sekarang kita sama-sama hamil. Sekarang aku ada teman hamil. Nanti kita pergi pemeriksaan bersama-sama," ucap Jelita senang.


"Kalau hamil apa perlu kawan ya," kata Dafa.


Jelita kembali melirik Dafa dengan sinis. Dafa selalu bikin mood Jelita jelek.


"Adi Liyo atan unya adik ya Omy?" tanya Rio. 


"Adi mana adik Liyo, Omy?" tanya Rio sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


Rio sudah tidak sabar ingin melihat adik. Rio ingin segera bermain sama sang adik. Rio sudah membayangkan apa saja yang mau dia mainkan sama adiknya.


"Ah itu…."


"Mana Pa? Liyo ndak cabal mau liyat adik Liyo," tanya Rio tidak sabaran.


Mereka terdiam mendengar pertanyaan Rio. Apa yang harus mereka katakan pada anak sekecil Rio.


Bagaimana cara Ryan dan Dilla menjelaskan kepada Rio?


Bersambung….


Rekomendasi novel yang bagus sambil menunggu up saya selanjutnya. Salah satu novel karya teman saya. Novel ini untuk orang dewasa ya.