Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 122. Berangkat



Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Seperti yang dikatakan oleh Rita, mereka hanya mengundang para saudara dekat, kerabat dan orang-orang penting saja. Sehingga acara syukuran ini tidak terlalu mengundang banyak tamu. 


Dilla dan Ryan memasuki tempat acara, tangan Dilla menggandeng tangan Ryan.  


"Akhirnya kalian sampai juga di sini, sekarang ayo beri sapa dulu sama kakek dan juga para tamu," kata Rita.


"Baik Ma," sahut Ryan.


"Ayo Dilla," ajak Ryan.


"Iya, Ma kami permisi dulu ya."


"Iya, sana cepat."


Ryan membawa Dilla ke arah Akram, kakeknya Ryan.


"Malam Kakek," sapa Ryan dan Dilla.


"Malam, akhirnya kamu menikah lagi Ryan. Kakek senang jika kamu sudah bisa bangkit. Maaf ya Dilla jika Kakek tidak bisa datang ke akad pernikahan kalian," kata Akram tak enak.


"Tidak apa Kakek, karena acaranya yang begitu mendadak jadi kami maklum kok Kek. Dilla yang harusnya bersyukur bisa diterima di keluarga Kakek," sahut Dilla.


"Kami yang seharusnya bersyukur, dengan adanya kamu di keluarga ini semuanya menjadi lebih baik. Semua cucu dan cicit Kakek jadi senang. Sini biarkan Kakek memelukmu," pintar Akram.


Dilla segera mendekat dan memeluk Akram.


"Ya sudah, sana kalian sapa tamu yang lainnya, sekarang kalian adalah pusat perhatian," suruh Akram.


Ryan dan Dilla menemui tamu yang lain satu persatu. Ryan memperkenalkan Dilla kepada kerabat dan juga saudara yang lainnya.


"Ryan," panggil Sultan.


Sultan datang bersama Soraya dan Bayu.


"Selamat ya Ryan dan Dilla," ucap mereka bertiga.


"Terima kasih Sultan, Om dan Tante," sahut Dilla.


"Maafkan anak Tante ini ya Dilla, Tante tidak tau jika anak Tante ini mengajak kamu untuk berbohong."


"Tidak apa-apa Tante," jawab Dilla tidak enak.


"Padahal Tante sudah berharap kamu jadi menantu Tante. Tapi kamu malah berjodoh sama orang lain, entah kapan anak Tante akan bertemu jodohnya. Semoga saja tidak jadi perjaka tua," sindir Soraya.


"Ma jangan begitu dong. Perkataan Mama adalah doa. Bagaimana jika Sultan jadi perjaka tua beneran," bantah Sultan.


"Syukurin saja, Mama cari tidak mau kamu cari sendiri juga tidak mau. Memangnya jodoh kamu jatuh dari langit," sengit Soraya.


Dilla dan Ryan terkekeh kecil mendengar perkataan Soraya.


"Eh ada Oppa di sini," sapa Mina yang tiba-tiba muncul.


Mina segera mengandeng lengan Sultan, Sultan seperti biasa menolaknya tapi selalu Mina yang menang.


"Sultan, siapa ini?" tanya Soraya heran, baru kali ini Soraya melihat anaknya bergandengan dengan perempuan.


"Maaf Tante, perkenalkan nama saya Mina Marlina Tante, calon istri Oppa Sultan," kata Mina pede.


Soraya mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Mina. Sejak kapan anaknya punya calon istri. 


'Tapi kenapa namanya tidak asing ya,' batin Soraya.


"Mama jangan dengerin dia Ma, dia ini stres," ujar Sultan tidak terima.


'Amit amit cabang pohon, ogah bener punya istri macam begini.'


"Sultan, Mama tidak pernah mengajarkan kamu bicara begitu. Kalau bicara yang sopan, apalagi sama anak gadis orang," tegur Soraya.


"Maaf Ma."


Sultan memilih mengalah daripada urusannya semakin panjang.


"Mina?" tegur seseorang.


Mina yang merasa terpanggil menoleh kebelakang. Mina terkejut sama orang yang memanggilnya.


"Dasar anak nakal, sudah berbulan-bulan kamu tidak pulang. Kamu kemana aja selama ini," kata Lina mama Mina.


"Ini anak Jeng Lina yang kabur?" tanya Soraya.


"Iya Jeng, dicari kemana-mana ternyata di sini. Ayo sekarang pulang," Ajak Lina dengan menarik tangan Mina.


"Ma tunggu, Mina sudah ada calon sendiri, ini calonnya. Jadi jangan jodohin Mina lagi ya," ucap Mina sambil memegang tangan Sultan.


Soraya dan Lina saling melirik. Mereka tidak tau apa yang terjadi diantara Sultan dan Mina. Mereka berdua dulu saat dijodohkan kabur. Sekarang malah menempel begini.


"Tak ada, ayo pulang. Dulu Mama jodohkan sama Nak Sultan kamu malah kabur," tolak Lina.


"Jadi orang yang dijodohkan sama Mina adalah Oppa Sultan?" tanya Mina dengan mata yang berbinar.


"Iya, dulu Tante sama Mama kamu mau menjodohkan kalian. Kalian berdua sama-sama kabur."


"Wah… kalau begitu ayo Oppa kita segera ke KUA" ajak Mina menarik Sultan dengan semangat 45.


"Dasar anak nakal, belum cukup kamu bikin Mama malu. Sini kamu pulang ikut Mama pulang," ujar Lina sambil menarik kuping Mina.


"Oppaaa…."


Mina berniat meminta tolong sama Sultan tapi Sultan malah mengabaikannya. Soraya mengikuti langkah Lina dan Mina.


"Ekhem," gimana Ryan.


Ryan dan Dilla jadi seperti penonton drama live dadakan. Mereka mengabaikan Ryan dan Dilla yang seharusnya menjadi pusat perhatian.


"Hampir lupa sama pengantin barunya. Maaf ya jika kami menganggu kalian," ujar Sultan.


"Bilang saja kalau memang lupa," sindir Ryan.


Sultan tersenyum lebar, kapan coba ada pengantin yang diabaikan.


"Btw selamat ya," kata Ryan menyerahkan tangan untuk berjabat sama Sultan.


"Selamat apaan ni," sahut Sultan tanpa membalas jabatan tangan Ryan.


Ryan menarik lagi tangannya.


"Sepertinya kamu juga segera melepaskan masa lajang kamu."


"Maksud kamu, aku dan Mina?" tanya Sultan menaikkan alisnya.


Ryan mengangguk pelan.


"Sorry ya, maaf saja, Mina bukan level aku," kata Sultan sombong.


"Dokter Sultan jangan begitu, nanti bisa kualat. Padahal Mbak Mina orangnya baik, cuma Mbak Mina lebih enerjik saja dalam mengungkapkan sesuatu," tegur Dilla.


"Jika kamu masih jaga level kamu itu, jadi bangkotan tua baru tau rasa," sambung Ryan.


"Kalian kenapa jadi kompak ngebully aku," ucap Sultan tidak terima.


"Wajar dong kami kompak. Kami kan sepasang suami istri," ujar Ryan menyombongkan diri.


"Au ah gelap. Dunia hanya milik kita berdua, yang lain ngontrak," kata Sultan mendumel.


Sultan segera meninggalkan pengantin baru itu dengan kesal.


"Ayo Dilla kita sapa yang lain," ajak Ryan.


***


"Ama itut ya," pinta Rio untuk yang kesekian kalinya.


Rio dari kemarin masih saja meminta ikut Ryan dan Dilla yang mau pergi bukan madu.


"Kemarin kan Rio udah janji tidak akan ikut," sahut Rita.


Kini acara sudah selesai. Sebentar lagi Ryan dan Dilla akan berangkat pergi bulan madu. Tapi semua itu terhalang sama Rio buang kembali merengek minta ikut.


"Rio mau ingkar janji ya?" tanya Ryan.


Ryan tidak mau perjalanannya di ganggu, bahkan sama anaknya sendiri.


Rio cemberut.


"Rio disini saja main sama yang lainnya," bujuk Jelita.


"Mau cama Ama," kata Rio menatap memelas ke arah Dilla.


Ryan segera menutup mata Dilla agar tidak terkecoh sama rayuan Rio. Dilla menyingirkan tangan Ryan.


"Apa kita batalkan saja perginya?" tanya Dilla.


"Jangan…," tolak Ryan, Jelita dan Rita keras.


"Ekhem, biarkan Rio kami yang jaga Dilla. Kalian pergi saja, sebentar lagi kalian harus berangkat. Sebaiknya kalian menyiapkan barang yang diperlukan," suruh Rita.


Rita merasa malu sendiri berteriak seperti itu.


"Liyo mau tidul, angan anggu Liyo," kata Rio.


Setelah berkata begitu Rio segera berlari.


"Sepertinya Rio sudah aman. Kalian segera berangkat sebelum Rio berubah pikiran lagi," ujar Aditya.


Ryan dan Dilla mengangkat barang bawaan mereka semua. Dilla sedikit sedih Rio tidak mengantar mereka pergi. Ryan dengan senantiasa membujuk Dilla agar semangat kembali dengan dibantu sama Jelita dan Rita.


Tamat seasons 1.