Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 188. Calon mantu



Jangan lupa like dan tinggalkan komentar ya. Like dan komentar kalian sungguh berati buat saya. Terima kasih banyak.


Selamat membaca.


***


"Ada apa ini? Kenapa pada ribut?" tanya Dilla.


"Ini Omy, Lala mau ambil boneta telinci buwat adek Liyo. Liyo ndak mau acih," lapor Rio.


Dilla melihat ke arah Lala. Lala terlihat sedih di mata Dilla.  


"Lala... Lala anya mau pinjam cebental Ante," ujar Lala dengan meneteskan air mata ketakutan. Lala takut dimarahi.


Sam mendekati Lala dan memeluk Lala. Sam ikutan sedih melihat Lala yang mengeluarkan air mata. Lala yang dipeluk oleh Sam mulai menangis. 


Dilla melepaskan pergelangan Ryan dan Reza. Dilla mendekati Rio. Dengan bersusah payah, Dilla berlutut di depan Rio. 


"Sayang, tidak ada salahnya jika Lala meminjam sebentar. Adik Rio masih lama hadirnya," kata Dilla mencari pengertian Rio.


"Ndak mau Omy. Liyo ndak mau boneta ini dipedang cama lain. Boneta ini anya boyeh dipedang cama adik Rio," kata Rio dengan tekad yang kuat.


Dilla kembali melihat ke arah Lala. Dilla tidak tega melihat Lala yang sudah menangis. Dilla menganggap jika Lala menangis karena ingin main sama boneka.


"Lala jangan menangis lagi ya," bujuk Dilla.


"Ante ndak malah cama Lala?"


"Kenapa Tante harus marah. Lala kan tidak nakal. Karena Rio tidak memberikan bonekanya, bagaimana kalau Lala memilih mainan yang lain?" tawar Dilla.


"Api Ante, cemua ma-inan yang di cini unya anak lati-lati. Anya tu catu-catu na ma-inan unya peyempuwan," ucap Lala. 


Dilla sekarang mengerti, selain boneka itu lucu, memang itu satu-satunya mainan yang cocok buat seorang gadis. Dilla jadi bingung sendiri mau bagaimana. Dilla  kembali melihat ke arah Rio. 


"Rio sayang, apa tidak mau…."


"Ndak boyeh," potong Rio.


"Lala boyeh ambil cemua mainan yang di cini, api ndak cama boneta ini," kata Rio tapa keraguan.


"Kalau Rio tidak mau memberikan boneka itu sama Lala, apa boleh Lala mengambil pedang kesayangan milik Rio?" tanya Dilla memancing Rio.


Dilla sengaja memancing Rio dengan pedang kesayangan. Karena bagi Rio pedang itu adalah mainan yang paling disukai. Dilla yakin jika Rio tidak akan mau menyerahkan mainan itu begitu saja.


Rio jadi bimbang. Rio menatap antara boneka yang dipegang dan pedang yang ada di dekat kaki Lala. Sekarang Rio pusing memikirkan antara memilih boneka itu dan pedang kesayangan.


"Ndak apa Omy. Bial Lala ambil pedang unya Liyo, ini buwat adik Liyo," putus Rio akhirnya.


Dilla tersenyum berkedut. Dilla tidak menyangka jika Rio tetap akan mempertahankan boneka itu. Di sisi lain Dilla terharu melihat Rio yang begitu setia menjaga boneka itu untuk adiknya. Dilla jadi kasihan sama Lala. 


'Lala pasti tidak suka sama mainan pedang.'


"Lala maafkan Tante ya. Tante….'


"Ndak apa Ante. Lala cuta edang ni. Ni edang tecayanan Mais Liyo," potong Lala dengan mengambil mainan pedang.


Lala memeluk mainan itu dengan erat. Lala lebih senang diberikan pedang daripada boneka. Lala berjanji akan menjaga mainan itu dengan baik.


"Mas?" tanya Dilla dan Ryan berbarengan.


"Iya Om dan Ante. Mais Liyo. Tan tami dah nitah. Ini balang tecayanan Mais Liyo adi adiah buwat Lala," sahut Lala.


"Menikah!" teriak Dilla dan Ryan lagi.


"Iya Om, Ante. Anti Lala bica belma-in telus cama mais Liyo," ucap Lala menunjukkan gigi susunya.


"Ah iya menikah," sahut Dilla.


Dilla dan Ryan sudah tau maksudnya. Bagi mereka, Lala dan Rio hanya bermain rumah-rumahan.


"Kalau begitu kalian main yang baik-baik ya. Tante mau istirahat Dulu. Jika kalian butuh sesuatu, panggil saja para pe.bantu di sini," kata Dilla.


"Baik Tante," jawab Sam.


"Bayik Ante," sahut Lala.


"Nah Rio, jangan ribut-ribut lagi ya. Rio pasti bisa," ucap Dilla kepada Rio.


"Utuk Reza, Reza sebaiknya segera ganti baju. Setelah itu baru Reza temani Rio, Sam dan Lala bermain. Mama titip mereka ya sayang. Biar Papa yang antar Mama," ujar Dilla. 


"Baik Ma," jawab Reza.


***


Ryan membawa dila ke arah kasur. Ryan menundukkan Dilla dengan hati-hati di atas kasur. Ryan juga membantu Dilla menaikkan kaki.


"Sepertinya kita sudah ada calon menantu Mas?" 


"Calon menantu?" tanya Ryan tidak paham.


"Iya Mas. Bukannya tadi Lala bilang jika Lala dan Rio menikah," kata Dilla menaik turunkan alis menggoda Ryan.


"Mereka masih kecil sayang. Sayang,  kamu jangan bicara yang tidak tidak," sahut Ryan sambil memeluk Dilla.


"Kan siapa tahu mereka bisa menikah sungguhan saat mereka dewasa. Mereka bisa mulai dari berteman, cinta monyet sehingga bisa ke pelaminan," angan Dilla.


"Kalau mereka menikah, kita bisa besanan sama mbak Bella dan tuan Daniel. Tuan Daniel kan kenalan Mas,"


"Mas tetap tidak setuju. Mas tidak mau besanan sama Daniel. Anak-anak Mas harus menikah sama orang yang hebat," sahut Ryan.


"Jadi Mas nyesel menikah sama Dilla. Dilla kan bukan orang hebat," kata Dilla merajuk.


Dila melepaskan pelukan Ryan. Dilla memilih duduk yang tegak dan menatap Ryan. Dilla masih bawa perasaan karena masih mengandung.


"Tidak Dilla, maksud Mas bukan seperti itu. Kamu jangan salah paham. Bagi Mas, kamu adalah perempuan terhebat. Siapa yang bilang kamu tidak hebat, pasti dia lagi mati lampu," ucap Ryan.


"Mas bisa aja," kata Dilla memukul pelan dada Ryan.


Ryan menangkap tangan Dilla. Ryan membawa lagi kedalam pelukan dia. Ryan sudah nyaman sama posisi tadi.


"Jadi Mas setuju Rio menikah sama Lala?" tanya Dilla ke topik awal.


"Mas terserah mereka. Jika mereka bahagia, Mas sebagai orang tua mereka pasti akan bahagia," kata Ryan mengalah daripada Dilla kembali merajuk.


"Iya Mas. Kita tidak tahu seperti apa jodoh mereka nanti. Bisa jadi mereka berjodoh atau tidak. Rejeki, jodoh dan maut sudah ada yang mengatur. Sekarang giliran kita yang menentukan. Jika itu rejeki kita dan kita tidak mengambilnya, maka itu bisa jadi  bukan rejeki kita. Semuanya butuh usaha. Begitu pula dengan jodoh dan maut," ujar Dilla.


"Iya Mas setuju sama kamu," sahut Ryan mengeratkan pelukan sambil mencium ujung alis Dilla.


"Ahh… Dilla tidak sabar melihat mereka menikah," kata Dilla berandai.


"Tidak! Mas tidak setuju," tolak Ryan. 


"Kenapa Mas tidak setuju lagi?"


"Bagaimana Mas setuju. Mas masih mau memberikan mereka banyak adik. Mas belum mau menerima cucu," ucap Ryan menarik turunkan alis.


"Mas mesum," kata Dilla mencubit lengan Ryan dengan keras. 


"Sayang sakit," kata Ryan kesakitan.


"Salah Mas sendiri," bantah Dilla.


"Iya ya, Mas minta maaf. Mas tadi bercanda, bercanda sambil serius," usil Ryan.


"Mas….!"


"Sudah-sudah, katanya tadi mau tidur. Ayo sini tidur, Mas temani sampai kamu tertidur," kata Ryan sambil membenarkan posisi tidur Dilla.


"Itu salah Mas sendiri yang mengajak Dilla bicara," sahut Dilla.


"Iya, Mas yang salah. Sekarang ayo tidur," ucap Ryan mengalah. 


Dilla mulai mencari posisi yang nyaman buat tidur. Hanya membutuhkan wakt beberapa menit, Dilla sudah tertidur pulas.


Ryan yang menemani Dilla juga ikut tertidur. Ryan dan Dilla tidur sambil berpelukan.


Bersambung....


Rekomendasi novel buat kalian dari author lainnya yang juga tidak kalah seru. Novelnya sangat keren dan bagus sambil kalian menunggu up saya selanjutnya.