Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 83. Pesta part 2



Semua yang hadir di sana menatap ke arah Dilla dan perempuan yang mendorong Dilla.


"Jessica apa yang kamu lakukan!" bentak Daniel.


Daniel tidak terima jika Jessica mendorong Dilla tanpa alasan yang masuk akal.


"Kamu kenapa bela wanita ****** itu, aku ini istri kamu, seharusnya kamu membela aku bukan wanita ****** itu," teriak Jessica tidak terima dan menunjuk kearah Dilla. 


"Aku bela dia karena dia tidak salah, kamu jangan salah paham dulu," Daniel menurunkan nada bicaranya.


Daniel bisa merasakan jika mereka sudah menjadi pusat perhatian.


"Tidak salah apanya, di depan mata kepalaku sendiri aku melihat dia menggoda kamu tadi," tuduh Jessica.


"Dasar kamu perempuan tidak tau diri, beraninya kamu menggoda suami aku,dasar pelakor yang tidak ada harga diri," sambung Jessica.


Suasana menjadi riuh, banyak yang mencibir Dilla sebagai pelakor.


"Sayang ya cantik cantik pelakor."


"Kalau tidak cantik gimana mau goda laki orang."


"Dasar wanita murahan."


"Padahal jika mau aku bisa menjadikannya istri simpanan."


Dilla sendiri merasa marah mendengar bisikan itu, tapi dia menahan emosinya. Dilla yakin jika mereka sengaja berbisik keras agar bisa terdengar sampai telinga Dilla. Dilla mencengkram taplak meja dengan kuat. Dia tidak mau lepas kendali, bisa gawat kalau Dilla lepas kendali.


"Kenapa kamu diam saja, apa kamu malu sudah ketahuan menggoda suami aku. Oh iya aku lupa jika ******* seperti kamu mana ada urat malunya," Jessica makin memancing emosi Dilla.


"Ada apa ini ribut ribut, kenapa kalian buat pesta kami jadi berantakan," tegur pemilik pesta.


"Ada apa ini Dilla?" tanya dia kembali pada Dilla.


"Maaf Tuan dan Nyonya jika saya membuat pesta kalian berantakan saya sedang memberi pelajaran pada pelakor ini," ujar Jessica melembut.


Jessica tidak mau merusak image nya, nanti bisa gawat kalau Daniel dan Tuan serta Nyonya ini putus hubungan kerja. Yang ada nanti dia tidak akan dapat uang bulanan.


"Pelakor? kayaknya kamu salah orang. Dilla tidak mungkin begitu," bela Ibu itu.


"Maaf Nyonya, sekarang pelakor sudah lebih gesit, jangan tertipu sama wajah polosnya. Biar saya yang urus semua ini, pengawal!" Jessica segera memanggil pengawalnya.


"Seret wanita ini keluar, aku akan memberi pelajaran kepada dia di luar, aku tidak mau membuat suasana menjadi kacau gara gara wanita murahan ini."


"Jessika kamu jangan keterlaluan, Dilla tidak seperti itu," bela Daniel.


"Sudah lah, kamu tidak usah bela dia, kalian berdua tunggu apa lagi cepat seret dia keluar!" bentak Jessica lagi.


"Baik Nyonya,"


"Ayo Nona ikut kami," kata pengawal itu sambil mencengkatan tangan Dilla.


"Apa yang kalian lakukan, lepaskan tangan saya," ujar Dilla tidak terima.


"Udah kamu ikut saja jika kamu tidak ingin mereka membawa kamu dengan cara yang lebih kasar," ujar Jessica merasa  menang.


"Saya bilang lepaskan," suruh Dilla lagi.


Kedua pengawal itu mengabaikan perkataan Dilla dan tetap menarik Dilla paksa. Dilla tidak terima, dia terasa terhina kalau begini. Padahal dilla tidak salah apa pun.


Tanpa aba aba lagi Dilla menginjak kaki pengawal yang satu dan menyiku perut pengawal kedua. Mereka mengaduh kesakitan sebentar, kemudian mereka kembali mencoba meraih tangan Dilla.


Dilla menghindar, dia menarik tangan pengawal satu. Dilla segera memiting tangan itu sampai berbunyi urat dan menendang dengan keras sehingga pengawal satu terjerambat dan teriak kesakitan.


"Ampun, lepas lepas sakit," teriak pengawal kedua itu.


"Makanya lain kali jangan macam macam sama Dilla," ujar Dilla kesal.


Dilla tidak begitu saja melepaskan pengawal kedua itu, Dilla memukul tekuk pengawal kedua itu sampai pingsan.


Dilla bangun kembali setelah membereskan kedua pengawal itu. Dia menepuk kedua tangannya untuk membersikan dari debu dan kotoran.


Yang melihat kejadian itu merasa takjub atas keberanian dan kekuatan Dilla.


"Ya ampun keren sekali."


"Hebat ya, kecil kecil cabe rawit."


"Makanya jangan remehkan setiap wanita."


Jesicca yang mendengar bisikan itu semakin marah.


"Dasar perempuan sialan, selain ******* kamu juga preman bar bar, sini kamu, aku akan robek semua baju yang kamu pakai biar kamu tau malu," Jessica yang tak terima Dilla mengalahkan kedua pengawalnya mendekati Dilla.


Target Jessica adalah menarik baju Dilla. Dilla segera menangkap tangan Jessica dan kembali membalik tubuh Jessica. Tanpa takut Dilla malah merobek gaun belakang Jessica dan mendorong keras ke arah Daniel. Daniel segera menangkap Jessica yang terlempar ke arahnya.


"Lain kali kalau kamu mau cari lawan lihat dulu lawannya. Saya dari tadi masih bisa bersabar dengan ocehan kamu, tapi saya tidak ingin kamu bertindak lebih. Jika kamu ingin merobek gaun saya untuk mempermalukan saya, saya juga tidak akan segan merobek baju kamu. Bagi saya mata dibalas mata, biarlah semua orang di dunia ini menjadi buta asal dia kapok," ujar Dilla emosi.


Jessica kini merasa malu. Gaun bagian belakangnya tersobek parah. Daniel segera melepaskan jasnya dan memakai pada Jessica, walaupun bagaimanapun Jessica masih status sebagai istri sahnya untuk sekarang.


Ryan yang telah selesai dari kamar mandi segera kembali ke tempat acara. Saat Ryan tiba, ryean melihat Dilla yang sedang menyerang dua pengawal, dia terlalu terkejut sampai kakinya susah digerakkan. Ryan baru menyusul Dilla setelah Dilla berkata pada Jessica


"Dilla kamu tidak apa apa?" tanya Ryan khawatir.


Bisa gawat kalau sesuatu terjadi sama Dilla, dia bisa habis di depan kedua anaknya.


"Pasangan kamu tidak apa apa Ryan, tapi wanita itu yang sudah mendapat karmanya langsung. Saya takjub sama kamu Dilla," puji Nyonya rumah itu.


"Daniel sebaiknya kamu bawa pulang istri kamu segera, aku tidak mau melihat dia di sini lagi, kedepannya jika ada undangan lagi kamu jangan bawa dia lagi," kata Tuan rumah.


Jessica sudah di blacklist dari daftar undangan.


"Tapi Tuan itu bukan salah saya, wanita itu yang…." 


"Cukup Jessica, kamu tidak usah lanjut bicara lagi, dia itu pasangan Ryan bukan mau menggoda aku, tadi aku yang menghampiri dan menyapa dia karena dia adalah pasangan Ryan.


Jessica terkejut mendengarnya, dia tidak tau jika dia sudah salah tebak. Tapi dia juga tidak mau meminta maaf karena Dilla sudah mempermalukannya.


"Ryan aku minta maaf atas nama istri saya, dan Tuan mohon maaf atas sikap istri saya. Saya janji kedepan hal ini tidak akan terulang lagi," Daniel meminta maaf.


Setelah berkata begitu Daniel segera membawa Jessica pulang.


"Kamu hebat Nak bisa mengalahkan ke dua pengawal itu, dan aku juga yakin kamu bukan seperti gadis yang dituduhkan sama istri Daniel. Saya lebih percaya sama kamu."


"Terima kasih Tuan, maaf jika saya menghancurkan pesta Tuan dan Nyonya. Mohon hal ini tidak berpengaruh ke keluarga Suherman karena ini salah Dilla," ucap Dilla meminta maaf.


"Kamu tenang aja, saya tidak akan memperpanjang masalah ini lagi."


"Kalau begitu boleh kami pamit juga Tuan, malam sudah semakin laut," pamit Dilla.


"Yah sayang sekali, padahal Tante mau kamu masih lama di sini, tapi ya sudah jika kalian mau pulang, kamu pasti sudah tidak mood lagi menikmati pesta ini."


Dilla segera menarik Ryan pulang. Ryan tidak protes karena tau Dilla masih di bawa emosi. Cukup sekali dia mencicipi tangan manis Dilla di pipinya, tidak perlu untuk yang kedua kali nya. Tidak terima kasih.


Bersambung….