
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar ya. Like dan komentar kalian sudah cukup jadi penyemangat buat saya. Terima kasih banyak.
Selamat membaca.
***
Rio mengajak Sam dan Lala ke ruang penyimpanan permainan. Rio ingin menjadi tuan rumah yang baik seperti perkataan Dilla. Rio ingin menunjukkan mainan-mainan yang dia punya kepada Sam dan juga Bella. Rio ingin Lala dan Sam melihat semua permainan yang mereka miliki.
"Wah…. ma-inan na banaak cetali," kata Lala dengan takjub.
Lala tidak pernah melihat mainan sebanyak ada di sebuah rumah. Ruangan itu seperti berada di toko mainan bukan seperti ada rumah menurut Lala.
"Di rumah Bang Sam juga banyak mainan. Jika Lala mau, Lala nanti boleh mengambil sesuka Lala," sahut Sam.
"Yang nenek?" tanya Lala senang.
"Iya benar. Semua mainan Bang Sam adalah milik Lala juga," kata Sam bangga.
Lala senang mendengar perkataan Sam. Lala mulai melirik beberapa mainan yang ada di sana.
"Ini ma-inan unya Abang Liyo cemua na?" tanya Lala penasaran.
"Udah Liyo ilang, Liyo ndak cuta di pandil abang," protes Rio lagi.
"Talau Bang Liyo ndak mau dipandil abang, Lala halus pandil apa uga?" tanya Lala.
"Pandil Liyo aja," sahut Rio.
"Api Abang Liyo ebih becal dali Lala. Tata Mama, Lala haus copan cama yang ebih becal. Abang Liyo uga ditu tan?"
"Liyo ndak cuta ada yang mandil Liyo dengan abang. Liyo mau na anya adil Liyo yang mandil Liyo abang yang pertama," kata Rio menjelaskan.
Bagi Rio, panggilan abang merupakan sesuatu yang spesial. Rio hanya ingin adik dia yang memanggil Rio abang pertama kali.
"Adi Lala pandil apa ya," ucap Lala sambil berfikir.
Tiba-tiba Lala teringat Dilla dan Ryan.
"Mais Liyo dimana. Ante Dilla pandil papa Liyo tan mais uga," ucap Lala.
Rio memikirkan penawaran Lala. Rio memang sering mendengar Dilla memanggil Ryan dengan sebutan mas.
"Boyeh uga," sahut Rio sambil mengganggukan kepalanya.
"Tidak tidak, itu tidak boleh," bantah Sam.
"Tenapa ndak boyeh Abang Cam?"
"Panggilan mas itu hanya untuk orang yang sudah dewasa," sahut Sam.
"Tan Liyo udah beca. Altina Liyo dah waca."
"Betul, Liyo cudah dewaca," bela Rio.
"Tetap tidak boleh. Tante Dilla memanggil Om Ryan mas karena mereka berdua sudah menikah," jelas Sam.
"Talau ditu Lala atan nitah cama mais Liyo dong," sahut Lala senang.
"Tidak! tidak boleh. Lala masih kecil. Lala tidak boleh menikah sama Rio," tolak Sam tidak terima.
"Tenapa ndak boyeh. Talau nitah anti Lala bica belcama mais Liyo telus. Ma-in belcama, peldi belcama, belcama-cama telus."
Bagi Lala menikah itu adalah bisa bermain bersama. Bukan seperti menikah selayaknya orang dewasa.
"Ndak mau, Liyo ndak mau main cama Lala telus telus. Liyo anya mau main belcama adik Liyo. Liyo mau nitah cama adik Liyo"
"Tidak boleh Rio. Rio tidak boleh menikah sama adik sendiri," sahut Sam.
"Tenapa ndak boyeh?" tanya Rio tidak suka.
"Kita itu tidak boleh menikah sama saudara sendiri. Harus sama orang lain," terang Sam.
"Belati Lala bica nitah cama Mais Liyo dong," jawab Lala semangat.
"Tidak, tidak boleh," bantah Sam lagi.
"Tenapa dali adi ndak boyeh telus," kata Lala dan Rio kompak.
Sam memonyongkan bibir. Sam cemburu melihat Lala dan Rio yang begitu kompak memarahi nya. padahal Sam tidak berbuat salah.
"Apa yang kalian katakan dari tadi itu memang tidak ada yang benar," kata Sam menjelaskan.
"Adi Lala pandil Abang Liyo denan Mais ya?" tanya Lala untuk terakhir kali.
"Tercelah Lala, acal angan pandil abang," sahut Rio.
"Adi Mais Liyo unya ma-inan apa aja?" tanya Lala dengan melihat ke sekeliling lagi.
"Tami ada mainan mendambal. Ada lobot-lobot. Ada bontal pacang. Ada edang tecayanan Liyo uga. Dan macih banaak agi," kata Rio sambil menunjukkan satu persatu permainan yang dia punya.
"Ini edang tecayanan Mais Liyo ya," tanya lala memegang pedang Rio.
"Benel. Edang ini bica men-ancultan pala montel-montel ahat. Hiat… hiat… hiat…," kata Rio sambil mempraktekkan bagaimana cara mengunakan pedang.
"Mais Liyo ebat," puji Lala berbinar.
"Abang Sam juga bisa. Abang tidak kalah keren Lala. Apa Lala mau melihat Abang bermain pedang?"
"Iya, Lala mau liyat," sahut Lala bertepuk tangan.
Sam dengan percaya diri mengambil sebuah pedang yang lain. Sam bergerak-gerak bagaikan seorang ahli pedang. Ketika Sam lagi mempraktekkan gaya bermain pedang, Sam tidak sengaja menginjak sebuah bola. Sehingga bola itu menyebabkan Sam terjatuh.
"Hahaha…," ketawa Rio dan Lala.
Sam cemberut melihat Rio dan Lala menertawakan dia. Tapi saat melihat Lala tertawa dengan lepas, Sam juga ikut tersenyum. Sam senang melihat Lala yang tertawa.
Rio dan Lala mendekati Sam. Mereka membantu Sam berdiri.
"Abang Cam lutu hihi," ucap Lala disela tawa.
"Abang Sam tadi tidak sengaja jatuh. Kenapa mesti ada bola di sini sih," ujar Sam pura-pura kesal.
Sam menendang bola itu. Kemudian Sam berbalik arah melihat Lala dan Rio yang mulai melihat mainan lagi.
Buak.
Tapi sayangnya, bola yang Sam tendang memantul ke arah dinding dan kembali terlempar ke arah kepala Sam.
"Aduh!" teriak Sam kesakitan saat bola itu mengenai kepalanya.
"Ada apa Bang Cam?" tanya Lala melirik ke arah Sam.
"Tidak, tidak apa-apa?" sahut Sam tidak mau jika Lala mengetahuinya, Sam bisa malu.
Mereka kembali melihat mainan-mainan yang ada di ruangan tersebut. Sam sudah memilih sebuah robot yang biasa dimainkan oleh Reza dan Rafa. Sedangkan Rio masih betah memegang pedang kesayangannya.
Mata Lala tidak sengaja terarah pada sebuah boneka kelinci. Boneka kelinci yang tersimpan rapi masih terbungkus dengan plastik di pojokan lemari. Lala mendekati boneka kelinci dan mengambilnya.
"Boneta ini lutu cetali," ujar Lala pelan.
Rio yang tidak sengaja mendengar ucapan Lala melihat ke arah Lala. Rio terkejut saat melihat Lala menyentuh boneka kelinci yang sengaja dia belikan buat adiknya. Rio dengan buru-buru mendekati Lala dan merebut kembali boneka kelinci. Rio tidak rela jika boneka kelinci dipegang oleh lain. Itu hadiah spesial buat adik Rio.
"Tenapa?" tanya Lala dengan raut wajah sedih.
"Lala boyeh ambil cemua mainan yang lain. Api Lala ndak ambil boneta ini," sahut Rio mengamankan boneka.
Rio bahkan membuang pedang kesayangannya di dekat kaki. Rio tidak bisa memegang dua mainan itu secara bersama.
"Api Lala cuta cama boneta na. Boneta itu lutu."
"Ini unya adik Liyo," sahut Rio.
"Rio, biarkan Lala meminjam sebentar saja," kata Sam menagahi mereka.
"Ndak boyeh. Ini buwat adek Liyo," bantah Rio.
"Lala anya mau medang cebental aja," pinta Lala.
"Ndak boyeh," tolak Rio.
Akhirnya ribut mengenai boneka itu. Ryan, Dilla dan Reza memasuki ruangan. Mereka melihat mereka bertiga yang sedang Ribut.
"Ada apa ini? Kenapa pada ribut?" tanya Dilla.
Bersambung....
Rekomendasi novel buat kalian dari author lainnya yang juga tidak kalah seru. Novelnya sangat keren dan bagus sambil kalian menunggu up saya selanjutnya.