
Malam harinya setelah menemani Rio bermain sampai ketiduran. Dilla pergi ke kamar Ryan untuk memberi makan malam majikannya. Seperti tadi siang, makan malam Ryan ada sedikit perselisihan dengan Dilla, yang akhirnya dimenangkan oleh Dilla.
'Dilla dilawan, Dilla gitu loh,' batin Dilla sambil tetap menyuapi Ryan.
"Tuan, Tuan besok datang tidak ke perlombaan Tuan Muda Reza. Kan tadi siang Dilla udah cerita bahwa besok Tuan Muda Reza ada pertandingan antar kelas. Tuan Muda Reza pasti senang kalau Tuan datang untuk menyemangatinya, soalnya besok itu semua wali murid datang untuk mendukung anaknya masing masing. Kan sayang jika Tuan Muda Reza tidak ada yang mendukung," cerocos Dilla.
"Kamu tidak lihat keadaan saya yang lumpuh ini," sindir Ryan.
"Lah emangnya kenapa, Tuan kan masih tetap Papanya Tuan Muda kan," bela Dilla tidak paham maksudnya Ryan.
"Saya tidak mau mempermalukan anak saya dengan keadaan saya yang lumpuh begini," Ryan menghela nafas.
"Malu kenapa?" tanya Dilla tidak mengerti.
"Sudahlah saya tidak mau membahasnya lagi. Saya sudah selesai makan, sekarang kamu sudah bisa keluar. Saya capek lihat kamu."
Dilla sedikit sebal mendengar ucapan tuannya ini. Dilla bukannya keluar tapi malah meletakkan nampan yang sudah kosong di atas meja yang ada di dekat kasur. Kemudian berdiri di depan Ryan.
"Kamu mengapa masih di sini? Ehhh KAMU NGAPAIN!" tanya Ryan yang ujungnya berteriak panik.
"Tuan yang ngapain berteriak di telinga Dilla. Bisa tuli telinga Dilla nih," kata Dilla.
Dilla mangepalkan kedua tangan, kemudian kepalan tangannya ditiup dan diletakkan di telinga untuk mengurangi dengungan efek dari teriakan Ryan.
"Tadi Dilla tuh bermaksud mau membantu membaringkan Tuan di atas kasur. Tapi karena Tuan berteriak jadi sakit telinga Dilla," kata Dilla menjelaskan.
Tadi Dilla hanya bermaksud untuk mengangkat tuannya dari atas kursi roda ke kasur. Karena hari sudah larut, sudah waktunya tidur. Tapi karena kaget dengan teriakan Ryan maka Dilla melepaskan kembali pegangannya pada Ryan sehingga Ryan terduduk kembali di kursi roda.
"KAMU GILA YA!"
"Lah kenapa Tuan teriak-teriak malam gini. Dan siapa juga yang gila," sewot Dilla.
Ryan menghela nafas kasar.
"Emang badan sekecil kamu yang kerempeng ini sanggup mengangkat saya. Lebih baik kamu panggil Pak Tono ke sini untuk bantuin saya berbaring di atas kasur."
"Tuan meremehkan saya ya. Dilla walaupun badan kecil-kecil begini sanggup angkat beras sekarung penuh tau," ujar Dilla tak terima diremehkan.
"Ehhh ehhh kamu mau apa," ujar Ryan melihat Dilla yang seperti ingin mengangkatnya lagi.
"Ya bantu Tuan untuk ke atas kasur lah Tuan."
"Tidak tidak, lepaskan saya. Lebih baik kamu panggilkan Pak Tono," Ryan berkata dengan perasaan takut, karena Ryan pikir jika Dilla yang mengangkatnya pasti tidak akan sanggup.
'Kenapa anak ini keras kepala sekali sih.'
"Tuan diam aja. Dilla kuat kok."
Kini kedua tangan Dilla sudah berada di ketiak Ryan. Dilla berusaha membangunkan Ryan dari atas kursi.
"TIDAK LEPASKAN SAYA! NANTI SAYA BISA JATUH!" Ryan berteriak histeris.
"Tenang Tuan nanti jatuh."
Kini Ryan sudah berdiri dengan dibantu Dilla secara dipeluk.
Dengan hati-hati Dilla membimbing Ryan berjalan sedikit demi sedikit.
"LEPAS! SAYA BILANG LEPAS!"
"Bener ni Tuan mau saya lepaskan sekarang. Ntar jatuh lho, Dilla tidak bertanggung jawab ya kalau Tuan kenapa-kenapa," ujar Dilla iseng.
"Jangan, jangan lepaskan saya," ujar Ryan panik.
Ryan panik karena saat ini dia baru menyadari bahwa dia sudah berdiri dengan Dilla yang memeluknya. Jika dilepaskan maka otomatis Ryan akan terjatuh ke lantai.
"Tadi minta dilepaskan, sekarang jangan. Kenapa Tuan jadi plin plan gini sih," dalam hati Dilla ingin tertawa keras.
'Dilla gitu lhooo, hal segini mah kecil.'
"Iya iya, cepat bawa saya ke kasur. Tapi jangan sampai jatuh."
"Iya Tuan tenang saja. Dilla bawanya pelan pelan kok."
Dengan hati hati Dilla terus menuntun Ryan naik ke kasur. Sesampainya di kasur, Dilla menduduki Ryan dulu. Pelan namun pasti, direbahkan nya tubuh dan kepala Ryan. Kemudian diangkatnya kedua kaki ke atas kasur. Sesudah memastikan posisinya tuannya nyaman. Dilla menarik selimut dan menghidupkan lampu tidur di dekat kasur.
"Tidak."
"Kalau tidak ada Dilla mau pamit keluar."
Dilla mengambil nampan makan malamnya dan ingin keluar.
"Ehemmm."
"Iya Tuan."
Dilla membalikkan badan lagi setelah mendengar tuannya bersuara.
"Terima kasih," setelah diam sebentar baru Ryan menjawab.
"Sama-sama Tuan," jawab Dilla sambil tersenyum.
'Ternyata Tuan bisa berterima kasih juga.'
"Sudah sana kamu keluar. Jangan lupa matikan lampunya," ketus Ryan dan menutup mata.
'Lah kenapa jadi ketus begitu, ada kepribadian ganda kali ya,' Dilla merinding .
Dilla mematikan lampu dengan menekan tombol di dekat pintu dan segera keluar dari kamar serta tidak lupa menutup pintu.
Mendengar suara pintu yang ditutup Ryan membuka kembali matanya. Dia melihat ke arah pintu dengan mata yang sulit diartikan. Setelah beberapa menit melihat pintu Ryan memutuskan untuk kembali tidur, karena Ryan hari ini sungguh merasakan hari yang panjang dan sangat melelahkan.
***
"Gimana Dilla? apa Tuan Ryan sudah selesai makannya?" tanya bi Imah.
"Sudah Bi, sampai habis Tuan makannya."
"Habis? tumben Tuan makannya banyak."
"Mungkin Tuan lagi lapar Bi," canda Dilla.
"Kamu ini ada-ada aja Dilla. Ya sudah, kalau Tuan sudah siap makan biar Bi Imah panggilkan Pak Tono."
"Untuk apa panggil Pak Tono Bi?"
"Itu untuk membantu Tuan Ryan pindah dari kursi roda ke atas kasur. Ini kan sudah malam, sudah saatnya Tuan tidur juga. Tapi kenapa dari tadi Pak Tono tidak kelihatan ya."
"Dilla tidak tau juga Bi. Lagi pula kan Tuan Ryan sudah tidur saat ini."
"Lho kok bisa, siapa yang mindahin Tuan Ryan."
"Tadi Dilla yang bantuin Bi."
"Kamu sanggup pindahin Tuan Ryan seorang diri."
"Sanggup kok Bi, walaupun badan Dilla kecil, Dilla kuat kok."
Dilla menunjukkan lengan tangannya yang kecil.
"Lengan kecil gitu bisa mengangkat beban berat. Bi Imah bangga sama kamu."
"Ah Bibi bisa saja."
Tidak berapa lama kemudian pak Tono datang.
"Gimana Bi, apa Tuan Ryan sudah siap makan. Biar Tono pindahkan ke atas kasur."
"Tuan sudah makan Tono dan juga Tuan saat ini sudah tidur. Tadi Dilla yang bantuin Tuan naik ke atas kasur."
"Kalau gitu Tono balik lagi ke pos ya Bi. Di sana tidak ada yang jaga."
"Iya Tono sana balik lagi. Jagain posnya dengan benar."
"Iya Bi, permisi ya Bi Imah, Dilla."
Pak tono akhirnya kembali lagi ke tempatnya, Dilla dan bi Imah juga kembali ke kamar masing-masing. Sudah saatnya mereka beristirahat. Besok masih ada pekerjaan lain yang menunggu mereka.
Bersambung....