Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 37. Iseng



Sudah tiga hari berlalu, tapi Dilla belum bangun sejak kejadian itu. Reza dan Rafa setiap pulang sekolah selalu mampir ke rumah sakit. Rio yang semulanya sudah boleh pulang harus dirawat lagi di rumah sakit. Karena Rio mogok makan dan terus menangis, sehingga ia demam dan kurang nutrisi. Sekarang ia masih dirawat satu kamar dengan Dilla.


Dalam tidurpun Rio masih menyebut nama Mommy. Keluarga Suherman sangat cemas dengan keadaan Rio, Rio kali ini tidak bisa dibujuk dengan apapun. Rio merasa sangat bersalah karena tidak mendengarkan ucapan Dilla sehingga membuat Mommy jatuh sakit.


Selama Dilla dirawat di rumah sakit, Ryan sekali kali mengecek keadaan kakinya sama Sultan. Kata Dokter Sultan keadaan kaki Ryan sudah sangat baik, ini merupakan sebuah mukjizat Ryan bisa sembuh dengan cepat. Walaupun begitu Dokter Sultan menyuruh Ryan agar tetap berkonsultasi agar kakinya di nyatakan sembuh sepenuhnya.


Di hari keempat Dilla mulai menunjukkan tanda tanda mau siuman. Dilla menggerakkan tangannya, Rio yang melihat Omynya bangun merasa senang. Saat ini Rio memang rebahan di ranjang tidur Dilla. Rio tidak mau jauh jauh dari Omynya. Ryan yang mendengar permintaan anaknya yang sakit menyetujuinya, asalkan Rio tidak menganggu Dilla yang sedang berbaring dan disetujui sama Rio.


Rio menetap lekat Dilla yang sudah membuka mata.


"Omyyy...," lirih Rio dengan suara kecil, sehingga tidak ada satu orang pun yang mendengar.


Di dalam kamar itu ada semua orang karena ini sudah sore dan sudah pulang dari kantor, sehingga mereka sempat mampir ke sana.


Rio dengan mata berbinar tetap menatap Omynya yang sudah siuman, Rio memegang tangan Dilla yang tidak ada infus. Dilla melihat ke arah Rio yang menatapnya dengan mata begitu berbinar di matanya. Dilla ingin berkata sesuatu tapi tenggorokannya terasa sangat sakit. Rio yang melihat Omynya seperti kehausan segera beranjak mengambil air di meja sofa. Jaraknya sedikit jauh dari tempat tidur, Rio turun dengan hati hati.


Rio segera menuangkan air ke gelas dengan susah payah. Karena ukuran teko yang besar serta airnya yang masih penuh. Ryan yang melihat anaknya kesusahan ikut membantu.


"Kenapa Rio tidak bilang sama Papa kalau lagi haus, kan bisa Papa ambilkan. Rio jangan banyak gerak dulu, badan Rio masih kurang sehat," kata Ryan.


"Ni butan buat Liyo Pa," balas Rio yang melihat Papanya menuangkan air ke gelas.


"Kalau bukan buat Rio buat siapa lagi?" tanya Ryan.


Ryan segera memberikan gelas yang sudah berisi air karena Rio ingin segera menggapai gelas itu.


"Ini buat Omy, Omy lagi hawus Pa," jawab Rio sambil menerima air.


"Haus? kan Mommy belum bangun," ujar Ryan tak paham.


Yang lain nya, mereka sudah dari tadi memperhatikan Rio saat mengambil air.


"Omy dah angun tok," jawab Rio.


Mendengar jawaban Rio semuanya langsung berlari menghampiri kasur yang di tempati Dilla. Meraka melihat Dilla yang sudah membuka mata dengan lebar dan berkedip kedip.


Ryan segera menekan tombol panggilan agar Dokter segera datang.


"Rio, kalau Nommy sudah bangun kenapa tidak bilang sama Papa?" tanya Ryan.


"Tenapa Papa ndak tanya cama Liyo," jawab Liyo polos.


Semua orang yang ada di situ swetdrop mendengar jawaban Rio yang ada benarnya.


"Pa ni num Omy," seru Rio.


Rio menyerahkan minuman tadi ke Ryan. Ryan langsung membantu Dilla minum. Rio segera naik kembali ke ranjang tidur Dilla yang di bantu sama Rita.


Dokter segera memeriksa keadaan Dilla, dengan beberapa pertanyaan kecil.


"Bagaimana Dok?" tanya Rita setelah Dokter siap memeriksa Dilla.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan dengan keadaaan pasien, besok atau lusa sudah bisa pulang," ujar Dokter dengan sopan.


"Terima kasih Dok."


"Sama sama, baiklah kalau begitu saya pamit dulu."


"Iya Dok, terima kasih," ucap Rita.


Mereka lega keadaan Dilla baik baik saja.


Dilla kini sudah bersender di kepala ranjang dan dikelilingi sama tiga bocah itu, siapa lagi kalau bukan trio R, Rio Reza dan Rafa. Rio duduk di paha Dilla sedangkan Reza dan Rafa di samping kiri dan kanan. Dari raut wajah mereka nampak sekali mereka sangat senang.


"Omy Omy oteh?" tanya Rio duluan.


"Mommy baik baik sajakan?" tanya Reza yang kedua.


"Kami sangat senang Mommy bangun," ujar Rafa.


Mereka bertanya barengan, sedangkan yang laki laki sudah duduk tenang kembali di sofa dengan tenang. Hanya Rita yang mendampingi tiga bocah itu agar tidak menganggu Dilla.


"Omy ini Liyo."


"Saya Reza Mommy dan ini Rafa, masak Mommy lupa," ujar Reza.


Rita melihat mimik raut wajah Dilla dengan teliti.


"Mommy, Mommy apa maksudnya," jawab Dilla lagi.


"Jangan bilang Mommy tidak ingat sama Rafa dan lainnya."


Dilla diam aja ditanya begitu.


"Omy, Omy tu Omynya Liyo sama Bang Eja, altinya Omy istelinya Papa, sepelti pilem yang Liyo lihat, bener ndak Bang?" jelas Rio sambil bertanya sama Reza.


"Iya benar," jawab Reza semangat.


"BUKAN...," teriak Rafa.


Semua yang di situ kaget atas teriakan Rafa.


"Mommy, Mommynya Rafa, bukan istrinya Papa, Mommy pasangannya Daddy, Papa pasangannya Mama," tambah Rafa hampir menangis.


"Tidak Mommy pasangannya papa," bantah Reza tak terima.


"Omy punya Papa, butan punya Addy, Addy jeyek, Omy anya punya Papa," sahut Rio.


"Tidak, Papa yang jelek bukan Daddy," ujar Rafa.


Entah kenapa mereka kini malah menjelekkan Papa dan Daddy, Ryan dan Dafa yang mendengarnya hanya mengelus dada.


"Udah udah jangan ribut lagi, Mommy pusing dengar kalian ribut," ucap Dilla mengakhiri kepura puraannya.


"Omy dah ingat kami?" tanya Rafa.


"Iya ingat, Mommy hanya iseng aja tadi," jawab Dilla.


"Omyyy.../Mommyyy...," rengek ketiganya.


"Udah udah jangan ganggu Mommy dulu, Mommy butuh waktu buat istirahat, sini Rio turun biar Mommy bisa tidur lagi," lerai Rita.


Rita hendak mengangkat Rio tapi Rio langsung memeluk pinggang Dilla dengan erat, Rio tidak mau dipisahkan sama Omy.


"Nek Liyo macih angen cama omy."


Rita yang melihatnya merasa iba.


"Tidak apa apa Tante, biar Rio sama Dilla di sini aja."


"Iya Liyo mau tidur cama Omy."


"Reza/Rafa juga mau tidur sama Mommy," ujar Rafa dan Reza barengan.


"Kalian tidak lihat Mommy lagi sakit, nanti kalau sembuh kalian tidur sama Mommy ya, kasian Mommynya butuh istirahat."


"Tapi kenapa Rio boleh," jawab mereka kompak lagi.


Dafa segera menjauhkan Reza dan Rafa ke arah sofa.


"Kalian kan tahu Rio masih sakit biar Rio sama Mommy dulu ya, nanti kalau Mommy sembuh kalian bisa tidur bersama."


"Iya biarkan Mommy dan Rio istirahat dulu, atau kalian tidak sayang lagi sama Mommy?" tambah Ryan.


"Iya," jawab mereka lemah.


Mereka hanya ingin mommy cepat sembuh termasuk adik Rio.


Mereka akhirnya duduk di sofa, sedangkan Rio sudah terlelap di samping Dilla dengan damai.


Bersambung....